
Imran sudah diletakkan ditempat tidur oleh Hanan.
Hanan sudah duduk dibibir ranjang, lalu menoleh kearah Alana yang sejak tadi berdiri mematung "Bund sini, duduklah sini" Alana sedikit ditarik oleh Hanan, agar Alana duduk disampingnya.
Tapi Alana sedikit berat karena Alana menahannya
"Kenapa? bunda tidak kangen sama daddy, hmm?" Ucapnya, memandang Alana sangat lekat
Alana menunduk salah tingkah,
Ada rasa sedikit malu tapi takut, takut tapi kangen. Itulah yang dirasakan Alana saat ini
Alana terus bermainan pada kuku tangannya "Kangen, tapi sedikit" Bohongnya
Hanan mengulum senyum "Sedikit ?? benarkah? jadi tidak imbang dong" Hanan terus berbicara. Sejauh mana kejujuran istrinya tentang perasaannya
"Memangnya kakak kangen?" Alana berusaha kuat menatap manik manik mata milik Hanan
Alis Hanan bertaut "Pertanyaan model apa begitu" Hanan pura pura serius, padahal hatinya tersenyum
Tangan Hanan melambai "Sini sini sini"
Alana maju mendekati Hanan yang sedang duduk
"Kenapa kamu kelihatan takut, hmm??" Hanan memegang kedua Kenyan Alana
Tiba tiba Imran mengganggu momen baikan ini setelah genjatan senjata kemarin
Imran yang sedikit ngantuk, terlihat rewel. Tengkurep telentang terus terusan, membuat Alana maju, Dan duduk disamping Hanan, lalu mengambil Imran yang mulai nangis karena ngantuk
Alana memangku Imran disamping Hanan. Hanan membantu mengusap usap punggung Imran. Tapi Imran berontak ingin tiduran dikasur, bukan dipangkuan Alana
"Sama daddy yuk" Hanan ingin mengambil Imran dari pangkuan Alana. Tapi Imran justru menangis "Rebahin bund, kayaknya ngantuk berat dia" Titahnya
Akhirnya, Alana naik keranjang, merebahkan Imran, lalu mengusap usap punggung Imran
Imran mulai mainan wajah Alana yang ditabok tabok oleh tangan mungil Imran
Rambut Alana juga sudah jadi korban karena ditarik tarik oleh Imran
Hanan yang melihat langsung membantu menguraikan tangan Imran yang mencengkram rambut Alana
Hanan mendapati rambut rontok Alana ditangan Imran "Rambutmu rontok bund, kalau keseringan ditarik begini, apa nggak habis"
"Kalau nggak begitu, Imran nggak tidur" Jawabnya santai
"Ya tapi lama lama rambutmu habis bund. Masih suka gigit?" Tanya Hanan penasaran
"Masih, ini tadi" Alana menunjuk pada lengan yang terkelupas sedikit kulitnya
"Sudah diobatin?"
"Belum"
"Kok belum" Hanan berdiri mencari minyak oles
Hanan mendekati Alana kembali, setelah mendapatkan obat tersebut untuk Alana
Mata Imran tinggal satu watt, tapi tangannya menabok nabok dada Alana
Kembali Hanan melarangnya "Hentikan Imran, ini area milik daddy, kenapa kamu pegang pegang" Ucapnya sambil mengolesi minyak dilengan bekas gigitan Imran
"Nggak papa nding, terus terus" Alana malah tambah erat memeluk Imran, sambil mengepuk epuk pantat Imran agar segera tidur
"Masak ngajarinya gitu" Hanan ingin mengurai anak dan istrinya yang tambah erat pelukannya
"Nanti kalau Imran nangis, kakak ya yang tanggung jawab" Ancam Alana
__ADS_1
Hanan terdiam, istrinya ditinggal seminggu tambah galak
Daripada ujung ujungnya debat, Hanan lebih pilih tiduran disamping Alana
Tubuhnya ia miringkan seperti Alana sekarang, sambil peluk peluk dikit tidak ada ruginya
Alana yang dipeluk juga anteng tidak keberatan "Seminggu peluknya guling mulu, nggak bisa diajak ngobrol. Kalau peluk yang ini kan bisa diajak ngobrol ya bund" Hanan merayu terus sambil melongok Imran "Sudah tidur kan bund, kenapa masih dikelonin. Ini bibitnya bagaimana? masa dianggurin melulu"
"Kalau ingin tidur, jangan ngobrol terus. Aku juga ngantuk" Jawaban Alana membuat Hanan ingin menerkam sekarang, tapi sabar kuncinya belum nemu
