
Bukan rahasia lagi, jika sudah berkumpul dengan keluarga besar seperti ini, menjadi salah satu momen yang dinanti saat liburan atau lebaran tiba
Momen kehangatan tersebut biasanya, berkumpul di satu titik yaitu dirumah nenek.
Berhubung neneknya yaitu Sifa tinggal dikota, mereka lebih asyik liburannya dikampung. Yaitu dikampungnya bik Lis
Sambil berkunjung, berlibur, dan pas menghadiri ulang tahun Aaliyah, yang lahirannya pas liburan semester, membuat rumah ini mendadak ramai diwaktu-waktu tertentu
Rezeki Aaliyah memang luar biasa. Meskipun hanya sekali atau dua kali dalam setahun, rumah ini sering dijadikan tempat berkumpul keluarga besar
Anak-anak menyukai tempat ini, para orang tua juga semuanya menyukai tempat ini
Rumah Lis yang sederhana namun antik, menjadi kesan yang tidak akan terlupakan seumur hidup.
Sore ini , ruang televisi sudah disulap menjadi tempat tidur memanjang menjadi satu di depan TV.
Lis dibantu oleh ART nya, sudah menggelar kasur, bantal, serta selimut diatas bantal masing-masing
Saking berkesannya tidur di rumah Lis, sampai membuat keluarga Han ini sering berkunjung kemari, meskipun satu atau dua kali setiap tahunnya
Mereka terkesan karena kebersamaan seperti ini, tidak dapat dibeli atau digantikan dengan apapun. Apalagi tidur bareng-bareng. Rasanya nyaman dan penuh kehangatan
-
Malam harinya
Setelah makan malam, mereka sudah berkumpul didepan televisi yang masih menyalah, namun tanpa yang nonton
Para orang tua sibuk ngobrol sana sini, dengan para orang tua. Sedangkan anak-anak, sibuk main rumah-rumahan
Tiba-tiba Aaliyah datang "Ummiii... Aaliyah capek" Ucapnya langsung tengkurep, lalu membuka bajunya, agar punggungnya kelihatan
"Loh, kok dibuka kenapa?" Ucap semua orang
"Biasa, kalau mau tidur minta dielus seperti ini" Ucap Lis sambil praktik mengusap punggung Aaliyah
"Perasaan aku dulu gitu, sampai mama marah-marah karena sampai besar" Bathin Ilham
"Papa boleh usap" Tawar Ilham pada Aaliyah
Aaliyah langsung mengangkat kepalanya, seakan meminta persetujuan umminya
Lis mengangguk, Aaliyah langsung duduk
"Sini" Bujuk Ilham
Aaliyah akhirnya tengkurep didepan Ilham, lalu diusap punggungnya oleh Ilham
Sementara Altaaf
"Bunda, mandi"
"Ya Allah Altaaaaafff... Lainnya siap-siap tidur, kau malah ingin mandi"
Hanan yang mendengar Alana bicara sedikit tinggi langsung mendekat "Kenapa bund?"
"Minta mandi" Jawabnya sambil membuka selimut, yang menyelimuti kakinya yang sudah memakai kaos kaki
__ADS_1
"Sayang, bundanya kedinginan. Airnya juga dingin banget. Altaaf jangan mandi ya.. Lihat, temen-temennya sudah rapih kayak ikan. Sudah siap tidur. Nggak usah mandi ya" Bujuk Hanan
"Daddy... Mandiiiii" Sambil garuk-garuk dan mewek
Akhirnya, Hanan menuruti.
-
Semuanya sudah berbaring, sesuai selera
"Pa, pumpung kita kumpul, cerita dong pa. Dongeng sebelum tidur gitu" Celetuk Hawa
"Ha.. Betul Hawa" Jawab seluruh putra Ilham, kecuali Fariz. Karena Fariz sibuk dengan ketiga anaknya yang sudah menyanderanya
"Memangnya papa harus cerita apa?"
"Cerita rakyat pa" Celetuk Fariz yang sedang sumbek diunyel-unyel ketiga anaknya
"Ya pa" Jawab seluruh umat yang ada disitu
"Oke, karena kita berada di Magetan, papa cerita tentang Telaga sarangan aja ya??"
"SIAAAAAAP"
"Pada zaman dahuluuuuuu.....
Suatu hari, dipagi hari. Ada seorang petani bernama Kyai Pasir.
Seperti biasa, Kyai Pasir berangkat ke ladang untuk membuka lahan yang baru. Karena lahan baru tersebut masih banyak pohon besarnya, maka, Kyai Pasir menebang beberapa pohon besar untuk memudahkan dalam bercocok tanam.
Sampai pada suatu saat, sorot matanya tertuju pada sebuah telur yang ada di bawah pohon besar yang hendak dia tebang.
