Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 54


__ADS_3

Mereka sudah kembali lagi kejawa


Hanan merebahkan Alana, setelah tadi menggendongnya dari mobil, hingga kekamar


"Bund, dekernya buka ya" Hanan memegang kaki Alana, lalu mengurut pelan kaki Alana yang terlilit deker


"Iya"


Hanan mulai membuka dekernya yang melilit kaki Alana. Ia kembali mengurut kaki Alana, menggoyang goyangkan kekanan dan kekiri, lalu menariknya


Alana cengar cengir kesakitan


"Masih sakit?" Tanya Hanan


"Iya"


Hanan mengurutnya kembali, tapi Alana sudah tidak cengar cengir


"Ya sudah, kita istirahat dulu ya... Daddy capek"


Hanan merebahkan badannya disisi Alana. Tak menunggu lama, mereka berdua tidur siang bersama


-


Suara gawai memekakkan telinga Hanan. Hanan terbangun satu jam setelah ia tidur istirahat


Hanan sudah mengangkat panggilan telepon tersebut, ternyata dari rumah sakit


Hanan segera mandi, setelah itu, iapun pamit pada Alana yang masih tertidur


"Sayang... Daddy kerumah sakit dulu ya?"


Cup


Hanan mencium kening Alana, lalu ia berangkat kerumah sakit


-


Sejam kemudian, Alana bangun tanpa ada Hanan disampingnya


Alana bangun dan turun dari tempat tidur


"Eh, kakak lupa. Kakiku tidak dipasang deker lagi"


Alana mengurut kakinya sendiri sudah tidak ada rasa sakit "Oh, ternyata sudah sembuh. Pantesan tidak dipakaikan deker kembali" Alana bermonolog, lalu berdiri "Haddddaaa" Kaki Alana ternyata masih terasa ngilu jika menjadi tumpuhan tubuhnya


Alana kembali berjalan menggunakan alat bantuan tongkat kembali


Alana keluar dari kamar, dan mendekati Imran yang sedang bermain didepan televisi bersama Rasti


"Imran..." Panggil Alana


Imran menoleh


"Bundaa, teman Imlan mana?"


"Temannya bunda ya, mau ?"


"Fawas mana?"


"Fawas dirumahnya sayang"


"Dirumah ?"


"Iya di Jakarta, jauh"


"Jauh ?"


"Hmmm"


Imran menggandeng Alana, membantunya agar bundanya bisa duduk disofa yang ada diruang televisi

__ADS_1


"Terima kasih"


-


Sementara dirumah sakit


Hanan berjibaku dengan pekerjaan yang menumpuk. Pemeriksaan kandungan yang seharusnya tadi pagi dilakukan, tadi pagi polikliniknya tidak dibuka, karena Hanan masih dalam perjalanan pulang


Antrian panjang membuat Hanan merasa lelah


Operasipun demikian, pasien yang butuh dengan keahliannya sudah mengantri diruang samping operasi


Butuh sekitar 40 menit sampai 50 menit, Hanan menyelesaikan tugasnya membedah satu ibu yang melahirkan secara caesar


Setelah ruangan steril kembali, dan pasien sebelumnya sudah keluar dari ruangan ini, Hanan kembali mengoperasi ibu hamil berikutnya, yang susah melahirkan normal.


"Aduh dok, saya kedinginan dok" Aduh sipasien yang masih proses dibedah


"Andre, Andre, ibunya diselimutin tu badannya" Ucap Hanan yang masih serius akan mengangkat bayi yang masih didalam perut sipasien


Andre segera menyelimuti dada dan menyelipkan selimutnya sampai dibawah pundak sipasien


"Masih dingin bu?" Tanya Andre


"Lumayan pak, daripada tadi" Jawabnya kembali memejamkan matanya sambil berdoa


Didalam ruangan operasi, kondisi ruangan harus steril. Dan suhu ruangan ini harus dingin dibanding ruang lainnya. Jadi para calon ibu yang mau dicaesar, segeralah minta bantuan jika dirasa tidak nyaman


Hanan menghabiskan waktu 3 jam lebih, karena mengoperasi tiga pasien sekaligus



Setelah ketiga pasien sudah diselesaikan dengan selamat, Hanan tidak langsung menuju keruangannya


Ia terlihat ingin membantu mengelap luka sayat , yang masih dijahit oleh perawat yang tugasnya menjahit bekas sayatan operasi tadi


-


Hanan keluar dengan dokter zay Mehta dokter anestesi, dan dokter Zuhi dokter anak


Makanya didalam ruang operasi ini, jangan kaget. Kenapa harus ada dokter lebih dari satu yang mengerumuni tubuh pasien. Itulah tugas mereka yang berbeda beda. Belum lagi asisten para dokter, yaitu para bidan senior


-


Hanan pulang kerumah sekitar pukul 21:00


Rasa lelah, capek, ngantuk mulai memudar ketika dirinya sudah sampai dikamar, melihat Alana yang masih tertidur pulas


"Ini anak tidur, dari aku belum berangkat, sampai pulang kembali masih tidur? benarkah?"


