
"Bundaaaaa..."
Alana terkejut "Kakak, dedek"
Kedua putra Hanan menghambur memeluk Alana
Alana berdiri dengan lututnya, memeluk kedua putranya, lalu menciumnya satu-satu
Cup
cup
"Kok bisa kalian datang tanpa sepengetahuan bunda"
"Grandma yang menelpon kami bund" Jawab Imran
"Oh"
Sifa tersenyum "Sengaja mama telpon Sholeh, untuk mengantarkan cucu mama kemari"
Alana berdiri sempurna. Menatap mama mertuanya, sambil tersenyum
Alana melepas kedua putranya, lalu memeluk Sifa "Ma, apa kabar??" Alana segera mengambil tangan kanan mertuanya, lalu menciumnya
"Baik sayang. Kamu sendiri gimana kabarnya"
"Alhamdulillah baik ma"
Sifa mengurai peluk, lalu menjauhkan Alana sepanjang lengan "Hanan bilang kalian program hamil?"
"He he, iya ma. Katanya mumpung masih muda. Padahal jelas-jelas mas Hanan itu sudah tua. Tapi tidak mau tua" Alana terkekeh, membuat Sifa tertawa
"Ha ha ha, kau ini. Tuanya pria, dia masih kuat. Jangan sembarangan bilang putra mama tua"
Alana langsung memeluk Sifa "Jangan marah mah, jangan pecat Alana jadi mantu, ya mah. He"
"Emp, sekarang sudah cinta betulan ya rupanya" Goda Sifa
"Ish jangan keras-keras mah. Ntar orangnya dengar, sombong dia"
"Masa, putraku sombong. Kamu pasti bohongin mama kan"
"He he"
"Sudah ngelahirin Altaaf masih saja nggak cinta? Mama nggak percaya. Putra mama kan ganteng-ganteng, mama saja nggak bisa nyaingin"
"He he.. Mama kan cewek kayak Alana. Malah kita yang cantik sendiri mah"
"Iya ya.. Mama lupa nggak punya saingan" Sifa melirik Alana "Bener nih, kamu nggak cinta sama Hanan. Banyak loh, wanita yang ngejar-ngejar dia"
Alana terdiam
"Nggak percaya??" Ucap Sifa lagi
Alana mainan kuku "Ish mama. Kalau Alana nggak cinta, mana mau Alana bertahan. Udah gitu main program hamil lagi" Alana memeluk lengan Sifa "Siapa sih mah, yang ingin deketin daddynya Imran. Kan sudah punya istri. Punya dua buntut lagi. Memangnya perempuan itu nggak tau"
"Cie cemburu" Goda Sifa
Alana terdiam
Sejurus itu, 3 pria dewasa, bekas duda semua, sudah berdiri diambang pintu. Dan mendengar percakapan mereka
"Eh ehm" Hanan berdehem
Semuanya menoleh keluar
__ADS_1
"Daddy....... " Imran dan Altaaf menghambur memeluk ayahnya
"Hey..." Hanan tidak kaget dengan kedatangan kedua putranya. Karena sebelum rapat dimulai, Sifa sudah meminta anak-anak Hanan, untuk datang kemari "Ayo, peluk sayang kalian pada grandpa dan ayah Hassan"
Merekapun memeluk keduanya
Alana mendekati Hanan "Mas kok tidak kaget mereka datang" Tunjuk Alana pada kedua anaknya
"Enggak. Kan sebelumnya sudah tau"
"Eh, jadi aku sendiri nih yang tidak tau"
"Ha ha sudah. Anggap aja ini surprise untukmu" Ilham menurunkan Altaaf "Adu du du. Punggung grandpa sakit. Altaaf berat" Bohongnya, padahal mengangkat Sifa masih kuat walaupun sehabis angkat ngos-ngosan
"Ahaha.. Kenapa papa angkat. Ntar encok bagaimana" Hanan mendekati papanya
"Kan sudah ada tukang urutnya, tenang" Ilham menunjuk Sifa dengan lirikan matanya
Ketiga pria dewasa itu duduk berderet jauh dari anak dan para istri
Mereka berbincang-bincang hangat layaknya keluarga
Meskipun dimeja sudah tersedia makanan yang dipesan oleh Sifa, Alana tetap memesankan makanan kesukaan kedua mertuanya
-
Jajanan basah sudah diantarkan oleh OB rumah sakit
"Ini bu pesanannya. Dan ini kembaliannya"
Alana menerima kue tersebut "Makasih ya" tapi Alana menyetop uang kembalian yang OB serahkan padanya "Kembaliannya ambil. Sekali lagi makasih ya" Itu sudah menjadi kebiasaan Alana. Selalu menolak uang kembalian
"Makasih bu"
Setelah berterimakasih kasih dan menerima jajan pasar yang masih hangat, Alana segera menyudah jajan tersebut diatas piring bersih yang sudah tersedia diruang ini
Ada lapis, martabat telur, dan samoza
Sifa melihat aneka jajan yang pernah ia buat dulu, waktu belum menjadi jodoh sang dokter duda
