
"Aaaaaaaaah"
Teriakan Alana seketika menyadarkan dan membangunkan Hanan dari tidur karena habis bertempur pagi ini
Hanan membuka mata sambil nyungir- nyungir karena kaget "Ada apa?"
"Lihat, jam berapa sekarang mas !!??" Alana mengangkat tangannya menunjuk arah jarum jam yang ada didinding
Hanan bangun, matanya mengikuti arah tangan Alana yang menunjuk kearah dinding. Ia melihat ekspresi Alana yang begitu kaget ketika melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 08:00
"Mas, mas kesiangan" Wajah Alana sedikit takut "Maaf, aku tadi ikut ketiduran, jadi nggak bangunin"
Hanan mengusap punggung Alana "Sudah nggak pa-pa. Sekali-kali telat gara-gara mainan. Ayo mandi"
"Mandi bareng ??"
"Iyalah ayo"
"Tapi jangan nambah ya, aku capek"
"Haha iya" Hanan dengan cepat menyambar handuk untuk menutupi adik kecilnya.
Iapun mengambilkan handuk bersih, untuk menutupi tubuh Alana, sekalian untuk handukan habis mandi
Dengan cepat Alana beranjak dari kasur, dan segera memakai handuknya
Hanan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, diikuti Alana
Mereka mandi bersama, hingga keramas bersama saling bantu
Hanan selesai lebih dulu, dan dia sudah memakai handuk, lalu keluar lebih dulu
Alana keluar kamar mandi sambil bergetar
Habis keramas, Alana kedinginan sampai gemetaran, dan bibirnya agak membiru
"Brrrrrr"
Hanan menoleh "Kamu kok kedinginan"
"Iya mas dingin"
"Sini-sini" Hanan menggiringnya agar Alana cepat naik ketempat tidur
Mengingat Alana hamil, membuatnya tercengang dan buru-buru memasukkan seluruh tubuh Alana kedalam selimut tebal milik mereka
Hanan berpakaian dulu. Tidak mungkin dirinya ikut ikutan masuk kedalam selimut yang sudah ada Alana disana. Bisa-bisa ikut bergetar karena bertempur lagi
Hanan sudah rapih dengan baju dinasnya yaitu baju kemeja dan sudah berdasi
Hanan mendekati Alana "Masih dingin?"
"He em"
Hanan duduk dibibir ranjang "Menghadap kesana"
"Aku??"
"Iyalah siapa lagi. Ayo buruan"
"Tapi aku masih telan jang"
"Nggak pa-pa, mas akan mengolesi minyak kayu putih ini dipunggungmu, agar kau hangat"
"Iya" Pipi Alana seketika memerah dan wajahnya terasa panas
Hanan mulai mengolesi minyak kayu putih keseluruh punggung Alana. Memijat pundaknya, agar meresap rasa hangat yang dihasilkan dari minyak tersebut
__ADS_1
"Enakan??"
"Enak" Jawab Alana
Kemudian tangan Hanan mulai mengolesi minyak itu kedepan. Yaitu dibagian perut "Disini enak ??"
"Enak sekali"
"Kalau ini" Tangan Hanan sudah nakal. Ia mulai me remas buah mangga milik Alana yang sudah penuh didalam genggamannya
Gara-gara perbuatan junior Hanan yang sudah berani menjenguknya berkali-kali, kini, atas perbuatannya, mantan adik iparnya ini bengkak dimana-mana
Dibawah selimut, Alana terus mengigiti bibir bawahnya, eskpresinya begitu imut dan kekanak-kanakan, ia termakan oleh permainan nakalnya sendiri. Akhirnya, kedinginan sendiri gara-gara harus keramas dipagi hari
Kembali ke Hanan
Dan sekarang, kedua buah mangga miliknya, sudah buat mainan bapak anak satu ini
Alana mengurai paksa tangan Hanan yang Hobby banget melekat dibagian itu "Ih, sudah"
Alana kembali menutupi aset berharga miliknya
"Dah siang" Serunya
"Dih, mentang-mentang sudah hangat, lupa dengan tabibnya"
Hanan berdiri membuat Alana tersenyum. Lalu, Alanapun ikut menurunkan kedua kakinya
"Mau ngapain" Tanya Hanan
"Ambil baju"
"Ini" Hanan menyerahkan baju beserta daleman yang ia pilihkan untuk Alana, yang sudah ia taruh diatas nakas
Alana menerima
"Perlu bantuan"
Pertanyaan itu membuat Alana kaget "Nggak perlu, ntar kelamaan"
"Kan belajar. Katamu, mas bisanya buka doang, ya udah tak belajar sekarang"
"Nggak perlu... Sudah siang !!"
