Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 67


__ADS_3

Didalam dekapan Hanan, nyatanya, Alana tambah tidak bisa tidur


"mas, aku masih nggak bisa tidur" Ucapnya sambil menggoyang- goyangkan tubuh Hanan, dan ingin menangis


Alana benar-benar kesal. Tidak ada usapan lagi pada perutnya, adanya suara dengkuran halus dari orang yang mendekapnya


"Mas!!"


"Hmmm" Jawabnya masih dengan mata yang terpejam rapat


"Aku nggak bisa tidur !!"


Hanan tidak menjawab, tapi kembali ia mengusap-usap perut jembling Alana


Alana kesalnya sudah diubun-ubun "Mas, bukan itu"


"Sudah malam, tidur" Ucapnya tetap masih dengan mata terpejam, dan mengusap kembali, namun salah salah karena Alana sudah menarik badannya setengah duduk


Alana melempar tangan Hanan "Minggir" Alana menyingkirkan selimut, dan bangun dari rebahannya


Alana terduduk sambil ngeromed "Katanya orang hamil harus sering dijenguk. Nyatanya, beberapa malam dianggurin. Emang enak dianggurin. Dulu aja waktu masih baru, boro-boro bisa selamat tidur sampai pagi, pasti selalu diganggu dan kalah. Sekarang apa. Mungkin karena badanku bengkak semua, jadi sudah bosan kali ya.." Alana kesalnya tidak ketulungan


Ingin minta jatah, gengsi. Tidak minta, kangen ingin sentuhan


"Kenapa aku jadi wanita gatal begini" Wajahnya sudah ia simpan ditengah-tengah dengkul yang ia tekuk, agar bisa untuk tumpuhan kepalanya


Rasa lelah yang menderanya, membuat dirinya merasakan kantuk yang luar biasa. Alana merebahkan badannya, dan akhirnya, Alana tertidur tanpa selimut


-


Pagi yang syahdu


Cuaca dingin, karena ada angin yang masuk lewat selah selah jendela yang sedikit ada ventilasi udara


Seorang wanita muda yang hamil, masih tertidur nyaman. Dasternya kemana mana, pahanya juga kemana-mana, tanpa selimut


Hanan melihat selimutnya tertumpuk dan masih menggulung tubuhnya


Hanan buru-buru bangun, ada sedikit rasa bersalah


"Ya Allah.. Maafkan mas sayang"


Hanan membenahi daster Alana yang tersingkap, sampai dalemannya terlihat


"Kenapa tidak membangunkan mas" Hanan mengusap- usap tubuh Alana yang tersapu angin dingin pegunungan, lalu ia menyelimuti


-


Habis sholat subuh, Hanan melipat sajadahnya, lalu duduk selonjoran ditempat tidur, dengan kostum muslim yang belum ia lepas


Hanan menunggu Alana yang masih melipat mukenahnya, tapi yang ditunggu malah keluar kamar, setelah kelar membenahi alat ibadahnya


Diwaktu bersamaan, Hanan menonton televisi menunggu Alana masuk. Biasanya, Alana selalu membawa cemilan dan minuman hangat diwaktu pagi setelah subuh ini.


Mungkin karena orang hamil, cepet lapar, dan jika sudah diisi, cepet kenyang


Alana datang membawa teh hangat satu gelas, satu plastik roti sobek, lalu duduk disofa


Hanan merasa heran, tidak biasanya Alana sedikit serakah, dan tidak menawari makanan dan minuman yang ia bawa masuk barusan


Dilihat, Alana sedang sibuk mencelup celupkan roti sobek kedalam air teh manis yang masih mengeluarkan kepulan asap


Tiba tiba tangan besar ikut mengambil sobekan roti, lalu ikut-ikutan mencelupkan roti seperti Alana lakukan sekarang

__ADS_1


"Kenapa sombong, tidak mau menawari mas. Mas juga laparkan" Ucapnya sambil mengunyah roti yang sudah basah itu kemulutnya


Hanan duduk disamping Alana


Alana menjauh duduknya "Sana tidur saja, ngapain ikut melek. Tidur. Masih capek kan?"


"Heh?? Kelihatannya, istriku masih kesal?"


"Enggak !! Sangat senang hahaha"


Lep


Suapan roti itu, ia masukkan kemulutnya, dengan paksa dan pura-pura tertawa


Hanan ingin mengambil roti kembali, tapi Alana melindungi roti tersebut, agar aman dalam dekapannya


"Kenapa mengajari anaknya pelit"


"Hm sendirinya aja yang pelit. Pelit"


"Pelit apanya, mas nggak faham"


Alana berdiri, lalu menyerahkan gelas yang masih ada teh panasnya, dan juga, roti sobek yang masih ada sisa didalam plastik "Nih. Aku mau tidur lagi. Ngantuk"


Alana berjalan, menuju kasur, setelah makanan dan minumannya sudah diterima Hanan


Hanan meletakkan semuanya diatas meja. Jika istri terlihat sensitif, pasti ada satu masalah yang menghantuinya. Pasti kurang jatah. Jatah duit barangkali...


