Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 45


__ADS_3

Hanan masih teka teki untuk menghadapi ngidamnya Alana


Hanan sedikit berfikir keras. Pikirannya maju mundur dan sedikit was was menghadapinya. Bisa jadi, kehamilan anak yang kedua, dengan istri yang berbeda, lebih para permintaannya dari istri yang sebelumnya


Ditambah lagi orang yang hamil itu terkadang beruba ubah ngidamnya.


Kebiasaan Alana tiap hari, memakan makanan yang pedas pedas, yang setiap hari harus tersedia makanan yang super pedas, disetiap makan nya. Hanan takut ngidamnya Alana yang seperti ini. Tiap hari saja ngerih, melihat Alana kesetanan melahap makanan yang pedas pedas didepan matanya, apalagi ngidamnya. Bisa bisa makan cabai kilo kiloan setiap saat, sedangkan makanan yang lain, semuanya ditinggalkan


Memang Betul. Berbeda orang, berbeda pula ngidamnya. Hanan menginginkan Alana lebih manis saja untuk masalah ngidamnya. Karena ada juga ibu ngidam, ingin makan yang manis manis.


Tetapi, ibu ngidam lebih sering menginginkan makanan yang asam asam, seperti ingin memakan buah jeruk yang kecut, atau mangga muda yang asam tiap pagi, serta kadang ingin memetik langsung dari pohonnya. Dan lebih parahnya, pohon milik orang lain yang menjadi incaran si ibu ngidam. Hanan ngilu membayangkan yang ini. Tidak ada istilah nyetok, karena keinginannya berubah ubah


Belum lagi kalau tidak dituruti marah marah, jika dituruti, terkadang tidak dimakan


Dalam istilah kedokteran, pada saat mengalami ngidam, terjadi perubahan hormonal dalam tubuh ibu. Akibatnya, indera penciuman dan indera perasa, jadi lebih sensitif


Padahal kebiasaan setiap hari, ibu belum tentu menyukai makanan tersebut, begitu ia ngidam, makanan yang tadinya musuh, sekarang menjadi teman akrabnya


Maka tak mengherankan, orang yang ngidam, bisa tiba tiba menyukai makanan yang tak pernah ia makan sebelumnya, tetapi tiba tiba tidak suka dengan makanan yang biasanya ia konsumsi


-


Hanan sudah pulang kerumah, dengan bawaan yang memberengkut ditangannya


Suara deru mesin mobil itu, sudah memasuki halaman rumahnya. Membuat sibocah berusia hampir 3 tahunan ini turun dari ranjang, dan berlari untuk menyambut sang pemilik deru mesin tadi


"Daddyyyyyyy... " Imran berlari menyambut ayahnya


Hanan tersenyum dengan bawaannya yang banyak


Hanan jongkok, agar tingginya menyamai tinggi Imran "Kok kakak sendirian. Mana Bunda?" Tanyanya sambil memakaikan topi baru milik Imran, serta kacamata hitam miliknya untuk Imran pakai "Wih, cakep. Keren putra daddy"


Imran tersenyum memegang topi dari papanya, dengan kacamata yang melorot karena kegedean


"Daddy, bunda cakit" Jelasnya sambil berbinar melihat hadiah tas bergambar jerapa kesukaannya


Hanan memberikan tas yang masih terbungkus plastik transparan "Ini hadiah buat kakak"


Imran berdiri kegirangan "Buka dad buka" Ucapnya sambil jingkrak jingkrak


Hanan membuka plastiknya, lalu menarik tasnya dari bungkusnya


Setelah terlihat jelas oleh Imran "Waaaahhh jiyep. Daddy daddy daddy... Pakai sekayang"


"Iya iya sayang, sabar ya"


Hanan mengatur pengait tali pada tas punggung milik Imran


Hanan sudah memakaikan tas pada punggung Imran "Apa kak Imran menyukai tas ini?"


"Syuka dad..."


"Baiklah, kita masuk" Hanan mengangkat Imran pada gendongannya

__ADS_1


Setelah sampai dikamar, Imran menggoyang goyangkan kakinya minta diturunkan "Tuyunin dad tuyunin"


"Iya" Hanan menurunkan Imran diranjang, yang sudah ada Alana disana


Imran mendekati Alana yang sedang memejamkan matanya sambil duduk bersandar pada kepala ranjang


Cup


Pelipis kanan Alana mendapatkan kecupan dari Hanan, lalu mengusap perut yang masih rata milik Alana


Bersamaan itu, Imran mendekati Alana, dan ikut mencium pipi kiri Alana


Ceeeppp


Bibir basah Imran sudah menempel pada pipi Alana


Alana langsung membuka netranya. Senyum Alana mengembang ketika es krim dan coklat disodorkan untuk dirinya "Ini untukku?"


