Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 51


__ADS_3

Pagi harinya


Hanan dan Alana sudah rapih, dan akan turun kebawah


"Ayo kakak gendong aja yuk" Hanan sudah memberikan punggungnya kepada Alana


"Digendong? Apa nggak malu kalau dilihatin sama mama Sifa dan papa Ilham"


"Panggil papa mamanya nggak usah dikasih nama. Ayo naik"


"Ehehe lupa. Kalau kakak marah juga, serasa bukan suamiku"


"Lalu??"


"Serasa masih kakak iparku hihi" Alana terkekeh


"Makanya jangan bikin kesal. Jadinya berubah kan?"


"Kakak jangan marah marah melulu kenapa"


"Itu karena ulahmu yang selalu ugal ugalan. Memangnya kamu sopir truk ingin cepat sampai, terus nggak memikirkan bahaya. Ayo buruan naik" Tangan Hanan kebelakang, untuk meraih tubuh Alana


Tangan Alana sudah memegang pundak Hanan, dan kedua kakinya sudah nemplok pada punggung Hanan.


"Sudah??"


"Sudah"


"Turun dong" Godanya


"Kakaaaak"


Hanan tersenyum. Alana sudah nemplok seperti induk koala


Kepala Alana sudah berada diceruk leher Hanan. Pipi Alana sudah ia usap usapkan pada pipi Hanan


"Pipi kakak kasar, banyak rambut yang tumbuh" Protesnya


"Istriku sakit kok, jadi nggak keurusan. Pegang tongkatnya" Hanan mengambilkan tongkat, agar Alana memegangnya


Alana menerima tongkatnya tersebut "Is kakak selalu begitu. Kan bisa cukur sendiri"


"Lupa"


Alana berbeda dengan Aina. Sejak dulu Aina tidak pernah membantu menyukur jenggot milik suaminya, sedangkan Alana, selalu rajin membantu mencukur jenggot suaminya. Alana bilang, agar Hanan tampak lebih muda, dan tidak malu maluin untuk diajak kondangan


Alana memang begitu, wataknya seperti anak kecil. Jadi tidak menginginkan bersuamikan tua seperti Hanan. Padahal usia mereka hanya terpaut 8 tahun, tidak terlalu jauh. Tapi dasar bocah, ya seperti itu. Jadi Hanan yang sabar


Yang penting sekarang, Alana sudah digenggaman


Mereka sudah diambang tangga yang paling teratas, dan akan turun


"Kakak, aku berat nggak ?" Tanyanya


"Banget" Godanya


"Ih, kalau gitu turunin aku. Ngeri kak"


"Ngapain?"


"Kan berat tadi bilangnya"


"Haha.. Iya, kalian kan sudah dobel bund. Kalau Imran ditumpuk juga masih kuat tau bund.."


"Iya deh percaya, kakak masih kuat. Tapi aku takut jatuh. Ngeri kak"


"Ngeri mana pas kamu mau disosor sowang?"


"Dua dua nya. Ih kakak jangan ungkit melulu. Ntar aku goyang - goyang ini biar kakak berat"


"Coba kalau berani"

__ADS_1


"Ish kakak jangan ngancam ah"


"Makanya diem"


"Iya deh ngalah" Alana memiringkan kepalanya dipunggung Hanan, ia tidak berani menatap kebawah


Mereka mulai menuruni tangga dengan berhati hati "Pegangan yang kuat ya?"


"Iya kak, kakak juga ati ati"


Mereka yang ada dibawah menyaksikan putranya menggendong istrinya, dan terlihat sudah akrab, Ilham dan Sifa senangnya tidak karuan


"Papa / Mama" Ucap Ilham dan Sifa bersamaan


"Apa" Ucapan mereka tabrakan lagi


"Mama / Papa dulu deh" Ketiganya tabrakan juga


Mereka saling tatap. Sifa menyenggol lengan Ilham


"Eh, disuruh ngomong malah main senggol senggolan ada apa?" Tanya Ilham penasaran


"Terakhir mama digendong, kapan pa hehe" Sifa terkikik


"Bukannya mantunya didoakan semoga cepet sembuh malah mikirin gendong"


Sifa bergelayut manja dilengan Ilham "Semoga mereka awet ya pa"


Sifa mendongak, Ilham menunduk


"Aamiin.."


