
Malam ini, Hanan pulang agak telat. Ternyata, papa Ilham dan mama Sifa datang kemari, yaitu kerumah sakit
Kedatangan Ilham kemari, sengaja karena mendapat kabar, kalau Lis, sering mengalami kram pada perut besarnya
Semua itu bisa terjadi, karena Lis mengalami stres berat. Jika dibiarkan, bisa berbahaya
Kebayang, Lis masih stres kehilangan Anand sang suami. Jika diteruskan tanpa penanganan, Lis bisa depresi
Apalagi, dikehamilan tuanya, Alana bilang, Lis sering mengalami muntah, demam, serta menggigil
Beberapa gejala yang sebaiknya diwaspadai seperti yang Lis alami, meskipun terdengar sepele, yaitu kram perut saat hamil tua, itu sebenarnya cukup berbahaya jika disertai gejala tersebut
Untuk itu, perbincangan mereka malam ini, mengenai masalah Lis, sebaiknya melahirkannya dilakukan secara caesar. Jangan normal
"Terus, kira-kira kita melakukan operasinya kapan ya pa? "
"Kalau hari ini sudah memasuki bulan, kita angkat bayinya hari ini, tidak usah menunggu pasien sakit"
"Maksud papa, kau tinggal merayu Lis kemari Hanan, kasih pengarahan. Sepertinya, bulan ini sudah memasuki HPL" Ujar Sifa
Ilham dengan Hanan manggut -manggut karena tidak pernah menghitung kehamilan orang lain
"Oiya, benar, benar. Usia kandungan bik Lis dua bulan lebih tua dari Alana. Aku benar-benar lupa tanggalnya ma, nggak inget satu-satu pasien yang aku periksa"
"Kalau usia kandungan Alana berapa bulan? inget nggak?" Sifa mengetes kecerdasan otak putranya
"Ya ingetlah ma... Kehamilan Alana sudah memasuki usia ketujuh bulan"
"Terus, bik Lis, pernah diperiksa nggak sama kamu?"
"Ah iya lupa, beberapa hari lalu pada ikut kemari, sekalian ajak bik Lis juga, dan periksa kandungan semua. Berasa punya istri dua pa, haha" Hanan tepuk jidat, tapi langsung berwajah sedih "Tapi kasihan, pada saat seneng-senengnya akan melahirkan, papi sudah tiada"
"Makanya dua bulan lalu, mama ngotot membawa bik Lis kemari, ketempatmu. Oiya, kemarin waktu kita mengajaknya kemari, usia kandungan bik Lis, sudah memasuki usia tujuh bulan kan. Padahal, kita tidak kemari sudah dua bulan. Jangan lama -lama, kasihan cepet tangani. Itu kak Xander juga dikasih tau, biar datang menyambut adiknya" Sifa ikut-ikutan memikirkan nasib iparnya
"Iya ma. ntar Hanan hubungi. Mama papa nginap disini saja ya, mama papa capek kan? biar besok, saya akan bawa pasukanku kemari, biar ramai"
"Kenapa kami tidak diajak kesana saja. Tamu kok ditinggal" Protes Ilham
"Ahaha.. Kamarnya tidak cukup pa. Bik Surti sama Rasti, tidurnya dirumah, bukan dipavilium" Hanan berdiri
"Ah iya, ya, ya. Kan ada Lis juga ya" Ilham
"Iya pa, Alana bilang, biar rame katanya"
"Ya nggak pa-palah, yang penting nyaman" Ilham menepuk lengan Hanan
"Ya udah sana pulang, anak istrimu nungguin" Usir Sifa disambut senyuman oleh Hanan
"Ya udah hanan pulang dulu ya ma, pa"
"Iya hati-hati"
-
Pukul 21:30 Hanan baru sampai dirumah
__ADS_1
Alana sudah mendengar suara deru mobil yang telah memasuki pekarangannya, iapun segera mendekati sumber suara itu, untuk menyambutnya
Pintu sudah dibuka oleh Alana
Hanan terkejut, ketika tiba-tiba melihat Alana sudah berdiri ditengah pintu "Loh, sayang kok belum tidur?"
"Aku lapar"
Hanan segera merangkulnya "Lapar?? memangnya belum makan?"
Alana memegang tangan Hanan yang merangkul dipundaknya "Udah, tapi aku ingin makan yang lain, bukan nasi"
Hanan membuka pintu kamar mereka, dan merekapun masuk kekamar
"Sayang, mas bersih-bersih dulu ya, tunggu, mas tidak akan lama-lama"
Beberapa menit kemudian, Hanan pun sudah terlihat segar. Ia segera memakai kostum yang sudah disiapkan oleh Alana
Hanan membeber bajunya sebelum memakai "Kok pakai baju ini, baju santai lainnya nggak Ada?"
