
Hanan merebahkan badannya, dan mengangkat kepala Alana untuk ia dekap
"Kak, kakak belum makan siang kan?"
"Belum, bentar ingin ngelurusin punggung dulu"
Alana mengusek usek wajahnya kedada Hanan
"Emmm nyaman" Ucapnya ngusek didada Hanan
Hanan memejamkan matanya, tangannya masih tetap mengusap usap lengan Alana
"Apa yang bunda makan tadi?" Tangan kirinya masih sama mengusap lengan Alana, sedang tangan kanannya mengusap usap rambut Alana
Sejurus itu, Hanan memeluk Alana erat, lalu mencium kening Alana
Emmmuuuaah
"Gemeeees banget" Hanan bangun, dan duduk dibibir ranjang, dengan rambut acak acakan
Alana tersenyum, lalu ia turun dari ranjang "Kakak lapar ? " Alana membenahi rambut Hanan agar tidak acak acakkan
"Iya, tapi entar dulu, daddy ingin peluk bunda ah. Duduk" Hanan menepuk paha kirinya, agar Alana duduk disana
Alana menurut, dan tangannya mulai mengalung dileher Hanan
Alana menjauhkan wajahnya pada pundak Hanan
Mereka saling pandang
Cup
Bibir Hanan mengecup bibir Alana sekejab
"Nggak menyangka, anak kecil kini bisa hamil" Ucapnya sambil menatap Alana
Alana blingsatan "Is kakak, selalu bilang aku masih kecil" Protesnya manja
"Tuh kan manjanya kumat" Hanan mencubit dagu lancip milik Alana
Alana berdiri "Kakak jangan bilang begitu ah, aku nggak suka"
Tiba tiba Imran bangun
"Bundaaa... " Imran terduduk. Matanya diucek ucek sambil duduk dengan kedua kakinya ditekuk semua, dan diduduki
"Eh kakak sudah bangun ya" Hanan mengambil Imran dan mendudukkannya dipaha kirinya
"Daddy.." Imran memeluk Hanan
"Iya.. Kakak sudah makan?" Tanya Hanan
"Uda. Bundaaa.. " Imran ingin digendong Alana
"Eh, kakak sudah besar, nggak boleh minta gendong bunda ya" Tegur Hanan "Ayo, ingat nggak, tadi pagi daddy bilang apa? Perut bunda ada siapa? hayo ingat nggak ada siapa?"
"Dedek" Ucapnya sambil memandang Alana, dan menggigit kuku jempol tangannya
"Pinter... Jadi, kakak nggak boleh minta gendong bunda oke"
"Iya, sekarang gantian. Bunda aja yang digendong daddy, ya?" Goda Alana
Seketika Imran menoleh pada Alana ingin menangis
Alana mendekati Hanan, lalu duduk dipaha kanannya, dan tangannya mengalung dileher Hanan "Ini daddy bunda" Goda Alana lagi
Imran tidak mau kalah, iapun memeluk Hanan "Ini daddy Imlan, no bunda no" Protesnya sudah berkaca kaca
__ADS_1
"Daddy punyanya bunda, cup" Goda Alana lagi sambil mencium pipi Hanan
"Bunda" Hanan menegur Alana sambil mendelik "Jangan menciumku didepan anak anak" Ucapnya menekan mengeratkan gigi, agar hanya Alana saja yang mendengar
"Eheheh" Alana hanya terkekeh "Tapi aku ingin didepan anak Anak cup"
"Bundaaa, indak boyeh cium cium daddy. Ni.... Daddy Imlan !!" Imran kakinya naik kepaha Hanan, lalu berdiri dan mengalung dileher Hanan seperti yang Alana lakukan tadi
"Daddy milik bunda" Ucap Alana dengan cepat
"Indak. Daddy milik Imlan !!!"
"Bunda"
"Imlan"
"Bundaaa" Tegur Hanan
Alana berdiri sekejab "Kalian berduaaaa.... Semuanya, milik bundaa ahaha" Alana duduk dipaha kanan Hanan lagi, dan memeluk mereka berdua
-
Hanan sudah kekenyangan
Makan mie ayam dan bakso, yang sudah dihangatkan kembali kuahnya
Bibir Hanan sudah merah
"Pedes kak ?"
"Ya banget"
"Perasaan aku tadi makan nggak pedes gitu"
"Tau"
Mereka bertiga makan krupuk.