Hanan melintas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


Setelah beberapa menit usai, Hanan sudah terlihat segar dan bugar kembali


Kembali Hanan menatap tubuh kecil Alana yang masih terlelap tidur


Malam ini, Hanan benar benar ingin mengganggu Alana


Hanan mengusap usap wajah Alana, mencium seluruh wajah Alana, sekaligus mengusap usap perut Alana


Tangan Hanan tidak sampai disitu, kurang sreg rasanya, jika malam ini, keinginannya tidak terlaksana


Lima hari sudah pusakanya tersimpan rapih, karena lawannya sedang tidak bisa diganggu alias sakit


Alana terganggu dari mimpi Indahnya. Ia terbangun dan langsung mendudukkan badannya, lalu bersandar dikepala ranjang


Hanan tersenyum tampan, menyapa istrinya yang masih bermuka bantal


"Sudah tidak ngantuk kan? tidur berapa jam hmm?"


Alana tersenyum "baru sejam kayaknya"

__ADS_1


"Oiya... Kirain dari tadi siang nggak bangun - bangun"


"Ih enggaklah. Aku bangun kakak sudah nggak ada disampingku"


"Iyakah" Hanan mendekati Alana, lalu mencium pipinya gemas "Ada panggilan darurat dari rumah sakit sayang" Ucapnya sambil menarik Alana, agar Hanan bisa memeluk Alana dari belakang


Tangan Kiri Hanan mengalung didada Alana, dan berpegangan pada pundak kanan Alana. Sedang tangan kanan Hanan, terus mengusap perut Alana "Masih suka mual?"


"Masih"


"Oh.. "


Hanan memutar Alana, agar Alana menghadap kearahnya. Pandangan mereka beradu.


Kembali Hanan tersenyum "Kakinya masih sakit?" Tanyanya sambil meluruskan kaki Alana


"Sedikit. Kalau buat jalan masih nyeri"


"Nanti lama lama akan sembuh. Tinggal dedenya kakak yang ingin menengok untuk berobat" Hanan menunduk, menunjuk dengan menaikkan alisnya yang tertujuh pada bawah perutnya "Boleh ya? Sudah lama tidak menengok" Godanya, membuat Alana menutup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya


Hanan menahan tangan Alana, dan menciumnya


"Ish kakak selalu bikin malu" Ucapnya manja dan memerah, membuat Hanan semakin kalap dibuatnya


Hanan segera mendekap Alana dengan sayangnya, lalu menjauhkan Alana, agar Hanan bisa menatap Istrinya


Alana menatap wajah tegas suaminya, hingga mereka bersitatap. Kembali Alana dibuat kesemsem oleh Hanan


Alana memeluk Hanan erat dan menyembunyikan wajahnya didada Hanan. Alana terlalu malu menatap lama wajah suaminya


"Hei, kenapa pelukanmu erat sekali. Kau ingin memelukku sampai pagi ?"


Alana mengurai peluknya. Hanan kembali tersenyum, dan memegang pucuk kepala Alana. Lalu, mengusapnya "Rasanya seperti pengantin baru" Godanya entah sudah berapa kali


"Ih kakak" Alana kembali dibuat malu didepan suaminya


Hanan mencium kening Alana "Semoga kau adalah wanita yang mendapingiku hingga akhir hayatku" Hanan memegang wajah Alana, dengan kedua tangannya


Cup


Hanan mencium bibir Alana sekejab, lalu memeluk Alana


Alana kembali menyambut pelukan Hanan "Kakak... Eng..." Alana mendongak didalan pelukan Hanan "Walaupun rambutku sampai beruban uban ?"


"Kita" Jawabnya membuat Alana malu berkali kali


"Iya, kita. Sampai rambut kita memutih ?"


Hanan mengangguk


"Sampai kulit kita berkeriput ?"


"Hmmm" Senyum Hanan membuat Alana klepek klepek entah sudah berapa kali


"Sampai aku menjadi nenek nenek?"


"Nenek kakek" Ralat Hanan


"Iya nenek kakek"


"Insha Allah.. Mudah - mudahan, kita diberi jodoh yang panjang, dan engkaulah wanita yang paling terakhir dalam hidupku"


"Aamiin... "


Hanan tersenyum kembali. Sesusah apapun, ternyata Alana menyambutnya


Hanan mulai merebahkan tubuh Alana, menciumnya "Sedia ya?"


Alana hanya pasrah, walaupun kakinya sedikit sakit, rasanya berdosa jika Alana menolak keinginan suaminya


Tidak menunggu lama, mereka sudah saling bertaut

__ADS_1


Akhirnya, banjir lagi kasur ini, setelah 5 hari kering kerontang


BERSAMBUNG......


__ADS_2