Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 63


__ADS_3

Mereka sudah kumpul kembali dirumah papi


Rumah yang dulu pernah sepi sebelum Xander lahir, pernah ramai juga setelah Xander lahir, kecil, remaja. Setelah itu sepi lagi karena anak satu satunya harus menimbah ilmu dinegeri sebrang


Kini, pemiliknya sudah pergi untuk selama lamanya


Hari ini, Ilham meminta kepada putra putranya dan menantunya, untuk bermalam dirumah ini, termasuk dirinya


-


Malampun tiba


Semua sofa, mereka tarik dan ditata diruang tengah. Sedangkan mereka, bukan tidur dikamar, melainkan tidur diruang tamu ramai ramai


Semua kasur sudah ditarik dan ditata diruang tamu


Mereka bersenda gurau menghibur Lis. Bagaimanapun, yang paling kehilangan adalah Lis


"Bik Lis, sini deh ngumpul. Bibik tidur denganku dan Alana. Kita kan sama sama buncit. tidurnya didepan AC, biar nggak gerah" Hawa menggandeng Lis untuk tidur bareng bertiga dengannya


Para anak anak tidur dikasur yang ada pengasuhnya masing masing. Sampingnya adalah para ibu ibu hamil, sampingnya lagi ibu ibu yang tidak hamil, dan sampingnya lagi ada bapak bapak


Tadinya mereka ngobrol sampai lupa daratan. Lama lama senyap sendiri karena tertidur satu persatu


-


Tengah malam Alana bangun, ia sebenarnya belum tidur


"Ternyata pura pura tidur itu pusing" Gumam Alana sambil terduduk


Alana terdiam saja, menatap semuanya sudah pada tidur seperti ikan yang akan dipanggang


Alana kembali mengusap usap tubuh Imran, dan sesekali mengusap perutnya


Alana kembali menatap suaminya yang tidur bersedekap dikasur satu, bersama kembarannya


Alana sempat bingung "Tidur saja modelnya sama"


Yang bisa membedakan suaminya adalah, pakaian yang mereka pakai


Alana sudah menemukan Hanan, yang tidurnya diapit papa Ilham, dan Fariz


Kembali ia mengusap perutnya, dan gantian mengusap Imran


Sejak kecil Fariz tidurnya tidak bisa anteng. Ternyata, sampai tuapun ia masih tetap sama


Tiba tiba kaki besar menindih perut Hanan. Hanan langsung terbangun karena perutnya agak tertekan, akhirnya kebelet pipis


Hanan menyingkirkan kaki Fariz dari atas perutnya. Setelah berhasil menyingkirkan kaki Fariz, Hanan mengedarkan pandangan kearah ibu ibu tidur dan anak anak


"Lha, jam segini larut kok belum tidur" Batinnya, saat melihat Alana terduduk


Hanan berdiri dan mendekati Alana

__ADS_1


Hanan duduk dikasur yang ada Alana disana. Ia mengusap pundaknya sambil berbisik "Kok belum tidur ?"


Alana sempat kaget, tapi senengnya minta ampun pada saat mendengar suara yang tak asing, dan seseorang tersebut mendatanginya, disaat ia butuh sesuatu


"Aku tidak bisa tidur, aku haus"


"Eh, yaudah ayo bangun" Hanan menarik Alana, agar Alana berdiri, dan menuntunnya menuju dapur "Duduklah" Hanan menuangkan air putih tersebut kedalam gelas. Hanan mendorong gelas yang sudah berisi air putih yang ia tuang dari teko kaca yang sudah diisi penuh penuh.


Kata sibibi, sengaja diisi penuh semua, agar memudahkan semua orang yang haus, bisa langsung minum tanpa mencari sampai kedapur


"Tunggu sini, mas mau pipis dulu, nggak tahan" Hanan melangkah menuju toilet yang ada didapur


Alana mengangguk, dan meminum air mineral yang sudah diisikan kegelas oleh Hanan


Setelah rasa haus itu hilang, timbul masalah lagi yaitu kebelet pipis


Alana sudah joget joget memegang bawah perutnya. Kenapa sekarang dia mudah sekali yang namanya keserang kebelet pipisnya


Alana merasakan perubahan yang berbeda, setelah dirinya menikah, tapi tidak tau Persis kapan dirinya tidak bisa menahan air seni


Dulu, sewaktu masih gadis, pipis itu bisa dihitung oleh jari, dua atau tiga kali dalam waktu sehari semalam. Itupun sewaktu dirinya mandi, baru dia bisa buang air kecil. Apalagi kalau malam hari, tidak ada acara buang air, tidur ya tidur sampai pagi