Alana mencelupkan krupuk goreng minyak, dicelupkan pada kuah bakso milik Hanan
"Emm enak" Alana mulai ngomporin Imran
Imran tertarik ingin ikut seperti yang dilakukan oleh Alana
"Kak imran masih kecil, jangan kebanyakan makan krupuk sama pedas pedas" Tegur Hanan sambil mengambil krupuk dari tangan Imran, yang akan dicelupkan kekuah bakso
"Hwaaaa ndak mahuuuu daddy..... " Imran hampir kejer krupuknya diminta
Alana terus mencelupkan krupuknya berkali kali, sedangkan Imran, satu krupuk saja perjuangannya tidak kelar kelar
Alana menggoda Imran lagi dibelakang punggung Hanan
"Imran.. " Panggil Alana pelan
Imran menoleh
"Wleeh wleeh" Lidah Alana dijulur julurkan seperti orang mengejek
Imran sudah mewek hampir pecah, tapi masih kokoh belum pecah pecah
"Hai hai... Swittt swiiittt" Alana menggoda lagi, dengan gigi bawah yang digigitkan kebibir atas, lalu digoyang goyangkan kekanan dan kekiri. Kalau orang jawa bilang "Ngiwi iwi" Alana melakukannya berkali kali
Imran tambah sakit hati "Bundaaaaaa hwaaaa" Imran nangis kejer
"Ya ampun bundaa.. Sejak kapan sih kamu jadi penggoda" Hanan menabok pantat Alana. Karena Alana berdiri disofa dengan lututnya, sedangkan tangannya, merangkul pundak Hanan
"A-ha ha ha" Imran tertawa ngekrek. Melihat bundanya disiksa oleh daddynya "Daddy... Bunda tabok lagiiiiii" Ucapnya semangat
__ADS_1
"Mau ditabok lagi" Tawar Hanan
Imran manggut manggut
Plok plok
Hanan menabok pantat Alana lagi dengan pelan
"A-ha ha ha lagi dad" Imran tertawa tersendat sendat khas bocah
Imran mendekati Alana, lalu ikut ikutan menabok, seperti yang dilakukan Hanan menabok pantat Alana. Tabokan Imran salah salah karena Alana terus menghindar
"Wekk klewat wekk" Godanya lagi
Imran masih terus menabok sekenanya, sampai kaki Alana Keatas, agar Imran tidak bisa menaboknya
Terakhir, Alana mengangkat tangan kiri Hanan, dan duduk dipangkuannya "Wekkk bunda menang!!! " Tangan Alana mengepal keatas, tandanya merdeka "Imran kalah"
"Bundaaaaa ndak boyeh duduk... Daddy beyaaaatttt hwaaaa"
"Buuuunnnd.... Turun" Lerai Hanan
-
Malam harinya
Mereka berdua akur kembali seperti yang dulu. Alana kembali tidur memeluk Imran.
Alana kecapaian sehabis mengedit video, yang ia buru tadi siang
Hanan menonton hasil karya istrinya dilaptop yang ditinggal sang pemiliknya "Lumayan, ternyata pinter juga istriku"
Hanan penasaran, pada galery yang ada dilaptop Alana
Hanan mulai menggeser geser untuk melihat lihat gambar yang dibidik istrinya
Hanan berhenti ketika melihat foto dirinya yang ada diruang tunggu rumah sakit
"Apa ini. Ipar galak. Apa maksudnya? "
Hanan melihat foto dirinya di addtext dengan tulisan ipar galak "Masak sih, dulu aku galak"
Hanan teringat dulu sebelum Alana menjadi istrinya. Hanan tersenyum "Dulu musuhan, sekarang jadi pasangan"
-
Seperti biasa, Hanan memindahkan Imran kekamarnya Imran sendiri
Setelah memasrahkan Imran pada Rasti, Hanan kembali kekamarnya
Hanan naik keranjang, yang sudah ada Alana disana,
Alana terlihat anteng masih menggelung, padahal Imran yang ia kelonin sudah tidak ada disana lagi
Hanan memeluk Alana begitu erat, mengusap perutnya, mencium pipinya, lalu duduk disandaran tempat tidur
Memiliki istri muda seperti Alana, tidak ada dalam benaknya dulu.
Dulu, Hanan mempunyai prinsip, dia harus mencari istri yang selisih umurnya sekitar 3 sampai 5 tahun
Dan terbukti, ia bisa menikahi Aina dengan usia terpaut sedikit sesuai kriterianya yang diinginkan Hanan, yaitu pasangan yang ideal
Hanan mencari wanita, yang usianya tidak terlampau jauh, fikirannya dewasa, dan tidak ada kata main main
Hanan menggelengkan kepalanya, ingat perbuatan tadi siang, Alana bahkan tambah seperti anak kecil, yang memperebutkan dirinya. Dan ini, baru kali ini Hanan lihat sendiri putranya berantem dengan bundanya
Tapi, Hananpun tidak bisa melarangnya, seakan mengatakan jangan dilarang. Biarlah Alana begitu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...