Karena lelah dan lapar, Kyai Pasir membawa telur tersebut pulang ke rumah, dan minta dimasakkan oleh istrinya. Istri Kyai Pasir memasak telur tersebut, dan setelah masak, ia bagi untuk suaminya, dan sisanya dia makan sendiri. Selepas lelah, Kyai Pasir melanjutkan pekerjaannya kembali ke ladang, meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
Sesampai di ladang, Kyai Pasir yang baru beberapa kali mengayunkan cangkulnya. Tiba-tiba saja merasa pusing, berkunang-kunang, dan tubuhnya terasa gatal dan panas sekali. Semua tubuh sudah digaruk, namun tak kunjung reda. Karena tidak kuat, Kyai Pasir jatuh sampai terguling di tanah untuk mengurangi rasa gatal di tubuh, namun nihil hasilnya.
Hal yang sama dialami oleh Nyai Pasir di rumah. Sehabis memakan telur separuh di rumah, Nyai Pasir juga merasa tubuhnya panas dan gatal sekali sekujur tubuh. Karena tidak kuat, dia berlari ke ladang bermaksud meminta tolong suaminya. Betapa terkejutnya Nyai Pasir setelah sampai di ladang. Dia tidak menemukan suaminya, namun melihat seekor ular besar berguling-guling di tanah seolah kesakitan. Ternyata Kyai Pasir sudah berubah menjadi ular naga besar yang terus berguling membuat putaran lubang di tanah yang kian membesar.
Tak kuat menahan diri, Nyai Pasir akhirnya terjatuh dan ikut berguling-guling di tanah bersama Kyai Pasir yang sudah berubah menjadi ular naga tersebut. Tubuh Nyai Pasir lambat laun berubah menjadi ular naga besar seperti suaminya.
Karena putaran di tanah yang makin kencang, lubang yang terbentuk juga makin besar dan terus membesar, selama berbulan-bulan lamanya. Lubang bekas putaran Kyai Pasir dan istrinya yang telah berubah menjadi ular tersebut, akhirnya makin dalam dan mengeluarkan air makin deras, hingga penuh sampai membantuk sebuah telaga"
"Oh"
"Dan kini, masyarakat sekitar mengenal telaga tersebut sebagai Telaga Sarangan. Tamat"
"Oh, awal ceritanya begitu ya pa"
"Iya"
"Dulu papa mendengar cerita, atau baca cerita pa" Hawa masih penasaran
"Diceritain papa kalau nggak salah. Ya papa"
Lis yang mendengarkan dari papa, langsung berkaca-kaca
"Papa itu papi ya mi" Celetuk Aaliyah yang belum tidur
__ADS_1
"Iya" Jawab Lis bingung. Membuat Ilham dan yang lain ikut bingung. Setelah dicerna, mereka semua jadi tidak enak dengan Lis
"Ummi, usap lagi" Ucap Aaliyah
"Eh, Aaliyah. Kirain sudah tidur. Sini tidur sama kakak" Tawar Xander "Nih, kasur kakak kurang orang ini, sini kakak usap. Sini" Tangan Xander melambai
Aaliyah geleng-geleng, lalu memeluk Lis "Ummi, papinya kok nggak ikut. Tadi katanya bercelita"
Semua orang tua melongoh berjama'ah
Lis hanya berkejap-kejap tak bisa menjawab
"Ummi, ummi bilang papi Aaliyah ada di syulga. Lalu, tadi papa itu diusap. Ummi bohong" Tunjuk Aaliyah pada Ilham
"Sini, bareng papa yuk. Papa usap, ntar papa ceritain" Ucap Ilham
"Ayo Wa, gara-gara kamu" Tuduh Husayn
"Ya maaf. Kan nggak tau akan jadi begini"
"Sttt sudah" Ucap Fatih menengahi
"Apa sama kakak yuk. Aaliyah boleh kok anggep kakak sebagai papi" Xander sudah jongkok didepan Aaliyah, dengan tangan yang sudah menjulur
Aaliyah geleng-geleng "Papi Aaliyah rambutnya sudah putiiiiih semua. Kakak enggak"
Semua orang ingin menangis dengan jawaban Aaliyah
"Rambutnya udah kakak cat jadi hitam. Coba, Aaliyah bandingkan wajahnya, sama nggak kayak kakak"
Aaliyah berdiri "Ummi, ummi ambilkan poto papi mi"
Lis bingung, dia hanya duduk
Xander main angkat saja tubuh Aaliyah, dan mencium seluruh wajah Aaliyah "Kita tidur bareng papi ya"
Aaliyah masih diam. Tidak menolak, dan tidak mengiyakan
Xander menurunkan Aaliyah ditengah-tengah antara Najwa dan dirinya, Aaliyah mulai berontak
"Kok tidulnya tidak baleng sama ummi. Ummi sini mi"
Lis bengong, tapi Xander melambai kearah Lis "Tidur sini bik. Husayn, kamu pindah sono, gantian tempat"
"Yah" Husayn kecewa
"Sana ada Fariz. Kalau ingin berantem sama Hawa, juga boleh"- Xander
"Kakak.. "-Hawa
"Diem. Kamu yang bikin tadi" -Xander
Akhirnya, Aaliyah mau tidur ditengah-tengah antara Xander dan Lis
"Bener ni, Aaliyah tidak ingin tidur ditengah-tengah kami" Tunjuk Najwa pada tengah antara dirinya dengan Xander
Aaliyah geleng-geleng "Aaliyah ingin tidul baleng ummi"
__ADS_1
BERSAMBUNG.....