
Semuanya bersiap-siap untuk membereskan baju-bajunya, agar besok bisa langsung menuju dermaga untuk berlibur bersama keluarga besar. Anak, menantu, cucu, dan cicit Ilham
Cicit yaitu anak dari Bumi
Tiba-tiba Viviana mendadak menolak ikut "Sayang, sepertinya aku nggak bisa ikut berlibur dengan kalian"
"Kenapa?"
"Aku ada urusan penting yang. Tolong"
"Vivi. Anak, menantu dan cucu-cucu papa ada disini. Bumi saja yang datang dari jauh, ia sempatkan untuk ikut"
Viviana mulai meninggi "Aku bukan Bumi mas. Kenapa kamu menyamakan aku dengannya"
Fatih hanya menghelah nafas. Viviana sudah berubah. Ia mementingkan dunianya sendiri ketimbang bergabung dengan keluarga besarnya
"Baiklah, lihat Ratna, dia menantu kan, Hawa, Alana. Semuanya menantu dirumah ini. Lalu, kamu sebagai apa dirumah ini" Fatih tidak ingin kalah terus jika berargumen
Viviana tidak menjawab. Tetapi justru berjalan cepat menuju pintu kamar, dan keluar
"Vivi !!" Panggilnya, tetapi tidak dihiraukan
-
Sementara, kegaduhan dikamar atas terjadi lagi
Zira sudah melangkahi tubuh Imran untuk naik ketempat tidur
Imran menoleh.
Seperti biasa, Zira selalu membuka bajunya hingga perutnya terlihat "Kakak, elus"
Imran merubah tidurnya menjadi meringkuk menghadap kearah Zira "Hah, passwordnya Zira nih" Imran mulai mengelus-elus perut Zira. Dalam sekejab, bocah cantik ini tertidur pulas
Imran yang sudah mengantuk, akhirnya ikut tertidur juga
berbeda lagi dengan Altaaf. Ia masih tengkurap dengan hp nya. Mungkin jika Imran tidak diganggu Zira, posisi Imran masih sama mainan hp. Berhubung pasien sudah minta diperiksa, akhirnya, iapun ikut terkapar sama seperti pasien tetap yang suka meminta bantuannya. Ya, pasien tunggalnya adalah Zira.
Tiba-tiba, Arin numpuk dikaki Altaaf. Altaaf gelinya minta ampun "Arin, turun kamu" Ucapnya masih biasa
"Enggak mau, Arin ingin bobo disini"
"Tapi bukan dikaki juga Ariiiin" Altaaf terus menggoyang-goyangkan kaki, agar Arin segera turun "Turun nggak" Agak berteriak
Karena ada kegaduhan, Imran bangun, dan mengubah tidurnya yaitu tengkurap, tetapi matanya tetap tertidur
Disitulah Arin benar-benar menyukai jika kakaknya tertidur sambil tengkurap
Arin turun dari Altaaf, tetapi pindah kekaki Imran
Sepi, sepi, sepi
Begitu beberapa detik saja sepi, jeritan mulai menggema dikamar ini
Imran menjerit dan mulai garuk-garuk kakinya yang terasa sakit.
Bulu rambut yang ada dikakinya, telah dicabut oleh Arin
"Ariiiiinnnn" Teriak Imran
Imran sudah diambang tangga paling atas
Semua orang tua masih ada yang berkumpul, dan sebagian sudah masuk kekamar
"Ada apalagi kak" Ucap Hanan sambil berdiri
Imran turun "Mana anak tikusnya Dad"
"Siapa maksud kamu"
"Arin. Si cemindil, yang berambut kribo"
Husayn dan Fariz ingin tertawa tapi takut mengganggu yang lain
Alana segera keluar dari kamar "Ada apa kak, malam-malam begini, teriak-teriak"
Imran tidak menjawab pertanyaan Alana. Dia malah sibuk mencari Arin "Mana dia sikutu kupret dad, bund"
"Kamu carinya anak tikus, kutu kupret. Ya daddy mana tau"
"Maksud aku Arin dad, si tikus yang mencabut bulu kakiku" Ucapnya sesekali mengusap kakinya yang terasa nyeri karena ulah Arin
__ADS_1
"Hmmm" Alana sudah pusing "Mas, kepalaku pusing. Urus anak-anak. Aku mau tidur lagi"
Hanan mengangguk "Kak, sudah malem"
"Dad" Imran masih tidak terima
"Arin, kamu dimana?" Hanan mencari Arin
Rambut brekele itu mulai menampakkan rambutnya dari belakang sofa "Daddy, jangan panggil-panggil. Arin sedang ngumpet"
"Ngumpat ngumpet, ngumpat ngumpet. Hey, bangun !! Sini, sini kamu" Teriak Imran sambil melambaikan tangannya
"Nggak mau"
"Lama-lama rambut kamu kakak cabut semuaaa"
"Ih ngeri, daddy... "
"Hey kecebong, ngaku kamu. Tadi kamu kan, yang cabut rambut kakak? Ngaku kamu"
Arin menunjukkan beberapa helai rambut yang ia cabut dari kaki Imran
"Tuh dad, benar kan? Aku nggak pernah salah. Dia biang keroknya. Dengar ya kecebong, kamu tidak usah keatas-keatas lagi. Kamu tidak boleh tidur sama kakak" Ancamnya
"Lalu, Arin tidurnya dengan siapa. Arin ingin tidur sama Zira"
"Kamu tidak boleh tidur sama Zira"
"Bolehnya??"
