Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 82


__ADS_3

Hanan tertawa, lalu berbisik "Kenapa bunda takut dengan pisang. Kan bagus bund buat pencernaan"


"Pokoknya, sejak dulu aku nggak suka"


"Oke, banyak loh, pasien yang bertanya-tanya, soal becek-becek. Takutnya persis kayak yang bunda takutin"


"Apa tuh"


"Benar nggak sih, perempuan dilarang makan pisang? Tau nggak jawabannya apa?"


"Apa?? Tapi bener kan, makan pisang itu dilarang" Keukeuh Alana


"Kenapa?"


"Soalnya keputihan mas"


Hanan geleng-geleng "Oke, Biar mas jelasin. Kalau perempuan yang masih lajang, itu memang ada larangan, jika mengkonsumsi pisang ambon yang berlebihan. pisang ambon bund" Ucapnya agar Alana faham


"Nah, berarti yang kutakutkan bener kan?"


"Bunda takutnya kan sama segala pisang. Cuma sama satu pisang milik mas aja yang diminati" Goda Hanan, sambil menyenggol bahu Alana


Bukk


Alana menabok lengan Hanan "Ih, selalu sampai kesitu"


"Kenyataannya iya kok. Sukanya gigitin milik mas"


Alana langsung menyerang mulut Hanan, dan menutupinya dengan tangan Alana "Ih, kapan !! Nggak pernah aku gigitin milik mas. Dikira tikus apa aku"


"A haha"


"Diam !!! Ntar kalau mas kangen, nggak akan aku urusin" Ancamnya


"Ish, jangan ngambek dong bund. Mas hanya becanda. Kita sama-sama butuh. Iya, jangan ngambek ya" Hanan merangkul bahu Alana, sambil menoel-noel hidung Alana


"Ih, lepasin..." Alana membrontak, membuat kedua putranya menatap mereka semua


Altaaf turun mendekati Alana yang masih dipiting oleh Hanan "Bund, bunda..."


Hanan langsung menghentikan aksinya


Alana dan Hanan sama-sama menatap Altaaf yang terlihat sedih


"Kok bunda sama daddy berantem" Ucapnya sedih


Lain dengan Imran. Imran sudah faham tingkah kedua orang tuanya, antara bercanda ataupun selagi serius


"Eh, eh. Tidak sayang. Daddy hanya ingin memeluk bunda. Daddy ingin mencium bunda emmmuaaah" Hanan mencium pipi kanan Alana


Altaaf langsung tersenyum malu "Oh"


"Kenapa oh, Altaaf ingin dicium daddy?" Tawar Hanan


Altaaf mengangguk "Iya dek Altaaf mau"


"Oh hoho, sini sini" Hanan menciumi seluruh wajah, dan tubuh Altaaf yang harum tiada tara


Altaaf kegelian "Udah dad, ha haha, geli dad hi hihi"


Hanan menurunkan Altaaf, lalu menabok pantat Altaaf pelan "Dah, sana main sama kakak dulu"


Altaafpun menjauhi kursi Hanan


Hanan kembali mengambil pisang ambon, lalu mengupasnya "Nih bund, makan pisang. Ayolah bund"


"Sudah dibilang aku nggak suka. Maksa banget kayak tukang kridit panci"


Hanan mengagah "Lah, suamimu dulu dibandingin kayak rentenir. Sekarang, kayak kridit panci. Besok apa?!"

__ADS_1


"Dept collector"


"Kok gitu"


"Orang mas sukanya maksa" Alana berdiri "Dan suka gencet"


"Gencet apaan"


"Gencet yang digencet-gencetlah. Gitu aja nggak faham"


"Bund eh, jangan pergi. Duduk dulu. Mas ingin ngobrol, masak bunda mau kabur" Hanan sudah menarik Alana untuk duduk kembali


Alana sudah duduk


"Lah gitu dong, kan manis"


Alana hanya terdiam


"Mas masih kangen tau, bunda juga kangenkan hayo"


"Pe de"


"Lah, pokoknya, ntar malam ya bund"


"Apanya?"


"Bercinta" Godanya tak tau malu


"Tergantung moodku" Alana berdiri lagi


"Eh ?? duduk kenapa bund, makan pisang ya bund" Rayunya


Alana menutup wajahnya sendiri "Ya Allah"


Hanan tersenyum, dan tetap mengambilkan pisang ambon, lalu menyodorkan pada Alana "Jangan takut. Bunda kan sudah menikah"


Seorang pakar gizi mengupas tuntas tentang larangan bagi wanita lajang makan buah pisang ambon secara berlebihan, karena memang ada alasannya secara ilmiah dibalik larangan ini.


