
Mereka berdua sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya, setelah istirahat tadi
Tak berapa lama, pasien masuk, karena jam pemeriksaan sudah dibuka kembali
"Permisi dok" Ucap pasien yang sudah dibukakan pintu oleh Melati, asisten Hanan
Hanan sudah membaca biodata pasien, yang bernama "Sixiana"
Hanan mengangguk heran "Anda datang sendiri"
"Iya dok"
"Suaminya dimana?" Tanya Hanan
Hanan memang kurang sreg, jika ada seorang pasien, yang datang untuk periksa kandungan, tanpa ditemani si suami
Wanita itu geleng-geleng
"Silakan duduk"
Pasien tersebut duduk
"Sixsiana ya"
"Iya dok"
"Usia 34 tahun"
"Iya dok"
"Anak nomor 6 pasti ya?" Tebak Hanan sedikit mencair, karena namanya unik kebarat-baratan
"Bukan dok. Saya anak pertama dari istri bapak yang ke 6"
Hanan tergelak "Busyet... Baiklah, apa yang anda keluhkan? apa ingin diperiksa sekarang?" Hanan berfikir, orang yang datang kemari, pasti ingin periksa kandungan
"Sebentar dok. Begini, saya ingin curhat"
Hanan mengangguk
"Saya wanita yang sudah menikah belasan tahun. Tapi sampai saat ini, kami belum dikasih keturunan. Tolong dok bantuin saya. Jika saya tidak hamil dalam tahun ini, saya akan diceraikan oleh suami saya"
"Maaf, anda mempunyai permasalahan dengan rumah tangga anda. Yaitu kandungan. Seharusnya, masalah serius ini, anda datang dengan suami anda. Apa suami anda sibuk?" Tanya Hanan
"Dia selalu menolak ajakanku untuk diperiksa kedokter dok"
Menjelaskan tentang keinginan suaminya ingin menceraikan istrinya, hati Hanan sedikit tercubit. Apalagi alasannya sangat sederharna. Ingin bercerai, karena istri tidak kunjung memiliki keturunan
"Suami ibu bilang ingin menceraikan ibu, karena ibu belum punya anak, begitu”
Pasien tersebut mengangguk "Iya dok"
"Dengan singkat kata, suami ibu, telah menuduh ibu itu mandul, begitu"
Sixiana mengangguk kembali "Iya dok"
Mandul dalam keluarga adalah ketidak mampuan pasangan untuk mendapatkan keturunan. Secara teori, bisa diakibatkan karena suami dan istri memang dua duanya mandul. Kedua, bisa saja, hanya suami yang mandul.
"Kenapa suami ibu menolak diperiksa. Ibu sudah punya anak sebelumnya?"
"Belum. Sejak awal menikah sampai sekarang, hanya suamiku satu. Tapi sampai saat ini kami belum memiliki anak"
"Hmm. Apa, ibu dan suami ibu, sudah pernah konsultasi kedokter sebelumnya?"
Pasien geleng-geleng lagi "Belum dok"
"Seharusnya, suami ibu itu tidak boleh mengatakan mandul pada ibu. Harus ada latar belakang usaha mendapatkan keturunan"
"Iya dok terus saya harus bagaimana"
__ADS_1
"Saya bingung bu. Konsultasi seperti ini, seharusnya suami istri yang datang. Bukan sebelah"
"Tapi dok, bantulah saya"
"Bu, jika suami istri memang sungguh ingin mendapatkan keturunan, harusnya datang berdua. melakukan pemeriksaan bersama, siapa yang lemah. Oiya, usia ibu 34 tahun ya?" Hanan sambil membolak balik kertas data pasien yang masih ia pegang
"Iya dok 34 tahun, dan belum pernah mengandung"
"Oke, ibu sanggup, minimal 12 bulan berturut turut tanpa mengunakan alat kontra sepsi, melakukan hubungan suami istri untuk mendapatkan keturunan?"
"Setiap malam dok, dalam setahun?"
"Iya. Dan itu, dilakukan terus menerus secara teratur"
"Tapi kan, sebulannya, saya haid juga dok"
"Ya berarti waktu itu jangan dong"
Sixiana manggut-manggut
Mandul juga bisa dikatakan, bila saja sang istri bisa hamil tetapi, selalu terjadi keguguran alamiah.
"Tadi ibu belum pernah mengandung. Berarti belum pernah keguguran ya?"
