Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 64


__ADS_3

Saham di BAE, saham diperusahaan Fariz, satu usaha showroom, dan juga rumah beserta isinya, itu harusnya jatuh ketangan Xander. Karena disana, masih ada Wahidah, yaitu harta gono gini.


Untuk Restaurant, dulu uang tersebut separuhnya ada dari orang tua Anand. Jadi, anak dalam kandungan Lis, harus mendapatkan bagian


Pihak Ilham juga mendapat setengah bagian dari restaurant. Begitupun pihak Anand, keduanya mendapat masing masing setengah bagian


Dan setengah bagian milik Anand, itu ia bagi lagi. Untuk Xander 3/4 bagian, Karena didalam sana masih ada jerih payah Wahidah. Sedang untuk anak yang belum lahir, dari kandungan bik Lis, ia tetap mendapatkan 1/4 bagian


Catatan


Jika Ilham dan Sifa meninggal semua, maka, keseluruhan hak waris restaurant, jatuh kepada cucu cucu keluarga Han


keempat putra Ilham, masing-masing mendapatkan 1/8 bagian, anak bik Lis mendapat 1/8 bagian, dan Xander mendapat 3/8 bagian


Satu lagi, yaitu saham yang ada dirumah sakit milik Hanan. Meskipun Xander memiliki saham disana, tapi dia masih punya hak saham milik papinya. Tetapi yang ini, bagian Anand dibagi menjadi dua bagian. Setengah bagian saham milik Anand, itu untuk Xander, dan setengahnya lagi untuk anak Lis yang belum lahir.


Sementara, sewaktu Anand masih hidup, seluruh penghasilan dari BAE, restaurant, perusahaan Fariz, dan rumah sakit Hanan, Anand masukkan kepanti semua.


Jadi, pendapatan yang bisa dinikmati oleh Anand selama ini, satu satunya, dari hasil showroom


Xanderpun tidak mungkin serakah soal warisan. Dia harus mengikuti cara papinya membagi uang


-


Setelah dibacakan sebagian atas hak masing masing, Xander mengangkat tangan kanannya


"Pak Yudhis, saya ingin memberi pendapat sedikit"


"Baiklah silahkan"


"Baiklah terima kasih atas waktunya. Begini, jika saya mengikuti kebiasaan papi tanpa merubah, itu artinya, bik Lis dan calon anak papi, termasuk calon adikku, itu tidak mendapatkan uang. Karena seluruh jatah sesungguhnya untuk calon adik saya, sudah dimasukkan ke panti semua, betul begitu"


Seluruh yang ada disitu, mengangguk membenarkan


"Untuk itu, kita buka harta papi yang seharusnya untuk adik saya. Berapa pak totalnya" Ucap Xander pada Yudhis


Yudhis membuka pendapatan Anand perbulan


"Wow oke, sekarang, pendapatan papi di showroom?" Xander meminta pada Yudhis


Yudhis juga membukanya


"Wow fantastis"


Xander berbisik pada Yudhistira "Berarti penghasilan dari showroom, hasilnya lebih besar, dan berlipat lipat, dibanding hak untuk adikku ya pak"


"Betul"


Semua orang melihat penghasilan Anand setiap bulannya. Semuanya dibuat takjub


"Papi luar biasa" Ucap Hawa, tapi langsung disuruh diam oleh Fariz

__ADS_1


"Sttttt kita bukan ahli waris papi. Kau tidak boleh berharap jauh"


"Tau bang.. Jika dihitung hitung uang pemberian papi saja, bisa buat beli motor gede bang hehe... Hawa cukup tau diri. Sudah disayang papi saja, senengnya luar biasa"


"Bagus.. Itu namanya istri abang"


Hawa manggut manggut


"Oke, sekarang saya lanjutkan. Saya ingin menjelaskan pengeluaran keuangan papi. Saya salut sama papi, tentang memenej keuangan papi. Sangat tertata" Xander


Ada jedah


"Papi bisa membayar seluruh pegawai dirumah, membeli apapun yang papi inginkan termasuk, belum lama ini membeli perkebunan di Magetan, bener bik?" Xander menunjuk Lis


"Iya"


"Dan itu diatas namakan Listiani tanpa CS. Berarti, saya tidak punya hak mendapatkan secuilpun dari perkebunan tersebut. Karena harta itu, termasuk hibah atau hadiah dari papi untukmu bik, semoga dimanfaatkan sebaik mungkin ya bik?"


