Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 16


__ADS_3

Mereka sudah tiduran diruang televisi. Kaki mereka sudah menggantung disofa. Tangan Hanan mengusap usap tangan Alana, dan mengangkatnya keatas perutnya


"Sudah suci belum bund"


Pertanyaan itu membuat Alana ingin menggetok bibir yang mempertanyakan hal itu berulang ulang


Alana menoleh tanpa senyum "Belum, kan masih tiga hari. Belum tujuh"


"Lama amat. Bukannya lima hari cukup bund"


"Eh, suka suka tamunyalah"


"Jangan ngerjain mulu bund"


"Kakak kenapa sih, minggir ah" Alana ingin beranjak



Alana bangun, tapi ditarik oleh Hanan kembali


"Tiduran dulu bund, ah. Temani suamimu dulu" Manjanya, sambil mengusap usap perut Alana, dan bermain jari berjalan disana


"Kakak, aku ada janjian sama mama. Katanya bentar lagi mama nyampai kesini"


"Mama belum nyampai ini, bentar ah" Hanan menahan Alana agar tetap rebahan


"Kakak mau ngapain?" Alana mulai keluar asapnya saking kesal ditahan terus terusan


"Mau bermanja dulu. Kan mau ditinggal istrinya jalan jalan"


Plok


Alana beranjak duduk "Kakak, ini diluar tau" Alana celingak celinguk


"Kamu cari apa sih" Tangan Hanan kembali menahan Alana untuk tiduran lagi


Alana kembali terkapar, karena ulah suaminya yang tidak tau malu


Alana terkekeh geli melihat tingkah suaminya yang super keterlaluan


"Kak, sebentar lagi mama datang. Kalau kita ketangkap basah lagi beginian, mukaku mau ditaruh dimana" Alana kesalnya tidak karuan


-


Tidak lama kemudian, ibunda Alana datang "Rasti kok sepi, pada kemana?"


"Ibu dan tuan sepertinya ada diruang televisi nyonya" Jelas Rasti sambil membopong Imran habis muter muter dihalaman kontrakan


"Oh, ini cucu nenek kok sudah keluar aja, darimana ?" Tanya Anti sambil menjembel pipi bulat cucunya


"Naik sepeda muter muter didepan kontrakan nyonya" Jawab Rasti


"Wah sepeda baru ya?" Anti memencet tombol mainan disana "Wah, ramai. Yuk ikut nenek yuk" Anti merayu ingin mengajak Imran, tapi sepertinya, Imran menolak "Ayo ketempat bunda yuk" Tangan Anti sudah menjulur diudara


Imran malah menangis.


Alana yang mendengar anaknya kejer, iapun berdiri dan langsung lari


"Eh eh, jangan lari !!" Teriak Hanan


-


Siang harinya, diwaktu Alana dan Imran diajak bepergian oleh neneknya yaitu Anti. Anand datang kerumah Hanan bersama Lis

__ADS_1


Mereka sudah berada diruang tamu


"Kontrakanmu sudah penuh semua Han?" Tanya Anand pada Hanan


"Tinggal dua pintu pih" Jawabnya sambil duduk bersandar, dan kakinya digerak gerakkan agar bunyi


"Wah hebat, investasi menjanjikan itu"


"Lumayan pih, walaupun belum balik modal"


Anand keluar lewat pintu samping "Ya bertahap" Anand melongok mencari seseorang "Ibu kontrakannya mana? kok nggak kelihatan?" Tanya Anand mencari keberadaan Alana


"Sedang jalan jalan pih"


"Kok nggak bareng kamu"


"Kalau aku ikut, nggak ketemu papi dong"


"Sikah, memangnya tadi papi ngomong sama kamu dulu sebelum kemari, nggak kan?"


"Telepati pih. Tapi nggak kok pih, sengaja aku nggak ikut. Kan neneknya Imran kangen sama cucu, jadi mau pinjam. Eh, ibu kontrakannya malah ngikut juga haha"


"Maksudnya ibu mertuamu?"


"Iya"


"Oh, ingin pinjam anakmu?"


"Iya"


Anand manggut manggut. Lalu, melongok tembok sebelah, yaitu deretan rumah kontrakan milik Hanan "Sebelah kelihatannya ramai" Tunjuk Anand pada segerombolan bapak bapak yang sedang bersenda gurau


"Ini libur, ya ramai pih. Ingin kesana?"


