
Alana turun dari ranjang, dan ia berdiri menghadap kearah Hanan yang masih diatas kasur
Sontak saja Hanan ikut bangun dan duduk diranjang, menghadap kearah Alana
"Mau main kucing-kucingan?" Tanya Hanan mulai tersulut antara gai rah dan sedikit emosi
Alana merubah model berdirinya. Ia berdiri menantang
Mentang-mentang dadanya gede, diapun pede
"Yang main kucing-kucingan siapa" Ketusnya
Hanan kembali memegang kedua tangan Alana yang masih walang kekek alias berkacak pinggang
Hanan mulai memeluk Alana, dan menenggelamkan kepalanya didada Alana "Tempur yuk malam ini"
Alana mendorongnya "Itu lagi, itu lagi. Selalu itu"
"Kan kamu yang bikin ulah. Coba kalau bajuku nggak kau pakai" Hanan memegang kemeja "Maksud semua ini apa. Apa dastermu, sudah buat lap semua"
"Ish mas. Nggak ada yang buat lap"
"Terus. Jelasin dong. Kenapa kamu suka sekali memakai bajuku. Bajumu kan banyak"
"Aku kesel"
"Kesel kenapa"
"Mas yang bikin kesel"
Hanan ingin protes
"Jangan protes. Tadi sore aku kan kesel dibuat olehmu mas. Jalan ditarik-tarik, memangnya nggak sakit. Aku orang mas, bukan boneka. Tau rasanya sakit"
"Coba, yang sakit mana" Hanan memegang kedua tangan Alana "Sebelah mana"
"Lupa"
Hanan menatap Alana "Terus"
"Terus apanya"
"Tadi yang bikin kamu kesel"
"Oh.. Yaudah, kubuat aja biar mas kesel. Imbang kan"
"Imbang. Bikin kesel mas atau memancing" Hanan memiringkan wajahnya
Alana tidak terima dikatakan memancing. Meskipun ada unsur seperti itu.
Alana melirik Hanan "Mas bilang, aku memancing?"
"Iyalah, benerkan"
"Tidak benar !!!" Teriak Alana, dan langsung menyerang Hanan
Plok plok plok
Hanan segera menghindar amukan dari Alana, dan wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya "Ahaha"
Sedetik itu, Hanan sudah menghentikan aksi Alana "Kau yang membuat masalah. Dan kau pula yang harus menyelesaikan masalah ini" Tunjuk Hanan pada sosisnya yang masih tersimpan rapat
Alana terdiam, ulahnya bocor diketahui oleh Hanan
Dan anehnya, dia sendiri yang tidak kuat godaan dari Hanan
Kedua mata Hanan dinaik turunkan
Alana turun, lalu duduk disamping Hanan "Jadi, aku nih yang disalahin"
"Iya" Jawabnya cepat
"Nasib amat"
Hanan tersenyum
Alana menarik nafas "Oke.. Silakan aja kalau mas bisa membukanya"
"Siapa takut, ayo berdiri" Hanan segera membantu Alana, agar segera berdiri
Hanan ikut berdiri, lalu menatap Alana dengan tatapan cinta
__ADS_1
Ia pegang kepala Alana, ia dongakkan agar mudah mencium pada keningnya
Cup
"Ide dari mana kamu" Tanyanya sambil melepas kancing kemeja yang Alana pakai satu persatu
"Sendiri"
"Kenapa suka sekali kau memakai bajuku, hah" Tegurnya lagi
"Biar mas keluar tanduknya"
"Memangnya mas kambing" Hanan berhasil membuka kemeja
Ngok
Hanan menatap bingung pada korset yang melekat pada tubuh Alana "Ini apa-apaan pakai korset segala" Hanan mendengus kesal
Hanan tau soal korset gunanya untuk apa. Dan ia juga faham cara membukanya
"Ini tantangan mas. Bisa buka nggak" Ucapnya sedikit mengejek, padahal yang diejek, tidak merasa kalau ini sebuah tantangan
"Kalau bisa buka, mas dapat apa" Tantang balik
"Maunya apa"
"Tempurlah"
"Heh, yang difikiran mas isinya itu doang dari tadi"
"Lah, mau ngapain kalau tinggal kita berduaan didalam kamar"
"Dasar mesum" Ejeknya lagi
Hanan mengambil gulungan kertas, lalu menabok dada Alana yang menyembul
Plok
"Ini nggak sesak nafas?" Protesnya. Karena Alana persis seperti para sinden yang akan tampil dipewayangan
"Helle.. Kebanyakan omong. Bilang aja nggak bisa buka" Alana segera menutupinya lagi dengan kemeja tadi, yang belum terlepas sempurna
"Tunggu dulu. Mas hanya heran. Ngapain kamu memakai beginian" Tunjuknya pada korset "Perut sudah langsing, biar apa pakai begini. Mau nyinden?" Hanan sedikit menarik kebawa
"Tunggu! Enak aja berakhir" Hanan terduduk dikasur
