Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 12


__ADS_3

Pagi harinya


Alana bangun, dan bergegas kekamar mandi


Sebenarnya perih semua, tapi karena sudah terbiasa perih dipaha, dilengan gara gara gigitan Imran. Akhirnya, bekas semalam yang dilewati Hanan, hanya terasa perih sedikit


Sementara, karena terusik Alana saat bangun, Hananpun membuka matanya. Terlihat Imran sudah bergerak gerak ingin bangun juga. Sebelum membuat gaduh, Hanan membawa Imran turun untuk memberikannya pada Rasti


Hari ini Alana juga harus kekampus, jadi Hanan tidak ingin Alana fikirannya terbagi saat sidang dikampus nanti


Alana sudah selesai mandi, ia sibuk mencari pakaian sambil jinjit karena baju yang ingin ia kenakan, ada dideretan paling atas.


Tiba tiba tangan besar menarikkan baju yang Alana inginkan. Alana berbalik "Kak kak, kok sudah bangun. Imran kok ditinggal, ntar jatuh" Alana ingin berjalan kearah ranjang. Belum juga kaki melangkah, tangan Alana sudah ditarik seseorang


Alana sudah didekapan Hanan "Imran sudah bangun, tadi ia ingin turun dan sudah ditangan mbaknya" Bohongnya, padahal dirinya yang tidak ingin diganggu sama sibocil


Hanan menarik handuk yang menggulung rambut Alana, Hanan mencium wangi rambut Alana "Wangi, pakai sampo merk apa kamu hmm?" Hanan mendekap Alana begitu dekat


"Sampo seperti biasa, bukankah kemarin yang membelikan kan Hanan"


"Emm tapi sepertinya baru aku tau harumnya seperti ini"


Alana mendorong Hanan "Kakak modus, aku tau itu"


Hanan memutar Alana, hingga dia berada dibelakang Alana


Dagu Hanan sudah berada diceruk leher Alana. Alana belingsatan karena kegelian menahan dagu Hanan yang berambut itu


"Kakak geli" Alana memutar badannya hingga mereka bersitatap


Hanan menyibakkan rambut basah Alana yang sudah menjuntai. Ia sibakkan kebelakang memperlihatkan leher jenjang Alana yang masih mulus belum ternoda lipstik Hanan.


Hanan memegang pundak Alana, lalu menurunkan jubah handuk yang dikenakan Alana.


Hanan sudah melihat pundak mulus Alana. Ia ingin sekali mencumbunya.


Hanan mulai menempelkan bibirnya dileher jenjang Alana.


Alana mendorongnya "Kakak geli, celanaku basa lagi"


Hanan tersenyum, istri mudanya terlalu jujur "Hah, benarkah. Boleh pegang?"


Plok


Tangan Hanan sudah ditabok Alana, Hanan hanya tersenyum


"Kakak jangan tersenyum terus. Kakak mengejekku kan?"


Hanan menjauhkan Alana sebatas lengannya. Ia mengabsen jubah yang Alana pakai.


Panjangnya hanya sebatas paha, tapi belahan itu sungguh menggoda netra Hanan. Apalagi, rambut Alana yang basah. Membuat jiwa kelelakian Hanan timbul kembali memuncak "Sexy"


"Kakak ngomong apa?" Alana sebenarnya mendengar, tapi baru kali ini ada yang ngomong dirinya Sexy, jadi takut telinganya kurang waras


"Kamu cantik" Hanan mendekat


"Ih kakak jangan mendekat, nanti aku terlambat" Wajah Alana sudah merah merona


"Nanti aku antar"


Kebetulan hari ini, Hanan mendapat panggilan untuk menjadi narasumber dikampus Alana.


"Nanti kakak terlambat"


"Nggak papa sekali kali terlambat"


Hanan kembali mendekati Alana


Cup


Hanan mencium pipi Alana dari belakang, lalu berlari menuju kamar mandi


"Kak kak..." Alana berlari ingin menyubit Hanan, tapi terlambat karena Hanan sudah masuk kamar mandi


Hanan membuka pintu sambil menutupi kepunyaannya "Sayang, handuk"

__ADS_1


Alana melotot "Kakak, kenapa kakak mandi tak bawa handuk"


"Lupa sayang. Buruan handukmu siniin"


"Tat tapi, handukku basah kak"


"Enggak masalah" Hanan memaksa melepas handuk yang masih dipakai Alana


"Kakak... Apa apaan"


Jubah sudah ditangan Hanan


Sekarang gantian, Alana yang menutupi dadanya yang belum menggunakan penutup dada


"Kalau begitu, pumpung masih ada waktu, main yuk sebentar"


"Kakak... Kakak sekarang mesumnya tingkat tinggi"


"Itu karena gara gara kamu"


-


Dikampus,


Para mahasiswa jurusan kebidanan, dikumpulkan digedung serbaguna milik kampus tersebut


