Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 40


__ADS_3

Rumah sakit ibu dan anak "Assifa" semakin hari semakin ramai peminat


Alana selalu ikut kerumah sakit, tapi diruangan pemeriksaan saja. Tugas yang lain, Hanan melarangnya.


Diruangan ini, Alana tidak sendiri. Ada teman satu lagi. Karena sepertinya, Alana punya hobi baru, yang susah distop.


Setiap hari Alana mengevlog kegiatan Hanan, dari bangun tidur, sampai mau tidur.


Seperti sekarang ini


Alana dan Hanan turun dari mobil, lewat pintu sebelah kanan dan kirinya.


Alana melihat ada pasien baru yang didorong menuju IGD atau observasi


"Kakak lewat sini saja, aku ingin mengambil gambar diruangan observasi"


"Mau ngapain?"


"Bikin vlog. Sini, sini. Kakak depan"


Hanan menurut saja, tapi begitu sampai didepan pintu observasi, Hanan berbelok tidak masuk kesana


"Eh, kakak. Kenapa tidak masuk lewat sini" Cegah Alana sambil sibuk mengabadikan gambar lewat video


"Belum pakai jas, ntar lewat dalam saja"


"Yeh, orang aku ingin ngambil gambar kakak sehari penuh, malah kabur aktornya" Alana geleng geleng, tapi ia terus masuk keruang bersalin, yang jumlahnya tidak sedikit. Melainkan banyak


Alana mengikuti ibu hamil yang baru masuk tadi, ia dibawa keruang observasi untuk melakukan tahap pertama atau yang biasa disebut kala 1.


Pemeriksaan pertama adalah, fase dimana berlangsungnya pembukaan serviks. Yaitu pembukaan 1 sampai 10. Jadi, bayi tidak dikeluarkan diruangan pertama ini


Alana masuk lagi,


Pasien yang baru masuk, direbahkan disalah satu ranjang yang masih kosong


Ternyata sudah banyak ranjang yang sudah terisi pasien yang akan melahirkan


Terlihat juga, ada keluarga yang menunggu yaitu satu orang. Satu orang ya, bukan satu RT, tidak boleh. Kecuali diruang perawatan baru boleh


Ruangan ini hanya disekat tirai, sebagai pembatas kamar pasien tahap pertama


Hanan berjalan masuk menuju ruangan bersalin dari pintu dalam, untuk memeriksa ibu yang akan melahirkan


Alana sudah melihat Hanan "Hah, itu kakak"


Alana mulai mengikuti kegiatan Hanan


Alana membebas tugaskan sendiri, menjadi asisten suaminya. Hananpun tidak melarangnya. Siapa tau hobinya itu bisa bermanfaat jadi terserah ibu negara


"Selamat pagi bu" Sapa Hanan kepada pasien yang akan ia periksa


"Pagi dok" Ucap sipasien


Sebelum Hanan datang, perawat sudah memasang infus, untuk memastikan tercukupnya kebutuhan cairan elektrolit. Dan pemasangan kateter, yang berguna untuk mengosongkan kandung kemih, agar tidak menghambat kontraksi, dan turunnya janin pada jalan lahir


Terlihat Hanan fokus pada alat Cardio monitoring atau CTG. Alat ini digunakan untuk mengetahui denyut jantung bayi, yang ada didalam rahim ibu


Perut pasien sudah dipakaikan sejenis sabuk yang terhubung dengan alat CTG


Para perawat atau bidan terus memantau perkembangan lewat alat ini, selama pasien masih dikala 1

__ADS_1


"Diperiksa dulu ya bu" Izin Hanan


"Iya dok"


Hanan meletakkan stetoskop pada perut pasien yang masih terhalang baju


Perawat ingin melepas sabuk yang terhubung ke CTG terlebih dulu


"Jangan dilepas, dibuka aja sedikit" Cegah Hanan


"Baik dok" Ucap perawat yang terlihat masih baru. Mungkin grogi jadi salah salah


Perawatpun menyingkirkan sabuk tadi sedikit keatas, lalu membukakan baju pasien, agar terlihat perutnya


Hanan memeriksa, dan sedikit menekan perut pasien, setelah selesai periksa, Hanan melepas stetoskop dari telinganya, dan menjepitnya keleher


"Detak jantung bayi ibu bagus, perut sebelah kanan kosong bu, bayinya sudah dibawah" Jelas Hanan sambil menunjuk perut yang terlihat kosong


Ibunya manggut manggut faham. Tadi sebelum diperiksa Hanan, pasien terlihat nyungir nyungir menahan sakit karena kontraksi. Begitu perut dipegang dokternya, pasien terlihat nyaman


