
Mereka berdua sudah mendorong troly sampai keparkiran
Hanan membuka bagasi, lalu menata belanjaannya bersama Alana
"Mas, aku lagi ya, yang mengemudi" Ucapnya
sambil sibuk membantu Hanan, mengambil segala belanja yang ada ditroly tadi
Hanan menerima barang-barang tersebut dari Alana, dan menatanya agar cukup karena belanjaannya membludak dan susah ditata
"Memangnya nggak takut, jalannya kan curam"
"Kan ada mas"
Bersamaan itu, seseorang menyapanya dari mobil yang barusan diparkirkan disebelah mobil Hanan "Dokter Han..." Belum mulut melanjutkan ucapannya "Alana.... Kok.. "
Seno mengabsen keduanya
Hanan menutup pintu bagasi lalu menoleh kebelakang "Dokter Seno"
Mereka berjabat tangan, tapi Seno terlihat shock ketika, melihat Alana dan Hanan saling bantu bekerjasama
Robek hati Seno. Melihat wanita yang dia incar, berjalan dengan pria lain yang tak bukan adalah kawan sekaligus bosnya
"Ka kalian sudah dari dalam?" Tanyanya gagap, padahal biasanya tidak
Hanan mengangguk "Iya"
"Oh, terus sekarang, kalian mau kemana"
"Kami akan pulang" Jawab Hanan jujur
Tiba-tiba ponsel Alana berbunyi
Alana langsung mengambilnya dari tas. Setelah dibaca "Mas, anak-anak telepon lagi. Mungkin kelamaan kita diluar" Ucap Alana menunjukkan ponselnya
"Angkatlah"
Alana segera menjauh dari mereka berdua
Kembali ke Seno
"Jadi, kalian ini suami istri atau.. "Ucap Seno menggantung
Seno belum percaya, antara Hanan dan Alana adalah suami istri
Dirumah sakit jarang-jarang mereka bersama. Bahkan Makan, istirahat, tidak pernah terlihat bersama.
Hanan sedikit merasa, ada getaran lain yang menyusup pada diri Seno terhadap Alana
"Kami suami istri. Iya, Alana adalah istriku" Jelas Hanan
"Istrimu. Bukankah dulu istrimu namanya A... "
"Aina"
"Hah. Iya betul"
"Dia sudah tiada setelah melahirkan anak kami yang pertama"
"Maksudmu, sekarang kamu sudah punya anak lagi bersama.... " Seno mulai bicara dengan sesama teman. Dan, netra Seno mengikuti Alana yang sudah melangkah mendekat
"Anak-anak belum mau tidur katanya mas. Mereka nunggu kita" Ucap Alana yang masih sibuk dengan ponselnya
Hanan tidak menjawab Alana, ia justru merangkulnya "Iya, anak keduaku lahir dari rahim perempuan terhebat yang pernah aku miliki" Hanan mengeratkan rangkulannya terhadap Alana
Alana menatap Hanan ada yang berbeda. Sebelumnya, Hanan tak pernah memujinya setinggi itu. Dan netra Hanan sudah terlihat tidak bersahabat, ada api cemburu disana "Maksud mas apa..."
"Kamu wanita hebat kan, anak-anak nggak bisa tidur, kalau belum kamu nina boboin"
"Oh" Alana mulai mengeratkan pelukannya diatas gesper Hanan, biar tangannya tidak kebawah
"Oh, jadi benar. Istrimu karyawan dirumah sakit yang kamu punya" Seno masih menatap tangan Alana yang mengalung mesra diperut kawannya. Rasanya tidak percaya.
"Kami" Ralat Hanan "Sebelum rumah sakit berdiri, kami sudah menikah sekitar 2-3 tahunan"
"Jadi... "
"Iya, kami sudah menikah sekitar... Berapa tahun sayang" Menjelaskan tapi kepalanya menunduk bertanya pada Alana
Alana mendongak "7 tahun ini mas"
__ADS_1
"Berarti kalian ternyata... Dan sudah lama"
"Iya. Memangnya kamu baru tau. Terus, kamu tidak berinisiatif tanya gitu sama rekan kerja lainnya"
"Aku orangnya tidak terlalu ingin tau. Hanya saja.. "
"Hanya saja apa"
"Nggak percaya Han, kalian itu ternyata sepasang suami istri"
"Memangnya yang tidak kamu percaya yang mana" Suara Hanan terdengar meninggi
"Ya nggak percaya aja. Dirumah sakit, kalian jarang barengan. Aku orang baru loh Han. Jadi kaget aja"
Hanan terdiam, dadanya mendidih dengar ucapan Seno
"Yuk mas, anak-anak sudah nungguin kita"
"Baiklah Seno, kami pulang dulu" Pamit Hanan pada Seno, yang masih mematung "Yuk" Hanan menggandeng Alana, namun sedikit menarik lengannya
Hanan membukakan pintu samping kemudi "Yang nyetir aku"
Alana mengangguk saja tidak berani protes. Suaminya benar-benar berubah. Moodnya rusak parah
Seno melihat masih sangsi. Karena dia sama sekali tidak tau kalau Hanan sudah menikah untuk yang kedua kali
-
Didalam mobil
Hanan terdiam, rasanya ingin mengamuk tapi dengan siapa
"Kenapa istriku banyak yang incar. Istriku yang keganjenankah"
Hanan memukul setir
Tin tin
"Aakkkh !!!"
