
Waktu subuh tiba
Alana bangun sebelum subuh berkumandang
Alana membangunkan Hanan yang masih terlelap dalam tidurnya
"Kak, kakak.. Kakak bangun kak" Alana membangunkan Hanan, menggoyang goyangkan lengan Hanan
Hanan tidak bangun - bangun, dia hanya menggeliat membenahi tidurnya, yang tadinya miring, sekarang telentang.
"Kakak bangun" Alana membangunkan, masih mengenakan mukenanya.
Hanan langsung duduk sambil berkejab kejab mengumpulkan nyawanya yang masih berserak serak
Hanan terkejut melihat Alana memakai mukena "Ini jam berapa?" Hanan mengabsen Alana yang sudah berbalut mukena
"Jam 04:30" Jawabnya
"Tumben, biasanya maghrib doang sama dzuhur"
"Terus kamu sudah sholat ?" Tanya Hanan
Alana geleng geleng "Kalau untuk sholat subuh belum. Aku nungguin kakak"
Hanan tersenyum sambil mengucek ucek matanya "Oh... Baiklah" Hanan menggeser duduknya, hingga kakinya menjulur kelantai
Alana masih duduk disampingnya
"Sayang sudah bangun dari tadi?" Tanya Hanan
"Iya"
"Oh" Hanan ingin bersandar dipundak Alana. Belum juga nempel
"Kakak, aku keburu ngantuk"
"Baiklah - baiklah"
Hanan segera berjalan masuk kekamar mandi untuk mandi besar. Setelah selesai, Hanan mulai mengimami untuk sholat subuh, dengan Alana sebagai makmumnya
Mereka sudah selesai melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslin untuk sholat subuh
Hanan menoleh kebelakang setelah salam dan berdoa. Tangannya ia julurkan untuk bersalaman kepada Alana
Alana menyambutnya, dan menciumnya
"Tadi bangun jam berapa?" Tanya Hanan sambil melipat sajadah, dan mendudukkan pantatnya diatas kasur kembali.
Masih dengan baju kokonya lengkap dengan sarungnya. Hanan menarik lembut mukena yang masih melekat pada tubuh Alana "Jam?" Tanya Hanan kembali
"Jam tiga"
"Jam tiga !!" Jawabnya terkejut. Tumben tumbenan Alana bangun jam tiga. Padahal, biasanya boro - boro bangun sholat subuh. Dibangunin aja susah
Hanan tersenyum "Sayang bangun jam tiga?" Tanya Hanan masih penasaran dan sedikit tidak percaya
"Hmm" Sambil melepas mukenanya
"Duduk sini" Hanan menepuk nepuk kasur sampingnya, agar Alana duduk tepat disisinya "Ngapain bangun jam tiga" Ucapnya sambil membenahi rambut agak basah milik Alana yang sedikit acak acakan karena ketarik mukena
"Sholat tahajud" Jawabnya membuat Hanan tambah tidak percaya
"Oh" Hanan memandang lekat wajah Alana yang sedikit pias, mungkin karena efek hamil muda
Hanan mengusap usap rambut Alana kembali kebelakang.
"Kenapa oh? Nggak percaya?" Tanya Alana
__ADS_1
"Percaya. Eng, sejak kapan sayang bangun jam tiga?"
"Kuputuskan mulai hari ini" Jawabnya membuat Hanan duduk dengan tegak
"Subhanallah, sayang lihat siapa" Hanan terus memandang Alana dan membenahi sesuatu yang berada pada Alana, walaupun sesuatu itu tidak penting
"Papa Ilham eh" Alana menutup mulutnya dengan tangannya "Maksudnya mama dan papa"
"Kok, lihat dimana. Sayangkan tidak turun kan? Kok bisa lihat ?"
"Aku lihat pagi pagi sekali, papa dan mama habis dari mana, tapi mama papa masih mengenakan baju muslim dan mukena"
"Sayang lihat kapan?"
"Kemarin. Kakak sudah tidur lagi setelah subuh. Aku melihatnya dari jendela kamar kakak"
"Oh.. Sini sini" Hanan mendekap Alana "Iya sayang, sholat itu kewajiban bagi seluruh umat muslim" Hanan menjauhkan Alana, agar Hanan bisa melihat wajah istrinya dengan jelas "Sayang sudah dewasa, sudah mau melahirkan. Sudah saatnya menata sholatnya. Dan sudah saatnya menutup aurat. Sayang mau?" Ucapnya selembut mungkin, karena Hanan tidak ingin Alana tersinggung
"Mau, tapi aku tidak punya baju muslim. Jilbab saja tidak punya"
Alana bukannya tidak mampu membeli itu, tapi memang belum ada niat untuk menutup auratnya
"Sebentar" Hanan beranjak mencari sesuatu yang pernah ia belikan waktu itu. Tapi tidak sempat ia kasihkan, karena Alana selalu sudah tertidur jika Hanan pulang kerumah. Jadi, Hanan lupa dengan hadiah yang ingin ia kasihkan pada Alana
Hanan memberikan beberapa paper bag yang ia kasihkan pada Alana "Ini, coba sayang pakai"
"Dicoba sekarang?"