Alana cemberut sambil menarik-narik bajunya sendiri seperti merobek-robek "Mas, aku mau bakso, beliin"
"Bakso?? bakso apa?"
"Ya bakso bulat seperti bola pimpong"
"Iya mas paham, kenapa tidak pesan sebelum mas pulang sayang"
"Tadi aku kan belum kepingin. Sekarang aku pingin"
"Tidak pakai saos, tidak pakai sambel, juga tidak pakai kol"
"Itu nyanyian"
"Eh salah ya mas. Ralat deh ralat"
"Apa??" Hanan sambil sibuk memakai pakaiannya
"Jangan pakai saos, mienya putih aja, kecapnya 3 tetes, tapi sambelnya banyakin" Rengek Alana yang sedang ingin dimanja oleh suaminya.
Hanan menghela nafas panjang
"Bersedia mbeliin nggak?"
"Maksud mas, sayang itu Inginnya bakso apa?? bakso malang, bakso urat, bakso rudal,bakso nuklir, bakso setan, iblis, jin coba yang mana?"
"Yang jelas bukan baksonya mas" Alana langsung melotot dan menutup mulutnya keceplosan "Hehe, aku maunya bakso yang bisa dimakan"
Hanan langsung memegang pundak Alana, dan membaliknya "Apa tadi kau bilang" Hanan mulai menutupi mulut Alana dengan tangannya "Sekarang sudah mulai pinter ya.. "
"Ih lepasin" Alana menarik tangan Hanan agar menjauh dari mulutnya
"Apa bakso milik mas aja ya, biar mas nggak usah keluar" Hanan mulai mesum
"Ih nggak mau, orang aku maunya bakso urat yang bisa dimakan. Aku nggak mau yang itu"
__ADS_1
"Kenapa?? orang sama-sama urat"
"Nggak mau" Alana menyerang Hanan dengan memukul pakai bantal, dan menaboknya dengan membabi buta
Semenjak kehamilannya, Alana memang sering bermanja-manja pada Hanan.
Hanan sendiri bukannya merasa terbebani, ia malah merasa senang karena istrinya mau bermanja-manja dengannya. Walau tak menampik kenyataan kalau terkadang ia merasa lelah dengan permintaan Alana yang sedikit aneh.
Seperti permintaan Alana kali ini, malam-malam ingin makan bakso, maksudnya ingin mengerjai Hanan atau bagaimana
"Ini jadi mau beli nggak baksonya?"
"Ya jadi dong"
"Gimana kalau kita keluar bareng yuk, dimakan disana kan lebih enak"
"Aku capek"
"Jadi mas sendirian nih, nggak ditemenin"
"Ya udah kalau mas nggak mau. Aku nggak jadi makan bakso, aku nggak makan aja." Ucap Alana yang wajahnya sudah monyok tidak ada cantik-cantiknya
"Siapa yang bilang mas nggak mau beliin bakso untuk kamu"
"Itu nanya melulu nggak berangkat-berangkat. Seperti nggak ada niat"
"Ya sudah, mas beliin bakso malang aja ya, dipertigaan jalan depan"
"Ih nggak mau malang, ntar nasibku jelek"
"Terus maunya bakso apaan Alana sayang, bakso beranak?"
"Nggak mau, ntar aku makan bakso gituan, jadi ngelahirin sebelum waktunya"
"Terus, mas mau beliin apa ini"
"Ya bakso"
"Ya udah, mas beliin bakso sesuka mas ya... Sekarang ya..." Ucap Hanan masih mencoba bersikap santai,
"Nggak perlu, aku nggak makan nggak apa-apa kok." Ucap Alana yang berubah kesal
"Loh, sayang, maafin mas ya. Bener, mas nggak masalah ngelakuin apapun buat kamu, buat anak kita. Kamu mau makan bakso kan? mas beliin ya, kamu tunggu" Ucap Hanan yang kemudian beranjak ingin keluar kamar
Ketika Hanan melangkah pergi, Alana tersenyum puas.
"Mas..." Panggil Alana
Hanan menghentikan langkahnya lalu menoleh.
"Apa?? "
"Ikutttt"
Hanan menatap heran pada istrinya. Dari tadi ngerayunya susah sekali. Giliran mau ikut, ganti pakaiannya buru-buru takut ditinggal oleh Hanan
__ADS_1
BERSAMBUNG......