
Tiga hari kemudian
Dipagi sebelum subuh, Alana mandi besar setelah menstruasi bersih
Bbbrrrrrrr
Badan dan bibir Alana bergetar
Alana segera menyusup keselimut, yang masih ada Hanan disana
Hanan menoleh karena ada gerakan yang mengganggu alam tidurnya
Hanan mengerutkan dahi "Kau sudah mandi" Hanan memegang rambut basah Alana
"Hmm brrrrrrr" Menjawab sekaligus bibirnya bergetar karena kedinginan
Hanan menarik tubuhnya agar sejajar dengan Alana "Sudah jam berapa ini"
"Empat lebih brrrrr" Tangan Alana menunjuk jam dinding agar Hanan melihat sendiri dan tidak bertanya lagi
"04:20, kok kamu sudah mandi. Suci?" Tanyanya heran
"Hmmm"
Hanan turun dari tempat tidur, lalu mengambil handuk bersih, dan mengusapnya pada rambut Alana
"Sudah mas. Biar aku saja yang mengeringkannya" Alana merebut handuk yang sedikit menghangatkan kepala dan pundaknya
-
Pagi ini setelah sarapan
Alana kembali mual berulang.
Hoeeekk
Hoook
Dan hanya air saja yang ia keluarkan dari isi perutnya
Hanan yang sudah menaruh curiga, ia urungkan untuk pergi bekerja
Anak-anak sudah pergi kesekolah, tinggal mereka berdua yang sudah rapih, namun batal untuk berangkat bekerja
Hanan membantu melepas seragam yang Alana pakai "Istirahat aja bund. Nggak usah berangkat kerja"
Hanan mengambilkan baju rumahan milik Alana, dan memakaikan baju tersebut, agar Alana nyaman
Kali ini Alana menurut. Karena pening dikepala, mulai menyerang
Hanan duduk didepan Alana, sambil mengendurkan dasinya "Bund, pagi ini kebelet pipis nggak"
Alana menggeleng
"Minum dulu" Hanan menyerahkan air minum
Setelah minum, Alana memejamkan matanya agar pusingnya berkurang "Aku ingin tidur mas. Mas kalau mau berangkat kerja, ya berangkat aja. Aku ditinggal nggak pa-apa"
Hanan bukannya menjawab iya, malah menekuk lengan kemejanya, dan duduk disamping Alana, lalu memijat kedua kening Alana
Alana tambah mengusek-usek tubuh Hanan yang membuatnya nyaman berkaliber
"Eng, bund. Mas perhatikan, tamu kamu kok cepet selesai. Kamu beneran haid nggak"
"Empat hari lalu aku haid, tapi pagi berikutnya sudah nggak haid. Hanya bercak saja. Dan semalam sudah tidak ada lagi" Alana duduk dengan tegak "Apa, aku hamil ya mas. Aku kan telat juga sudah seminggu. Tapi giliran datang tamunya, hanya sebentar" Alana menoleh kearah Hanan, lalu memegang rahang kokoh Hanan "Mas, aku diperiksa ya mas. Aku takut ada apa-apa dengan badanku"
Hanan tersenyum "Nanti diperiksa, tapi pakai tespack dulu ya" Hanan menarik laci, lalu mengambil benda kecil tersebut
Alana menyingkirkan alat tersebut dengan cepat. Lalu, menaruhnya digenggangamnya.
Kemudian, Alana mengambil tangan Hanan, dan menaruhnya diatas perutnya "Sini diperiksa mas"
Hanan mengusap perut Alana
"Bund, empat malam lalu kita berhubungan inti m. Seharusnya waktu itu, kamu datang bulan kan"
"Iya"
"Dan lebih dari seminggu, kamu sudah telat haid. Bener?"
