
"Kau ini kenapa? ada apa?" Tanya Hanan sambil menyalahkan ponselnya
Alana terdiam sejenak, menyaksikan tingkah suaminya, yang barusan menyalahkan ponselnya
"Dijual aja ponselnya, buat apa dibawa berat berat tapi bacanya model rapelan begitu" Celetuk Alana kesal
Hanan langsung menoleh pada Alana, tapi masih terdiam
"Kalau istrinya dirumah terjadi apa-apa juga percuma, orang lain yang nolongin duluan, tapi suaminya nggak tau apa-apa"
"Maksudnya ??" Hanan belum paham apa yang dimaksud istrinya tersebut, tapi masih menyalakan ponselnya yang belum menyalah sempurna
"Ah sudahlah, percuma ngomong sama orang sibuk, capek. Capek ati" Kesalnya sudah diubun-ubun
Terlihat Alana sudah naik ketempat tidur dengan dongkolnya, lalu merebahkan tubuh yang sudah terasa panas dimana-mama
Alana meringkuk memunggungi tempat tidur Hanan
Tiba-tiba tangan besar mengusap lengan Alana yang sudah berbaring dan membelakangi orang yang membuatnya kesal bertubi-tubi
Dengan cepat Alana menyingkirkan tangan besar tersebut "Masih ada tempat yang lebar, nggak usah dekat dekat. Aku nggak kedinginan. Aku gerah!!"
Krekep
Seluruh selimut sudah menyelimuti Alana, sampai Hanan tidak kebagian selimut tersebut
Hanan tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia sudah tau Alana marah karena apa
Hanan membuka aplikasi chat, yang terlihat jelas pesan terkirim dari "AALANAKU"
Hanan mencerna lagi pesan dari Alana, dan ia membacanya kembali agar didengar oleh Alana
"Mas, mas sudah sampai dirumah sakit ya?" Pesan dikirim jam 09:15
"Sampai sana jam berapa?" Pesan dikirim jam 09:30
"Ya sudah, semoga sukses ya mas.. Kami disini selalu mendoakan mas, daddy, agar selalu diberi kesehatan" Masih jam 09:30
"Semangat mencari duit ya.. Kira-kira pulangnya jam berapa mas" Pesan terkirim jam 14:30
"Mas.. Woiiii mati lampuuu" Pesan dikirim pukul 19:00
"Sumber uangku... Kenapa diem.... "
"Kakaaaaaaaakkkk"
"Ahahaha..." Hanan tertawa dalam hati
Setelah sudah bisa berhenti dari tertawanya, Hanan mulai mendekati Alana yang sejak tadi membelakangi dirinya "Maaf, mas lupa tidak menyalakan ponsel. Mas sibuk, tidak sempat menyalakan ponsel dari semalam" Hanan kembali memeluk Alana erat "Kujawab sekarang ya, boleh??"
__ADS_1
Alana menyingkirkan tangan Hanan
"Nggak usah, jawabnya tahun depan. Atau enggak, nggak perlu jawab sekalian. Kiloin aja hapenya, percuma percuma" Alana menghempaskan tangan Hanan, yang nempel terus, membuat kesalnya tambah menumpuk diujung tanduk
"Hei, kenapa bicaranya seperti itu. Jangan galak galak, ntar anaknya galak gimana?"