"Bu Lili, pasien ini sudah pembukaan berapa?" Tanyanya pada bidan senior


"Enam dok" Jawab Lili


"Oh, bayinya sudah dibawah banget. Bisa lahir normal. Langsung dipindah keruang bersalin aja"


"Baik dok"


Akhirnya sipasien ini, akan segera dibawa keruang bersalin atau Kala 2


"Kakak, pinjem hapenya bentar" Tangan Alana sudah menggerak gerakkan jarinya meminta hape milik Hanan


"Siniin hapenya, keburu ibunya lahiran. Pumpung belum dipindah" Tangan Alana terus menengadah minta hape "Sebentar ya bu, saya minta izin waktunya sebentar, mau ambil gambar ibu dulu" Meminta ponsel dari Hanan, sekaligus minta izin sama pasien untuk ambil gambar


Sipasien hanya mengangguk pasrah


"Kamu ada ada. Ini"


"Eh, kakak jangan pindah dulu. Bentaran. Ini ponselku pegangin dulu. Kakak disana, mbak sana, bu sana" Alana meminta kepada para perawat dan bidan untuk berdiri disamping ranjang pasien, yang masih ada pasien tadi


Setelah Hanan, para perawat dan bidan sudah berdiri disamping pasien


"Poto ya bu, untuk kenang kenangan sebelum ibu melahirkan oke" Ucap Alana kembali


Pasien terpaksa mengangguk lagi


Alana mulai siap membidik untuk mengambil gambar yang bagus "Oke, satu, dua, tiga"


Cepret cepret


"Satu lagi bu, kita selfy" Alana ikut bergabung dengan suami, perawat, dan pasien


Cepret cepret


"Sudah, makasih ya bu. Semoga dipermuda lahirannya ya bu" Alana tersenyum sambil mengusap lembut perut pasien


"AAMIIN..... " Diucap seluruh perawat dan pasiennya


"Sudah mbak, bawa" Ucap Alana, habis sipasien didorong keruang bersalin, Alana mlongo


"Kenapa bengong, mana ponselnya" Hanan meminta ponselnya untuk diminta kembali

__ADS_1


"Entar ah, pinjem dulu buat poto poto. Kakak akan kubuatkan film dokumenter. Sudah sana periksa"


"Tapi kamu jangan menyalahi aturan loh"


"Tenang, konten yang mengandung kekerasan aku edit"


Setelah keluar dari ruangan observasi, Alana mengambil gambar keruang bersalin. Tapi, Alana tidak berani berlama lama mengambil gambar disana, karena Hanan tidak masuk keruang bersalin


Khusus ruang bersalin, hanya bidan dan perawat lain yang menangani


Tiba tiba gawai Alana berbunyi


Seluruh karyawan sudah tau, bahwa dokter Hanan sudah beristri. Dan istrinya adalah Alana


Alana menghentikan aktifitasnya merecord, dan ia membaca siapa sipenelpon tersebut


"Mbak Rasti " Ucap Alana lirih


"Rasti, angkat dong" Hanan


Alana mengusap ikon hijau pada ponselnya "Hallo mbak..."


Suara tangis Imran terdengar menggemah dan kejer


"Eh sayang sayang, ada apa sayang, ini bunda" Alana mencoba menghentikan tangis Imran


"Bundaaaa...Imlan ingin Ituuuuutttt" Jerit Imran


"Kakak, Imran menangis" Aduhnya pada Hanan


"Suruh aja datang kesini" Ujar Hanan


"Memang boleh, tidak mengganggu?"


"Boleh, ini kan rumah sakit ibu dan anak, bukan rumah sakit umum" Jawab Hanan menjelaskan


"Maksudnya kakak tidak... " Ucapan Alana terpotong oleh Hanan


"Tidak dimarahi?" Tebak Hanan


Alana mengangguk


"Dimarahi siapa?" Ucap Hanan


"Eh iya ya, lupa" Ucapnya sambil tepuk jidat "Ingatnya dirumah sakit dulu kak"


"Ya sudah, Imran suruh bawa kesini"


Alana mengangguk "Mbak mbak, bawa Imran kemari mbak"


"Kerumah sakit bu ?" Jawab Rasti


"Iya, tunggu pak sholeh agar jemput kesitu" Ucap Hanan, tapi tidak didengar oleh Rasti


"Tunggu pak sholeh jemput kerumah ya mbak" Alana menyambungkan ucapan Hanan, agar didengar oleh Rasti


"Bundaaaa" Jerit Imran kembali


"Iya sayang, tunggu pak sholeh datang ya" Alana terus merayu Imran, agar Imran diam dan mau menunggu pak Sholeh


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2