
Alana diserang oleh Hanan, dan terjatuh dikasur
Brakk
Alana sengaja menjatuhkan tubuhnya keranjang
"Awas hati hati, jangan asal banting" Ucapnya masih berdiri dan menatap Alana yang sudah terkapar dikasur
Tangan Alana menjulur keatas, seperti mengajak seseorang untuk ikut rebahan bersamanya "Tidak apa apa, kasurnya empuk sekali. Sini kak empuk suwer"
"Sudah tau, namanya kasur ya empuk" Hanan menyambut tangan Alana, dan duduk disisi Alana yang masih rebahan
Hanan merebahkan badannya, dan memiringkan badannya, agar Hanan bisa menatap Alana
Tangan kiri Hanan sudah menjadi tumpuhan kepalanya, dan tangan kanannya mengusap usap perut Alana "Hati hati sayang, jangan sering asal membantingkan tubuh, walaupun itu kekasur" Ucapnya selembut mungkin, biar Alana tau mana serius, mana bukan
Alana memiringkan tubuhnya, hingga berhadapan.
Alana tersenyum, membenahi rambut Hanan yang sedikit kedepan "Kenapa rambut cowok itu kaku? apa orangnya ikut kaku? " Alana tidak menjawab titah suaminya, ia justru membahas rambut
Kembali Alana mengusap rambut Hanan kebelakang agar jidat Hanan terlihat semua
Hanan menyingkirkan tangan Alana dari kepalanya, agar wajah Alana terlihat sempurna "Sikah, kau ini. Bahasnya selalu yang tidak nyambung" Hanan sedikit kesal karena tidak nyambung dengan pertanyaannya
"Tidak nyambung bagaimana?" Alana kembali memegang rambut Hanan "Maaf, sepertinya rambut kakak sudah ada ubannya" Bohong Alana
Hanan menyingkirkan tangan Alana kembali, dan memegangnya "Sekarang sudah berani ya, pegang pegang mahkota hm" Ucapnya dengan lembut. Dan rasa kekesalannya, ia singkirkan jauh jauh
Cup
Hanan mencium bibir Alana sekilas, sekaligus melepaskan tangan Alana yang tadi dalam genggaman
"Ehehe" Alana memeluk Hanan sambil tangan kirinya mengalung dileher Hanan, dan mengusap rambut Hanan dikepala bagian belakang "Biar mesra"
"Eh, memangnya biasanya tidak pegang?"
"Enggak kan tadi katanya mahkota, jadi nggak berani. Eh, enggak ding. Aku nggak berani aja pegang rambut kakak, lebih ke tidak sopan aja"
"Kok sekarang berani"
Alana mulai berdiri sambil lenggak lenggok didepan Hanan yang masih tiduran
"Aku nonton di video - video. Banyak pasangannya pegang pegang rambut suaminya. Jadi aku penasaran"
Hanan mulai duduk, dan memegang kedua tangan Alana, agar Alana tidak melipat tangannya kebelakang terus
"Terus, kalau kita berlayar, kamu pegangnya apa?"
"Kasur"
"Ahaha masak sih, sprei kali" Goda Hanan, dan mencium kedua tangan Alana sambil memejamkan matanya
Alana tambah memerah diperlakukan Hanan seperti itu "Sudah ah, jangan ungkit lagi, malu. Cukur jenggot ya?" Tawar Alana
Mereka sudah saling mengurai
"Hmm" Jawabnya sambil menyisakan senyum setelah menggoda istrinya
Alana mengambil alat pencukur jenggot electric.
__ADS_1
Posisi Hanan masih terduduk diatas kasur
Kaki Hanan yang melebar, mempermudah Alana untuk mengapit salah satu kaki milik Hanan
Hanan mendongak siap untuk dicukur jenggotnya oleh Alana
Alana sering pegang rambut kepala Hanan bagian belakang, tapi belum pernah pegang rambut bagian depan
Yang Alana rasakan sejak dulu menghadapi Hanan, sebenarnya agak takut. Karena Hanan biasa memarahi Alana sejak dulu. Jadi benaknya sudah terpatri, jika Hanan itu orangnya galak
"Tidak usah dipakaiin cream ya kak" Ucapnya sudah menghidupkan alat pencukur jenggot tersebut
"Iya bukannya seperti hari hari biasa ya, tidak pernah dipakaiin cream. Dasar kamu memang pemalas" Hanan menjembel kedua pipi Alana, yang tiap hari tambah menggemaskan
"Ih, jangan jembel pipiku terus kak, ntar mlorot" Alana sudah serius dengan pipi Hanan yang mulai dicukur
"Berati sudah tua dong istriku" Hanan mengalung diperut Alana, lalu menempelkan janggutnya, pada dada tengah Alana "Ah kurang nyaman. Buka ya" Tangan Hanan sudah pegang pegang dada milik Alana
"Ih, jangan nempel begini, yang anteng" Alana sedikit mendorong wajah Hanan "Jangan kayak anak kecil"
"Biarin, buka ya.. "
Tangan Hanan langsung ditampol oleh Alana "Nakal"
"Haha kamu rajinnya mencukur doang, jarang ngasih obatnya. Harusnya itu, seperti bayi - bayi yang sedang dicukur itu dimimi in dulu, biar diam. Baru kamu cukur. Ini mah enggak. Lebih kepemaksaan"
"Ih jangan goyang goyang, jangan brisk juga. Susah nih"
"Ah alesan. Bilang aja minta dipeluk" Godanya kembali, sambil memeluk erat perut Alana
"Ih enak aja. Enggak mau, ntar ujung ujungnya kasur, capek"
-
Beberapa menit kemudian
Mereka berdua sudah selesai sarapan.