"Yaudah, bisa nggak.. Jangan main tarik seperti tadi" Alana membungkuk, agar wajah mereka berdekatan "Kelihatan mas kayak anak kecil" Ejeknya lagi dan lagi
Hanan tidak menjawab, tapi tangannya menekan pundak Alana, agar posisi mereka, masih dekat seperti tadi
Hanan menatap netra Alana dengan seksama "Oke, siapa takut"
Alana dan Hanan sepakat, mereka berjabat tangan
"Oke, ngapain takut. Deal"
"Deal. Jika mas bisa buka, jatah malam ini tidak boleh ditunda. Lihat punya mas" Hanan menunjuk kepunyaannya sudah meronta dibalik celana pendeknya
"Ahaha.. Satu cowok masuk jebakan"
"Jebakan beginian?" Hanan menunjuk korset
Alana mengangguk
Hanan sudah memegang korset. Kedua tangannya dengan cekatan membuka pengaitnya "Hm, berhasil" Riangnya
Hanan menarik korset, dan melucuti kemeja yang masih menempel pada Alana
Mata dan mulut Alana membulat "Mas kok bisa. Mas belajar dari mana hayo. Mas pernah buka beginian sama siapa" Sarkasnya
"Sama siapa? Hei, nggak usah banyak tanya. Kau ini kalah"
"Nggak terima, pertanyaanku belum dibalas"
"Hadeww" Hanan sudah pening
Alana ikut berfikir, sambil mondar mandir dengan dada yang terbuka, dan hanya memakai CD tok
Hanan menatap Alana dengan mata yang sudah berkabut "Sabar dik sabar" Hanan mengusap jempol panjangnya yang ada didalam celana
"Apa. Sabar-sabar. Jelasin"
__ADS_1
"Heh?? Mas sudah ahli dalam bidang melepas kait BH, ngapain nglepasin begituan harus kursus dulu"
"Tapi ini kaitnya kan banyak. Nggak cuma dua"
"Oke" Hanan melepas seluruh kain yang melekat pada dirinya "Lihat" Hanan menunjuk pisang ambonnya yang sudah menantang
"Sombong" Alana menutup wajahnya. Meskipun sering melihat, kalau sudah dipamerin, Alana akan malu-malu tapi mau
"Hei" Sambil menekan Alana agar tidak berontak, Hanan mulai merebahkan Alana diatas kasur.
Hanan sudah menindihnya, dengan tangan yang mulai melepas kain berenda milik Alana
Sambil mencum bu, Hanan kembali menjelaskan "Korset itu, sering mas lihat pada pasien, pada saat mereka kontrol pasca caesar. Sebenarnya mas tidak suka, jika pasien pasca caesar memakai korset. Itu terlalu menekan. Dan mas melihatnya, waktu asisten membantu membuka korset tersebut. Mas hanya melihat sekilas. Dan praktiknya untuk pertama kalinya, ya malam ini, bersamamu"
Hanan memeluk Alana "Tubuhmu panas"
"Itu karena mas"
-
Pagi harinya
Mereka sudah berdandan dengan wajah yang kembali ceria
Hanan dan Alana keluar bersamaan dari kamar
"Bundaaa.." Panggil Altaaf yang sudah menunggu dimeja makan bersama Imran
"Bund, Altaaf nggak mau sarapan katanya" Aduh Imran
"Loh, kenapa nggak mau sarapan" Alana mengusap punggung Altaaf
"Bunda nggak keluar keluar katanya" Celetuk Imran
Alana dan Hanan saling tatap
Setelah drama usai, mereka sarapan dengan khidmat.
Kedua anaknya langsung lahap untuk sarapan
Entah mantra dari mana Alana dapat, kedua anaknya selalu patuh padanya
Tentramlah hati mereka berdua, melihat buah cintanya mudah diatur
-
Kedua anaknya sudah berangkat kesekolah
Kini, Altaaf sudah masuk kesekolah PAUD. Jadi, mereka berangkat bersama karena gedung sekolahan mereka satu yayasan
-
Tinggal Hanan dan Alana yang mulai siap untuk mencari nafkah
"Yang nyetir aku, boleh mas?"
"Boleh"
Alana sudah siap menjadi driver tercantik yang Hanan punya. Sambil sedikit pengarahan, tidak terlalu sulit untuk mengajari Alana. Karena dia sudah lihai dijalan rata.
"Pintar" Hanan mengusap-usap kepala Alana
"Selpi mas"
"Oke" Hanan sudah siap berpose disamping Alana yang menyetir "Siap ya"
"Siap"
Jeprat jepret
"Wih, hasilnya cantik"
"Masa, berarti mas ikutan cantik dong"
"Ya bukan begitu"
Hanan sudah memasang story diaplikasi yang ia punya. Hanan beri judul #Driverku baru#
"Ternyata lama menikah, baru tau kalau aku punya driver handal seperti istriku" Ungkap Hanan memuji, lalu mencium kepala Alana
Cup
__ADS_1
"Ah" Pipi Alana merona
BERSAMBUNG....