"Bener mas kayaknya"
"Kok kayaknya"
Alana mengetuk-ngetuk benda tersebut pada tangan satu, ketangan yang lain
"Dites dulu sana pakai tespack" Lanjutnya lagi
"Ntar dulu. Belum kebelet pipis" Manjanya sambil menarik-narik hidung Hanan "Lanjut mas"
Hanan menarik tangan Alana yang sudah mencet -mencet hidungnya "Bicarakan dong sama dokter kandungan"
Alana mengetuk-ngetuk dada Hanan dengan tespacknya "Ini dokter kandunganku. Aku menginginkan konsultasi dan harus diperiksa"
__ADS_1
"Kamu itu sering konsultasi, dan sering diperiksa. Kau tidak mau mengakui kalau mas sering memeriksa kamu"
Plok
"Mesum"
"Haha"
"Mas, ayo kita kerumah sakit. Periksa aku"
"Disini juga bisa, ngapain harus kerumah sakit" Hanan memiringkan kepalanya "Sudah bisa dipakaikan" Godanya
Plok
"Ih mas, menyebalkan banget"
Hanan menarik hidung Alana gemas "Kondisi ini, bisa menjadi tanda awal kehamilanmu bund, apalagi disertai gejala fisik lain. Seperti, perubahan suasana hati, sering buang air kecil, pusing, mual. Bener nggak"
"Iya mas"
"Perubahan payu dara" Hanan mere mas buah dada Alana
Plok
"Sakit"
"Haha, semakin hari semakin menggoda bund"
Plok
"Serius mas kalau ngasih penjelasan. Jangan-jangan, mas sama pasien begitu ya"
Pletak
Jenong Alana disentil
"Kata siapa. Coba kamu ulik si Lily. Pernah nggak mas main sentuh begituan sama sembarang orang"
Alana tersenyum, dia yakin, suaminya bukan type penggoda dengan semua pasien
Alana memegang pipi Hanan "Maaf, terusin mas" Alana kembali bersemangat
"Dugaanku, meskipun baru trimester pertama, perubahan tubuhmu sudah terlihat jelas. Payu dara terasa nyerilah, sehingga terasa sakit saat mas sentuh. Kondisi ini dipicu oleh perubahan hormon dalam tubuh, sebagai persiapan untuk menghasilkan ASI setelah persalinan. Dan juga... Ukuran payu daramu juga membesar, lebih berat, dan terasa penuh" Ucapnya lagi-lagi menggoda
Plok
"Haha.. Perutmu masih rata. Tapi kulitmu, lebih bercahaya. Jadi, tidak heran jika orang yang hamil, terlihat lebih cerah, segar, dan cantik"
"Berarti, mas menebakku hamil ya"
"Bukannya orang hamil itu pucat mas, kok malah cantik"
Hanan mengusap wajah Alana yang ada jerawat "Ini buktinya"
"Apa"
"Jerawatmu"
Alana meraba-raba wajahnya "Iya mas"
"Itu semua kondisi yang dipengaruhi oleh perubahan hormon kehamilan dan peningkatan sirkulasi darah di bawah kulit. Hormon kehamilan merang sang produksi minyak berlebihan. Sehingga, kulit menjadi lebih lembab. Itu sebabnya, sebagian ibu hamil rentan berjerawat"
Hanan membuka gaun dan mengusap paha Alana dengan telunjuknya
"Perubahan kulit lainnya, akan muncul stretch mark di area paha, tuh kan"
"Iya mas"
"Coba perutnya"
"Mau apaan"
"Mas ingin membuktikan"
Alana menyingkap rok dan menunjukkan perutnya
"Nih, stretch mark diperut, dan dada" Hanan mengintip dada Alana yang masih terbungkus. Namun Alana selalu menaboknya
Plok
"Eiii.. Dan perhatikan garis gelap yang masih samar ini. Ini namanya Linea Nigra" Hanan menunjuk garis gelap yang muncul dan membentang, dari pusar sampai ke rambut kema luan
Plok
"Ih, jangan pegang-pegang kebawah. Modus"
"Mau dijelaskan nggak"
Alana diam tidak menjawab
"Ya udah kalau nggak mau diterusin" Hanan ingin beranjak dari kasur. Rasanya semakin panas saja dan membuat libidonya menaik
Alana menarik tangan Hanan "Yaudah apalagi"
__ADS_1
"Bener?"
Alana mengangguk
"Sanggup?"
"Iyalah. Memangnya mau diapain kok bilang sanggup"
"Nggak diapa-apain. Tapi mas yang akan ngapa-ngapain"
Plok
"Apaan sih" Alana malu karena curiga dengan Hanan
Hanan berjalan, menjauhi ranjang
"Mau ngapain"
"Kunci pintu" Hanan mengontrol pintu
"Buat"
"Takut pintunya terbukalah dari luar"
Alana sudah faham, jurusannya pasti jalan lahirnya Altaaf
Hanan melepas baju Alana, dan menyisakan pagar yang memagari gunung, dan menyisahkan gerbang jalannya Altaaf lahir
"Kau terlihat padat dan montok kalau mas lihat"
Alana memutar bola matanya "Terus, mas mau ngapain ngelucutin pakaianku semua"
"Periksalah. Katanya mau diperiksa"
Alana langsung menyerang Hanan "Kebiasaan"
Plok plok plok
"Kenapa harus pakai itu. Stetoskop aja" Teriak Alana
"Ini lebih bagus. Senter tanpa lampu, tapi bisa tembus dan bisa bikin anak ahaha"
Sepersekian detik, mereka bersirobok
Hanan mulai menghujani Alana dengan ciuman dimana-mana
Mereka sudah sama-sama polos
Hanan sudah berdiri dengan lututnya. Sedikit memperhatikan perubahan va gina milik Alana
Hanan tersenyum
"Kenapa"
"Tidak"
"Tidak kok tersenyum"
Hanan segera mencum bu Alana dengan agresif "Kepunyaanmu tebal" Bisiknya
Plok
Ahaha
"Mas, tesnya kapan"
"Ini mau mas tes"
"Bukan itu akkkkhh"
-
Pada trimester pertama kehamilan, ibu hamil akan mengalami peningkatan berat badan sebanyak 1,5-3 kilogram. Pertambahan ini menyesuaikan berat badan sebelum hamil.
"Mas, aku ingin di USG"
"Nanti setelah urinmu di tespack dulu. Baru, tiga bulan kemudian, mas USG"
"kenapa nggak USG sekarang aja"
"Biar tau jenis kelaminnya"
"Nggak surprise dong mas"
"Ya udah berarti jangan di USG"
Alana cemberut
"Jangan cemberut" Hanan merengkuh tubuh Alana
"Mas, aku ingin anak perempuan mas"
"Mudah-mudahan ya"
__ADS_1
BERSAMBUNG....