Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 15


__ADS_3

Lagi seru serunya main sama anak istri, Hanan kedatangan tamu kembali


Setiap malam pasti ada saja tamu yang berdatangan untuk melamar kontrakan Hanan


"Boleh melihat lihat dalamnya pak? penasaran saya"


"Oh, boleh boleh mari"


Hanan biasa menunjukkan pintu kontrakan yang masih kosong "Ini yang kosong, yang masih terlihat gelap. Yang sudah terisi ini, itu, itu, dan sebelah ujung sana sudah penuh semua. Dan yang kosong tinggal 3 pintu. Ini, ini, sama itu" Hanan menunjukkan kontrakan yang berpenghuni dan beberapa pintu yang masih kosong


"Modelnya sama ya pak?"


"Sama"


Hanan membukakan salah satu pintu yang belum berpenghuni "Silakan"


Hanan memperlihatkan ruangan satu dengan ruang lain, yang terlihat cantik dan nyaman.


Kontrakan ini laris manis, mungkin karena bangunan baru, jadi buat rebutan


Sicalon pengontrak manggut manggut, merasa cocok sesuai selera "Oh, terus tanggungan saya sebagai pengontrak apa pak?"


"Listrik, air, sampah bayar sendiri. Penampungan sampah disebelah sana depan, agar tidak ada pemulung yang masuk. Dan dilingkungan kontrakan ini biar bersih" Hanan membuka kran air "Air semuanya lancar, biar penghuni sini nyaman dan tidak berebut"


"Oh, terus bayar sampah sama air dengan siapa pak?"


"Ada. Semuanya ada yang mengkoordinir. Kecuali token listrik"


"Oh, kalau gitu kita pilih yang ini aja ya yang" Si calon pengontrak minta pendapat istrinya


"Iya"


Hanan kembali menjelaskan hal apa yang harus dipatuhi.


Hanan berkeinginan, yang mengontrak disini adalah pasangan suami istri. Dia meminta syarat jika ingin mengontrak rumahnya. Mereka harus sanggup menyerahkan fotokopi kartu keluarga dan surat nikah. Mungkin sedikit ribet seperti ingin mengajukan hutang dibank. Tapi inilah syaratnya. Jika tidak mau menyerahkan syarat tersebut, Hanan tidak mau menerima


Hanan tidak mau menampung yang aneh aneh. Agar kontrakannya damai, kontrakan ini, khusus diperuntukkan yang sudah berumah tangga saja. Selain itu tidak


Jika belum menikah. Entah itu perjaka, perawan atau single parent, takutnya menjadi pelakor atau pembinor


Karena harga perawan, perjaka, janda, ataupun duda, hampir gulung tikar. Yang sedang naik daun saat ini adalah, istri atau suami orang 🤑🤑🤑


"Baiklah, saya deal pilih yang ini pak dokter" (Maksudnya kontrakan. Bukan yang aneh aneh)


-


Hanan masuk kekamar


Ternyata, Alana dan Imran sudah tidur terlelap disana


Hanan kembali membuka laci, menaruh amplop terbaru, disatukan dengan amplop amplop yang masih tergeletak didalam sana


Setelah itu, Hanan memperhatikan dua insan yang sangat ia sayang tertidur pulas


seperti biasa, Hanan selalu memindahkan Imran untuk pindah kekamar mbak Rasti


Hanan tidak ingin, momen pengantin barunya diganggu oleh putranya itu. Bisa bisa gagal terus kalau ada Imran disebelahnya


-


Hanan kembali lagi, setelah Imran sudah ditangan pengasuhnya


Hanan datang membawa tissue, dan mendekatkan pada Alana yang sudah berganti model cara tidurnya

__ADS_1


Hanan menaruh box tersebut disamping Alana tidur model tengkurap


Tiba tiba,


Alana berbalik, lalu menunjukkan pembalut yang masih terambil beberapa buah saja yang ia ambil


"Kamu haid ?" Tanya Hanan mulai memudar senyumnya


"He emz"


"Sejak kapan ?"