"Iya"


"Dan satu lagi, sedikit cerita tentang papi. Apapun yang papi inginkan, semuanya menggunakan gaji papi, yang papi dapat dari showroom. Termasuk membelikan tanah perkebunan untuk bik Lis. Semuanya, papi izin dengan saya, dan saya menyetujui ide papi. Bagaimanapun, keinginan memberi hadiah untuk bik Lis, itu rasa terima kasih papi padamu bik. Karena bik Lis yang menemani papi di masa tua papi"


"Iya terima kasih"


"Pak Yudhis, saya ingin merubah sesuatu yang penting, dan itu tidak akan merugikan siapapun"


"Silahkan"


"Iya"


"Saat ini, bik Lis masih berstatus istri papi, karena harus menunggu masa Iddah. Ditambah, ada calon anak yang ada dikandungan bik Lis. Itu artinya, bibi masih tanggung jawab papi. Berhubung papi telah tiada, dan tidak bisa melanjutkan kewajiban sebagai suami untuk menafkahi lahir bik Lis, maka, itu termasuk tanggung jawabku"


Semua orang mengangguk


"Dan itu termasuk warisan juga untuk saya" Sambung Xander


"BETUL" Ucap semua orang, kecuali bik Lis


"Jangan hanya hak saja, kewajibannya tidak. Baiklah bik Lis, mulai saat ini, kutukar guling saham yang seharusnya untuk calon anak papi, saya tukar dengan satu showroom. Karena apa? karena saya tidak akan merubah hasil dari seluruh saham yang papi punya, masuk kepanti seperti sedia kala. Dengan catatan, bibi akan mendapat tunjangan dari separuh gaji papi dishowroom, dan separuhnya untuk tabungan pendidikan calon adik saya kelak. Dan semuanya, akan saya serahkan sepenuhnya showroom tersebut, jika calon adik saya menginjak usia dewasa"


Semuanya mengangguk setuju


"Baiklah, mungkin dari saya sekian saja. Selanjutnya, tolong baca kelanjutan surat dari papi pak" Imbuhnya pada Yudhistira


"Baik terima kasih. Begini..."


Yudhis mulai membacakan


Surat dari papi


"Untuk putraku Alexander putra Anandhan tercinta, berilah tunjangan untuk Listiani ibu sambungmu, sampai batas yang ada. Jika Listiani belum menikah, tunjangan bulanan tetap dikasihkan. Tetapi, jika Lis ingin menikah lagi dengan pria lain, itu artinya, tunjungan akan dihentikan otomatis, tapi tidak dengan anak papi dari Listiani. Itu menjadi tanggung jawabmu, bagaimanapun, kau adalah walinya"

__ADS_1


"Untuk Listiani, suamimu tidak bisa berbuat banyak. Jaga anak kita, sayangi dia, jika kiranya kau tidak sanggup menanggung hidup untuk anak kita, serahkan anak kita pada kakak kakaknya. Saya yakin, kelima putra papi sanggup untuk membesarkan anak kita. Dan jika kau tidak sanggup hidup sendiri, maka menikahlah. Kiranya jelas anak dan istriku, semoga kalian saling akur, saling membimbing, saling menyayangi. Dari suami, papi, Anandhan Nicholas "


"Selesai, apa ada pertanyaan?" Yudhis


"Eng saya boleh bertanya?" Hawa mengangkat tangan kanannya


"Kau mau bertanya apa? jangan minta warisan, jangan bikin abang malu" Cegah Fariz jujur


"Tidak apa apa Fariz, biar Hawa memberi pendapat" Xander


"Terima kasih bang" Hawa


"KAKAK !!" Ucap semua orang


"Ah iya kakak, lupa. Begini, bik Lis terus tinggal dimana? kan rumah papi sudah milik kak Xander"


"Wah cerdas juga istri abang" Fariz


"Kalau cerdas diakui, kalau nggak cerdas, nggak diakui" Kesal Hawa


"Tidak diakui tidak masalah Hawa, yang penting disamakan" Ledek Xander


"Itu sekolah kakak"


HAHA


"Oke, pertanyaan Hawa, biar saya yang jawab ya pak Yudhis ya.. " Sambung Xander lagi


"Iya silahkan tuan"


"Bik Lis, sebelum bayi dalam kandungan bibi lahir, saya berharap, bibi tetap tinggal disini, dia adikku, tanggung jawabku"


"Tapi... "


"Tapi kenapa? belum bisa menerima papi telah tiada?"


Lis mengangguk


"Terus, apa kita tukar? bibi tinggal dirumahku, dan kami tinggal disini, bagaimana?"


"Bukan begitu. Sepertinya, saya ingin tinggal dikampung"


"Tapi bi, disana tidak ada saudara satupun, sebaiknya bibi tinggal disini, dan jika ada apa apa, bibi bisa langsung minta tolong" Cegah Xander


"Iya bi, kami akan kembali tinggal disini, temani bibi" Hawa


"Hah, itu ide bagus Hawa. Dan satu lagi. didalam garasi, ada tiga mobil kesayangan mami dan papi. Bik Lis bisa pilih salah satu milik papi, dan untuk Hawa, kakak kasih satu mobil kesayangan mami. Kau mau Hawa ?"


Hawa clingak clinguk kegirangan


"Woiii.... Hawa dapat warisaaaaannnn" Teriak Hawa sambil mengepalkan tangannya bersemangat

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2