"Iya dok belum, tidak"
Pasien bingung, Hananpun ikut bingung
"Gini bu, ini solusi saja untuk ibu. Masih harmonis kan hubungan ibu sama suami"
"Masih-masih, enggak dok"
Hanan mengerutkan dahinya
"Kan capek dok, berlayar. Dijembreng sana jembreng sini nggak juga berhasil"
"Ah dokter kayak nggak tau"
"Oke, seminggu ibu dijembreng oleh suami berapa kali" Tanya Hanan yang matanya sudah menyipit karena pertanyaan bodohnya
"Satu atau dualah. Yang sering hanya sekali, itupun cuma malam jum'at. Katanya mengusir ribuan setan gitu"
"Ha ha ha" Hanan tidak kuat menahan tawa, dan akhirnya pecah, membuat Sixsiana betah berkonsultasi dengan dokter muda, dan tampan ini
"Iyakan gitu dok katanya"
"Baik.. Hubungan suami istri untuk mendapatkan keturunan, ibu seharusnya sering dijembreng bu" Hanan ingin tertawa "Dan harus sering, sekitar 2-3 kali seminggu, tanpa alat kontra sepsi di masa subur. Harus dihitung hari suburnya ibu. Pakai alat kontra sepsi nggak?"
"Enggak dok"
"Apabila syarat untuk bisa terjadi kehamilan seperti diatas telah dilakukan, tetapi belum juga berhasil hamil, maka diperlukan pemeriksaan kedokteran"
"Dok, saya ingin diperiksa yang sangat mudah, murah, cepat dan akurat. Ada pilihannya nggak dok"
"Pertama, saya akan memeriksa suami ibu untuk test awal dulu. Murah mahalnya urusan nanti. Itu kalau ibu mau. Dan bersedia membawa suami ibu untuk diperiksa. Mana suami ibu? Nggak ada. Yang mau saya periksa siapa"
"Harus ya dok"
"Ya harus. Masa saya akan pinjam orang lewat untuk diperiksa"
Sixsiana gantian yang tertawa "Memang, yang diperiksa apanya dok untuk suami saya"
"Sper ma. Hanya dibutuhkan pemeriksaan sper ma, analisa sper ma" Jelas Hanan
"Hah?? Maksudnya, saya dan suami berlayar didepan dokter"
"Hadeeewww" Hanan tepuk jidat "Tidak perlu ibu dijembreng didepan saya"
"Maksudnya apa dok, saya bingung"
__ADS_1
"Artinya sper ma suami didapatkan dari ona ni, tidak perlu jembreng menjembreng didepan saya. Dan langsung di periksa di laboratorium"
"Oh, jadi suami saya karaoke begitu?"
"Ya, begitu"
Hanan dan Sixiana menahan tawa
"Dan jika kemandulan terletak pada pihak suami, sekitar enampuluhan persen. Maka, suami lebih diutamakan untuk di periksa.
Karena untuk periksa istri perlu waktu, dana, kesabaran dan teknologi. Sebaiknya istri diperiksa apabila pemeriksaan suami sudah dinyatakan sesuai standart untuk bisa menghamilkan istrinya"
"Oh"
"Biasanya, jika suami tidak mau di periksa dengan segala alasan, karena suami ibu punya masalah sendiri. Jadi saya sarankan, sebaiknya suami yang pro aktif untuk melakukan test kesuburan"
"Jadi saya harus membawa suami saya kemari ya dok"
"Iya. Demikian saran saya ya bu, untuk terus mempertahankan pernikahan. Sehingga, pihak suami tidak semena mena untuk menceraikan ibu tanpa bukti analisa yang akurat"
"Ooo"
"Bunder bu"
-
Sementara ditempat Alana
Alana sibuk memfotocopy data, untuk laporan, karena yang asli harus ia arsipkan
Karena terlalu serius, Alana tidak sengaja menabrak seseorang, yang belum pernah ia lihat sebelumnya
"Eh maaf" Ucap bersamaan
Kertas yang Alana fotocopy tadi, jatuh berantakan
Alana memunguti kertas tersebut dibantu oleh pemuda tadi
Mereka berdiri semua setelah beres
"Maaf" Ucap sipemuda tadi, dan langsung menjulurkan tangannya "Namaku Pijar Wijanarko. Saya orang baru dibagian pelaksanaan dan pelayanan. Anda?" Tanyanya pada Alana
"Oh, pantesan baru lihat" Gumamnya "Saya didepartemen keperawatan. Kalau begitu, saya permisi"
"Eh, eh mbak, tunggu"
Alana berhenti
Pijar langsung mengitari Alana. Dia membaca papan nama yang tertera didada Alana
"Alana Mirza"
Alana melirik "Iya, itu namaku. Kenapa?"
"Nama yang indah. Seperti orangnya"
Alana segera berjalan, tak ingin dirinya dekat dengan orang baru, apalagi pria. Alana tidak ingin dicap serong oleh Hanan
"Alana tunggu"
Alana berhenti "Apalagi. Sebaiknya, anda disini bekerja dengan baik. Karena anda orang baru disini"
"Tentu. Aku akan buktikan, kalau kinerjaku bukan kaleng-kaleng" Pijar menyerahkan kertas milik Alana yang terjatuh, yang masuk kedalam kolong "Ini milikmu. Kau harus jeli dan rapih jika bekerja"
Alana merebutnya "Kenapa bisa ditanganmu"
Pijar mengendikkan bahunya "Kenapa kamu tidak berterima kasih. Aku menemukannya disana" Tunjuk Pijar pada kolong mesin fotocopy
BERSAMBUNG......
__ADS_1