Hanan mengangguk "Hmm"


"Imlan mau dad... Imlan mauuuu" Imran kembali njrot njrotan dikasur, sampai Alana pegangan kepala yang hampir terlepas dari lehernya


"Eh, kakak berhenti. Jangan disko begitu. Bundanya pusing. Ya bund pusing?" Hanan memegang kening Alana, lalu mengusapnya kebelakang, sambil menasehati Imran, sekaligus bertanya pada Alana


Tangan Alana menjulur memegang lengan Imran "Iya, adek jangan gerak gerak ya, kepala bunda pusing dek" Alana kembali memijit pelipisnya "Duduk sayang, ini es krimnya, adek mau nggak ?"


"Mau bund" Imran sudah duduk bersila dihadapan Alana


Sejurus itu, Hanan duduk disofa, menyaksikan dua insan yang ia sayangi setelah ibu bapaknya


"kripik"


"Camilan untukmu?" Tanya Alana memastikan


"iya.. rasanya nano nano kata penjualnya barusan" Jelas Hanan


Alana mendorong kripik kentang balado tersebut "Aku tidak suka kripik, aku lebih suka gulali"


"Yah, tadi daddy nggak ngelihat penjual gulali" Hanan terlihat kecewa


"Tidak apa apa dad, besok aja carinya. Aku ingin makan es krim dan coklat aja" Ucapnya membuat Hanan bernafas lega


Alana dan Imran sudah rebutan es krim


Es krim cone coklat, ternyata menjadi rebutan mereka berdua


Alana membuka kertas pembungkus es krim model cone yang kecil "Daddy beli dua box ya, kecil ama besar ?"


"Iya, kalau tidak habis, simpan difrezer. Biar bisa buat besok" Ucapnya akan melepas dasinya, yang melilit dilehernya



Hanan sengaja membelikan coklat tanpa diminta oleh Alana

__ADS_1


Mendengar cerita Rasti tadi sore, Hanan sengaja membelikan Alana satu toples coklat, dan dua pak es krim model kerucut, ukuran besar dan kecil


Bukan tanpa sebab Hanan membelikan coklat yang banyak untuk Alana


Mengkonsumsi coklat, bisa mengurangi stress pada ibu hamil, dan juga, bisa untuk dijadikan obat anti mual


Hanan ingin Alana tidak stress, dan menginginkan Alana selalu bahagia, menjalani saat saat mengalami morning sickness, pusing pusing tidak tau waktu dan lain sebagainya


Hanan memperhatikan ibu dan anak sedang beradu argumen. Hanya sebuah es krim, Alana tidak mau kalah dengan Imran


"Bunda... Imlan mintaaaa... Es klim Imlan abisss.. Bundaaaa" Imran sudah terlihat mewek ingin menangis


"Oh enggak bisa. Ini milik bunda"


"Daddyyyy.... " Imran mengadu pada papanya minta bantuan


"Heh?? Kita suit dulu. Jangan dikit dikit daddy, dikit dikit daddy"


"Buuuuuunnnn.... Daddyyyyyyy" Imran menjerit


"Bunda... " Tegur Hanan


"Imran sudah makan dad. Imran makan dua, aku makan 5, imbangkan? Yuk hompimpa yuk.." Ajak Alana pada Imran


"Bundaa.. Imlan mahu es klim, bukan hom him hwaaaa bundaaa" Imran lagi lagi menjerit


Alana sudah memekarkan tangannya "Adek ikut dong, kita suit"


Imran mengelap airmatanya dengan lengannya, dan Imran mengikuti kemauan Alana


Mereka berdua menggoyang goyangkan telapak tangan kekanan dan kekiri


"Yang hitam kalah" Ucap Alana


Imran kalah karena yang ia tunjukkan bukan telapaknya, melainkan punggung tangannya


"Wah.. Bunda menang, adek kalah huhuiy" Teriak Alana kegirangan


"Hwaaa daddyyy.. Bunda natal.. Endak mahuuu" Protes Imran


"Makanya kita suit Imran suit"


"Daddy bantuuuu.. Endak mahu"


"Iya iya biar daddy bantu"


Akhirnya, gara gara es krim, Hanan bermain hompimpa seperti anak kecil


"Hompimpa alaihum gambreng" Ucap bersamaan


"Wah bunda kalah... Kita menang kakak..."


Kali ini, Alana diam menatap Hanan dan Imran makan es krim

__ADS_1


"Halla, kenapa aku yang rugi" Alana ingin merebut sisa es krim didalam kotak. Tapi tidak bisa, karena Hanan menahannya, agar Alana tidak curang


BERSAMBUNG...


__ADS_2