"Terus aku nggak boleh kesal. Mati lampu, Imran nangis, terus aku nggak boleh nangis. Kalau aku nggak inget perutku gede, sudah guling-guling aku dijalan, biar ditolongin orang sekalian"
Hanan bukannya marah, tapi malah senyum-senyum
"Eh, rupanya istriku kesal. Jangan kesal dong, mas kan mencari duit. Nggak tau juga, kalau disini mati lampu"
"Dah, dah, dah. Percuma bahas sekarang, telatttt" Alana menutup badannya lagi dengan selimut
"Hei, selimutnya disisain buat mas dong, berbagi. Bukankah berbagi itu indah. Ntar sayang sesak nafas loh, kalau sering sering ditutup rapat begini"
Alana membuka selimutnya pada bagian wajah "Sudah, sudah, sudah, tidur dah malam" Kemudian Alana masuk lagi kedalam selimut
Hanan menjauhi tubuh Alana. Ia tidur bersedekap, sambil telentang, tanpa selimut
Hening
Keduanya tak ada yang mau menyapa, padahal sama-sama masih terjaga
Hanan menoleh kearah Alana, yang tak bergerak sama sekali
Hanan berdecak "Gimana mas bisa tidur, kalau dingin begini" Hanan kembali mendekati tubuh Alana, dan menelusup masuk kedalam selimutnya "Sayang, mas jangan dibiarin kedinginan dong. Mas beneran dingin"
"Ssssss" Hanan mendesis kedinginan, lalu memeluk Alana erat "Mas benar-benar kedinginan"
Hanan terus mencari kehangatan dengan tangan nya, dan berhenti diperut buncit, lalu mengusapnya perut hangat istrinya
Alana tidak memberontak lagi, ada rasa kasihan pada suaminya yang terdengar mendesis kedinginan
Alana ingin menyambut tangan suaminya, agar tidak kedinginan. Apalagi pada saat tangan dingin itu mengusap Perut buncitnya. Ingin sekali berbalik dan memeluk suaminya, tapi samar-samar, rasa dongkol itu timbul kembali
"Terima kasih, sudah membagi selimutnya, emmuah" Hanan mencium pundak Alana, karena tidak ada yang bisa ia cium kecuali pundak yang dekat dengan bibirnya
Hening
5 menit
10 menit
Alana merubah tidurnya, agar tidurnya bisa telentang, lalu menarik selimutnya kembali, agar Hanan tidak kebagian selimut "Besok lagi, aku nggak mau kirim pesan, percuma. Mungkin kalau hari ini pas anakku brojol, mungkin ditolongin sama orang lain, bukan bapaknya"
Hanan membuka matanya, sambil meraba-raba selimut yang tiba-tiba pindah numpuk di atas tubuh Alana "Dih, kok masih kesal banget kelihatannya sih. Jangan emosi sayang, jaga. Mas kan sudah minta maaf. Mas cuek juga karena pekerjaan menumpuk. Bunda Alana sudah tau kan, sejak dulu, kalau habis liburan sehari saja, pasti hari berikutnya, pekerjaannya numpuk"
"Kan sudah ada dokter baru, ngapain kakak ikut lembur"
__ADS_1
"Eh, kok ganti panggilnya"
"Kesel"
Hanan kembali mendekap Alana erat "Jadi, kalau Istri kesal itu membiarkan suami kedinginan tanpa selimut. Katanya sumber rejeki, masa dibiarin kedinginan begini"
Alana membagi selimutnya dengan kasar "Itu sudah kubagi selimutnya"
"Kata siapa kebagi, orang kaki mas masih terlihat diluar" Hanan mengangkat kaki kanannya yang tidak tertutup selimut
"Sudah sudah jangan pamer, paha berbulu ini, dipamerin"
Hanan tersenyum "Kan sexy. Masa paha cowok mulus. Ntar dikira paha ayam. Bisa bisa menggoda Imran, dan digigit oleh Imran"
Alana melirik Hanan "Kenapa sampai ke Imran. Dia bukan kanibal. Anak sendiri difitnah"
"Haha mas ingat dulu sayang. Waktu Imran baru tumbuh gigi, dia hobby banget nggigitin lenganmu, pahamu sampai biru biru"
Alana mulai tersenyum
Alana duduk dan membagi selimutnya dengan benar untuk Hanan, lalu merebahkan badannya menghadap kearah Hanan
Tangan Alana mengabsen seluruh wajah Hanan dengan jarinya. Saking enaknya dilukis jari kosong Alana, membuat dirinya terpejam menikmati sentuhan jari lembut istrinya
"Mas kok masih ingat, aku dah lupa" Alana sudah mengungkung Hanan, lalu mencium dahinya
Hanan membuka matanya yang sudah terlihat lelah
Alana tersenyum, sedikit tergoda melihat bibir merah milik Hanan
Cup
Alana tanpa malunya mencium bibir suaminya
"Istriku kangen?" Pertanyaan itu lolos dari rongga mulut suaminya
Alana tidak menjawab karena terlalu malu ketahuan suaminya
"Habis subuh aja ya, mas capek" Ucapnya sambil mengambil kepala Alana, lalu menciumnya seluruh wajah Alana. Terakhir, ia sesap bibir Alana, yang sudah menggemaskan menggoda sampai kerelung hatinya
Emmuah emmuah emmuah "Dah tidur"
Hanan kembali memeluk Alana, dan Alanapun mengeratkan pelukan
Senyap
Terdengar dengkuran halus dari hidung Hanan
"Mas, jangan tidur dulu. Aku nggak bisa tidur" Ucapnya sambil memencet hidung Hanan
__ADS_1
Hanan mengambil Alana dalam pelukan, lalu mengusap perut Alana, yang sudah mulai ada pergerakan halus dari dalam perutnya
BERSAMBUNG......