Hanan segera menjauhi Alana "Sehat sedikit, galaknya minta ampun" Hanan keluar dari kamar sambil ngedumel
Alana tersenyum saja "Mau belajar kok memakaikan BH, modus itu baru iya"
Menit demi menit berlalu, Hanan akhirnya masuk kekamar lagi, sambil membawa sarapan yang hangat untuk mereka
Ia berjalan menuju kamar, dan masih menyaksikan Alana memakai pakaiannya, tapi tidak kelar-kelar
Hanan menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Alana
Alana menahannya "Ih sabar dulu, aku belum menggunakan baju"
"Kenapa dari tadi belum selesai. Katanya jago. Sini mas bantuin"
"Nggak mau, ntar modus" Alana
Hanan terdiam, membiarkan Alana memakai Baju, tapi terlihat lama sekali, membuat Hanan ingin memakaikan sarung saja biar cepat
"Sayang, pakai pakaianmu, buruan"
"Ini, lagi memakai. Mas aja yang ngliatinnya gitu, jadi lama"
Hanan akhirnya menyerah dan duduk disofa, untuk menjauhi Alana
__ADS_1
Ia sudah rapih, dan memang selalu terlihat tampan jika dilihat dari sudut manapun.
Hanan sarapan "Kemari" Hanan melambaikan tangannya agar Alana mendekat
"Tapi...." Protes Alana
"Tidak ada tapi-tapi" Hanan mengelap bibirnya, lalu berdiri "Mas tunggu kamu di luar." Hanan berjalan keluar kamar dan menunggu Alana di ruang tamu.
Alana hanya diam, memakan dan meminum sisa Hanan barusan, lalu terpaksa keluar menuruti kemauan Hanan
Alana belum rapih, belum ber make up pula. Tapi sekali lagi, ia harus dandan didalam mobil.
Karena permainannya telah kalah, ia dengan patuh membuntuti Hanan
Alana sudah duduk dijok belakang sambil bersolek
Beberapa detik kemudian, Hanan menghampiri mobil "Ngapain duduk dibelakang. Pindah"
"Ya... Aku duduk didepan?"
"Iya"
"Dengan pak Sholeh ?"
"Dengan pak Sholeh ?? Suami yang sholeh. Pindah kedepan, mas bukan sopirmu"
Hanan membukakan pintu untuk Alana keluar. Lalu, membukakan pintu depan, untuk Alana masuk dan duduk disana
Gaya Alana memang selalu terlihat simple tapi tidak pernah mengurangi kadar kecantikannya. Padahal Alana belum dandan sempurna. Berbeda dengan dulu. Alana gadis terjelek yang Hanan temui. Tapi sekarang, jeleknya sudah luntur semua, tinggal cantik yang tersisa. Apalagi saat hamil sekarang. Alana menjadi segar dan berseri
Setelah Alana duduk rapih, Hananpun berjalan memutari mobilnya, dan duduk dikursi kemudi
Mobil sudah berjalan menuju kerumah sakit, dimana Hanan bekerja disana
Alana masih sibuk bersolek dan memakai hijab yang dipilihkan Hanan tadi pagi
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, mereka terdiam karena sibuk sendiri- sendiri
Begitu sudah sadar
"Mas, aku kok nggak ngelihat Imran ya ?? mbak Rasti, bibi, semuanya nggak kelihatan. Kemana mereka mas"
"Kabur semua karena kamu nggak bangun-bangun"
"Kenapa aku yang salah"
"Dimana-mana, istri itu bangunnya lebih dulu, bukan terlambat seperti barusan"
Alana cemberut, kenapa dirinya yang harus disalahkan "Ya uda, besok lagi aku nggak akan minta jatah lagi. Terserah mas yang mau nengokin" Alana membuang muka membelakangi Hanan "Tau disalahin mending puasa"
Hanan tersenyum kaku menahan tawa
Hanan mengusap kepala Alana "Jadi, semalam uring-uringan itu ceritanya kangen. Tau gitu, mas terjang aja walau mas capek"
"Ah bohong"
Hanan masih mengusap punggung Alana dengan tangan kirinya, karena tangan satunya masih mengendalikan kemudi
"Lah iya, istri minta jatah, kenapa mas biarin. Rugi dong"
"Dah, dah, dah. Nggak usah bahas bikin malu"
"Malu sama siapa?"Ucap Hanan sambil menggoda
"Patung. Noh, patung semar mesem"
"Ahahaha"
__ADS_1
BERSAMBUNG....