Sifa berbisik "Habis acara, mama digendong ya pa"


"Istriku kenapa mendadak ingin mesra mesraan"


"Kangen pa. Sepertinya sudah lama, mama tidak digendong"


"Ih papa jahat" Sifa mendorong Ilham


Sejurus itu, Hanan sudah mendekati kursi makan, dan mendudukkan Alana disana


Ilham spontan memeluk Sifa "Ayo kita sarapan. Mama kalian sudah lapar katanya Han" Ucapnya sedikit dinaikkan oktafnya


Sifa tidak terima, ia menabok lengan Ilham "Ih papa.. Mama selalu dikambing hitamkan"


"Nggak apa apa kan sudah putih" Ilham mendongakkan kepala Sifa, lalu memukulnya dengan kepalan berdiri "Gung. Sarapan.. Papa sudah lapar. Artis Aksay kumar sama raveena tandon nya kan sudah turun. Sudah duduk malah" Ilham menggoda Sifa terus


"Papa.. Mana tau mereka dengan artis india sembilan puluhan"


"Kalau tau, mereka berarti sudah tua" Ucap Ilham lagi sambil menarikkan kursi untuk Sifa


Sifa duduk dan membalikkan piring yang sudah tertata rapih didepannya "Nggak Sri Devi saja sekalian"


"Mama sama papa ngomongin apa sih?" Selah Hanan yang masih bingung mendengar pertengkaran kedua orang tuanya


"Kamu pasti bingung ya? " Ucap Sifa mulai mengambilkan nasi untuk Ilham dan dirinya


"Iyalah. Sepertinya dulu, mama dan papa tidak pernah bertengkar"


"Itu kan dulu. Sekarang berbeda. Kau pasti bingung kan???"


"Iya"


"Kalau gitu, cepat sarapan. Kalau sudah, kamu pegangan tiang didepan, yang paling gede, ya?"


"Buat apaan?"


"Biar kamu nggak bingung"


"Mamaaa... Mama ngomong nya bikin bingung tau ma. Jadi ingat mami.. Kalau ngomong suka asal" Hanan menyendok makanan yang sudah diambilkan Alana "Eh ma, kabar bik Lis gimana ma?"

__ADS_1


"Sudah makan dulu, jangan dibiasakan ngobrol selagi didepan makanan. Ah ayo bik, mbak, eh cucu grandma sini sarapan sayang"


"Ndak mahu, Imlan mau sama bunda"


"Sini sini" Alana menepuk nepuk pahanya sendiri, agar Imran duduk disana


"Tapi bundanya kan lagi sakit sayang.. Lihat" Hanan menunjuk kaki Alana yang terlilit deker "Sini sama daddy aja yuk"


"Ndak mahu, bundaaa..."


"Ya ya sini"


-


Siangnya


Bik Surti dan mbak Rasti ikut sibuk mempersiapkan menata buah buahan dan berbagai aneka jajan yang ditata rapih dipermadani yang digelar diruang tamu


"Bik Surti... " Panggil Hanan


"Ya tuan"


"Sini deh" Tangan Hanan melambai agar Surti mendekat "Kamu kan tamu bik, sini duduk diteras. Katanya pingin lihat artis, mau nggak"


"Mau tuan, mana tuan"


"Tungguin dong, duduk dulu"


"Saya sudah deg degan tuan, dingin semua tangan saya dan kaki saya" Kaki bik Surti bergetar seperti akan melihat artis beneran


"Kenapa bisa begitu bik?"


"Kan mau bertemu artis tuan" Bik Surti sudah ndeprok ( Duduk lemas dilantai)


"Ahaha" Semua orang tertawa melihat bik Surti yang sudah berwajah pias "Duduknya dikursi bik, jangan dilantai"


"Nggak tuan, saya begini saja"


Setelah beberapa saat, mobil mulai berdatangan dan terparkir rapih dihalaman rumah ini


Sifa, Ilham, Hanan, Alana, sudah berdiri, untuk menyambut mereka "Bik sini, artisnya sudah pada datang. Bibik maunya artis tua apa yang muda?"


"Yang tua siapa tuan"


"Maunya bibik siapa? "


"Saya sukanya roy marten tuan"


"Ya udah, tungguin ntar keluar. Kalau yang muda?"


"Arya saloka"


"Oh ya ada, pokoknya komplit, Lihat"


Yang pertama keluar dari mobil adalah, pasangan berbeda usia 40 tahun, yaitu papi Anand dan Bik Lis


Mata Hanan membulat sempurna "Apa!! perut bik Lis sudah terlihat menonjol. Bik Lis hamil pa?"


"Iya" Jawab Ilham


"Berapa bulan?"


"Berapa bulan ma?" tanya Ilham pada Sifa


"Lima bulan" Jawab Sifa


"Lima bulan? berarti sebelum kepindahan kami kejawa, bik Lis sudah ngisih dong"


"Sudah" Jawab Sifa dan Ilham bersamaan


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2