Alana dengan susah payah makan, agar lipstiknya tidak hilang
Kebetulan, bik Surti dan mbak Rasti, serta Imran, keluar untuk berbelanja kebutuhan sehari hari urusan rumah tangga sini
Alana berdiri membereskan bekas sarapan mereka berdua
Tiba tiba tangan kekar seseorang memeluk perutnya dari belakang, dan meletakkan wajahnya diceruk leher Alana
"Jangan capek capek bund, jaga ini" Hanan mengusap usap terus perut Alana, lalu menoel hidung Alana "Dan ini"
Alana langsung meletakkan piringnya lagi dimeja, dan tertuju pada jari dan tangannya yang sudah memeluk tubuhnya
"Eh hehe kakak" Alana memutar tubuhnya, agar dirinya bisa berhadapan dengan Hanan
Alana tersenyum, ketika melihat Hanan mengangkat dasi yang belum ia lilitkan ke leher
"Apa??" Tanya Alana pura pura bodoh
"Pakaiin dong"
"Dih suamiku sekarang manja" Ejeknya, sambil menarik dasi dari tangan Hanan, dan mulai mengalungkan dasinya keleher suaminya
__ADS_1
"Tadi apa panggilnya?" Hanan memegang janggut Alana
"Yang mana?" Alana masih sibuk melilitkan dasi pada leher Hanan
"Yang tadi"
"Yang tadi yang mana?" Alana menghentikan aksinya sekejab
"Yang manja"
"Oh suamiku" Alana langsung menutup mulutnya dengan tangannya
Hanan tersenyum lebar "Kenapa ditutupin" Hanan menarik tangan Alana yang masih menutupi mulutnya sendiri
"Enggak sengaja"
"Panggilan itu sepertinya bagus"
"Emm, rupanya.. Kakak, eh daddynya Imran, ingin aku ganti panggilnya ya.." Alana merapihkan dasi yang sudah terlilit sempurna "Dah selesai" Tangan kiri Alana merayap keatas, dan mulai mengalung dipundak kanan Hanan, sedang tangan kanan Alana, mengusap dada Hanan yang sudah ada dasi disana
Hanan memegang tangan Alana yang ada didadanya
Cup
Cup
Hanan mencium tangan Alana, dan mencium bibir Alana yang sudah dipakaikan lipstick
Alana terkejut mendapat serangan itu. Padahal biasanya, Hanan tidak segemas seperti pagi ini
Alana melihat bibir Hanan sedikit berwarna merah "Wahaa bibir kakak merah" Tunjuk Alana sambil berteriak
Saat bersamaan, Alana mau membantu mengelap noda lipstick tersebut, tapi kedahuluan Hanan yang spontan mengelap bibirnya yang katanya merah "Masih merah?" Hanan melihat tangannya yang barusan mengelap bibirnya
"Tidak, sudah bersih"
"Bener bersih?"
"Iya aku nggak bohong"
"Lipstiknya ganti dong jangan yang bisa pindah pindah gitu"
"Maksudnya? "
"Ya itu, malah pindah kebibirku"
"Ya, ntar aku pakai cat tembok yang anti bocor. Biar awet dan hemat"
"Eiiiii, jangan cemberut dong"
"Enggak, ngapain cemberut" Elaknya, padahal kesal. Bukankah Alana berdandan untuk Hanan
"Kalau begitu, ikut kerumah sakit yuk" Ajak Hanan
"Eng... Ntar aku ngapain disana"
"Duduk aja diruang pemeriksaan. Iya mau?" Tawarnya kembali
"Iya deh mau"
__ADS_1
BERSAMBUNG.....