"Kamu tidur sama kecebong"
"Kecebong lagi, kecebong apaan daddy..."
"Kecebong itu, anak kodok"
"Kakak" Arin sudah mewek
"Kamu, tidurnya diember belakang rumah"
"Hah? Daddy... "
"Daaaaan"
"Sebentar lagi, para ikan piranha, yang giginya nggak jelas kayak kamu..."
Arin segera memegang giginya yang ompong, tetapi sudah tumbuh dengan gigi besar
"Akan menggigitmu sampai rontang-ranting"
"Rontang-ranting??"
"Ya, sampai kamu nggak jelas bentuknya rodal-radil. Tau rodal radil"
"Hah?? daddy.." Arin meweknya tambah lebar
"Sekali lagi, kamu tidak boleh tidur bersama kami" Imran berlari keatas, setelah mengancam adiknya hingga puas
Ahahaha
Husayn dan Fariz tertawa lebar. Mereka sudah tidak kuat menahan geli, melihat kakak adik yang sedang berseteru
Husayn mengusap punggung Arin "Apa yang Arin pegang ditangan hmm"
Arin mengangkat tangannya yang masih ada rambut kriting disana "Rambut"
"Rambut punya siapa itu?" Tanya Husayn menahan tawa
"Kak Imran"
"Rambut yang mana?" Husayn
"Bawah"
"Bawah??" Masih Husayn
"He-em"
Husayn dan Fariz kembali ngakak
"Bawah sebelah mana Arin...?" Kini Fariz yang bertanya
__ADS_1
"Kaki" Arin menunjukkan kakinya sendiri yang diangkat keatas "Kak Imran rambutnya banyak. Kayak daddy" Jelasnya jujur
"Oh, ada lagi loh, rambut yang lebih kriting dan banyak.." Ucap Husayn sambil terus terkikik sampai nangis-nangis
"Sayn..." Tegur Hanan
Arin menatap Hanan serta Husayn bergantian "Sayn..."
Alana keluar dari kamar karena suara gaduh itu belum juga reda
"ARIN...." Ucap Hanan kesalnya tidak ketulungan
"Maaf"
"Apa panggilnya" Gertak Hanan
"Papa Sayn"
"Bagus. Sekarang, ayo masuk, tidur"
"Rambutnya dad"
"Buaaaanggg"
Arin membuangnya, dan berlari menuju Alana "Bund"
"Bunda pusing, Arin. Udah tau cabut rambut itu tidak manfaat. Tapi selalu kamu bikin masalah. Buang"
"Sudah"
"Ayo masuk"
Setelah mereka berdua masuk,
Hanan geleng-geleng "Kak Fatih mana?"
"Ada dikamar kayaknya" Jawab Husayn
"Betah amat. Bikin anak?" Hanan
"Bikin anak apanya. Sama siapa? Tembok?" Timpal Fariz
"Maksudnya apa sih"
"Vivinya keluar. Memangnya kamu tidak tau" Tanya Husayn pada Hanan
"Enggak"
"Yah, gitu deh, rumah tangga. Yang satu ingin seperti ini, yang satu seperti itu" Masih Husayn
"Maksudnya??"
"Keluarga kak Fatih itu sudah terkoyak" Fariz
"Benarkah, kenapa bisa. Kelihatannya mereka akur"
"Akur apanya. Semenjak Vivi diangkat sebagai kepala dibagiannya, keluarganya diujung prahara. Mungkin merasa gajinya lebih besar i don't know"
"Hah, baru tau aku"
"Kau harus hati-hati kak. Ratna juga calon kepala loh" Ujar Fariz pada Husayn
"Sudah aku gojlok Riz. Jika kamu seperti Vivi, aku bebasin. Tapi jangan harap aku pemaaf seperti kak Fatih. Kamu juga hati-hati"
"Hati-hati kenapa" Fariz
"Hawa memiliki penghasilan sendiri, dan toko sendiri. Bisa saja kan"
"Mama menjalankan bisnis keluarga juga baik-baik saja. Awet sampai sekarang. Kamu jangan berburuk sangka sama istri-istri kami Sayn. Alana sibuk dengan keempat anakku yang kerjanya berantem melulu. Aku malah kasihan" Saut Hanan karena obrolan Husayn mengarah pada para istri
"Aku tidak ngomongin Alana kak. Aku ngomongin Fariz. Tapi sepertinya Hawa lurus-lurus aja sih" Ucap Husayn
"Aku juga tidak menaruh curiga pada Hawa. Setiap hari, diwaktu yang berbeda, aku selalu video call, tetapi seringnya bersama mama dirumah ini. Atau enggak, pas ditoko, sedang melayani pembeli"
Hanan dan Husayn manggut-manggut
"Riz, kamu kan ahli dalam bidang menguntitan alias detektif seperti film kartun terkenal itu. Coba selidiki si Vivi. Masa iya, waktu mudanya dia yang ngejar-ngejar kak Fatih, sekarang malah lari-lari dari kak Fatih"
"Iya, lihat aja deh nanti"
☁☁☁☁☁☁
__ADS_1
Kira-kira, kalau dilanjut ini bagaimana gaes. Komen ya....