Tapi berbeda untuk sekarang. Rasanya ingin brojol sendiri kalau lihat kamar mandi


"Sabaaaar, ih kakak lama banget, aku sudah nggak tahan" Alana mondar mandir didepan pintu kamar mandi yang sudah ada Hanan disana


Hanan membuka pintu, dari dalam. Alana langsung masuk sudah tidak bisa ditahan


"Hati hati" Hanan sedikit mencegah agar Alana jangan tergesah gesah


Ewer ewer


Hanan geleng geleng sambil jaga pintu, takut orang lain lihat istrinya lagi buang hajat


Setelah selesai


"Kalau kamu kebelet pipis, terus takut, kan bisa bangunin mas dulu. Kalau tadi ngompol dikasur, bagaimana?"


"Tadinya nggak ngerasain kebelet pipis, berhubung kakak bilang mau pipis, nyetrum dah he" Alana terkekeh membuat Hanan gemas melihat tingkah istrinya


"Terus kenapa tadi mas lihat kamu duduk"


"Aku, aku nggak bisa tidur" Ucapnya takut takut


"Jadi, kau belum tidur sama sekali?"


Alana mengangguk takut. Takut diomeli Hanan


Alana memegang tangan Hanan, Hanan menoleh


Alana sedikit menarik lengan Hanan, agar memiringkan badannya "Turunin telinganya, aku mau ngomong"


"Ngomong apa" Hanan memiringkan badannya, agar telinganya bisa dijangkau oleh Alana

__ADS_1


"Emmass, eng... " Alana senyam senyum memanggil Hanan dengan sebutan mas


Hanan mencolek hidung Alana "Kenapa? panggil masnya yang luwes dong, biar enak didengar"


"Heh, tidur disini aja ya, aku tidak bisa tidur. Banyak orang" Ucapnya takut takut


Hanan melihat sofa yang sudah berhadap hadapan, karena dikumpulkan jadi satu "Disini?" Tunjuknya pada sofa yang saling berhadapan


"Iya" Alana mengangguk


"Baiklah, sini naik"


"Bantalnya"


"Nanti mas ambilkan"


Hanan berjalan kedepan, untuk mengambil bantal yang tadi dipakai dirinya dan Alana


"Ini bantalnya" Hanan menyerahkan dua bantal untuk ditata diatas sofa, lalu menyalakan AC nya diruang tengah ini "Sudah nyaman dinginnya?"


"Sudah. Tapi, aku tidak mau tidur sendiri, temenin" Alana tersenyum malu malu


"Ya" Akhirnya Hanan naik kesofa, agar bisa tidur bersama Alana


Hanan mulai mengusap usap perut buncit Alana. Dalam waktu satu menit saja, mereka lelap


-


Dua hari setelah kematian Anand


Semuanya sudah bubar tangkar, kecuali pasangan Ilham, pasangan Xander, dan pasangan Fariz


Xander menyandera Fariz dan Hawa, sengaja disuruh tinggal disini untuk sementara waktu


Yudhistira sang pengacara keluarga ini, datang ke kediaman Anand


Hari ini, mereka berkumpul diruang tamu


Disini sudah ada Ilham, dan Fariz sebagai saksi atas pembacaan surat warisan yang diwasiatkan sebelum Anand meninggal


Disini juga ada Lis dan Xander. Karena mereka orang utama yang akan mendapatkan harta dari Anand


Ahli waris disini sebenarnya hanya Xander, tapi karena Anand telah menikah lagi dan akan mempunyai anak, jadi, anak yang dikandung Lis, termasuk tercatat sebagai ahli warisnya


Yudhistira mulai membacakan surat wasiat, yang dibuat Anand, jauh sebelum Anand sakit. Yaitu, saat tau Lis mengandung anaknya


"Ketika kalian membaca surat ini,


itu artinya papi telah pergi dari hidup kalian.


Bersama dengan tulisan ini, papi masih sadar sesadar sadarnya, untuk memberikan apa apa yang pernah papi punya selama nyawa masih dikandung badan. Harta memang tak bisa dibawa mati. Tapi, sebaik baik harta yang akan papi bagi, tidak membuat kalian berseteruh"


"Putraku Xander, papi mami berpesan kepadamu, jika kelak kami tiada, lanjutkan mengasuh anak anak yatim asuhan keluarga Han. Jangan sampai kakek nenek kalian murka dialam sana. Jangan sampai kau lupa dengan adik adik asuhmu. Mereka butuh uluran tanganmu"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2