Alana menoleh, tapi rasanya takut. Takut dibentak dan ditelan bulat-bulat
"Masss... Jangan ngebut-ngebut mas.. !!" Alana pegangan pada alat pegangan yang ada diatas pintu
Ciiiittttt
"Masssss aku takut" Keluhnya dengan mata yang tertutup
Alana menoleh "Hati-hati mas.. Anak-anak nungguin kita. Kasihan mereka. Dulu kak Imran sudah kehilangan ibunya, jangan ulangi lagi yang kedua kalinya"
Hanan terdiam, ada sedikit kata-kata Alana yang menggores hatinya.
Hanan menoleh kearah Alana "Alana !!"
Deg
Jantung Alana berdebar
"Aku ingin, mulai besok, kita sering berjumpa. Mulai dari makan, kita harus bersama"
Alana ingin menjawab
"Jangan membantah. Ini perintah"
"Iya"
Hanan kembali mengemudi dengan pelan "Kau tau apa yang dikatakan Seno barusan"
"Apa"
"Dia menyukaimu"
"Darimana mas tau. Dia bilang begitu denganmu mas"
Hanan terdiam
"Aku nggak pernah ngobrol mas sama dia, suwer"
"Masalah itu aku nggak tau. Kamu ngobrol sama si Pijar kek, sama si Seno kek"
"Mas.."
__ADS_1
"Jaga perilakumu Alana. Kau sudah berkeluarga"
"Maksud mas apa ??! Mas lihat sendiri aku berselingkuh, atau bagaimana" Ucapan Alana mulai meninggi
"Sudah kukatakan, aku tidak tau. Yang tau itu kamu"
"Jadi mas menuduhku berselingkuh ? Iya mas"
"Aku tidak menuduh"
"Terus, kenapa mas nebak begitu. Itu sama saja mas menuduhku mas"
"Sudah kukatakan. Aku tidak menuduhmu. Hanya saja, kenapa banyak pria yang mengincarmu. Dan itu didepan mataku"
Brakk
Alana menggebrak dashboard
"Mas.. Yang mengincarku siapa lagi coba"
"Kalau kau tau, terus kau menyambutnya"
"Massss.. Itu sama saja mas menuduhku" Alana melepas seatbelt nya "Kukira, menikah dengan orang dewasa, nggak akan ada rasa cemburu, adanya sayang"
Hanan memarkirkan mobilnya karena sudah sampai
Hanan memeluk stirnya dan menoleh kearah Alana
"Terus"
"Cemburu mas keterlaluan tau. Aku nggak nyaman mas. Dulu mas nggak gitu" Alana langsung turun dan berjalan cepat, untuk masuk kerumah
"Bundaaa.."
Panggilan itu merontokkan rasa sakit hatinya
Alana tersenyum, dan kedua tangannya membentang, menyambut kedua putranya yang menghambur dan memeluknya
"Ih, bunda kangen sama kalian"
"Dedek / Kakak juga kangen sama bunda" Diucap bersamaan
"Bunda, mana oleh-olehnya" Altaaf menodong oleh-oleh pada Alana
"Ada dimobil"
"Wah.. Ayo kak, kita lets go" Altaaf menarik tangan Imran berlari keluar
"Daddy..."
"Hei jagoan daddy" Hanan mengangkat Altaaf dalam gendongan. Hanan mencium pipi Altaaf, lalu berpindah mencium kepala Imran
"Tulunin dad. Dedek ingin bantuin"
"Baiklah, sini, sini. Dedek bantuin yang ringan ya"
Hanan menurunkan barang-barang tersebut, dibantu Sholeh dan juga anak-anak
Setelah didalam, mereka berdua memilih makanan yang mereka suka
"Hei, sekarang sudah malam. Jangan makan jajan tengah malam" Tegur Hanan
"Habis ini kita tidur dad"
"Ih, lihat dek. Kita dibeliin monopoli"
"Kita main sekarang yuk kak"
"Sudah malam"
"Sebentar dad"
"Tidak ada bantahan. Sudah malam"
"Yah" Mereka berdua melemah
"Jajan dimakan boleh ya dad" Tanya Altaaf
"Ya, sedikit aja. Habis itu tidur"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1