"Ih nggak mau" Tolak Alana


"Larangannya untuk perawan bund, pe ra wan. Bukan Istri orang. Berbeda"


"Pisang ambon itu punya zat yang membuat libi do tinggi, kalau seorang gadis terlalu banyak mengkonsumsinya, maka, libi donya otomatis akan naik, dan berpengaruh pada has rat sek sualnya. Jadi, ini berbahaya"


Alana sudah cengap-cengap mau protes


"Tunggu dulu" Hanan menarik tangan Alana agar jangan protes "Kata sang professor, kalau yang mengkonsumsi seorang perempuan yang sudah menikah, itu tidak akan menjadi masalah. Karena, kalaupun libi donya naik dan tinggi, dia sudah mempunyai suami tempat untuk bersandar" Alis Hanan sudah dinaik turunkan


"Ih, ntar aku makan, terus has ratku naik, ntar mas nolak. Ah, nggak mau. Aku nggak akan coba-coba"


"Ahaha, masak nolak, nggak mungkinlah"


"Ah, sudah, sudah, sudah. Sarapannya dimakan. Sampai dingin gara-gara membahas pisang"


"Tapi kalau bahas pisang mas nggak bosen kan?" Godanya


"DIAAAAAM!!"


Ahahaha


-


Dirumah sakit


Sengaja Hanan mengajak Alana, dan kedua putranya untuk ikut kerumah sakit


Hanan membebaskan kedua putranya untuk bermain diarea rumah sakit. Entah melihat bayi yang sedang dijemur, atau bayi yang sedang dimandikan


Sebenarnya, dirumah sakit ini, ada jam-jam tertentu, yaitu jadwal jam besuk

__ADS_1



Anggap saja foto diatas Imran dan Altaaf


Security tadi sempat bingung, kenapa ada dua bocah berwajah blaster kelayaban didalam rumah sakit. Padahal, pintu pengunjung masih ditutup, dan belum ada jadwal besuk


Rumah Sakit Ibu Dan Anak “ASSIFA” ini, memberlakukan kebijakan terbaru tentang penunggu dan jam kunjung pasien rawat inap


Ketentuan ini berlaku demi keamanan dan kenyaman pasien dan pengujung Rumah Sakit Ibu Dan Anak ini


Adapun ketentuan bagi Pengunjung pasien rawat inap adalah


Khusus pasien VIP, VVIP dan President Suite diberlakukan maksimal 2 orang penunggu. Sedangkan pasien kelas 1,2 dan 3, diberlakukan maksimal 1 penunggu.


Kartu tunggu tidak dapat dipakai bergantian. Kartu tunggu harus sesuai dengan nama yang tertera pada kartu tunggu.


Pengecekan berkala dilakukan oleh petugas security yang berada di Lift Lobby A, Lift Lobby B dan belakang UGD.


Jika terdapat perpindahan kamar pasien rawat inap, maka Kartu Penunggu sebelumnya wajib dikembalikan dan diganti sesuai dengan kamar yang tempati.


Walaupun aturannya ada jam besuk, khusus untuk putranya, atau keluarganya yang datang, tetap dibebaskan. Karena aturan ini tidak berlaku untuk keluarganya


Beberapa jam setelah bekerja, Hanan masuk keruangan khusus untuk keluarganya



Gerreeeet


Hanan membuka pintu


"Pada betah disini ya? Sudah makan belum?"


Altaaf dan Imran menyambutnya


"Sudah dad, tadi kami keluar bersama bunda" Ucap Imran yang sudah memegang lengan kiri Hanan


Altaaf menarik-narik lengan kanan Hanan, sambil menunjuk beberapa makanan yang berada dimeja "Itu dad, makanan banyakiiiiin"


"Banyak makanan" Hanan membenahi ucapan Altaaf yang salah-salah


Meskipun bocahnya bongsor, tapi cara bicaranya masih amburadul


Hanan duduk disamping Alana


"Beli apa bund"


"Mie ayam mas, aku pingin mie ayam. Eh, anak-anak ikutan pingin. Jadi, mas kubelikan aja biar sama"


"Oh, ya ya, nggak pa-pa. Mas juga udah lapar" Bisiknya diujung ucapannya


"Ya"


Alana segera membaginya saja karena sudah ada dimangkok masing-masing


"Ini milik mas, yang tidak terlalu pedas"


"Terima kasih"


"Ini milik kakak, sama seperti milik daddy, tidak terlalu pedas"


"Makasih bund"


Altaaf jingkrak-jingkrak "Punya dedek mana bund"


"Punya dek Altaaf, tanpa sambel, tanpa saos, nih"


"Makasih bundaaa"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2