"Boleh deh"


Anand berjalan menyapa para bapak bapak yang sedang duduk duduk disalah satu teras kontrakan tersebut


"Lagi pada ngapain bapak bapak. Santai ?" Sapa Anand dengan ramah


"Eh biasa pak lagi ngerumpi, pumpung libur" Jawab salah satu bapak yang sedang bermain karambol


Anand tersenyum dan berbisik "Nduk, jajan yang ada dikresek putih masih ada dimobil ya?"


"Iya pih"


Beberapa menit kemudian Casbari datang membawa kresek yang dipesan Anand barusan. Anand menerima kresek tersebut, lalu menyerahkannya pada para bapak bapak yang sedang ngerumpi "Silakan pak, ini ada sedikit rejeki. Monggo dicicipin"


Salah satu bapak menerima kresek berisi penuh pemberian Anand "Wah terima kasih pak dokter, ini mah bukan sedikit rezeki lagi. Bisa buat pesta satu komplek ini mah" Jawabnya sambil membuka kresek, lalu ia menutup kembali kreseknya


"Haha iyakah" Jawab Anand sekenanya


Hanan memotong "Tapi maaf, papi bukan seorang dokter. Melainkan, spesialis ahli otomotif, ya pih ?"


"Ah kamu. Yang ahli ya para montir " Jawabnya lagi


"Lha, papi kan pakarnya haha. Panggil saja papi ya bapak bapak. Oiya, kenalan dong pih" Hanan menyenggol lengan Anand


"Ah kamu"


"Ya sudah. Bapak bapak, perkenalkan. Ini papiku, namanya Anandhan. Biasa disapa papi Anand"


"Lah, namanya mirip sama pak dokter" Celetuk salah satu bapak yang main catur

__ADS_1


"Haha iya ya, baru ngeh aku. Pih, nama kita ternyata hampir sama"


"Orang papamu aja yang ikut ikutan, kenapa njiplak. Nama kan banyak"


"Mirip pih, mirip doang"


"Ya ya. Yuk masuk ah" Anand merangkul Hanan "Papi ada perlu sama kamu"


"Ealah papi, orang ada perlu sama aku kok kesini dulu, ah papi"


"Halah, memangnya nggak boleh kenalan dengan bapak bapak disini dulu" Protes Anand


"Pasti boleh lah pih, malah seneng, papi mengunjungi kami" Jawab bapak bapak lagi


"Haha iya.. Mari kami tinggal" Pamit Anand


"Eh terimakasih ya pih, sampai lupa" Ucap bapak bapak yang menerima kresek dari Anand


"Iya sama sama.. Mari" Pamit Anand kembali


Mereka sudah saling rangkul, dan berjalan masuk kerumah "Pembicaraan ini pentingkah pih"


"Penting penting tidak"


"Lah. ya sudah, ayo masuk"


-


Hanan, Anand, dan Lis sudah duduk "Nduk ngomong nduk, papi bingung ngomongnya darimana?" Anand terlihat resah


"Papi kenapa pih? sepertinya bukan masalah uang keknya ini" Ucap Hanan yang mulai penasaran


"Memang bukan"


"Apa pih?"


"Janji kamu jangan ngejek papi ya?"


"Apa sih pih. Jangan buat aku mati penasaran tau pih" Hanan menoleh kearah Lis "Apa bik Lis yang mau menjelaskan?"


"Papi saja" Jawab Lis


Hanan kembali menatap Anand "Pih"


Anand menghela nafas panjang "Han, kau tau Lis itu masih muda kan? apa jadinya jika dia... " Anand menatap Lis bingung, mau menjelaskan jujur, nanti Lis tersinggung. Jika tidak jujur, akan menjadi boomerang buatnya


Lis mengusap tangan Anand "Jelaskan saja pih, tidak apa apa"


Anand mengangguk "Eng.. Begini, nduk kamu bulan ini tidak datang bulan ya?" Bicara dengan Hanan, tapi bertanya sama Lis


Hanan mencerna pembicaraan Anand yang ditujukan kepada Lis


Hanan langsung geger "Wah. Apa bik Lis hamil pih ?"


"Hanan, tunggu dulu. Papi belum selesai ngomong, dan ini juga belum dijawab oleh bik Lismu"


"Pih, kalau bik Lis hamil, memangnya kenapa? papi merasa tanamkan?"


"Hus, Hanan" Kembali Anand minta penjelasan dari Lis


"Iya pih aku telat"


Jeddeeerrrr

__ADS_1


Seketika, mata Anand melebar


BERSAMBUNG.......


__ADS_2