Sifa melirik Ilham. Ilhampun sama
Tadinya Ilham duduk berjajar dengan Hassan. Kini ia berpindah duduk disebelah Sifa
"Samoza pa. Makan ya"
Ilham mengangguk
Sifa segera mengambil samoza tersebut tanpa izin sang pemilik. Lalu menyuapinya kemulut suaminya yang bekas duda tersebut 37 tahunan lalu
Alana menatap Sifa menyuapi Ilham. Padahal Alana sendiri tidak berani menyuapi Hanan didepan umum
"Enak pa?" Tanya Sifa
"Enak bikinan mama. Tapi sekarang, mama jarang bikin kue enak penyogok papa dulu"
"Kapan mama menyogok. Enak aja. Kan sudah kubilang. Mama tidak pamrih. Ikhlas aja dulu naruh jajan diatas meja papa. Tapi papa aja yang ketagihan kan"
Plok
Alana dikagetkan Hanan, dengan pukulan yang mendarat dipundak Alana, dengan gulungan kertas
Alana menoleh dan langsung tersenyum. Hanan mengangkat kedua jempolnya yang ditujukan pada Alana
"Kau memang bisa. Bikin mertua selalu jatuh cinta padamu" Bisik Hanan, membuat Hassan menutup mulutnya, tapi matanya menyipit
__ADS_1
"Apa yang membuat mereka jatuh cinta padaku" Bisik Alana pada Hanan
"Mereka bisa mengenang masa pacaran, hihi" Hanan terkekeh "Itu semua, karena kamu membelikan jajan, yang mama dan papa suka" Tunjuk Hanan pada kedua orangtuanya
"He he"
Mengambil hati ibu mertua adalah sebuah pekerjaan yang katanya sulit. Namun, tidak dengan Alana
Mencuri hati perempuan dari pria kesayangan Alana, cukup hormati mertuanya, belikan makanan yang mertuanya suka
Penampilan bukanlah segalanya, buktinya, Alana memakai seragam rumah sakit saja, Sifa tidak risih memeluknya. Padahal, Sifa termasuk mertua yang kaya
Walaupun ada pepatah yang mengatakan bahwa penampilan luar tidaklah terlalu penting, tapi bukan berarti Alana bisa berpakaian seenaknya saat bertemu mertua.
Sebagai sosok yang dihormati, sudah sepantasnya Alana menghargainya
-
Jam 18:00 Mereka sudah pulang kerumah Hanan
Ilham, Sifa, ikut kerumah Hanan. Sedangkan Hassan, ia langsung pulang Ke Jakarta, dimana kedua orangtuanya ada disana
-
Sebelum sampai dirumah, Alana sudah menelepon bik Surti, untuk membuatkan makan malam kesukaan mertuanya
Makan malam tiba
Meskipun Alana bekerja memakai hijab, jika sudah dirumah, ia memakai baju yang tidak berlengan dan sedikit terbuka, jika tidak ada mertua.
Tetapi, berhubung mertuanya menginap disini, sebisanya, ia menghindari memakai baju yang terlalu terbuka atau mini, agar mertua tak berpikir negatif
Alana memakai baju lajuran, dengan lengan pendek. Penampilan rapih, namun masih sopan
Tidak lupa, iapun menyuguhkan makan malam kesukaan mertua.
Terkesan jadi trik klasik, tapi, terbukti masih ampuh. Yaitu perhatian terhadap mertua
Sekalipun kedua mertuanya tak langsung menunjukkan rasa suka, dengan trik ini, minimal Alana mendapatkan simpatinya.
Tidak perlu bertingkah berlebihan, pastikan sikap penuh sopan santun, dan hindari tindakan yang melanggar etika
Jangan ragu untuk membuka obrolan dengan mertuamu. Bangun pembicaraan yang santai namun tetap sopan.
Alana berdiri "Papa, papa ingin lauk apa"
Sifa ikut mengabsen lauk yang tersedia dimeja makan "Wah pah, lauknya kesukaan papa semua"
"Ambilkan cumi saja nak" Ilham berbinar "Jadi ingat TPI (Tempat pelelangan ikan) ya ma"
"Iya pah. Sudah lama sekali, kita tidak kekampung mama" Ucap Sifa sendu
"Iya, anak-anak pada nyebar. Ngumpulinnya susah" Jawab Ilham sambil menerima piring yang sudah berisi nasi dan cumi dari Alana
Alana dan Hanan saling tatap
"Ehehe.. kapan-kapan kalau anak-anak liburan ya pa.. Kalau enggak, lebaran. Biar kita kumpul semua" Hanan mencairkan suasana
Ilham dan Sifa mengangguk "Insya Allah"
Alana sudah mengambilkan makan malamnya satu-satu, untuk mereka berenam
Merekapun menyantap makanannya dengan hikmad dan hangat sebagai keluarga harmonis
BERSAMBUNG.....
__ADS_1