Hanan menghambur memeluk Alana yang sudah berbaring, tapi kakinya ia gantung di kepala ranjang


"Kenapa tidurnya kebalik, yang bener"


"Kakiku gede kayak gajah. Aku ingin sexy. Ntar siang, aku akan angkat besi, biar tidak bengkak seperti sekarang"


"Nggak mau"


Hanan menghela nafas, lalu berdiri dan melepas baju kokonya, dan sarung


Hanan menyisahkan celana pendek dan kaus rumahan


Hanan berdiri menjulang disisi tempat tidur "Ini mas mau dilayanin nggak. Kalau nggak, mas akan olahraga diluar"


Alana langsung duduk dengan sempurna "Olahraga dengan siapa?"


"Ya, olahraga dengan teman-temanlah cari keringat"


"Sama cewek?"


"Maunya"


Alana langsung memasang wajah kecewa "Ya udah sana, barbelnya jangan dibawa pergi tapi"


"Buat apaan kamu minta barbel ditinggal"


"Buat bikin badanku agar tetap sexy"


"Sikah.. Orang hamil kok olahraganya berat. Nggak boleh"


Alana berdiri menjulang diatas ranjang sambil berkacak pinggang "Kalau orang kesel olahraganya apa? Hmm apa, Jawab?!"


Hanan tersenyum, lalu kedua tangannya menyambut Alana "Turun. Jangan berdiri begitu. Mas menjangkaunya susah, duduk"


"Tadi katanya disuruh bangun, giliran berdiri salah"

__ADS_1


"Kan nyuruhnya bangun bukan berdiri"


"Ah susah ngomong sama orang pinter"


Hanan tersenyum kembali.


Hanan harus ekstra sabar menghadapi Alana.


Alana sudah duduk, dan Hanan menggiringnya, agar rebahan diranjang


Hanan menatap Alana intens. Tangan kanannya mengusap usap perut buncit Alana, lalu menciumnya


Hanan kembali menatap wajah alana. Alana salah tingkah menatap mata tajam Hanan


Alana mengabsen seluruh wajah Hanan yang sangat tampan menurutnya


Alis tebal, bibir merah karena tidak merokok. Satu lagi, rambut yang kedepan beberapa helai, yang sedikit basah karena terkena air wudlu, membuat paras tampan, tambah tidak tahan Alana memandangnya


Iya Alana sudah terpukau melihat kegagahan suaminya


Cup Cup Cup


Tiba-tiba Hanan menciumi seluruh wajah Alana, dan siap melahapnya


"Pagi ini, awali dengan olahraga kita ya"


Alana mengangguk cepat. Ia tersenyum dan berbunga tiada tara


-


Mereka sudah siap melakukan olahraga paginya


Pertama untuk pemanasan, Hananlah pemimpinnya. Setelah sudah sedikit panas "Kau diatas "


"Hah aku, nggak bisa"


"Bisa, kan belum dicoba" Hanan sudah berbaring "Naik"


"Naik??"


"Iya kamu naik"


Alana sudah diatas, tapi masih bingung, belum tau caranya memasukkan benda tersebut, jika dia diatas


Hanan mengajarinya


Begitu pas, Alana memimpinnya


Beberapa detik saja Alana sudah meracau


"Mas.. Kenapa bisa beda rasanya"


"Kenapa nikmat?"


"Hmm" Alana mendesah merasakan sensasi yang sangat amat nikmat itu "Maaas" Alana menengadahkan wajahnya dan memberikan akses yang lebih agar Hanan bisa lebih leluasa menikmati leher jenjangnya.


Tubuh Alana menggelinjang nikmat karena hisapan Hanan yang membangkitkan gairahnya, Hanan tanpa sadar membuat banyak kiss mark di leher putih Alana


"Maasss" Alana terus meracau memanggil nama Hanan, panggilan itu bukan seperti panggilan lagi, namun suara ******* nikmat.


Tangan Hanan terus meremas dan memilin keindahan gundukan dada Alana yang tiap hari tambah penuh didalam genggamannya.


Tangan Alana bertumpuh pada dada Hanan. Sehingga, tangan Hanan terus meremas dada Alana, sampai Hananpun merasakan hilang kendali, karena baru mendengar ******* Alana yang sudah meronta ronta memanggil namanya

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2