"Iya"
Alana menarik baju yang ada dipaper bag tersebut "Waw baju muslim. Warnanya aku suka kakak" Alana memeluk Hanan, dan tangannya mengalung pada leher Hanan
Alana merubah posisi, dari duduk ke posisi berdiri, dengan mengalungkan tangannya pada leher Hanan sebagai tumpuhan
Wajah mereka sangat - sangat dekat
Cup
"Hey.. Rupanya istriku sudah pandai main curi cium hm" Hanan mencium leher karena sekenanya
"Ih entar merah" Alana menjauhkan bibir Hanan agar menjauh
"Nggak papa, kan entar ditutupin"
"Pakai apa? Hansaplas?"
"Ngapain pakai itu. Ditutupin jilbab kan bisa sayang.. Kan mau dipakai. Coba pakai bajunya" Hanan ikut ikutan membeber, dan membukakan resleting gamis tersebut, agar Alana tidak kesusahan
Alana sudah memakai baju beserta hijabnya
"Subhanallah istriku.. Ternyata cantik luar dalam. Tidak menyangka loh" Pujinya membuat Alana tambah memerah pipinya
"Kakak juga tampan. Tak menyangka aku akan suka dengan ketampanan kakak" Jujurnya sambil tersenyum malu malu
"Jadi ceritanya baru nyadar nih"
"Iya. Dari kemarin kemana kali ya kak" Kembali Alana memeluk erat tubuh Hanan yang sudah sama sama berdiri
Hanan memegang kedua pundak Alana "Ini aja belum pakai merah merah dibibir" Hanan menyentuh janggut Alana, dan mengusap bibirnya dengan jempolnya "Apalagi pakai"
Cup
"Bayar utang" Hanan mencium bibir Alana gantian
"Ih kakak selalu mencuri kesempatan"
Hanan mengendus endus wajah Alana "Istriku cantik sumpah, kenapa kakak baru nyadar"
__ADS_1
"Cie kakak baru menyadari ya.. Kemarin kemana kemana kak... Sampai sampai udah membuat perutku gede baru nyadar, ih kakak nyebelin"
"Sumpah sayang, kakak jadi gemes padamu" Hanan memeluk tubuh erat Alana, dan mulai melepas gamis yang sudah membalut tubuh Alana "Lepasin ah" Hanan mulai melepaskan baju tersebut.
Belum sampai terlepas, Alana mencegahnya
"Kok dilepas, katanya disuruh pakai"
"Iya, itu kalau diluar rumah. Dan didalam kamar, sayang harus melepas"
Cup
Lagi lagi bibir Alana sebagai santapannya
Alana menjauhkan tubuh Hanan. Hanan sudah terlepas dari lilitannya
Alana berdiri tanpa bantuan siapapun
"Sayang, sayang sudah tidak sakit?" Hanan menunjuk kaki Alana yang sejak tadi seperti terlupakan
Alana mengangkat gamisnya yang belum terlepas karena dipertahankan tadi
Alana menggerak gerakkan kakinya, dan latihan berjalan kesana kemari, sambil kedua tangannya sibuk memegang gamisnya yang agak menjuntai karena modelnya lebar dibagian bawahnya
"Eh eh" Alana kesleo
"Hanan spontan memberi pertolongan "Hati hati"
"Harusnya kakak nggak ngomong kakiku sembuh seperti tadi. Kakinya jadi manja kan teringat kembali. Jadi sakit lagi" Ucapnya sedih
"Sudah, sini duduk. Jangan diinget inget. Biar cepet sembuh" Ucapnya agar Alana tidak mewek
Alana sudah melepas pakaian muslimnya tinggallah baju rumah dengan panjang selutut dan lengannya sesiku. Cocok untuk Alana
Hanan mengusap rambut Alana kembali "Ini kok nggak dikeringin?"
"Kalau kakak mau membantu, aku mau menerima" Ucapnya sambil memeluk perut Hanan, lalu mendongak
Hanan mencubit hidung Alana
Cup
"Mana pengering rambutnya?"
Alana memberikan handuk kecil kepada Hanan
"Kok pakai ini, mana itu Alat pengering. Apa itu namanya"
"Hairdryer"
"Hah iya, mana alatnya"
"Nggak mau pakai itu, aku pusing. Biarin seperti ini biar adem"
"Dih istriku, orang luar tau dong kalau semalam kita habis bercinta"
"Ih, tapi enakan yang basah begini kak. Adem" Manjanya
"Kalau sayang masih berambut basah seperti ini didepan kakak. Kakak bisa nubruk kembali loh, mau?"
"Masa ngliat rambut basah aja tergoda"
"Eh ini bocah dibilangin. Yang merasakan itu aku"
"Ih.... Aku ingin goda ah. Biar kakak tergoda"
"Alanaaaa"
__ADS_1
BERSAMBUNG....