"Sejak tadi sore "Jawabnya sambil tersenyum gemas


"Ya Tuhan Alana... Kenapa nggak bilang dari tadi" Hanan terduduk lesuh sambil memangku tissue


Alana bergeser, yang tadinya tiduran, ia duduk disamping Hanan


Alana mengalung diperut Hanan


"Kan perempuan memang seperti itu kak. Ada liburnya. Masa tiap malam harus bikin anak melulu. Imran masih kecil kak"


Hanan menjauhkan Alana sebatas lengan


"Kau tidak memakai alat KB kan? "


Dengan cepat Alana menggeleng sebagai jawaban tidak "Aku mana tau begituan kak, takut salah. Aku pernah baca tuh, jika alat KB digunakan sebelum kita mempunyai anak, kandungan kita bisa kering. Bener nggak kak?" Tanya Alana sambil menggoyang lengannya Hanan


Hanan menoleh "Bisa bener, makanya jangan coba coba" Ancaman Hanan agar Alana jangan memakai alat tersebut. Karena Hanan tidak ingin menunda nunda, untuk memiliki keturunan lagi dari rahim yang berbeda yaitu dari Alana


Nb : Melakukan pemasangan KB yang dilakukan sebelum memiliki keturunan, bisa kering, bisa saja subur setelah terlepas dari KB, tergantung kondisi tubuh masing masing


Alana memeluk perut Hanan, lalu bersandar didadanya dan mendongak "Lagian malu kak, beli begituan diapotik. Dikira aku anak sekolah yang mau beli begituan. Terus, akan melakukan begituan dengan pacar. Aku takut disangka mau begituan oleh pegawai apotik"


"Ya begituan. Masa kakak nggak paham" Alana terlihat kesal karena Hanan sedikit memancing


Alana berdiri didepan Hanan. Sekarang, Hanan yang mendongak


"Kenapa berdiri?"


"Takut bocor" Jawab Alana jujur


"Ck kau ini. Coba lihat" Hanan menarik rok yang dikenakan Alana "Iya tembus tuh, sana ganti " Hanan mendorong Alana sampai diambang pintu kamar mandi


Hanan berbelok mengambil pembalut yang ada diranjang, lalu mengangkat tangan Alana "Ini"


Alana tersenyum lebar "Nggak ambilin CD sekalian kak, hehe" Alana lenggak lenggok didepan Hanan


"Ambil sendiri"


"Hallaa kakak. Kenapa sayangnya cuma setengah setengah"


"Kamu mana aku tau letak celanamu dimana. Model loreng, berenda, polos, mana aku tau"


"Heh?? mana ada aku punya begituan yang bermodel loreng. Ah kakak payah" Alana berjalan ke almari khusus daleman.


Hanan tersenyum melihat Alana terlihat kesal


Setelah mengambil CD yang diinginkan, Alana berjalan menuju kasur


"Eh eh, kenapa kamu kesitu lagi" Tegur Hanan


"Ehehe" Alana terkekeh sambil meraba raba sprei

__ADS_1


"Cari apa lagi ?" Hanan penasaran


"Darahlah, siapa tau nemplok disini" Tunjuk Alana pada sprei


Hanan mengikuti Alana jalan "Tiap bulan kamu selalu banjir begitu?"


"Iya"


"Nggak sakit?"


"Ya sakit kak perutnya, punggungnya juga" Alana melirik Hanan yang terlihat mengikutinya "Kakak mau ngapain ngikutin aku"


"Ya ingin tau aja, istriku kecil kecil begini darahnya banyak. Nggak lemas"


"Kenapa harus lemas. Memangnya aku tertusuk apa?"


"Oh begitu"


"Kakak kenapa sih tanya tanya soal itu"


"Enggak, cuma ingin tau. Kira kira, liburnya berapa hari"


"Kakakkk... Kebangetan banget tanya seperti itu" Alana memukul lengan Hanan "Belum genap lima jam kak, kenapa kakak tanyanya begitu"


"Aku kan penasaran bund"


"Waaaah... Dokter kandungan gadungan ini mah" Ejek Alana


"Hus, sembarangan" Hanan sudah berdiri menjulang didepan Alana


"Kenapa kakak penasaran masalah haid. Katanya kakak lulusan terbaik dulu. Ah, kalau aku, malu sama kucing"


"Kucing apa maksudmu?"


"Kucing garong"


Alana sudah didalam kamar mandi. Begitu pintu akan ditutup, Hanan berdiri disana "Ngapain kakak disitu. Mau bantuan??! "


"Kalau boleh nggak masalah"


"Maksudnya ??"


"Takut kamu bohong"


Mata Alana melebar "Kakak, dulu kakak kebangetan begitu nggak sih"


"Nggak"


"Kenapa?"


"Nggak kepikiran" Hanan tersenyum miring


Seketika, Alana menutup pintu


Brakkk


Hanan spontan menjauhkan wajahnya pada pintu "Busyet dah, kecil kecil cabe rawit juga dia"


Dor gedor gedor


Suara pintu dipukul Hanan


"Kalau ketahuan bohong. Awas ya !!"

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2