"Ck, alamat dah" Hanan mulai memejamkan mata. Karena kelelahan, Hananpun tertidur
Dirasa tak bergerak, Alana tidurnya ganti posisi. Ia mengganti tidur telentang
Tapi karena posisinya ditengah tengah dua laki laki berbeda generasi ini sempit, Kejepitlah tubuh Alana sekarang
Alana memiringkan tubuhnya kearah Hanan. Alana memperhatikan wajah yang terlihat berminyak, menandakan capek yang luar biasa
Tangan Alana terangkat, ingin mengusap wajah yang seminggu lalu tidak nampak berseliweran merayu Alana
Tiba tiba tangan Hanan menarik tangan Alana kedadanya
Merahlah wajah Alana "Kenapa ragu hmm" Hanan sudah menarik seluruh tubuh Alana, sampai tengkurep diatas tubuh Hanan
Hanan memeluknya erat "Tetaplah begini bund, daddy kangen" Hanan
Mata Hanan terpejam, namun memeluk Alana begitu erat
Mata Alana melebar, dadanya sesak karena kasurnya bernyawa yaitu tubuh Hanan "Kakak lepasin, sesak aku" Alana sedikit berontak
Mata Hanan terbuka "Bund, jangan gerak gerak begitu"
"Lepasin dong"
"Daddy kangen bunda.. Masa main peluk aja nggak boleh"
"Mumpung Imran tidur kita mainan yuk" Lanjutnya
Alana menekan dada Hanan "Ih, kakak mesum. Nggak tau malu" Kaki Alana turun satu. Sehingga, paha kiri Alana tepat di perkakasnya milik Hanan
Alana membenamkan wajah malu Alana didada Hanan
Hanan mengangkatnya
Emmuah
Hanan mengecup bibir ranum milik Alana
"Kangen aku bund, boleh ya?"
Alana diam tidak menjawab
Hanan tidak peduli Alana tidak menjawab. Yang penting hari ini, kangennya harus terobati
Tangan Hanan menekan tengkuk Alana, agar bibir mereka bertaut
Bibir mereka sudah mulai bertukar saliva. Lidahnya sudah saling berjabat
Tangan Hanan sudah mulai melepas kancing baju Alana satu persatu
Alana sedikit merinding ketika tangan besar Hanan sudah meremas dada Alana
Mulut Hanan sudah menjelajahi dada Alana dengan agresif, Alana sudah terengah engah merasakan sensasi permainan Hanan
Apalagi, tangan Hanan sudah berpindah kesemak semak milik Alana
"Akh" ******* dari mulut Alana mulai menggoda Hanan
__ADS_1
Hanan melepas seluruh baju mereka hingga anta brantah
Tubuh mereka polos
Alana sedikit risih karena ada Imran disana
Hanan akan mengangkat tubuh Alana
"Kakak selimut"
"Buat apa? "
"Ih malu"
"Sama siapa? "
"Imran" Alana tersenyum lebar
"Baiklah" Hanan menarik selimut, lalu menaruhnya diatas tubuh Alana "Kita pindah kesana"
Tangan Alana sudah mengalung dileher Hanan, Hanan tersenyum sambil mengangkat tubuh Alana kesofa
Olahraga siangpun tak bisa terhindarkan
Banjir banjir banjir
Tissue tissue tissue
"Yah kak banjir.."
"Nggak apa apa dilap"
Hanan sudah jadi tukang pel dadakan demi nyai "Pindah kesana yuk" Tunjuk Hanan pada tempat tidur yang sudah ada Imran disana
"Gendong" Manjanya
Hanan sudah menyelimuti Alana, lalu membopongnya menuju ranjang
Begitu sampai diranjang, Alana tidur meringkuk menghadap Imran dengan tubuh terbungkus delimit seperti lontong
Hanan datang sudah menggunakan celana, lalu merebahkan tubuh lelahnya disamping Alana
"Haisss bunda, kenapa tidurnya menghadap kesana" Protes Hanan menarik Alana agar Alana merubah posisi tidur
"Kasihan Imran kak, masa kakak seperti anak kecil. Imran dijadikan saingan"
"Itu aja bikin daddy cemburu bund, apalagi orang lain"
Alana mendorong Hanan, lalu membelakangi Hanan kembali
"Kakak nggak mau, udah capek"
"Kan daddy nggak minta tambahan bund, hanya minta dipeluk doang"
"Sama aja, orang tangan kakak kemana mana, ntar aku yang nggak bisa tidur Tongan kakak piknik melulu"
"Kangen tau bund"
"Kan sudah"
"Ntar kasih lagi ya bund"
"Nggak janji"
"Tuh kan"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1