Alana tidak tau, bintang tamu yang dijadikan narasumber siapa


"Kita sambut narasumber kita dr Alhanan Putra Zayn"


"Apa?? Apa itu kak Hanan? " Gumam Alana


"Kamu ngomong apa Alana?" Tanya Olivia


"Ah tidak tidak, itu dokter yang membimbing kita waktu dirumah sakit tempo lalu, bener kan?" Jelas Alana


"Iya memang, kan akrab denganmu"


"Hehe" Alana nyengir


"Gimana nggak akrab, orang satu rumah"


"Dokter ganteng pisan. Sudah punya istri belum sih?" Ucap Sisil Maskeria mahasiswa yang duduknya dibelakang Alana


"Dengar dengar sih sudah. Beruntung banget istri yang mendapatkannya ya.. " Celetuk Chovida Mahel, mahasiswa yang duduknya disamping Sisil


"Aku, kalau dijadiin istri keduanya juga mau" Celetuk Magdalena Covitasari sambil berhayal


"Hus.. Daripada dijadikan istri kedua, mending ku depak saja istri pertamanya biar aku yang jadi miliknya" Salah Sisil


Alana yang mendengar, tambah geram ingin menelan mereka bertiga


"Apa dia bilang, ingin mendepak aku. Mereka pada suka sama kak Hanan? Masa sih, kakak jadi rebutan para ubur ubur.. Sabar Alana sabar. Kau yang sudah memenangkan hati Hanan. PERTAHANKAN!!! "


"Woi brisik"


-


Malam harinya


Hanan pulang sekitar pukul 21:00. Tapi langsung disambut para pekerja yang menggarap kontrakan disebelah rumahnya


Mereka biasa datang dimalam minggu, untuk meminta bayaran. Urusan pembayaran pekerja, Hanan tidak ingin membebankan urusan ini pada Alana. Meskipun hanya membayarnya saja, Hanan tidak ingin seperti itu


Sebelum mengambil uang untuk para pekerja, Hanan mengetok pintu kamar Alana terlebih dahulu


Tok tok tok


"Bund.. Bunda..." Hanan membuka pintu, lalu menyembul kedalam


"Kakak aku disini" Alana membopong Imran mendekati Hanan dari arah tangga


"Hai putra Daddy hari ini gigit nggak?" Tanya Hanan


"Nggigit"

__ADS_1


"Gigit lagi? Sebelah mana?"


"Ini" Alana menunjukkan lengannya yang agak terkelupas


"Sudah diobati?"


"Sudah"


"Kenapa Imran nakal? tidak boleh" Hanan menjembel pipi tembem Imran


Imran hanya tertawa berkokok


"Eeeerrrgggg"


"Masih sakit?"


"Nggak tau lupa"


"Kamu kalau ditanya selalu seperti itu, nggak tau sama lupa"


"Memang aku harus bagaimana? nangis? masa iya digigit bayi nangis terus guling gulingan. Yang ada aku diketawain cari sensasi"


"Memang siapa yang bilang cari sensasi?"


"Nggak ada, cuma nebak"


Hanan mengacak rambut Alana


"Oh iya, tadi aku lihat sesuatu. Kayanya, kalau kau yang pakai cocok" Hanan menyerahkan paper bag untuk Alana


Alana menerimanya "Terima kasih"


"Hanya itu?" Hanan mengetuk ngetuk pipinya sendiri


"Kakak, ada Imran"


"Ah baiklah, nanti kalau sudah tidak ada Imran disisimu, aku nagih oke. Janji loh ya.. "


Alana memerah wajahnya


"Sudah ah, kakak ditunggu bapak bapak diluar sejak tadi"


"Ah iya, mereka minta bayaran. Jadi lupa kalau sudah ketemu bundanya Imran"


Alana mendorong tubuh Hanan, dan pergi kekamar Imran


-


Alana sudah dikamarnya sendiri tanpa Imran


Alana membuka paper bag pemberian Hanan. Ia membeber sebuah baju tanpa lengan berbahan satin berwarna grey


Alana memakainya, dan berlenggak lenggok didepan cermin


Tiba tiba


"Cantik. Kau suka?"


Alana malu ketahuan tebar pesona sendirian didepan cermin


Alana salah tingkah, dan Ia langsung memeluk Hanan sambil malu malu.


Hanan yang melihat Alana memeluknya, dia langsung menyambutnya kepelukan


Tangan Alana sudah mengalung dipanggang Hanan, Hananpun sama memegang pinggang kecil Alana


Mereka saling tatap menyelami masing masing


"Ada apa denganmu, kau sudah kangen ya?"


"Kakak, jangan begitu" Alana menabok lengan Hanan yang suka menggoda


"Kangen juga boleh, aku juga kangen"


"Benarkah?" Alana tersenyum lebar, Alana tidak mau Hanan disambar oleh orang lain termasuk teman temannya juga. no way...

__ADS_1



BERSAMBUNG......


__ADS_2