Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 21


__ADS_3

Malam harinya, Alana bangun karena perutnya keroncongan


Sebelum turun, Alana membersihkan badan dan melepas gaun sial. Alana bercermin sebelum melepasnya, Alana tersenyum kecut "Pantas saja kakak menatapku jijik karena gaun ini menjijikkan" Alana melepas, lalu membuangnya ketempat sampah


Alana mandi ditengah malam dengan air hangat. Wajah alana sembab dan lengket karena air mata tadi sore


-


Alana duduk dikursi meja makan, sambil memakan roti untuk pengganjal perut


Sejak kejadian perseteruannya dengan Alana, Hanan tidak konsen. Mau masuk paksa kekamar Alana, takut Alana tambah membencinya. Daripada maju salah mundur salah, akhirnya Ia terpaksa menunggunya diruang televisi.


Hanan terus menatap kamar Alana yang tertutup terus. Ia menunggu pintu terbuka, rasanya seperti mau menghadapi ujian UMPTN


Setelah tengah malam, gadis yang ia bentak bentak tadi sore, akhirnya muncul dengan piyama panjang


Hanan memperhatikan Alana sedang makan Roti, sambil mencelupkan roti tawar itu, kedalam gelas yang berisi air coklat panas


Hanan ingin mendekatinya, namun takut Alana memberontak, dan mengurungkan niat untuk makan malamnya yang tertunda


Setelah terlihat Alana selesai makan malam yang tertunda , Hanan mendekati.


Hanan memegang kedua pundak Alana, mencium pucuk kepala Alana dari belakang, lalu menaruh wajahnya diceruk leher Alana


"Maafkan kakak Alana, maafkan" Pipinya ia gesek gesekkan pada pipi Alana


Alana terdiam, tidak menoleh


Alana memejamkan matanya, menghirup udara sebanyak banyaknya, untuk mengumpulkan keberanian menghadapi Hanan


Dengan pelan tapi pasti, Alana mendorong wajah Hanan agar menjauh dari dirinya


Alana berdiri, lalu membereskan meja makan, dan berlalu kedapur


Hanan berdiri diam, dirinya menahan jangan sampai marah diperlakukan Alana seperti itu


Alana berjalan melewati Hanan, tapi berhenti sekejab, lalu keatas lagi menuju kamarnya


Sesampainya dikamar, Alana langsung mengunci kamarnya, Dan menarik kunci tersebut


Dalam hati Alana, sebenarnya merasa kasihan terhadap Hanan, tapi Alana juga mempunyai ego yang sama sama ia pertahankan


Alana merebahkan badannya, rasanya susah sekali tak ada yang ia peluk


Mau mengambil Imran, tak enak mengganggu Rasti


Alana mulai berdoa sebisanya, dibolak balik badannya agar nyaman, dan terlelaplah Alana


-


Pagi harinya


Hanan sudah siap siap. Ia menuruni tangga Dan mengedarkan pandangannya mencari seseorang


Hanan menghentikan langkah Rasti "Eh mbak, bundanya Imran dimana?"


"Dikamar baby Imran tuan"

__ADS_1


Hanan manggut manggut Dan berjalan menuju kamar tersebut


Terlihat, Alana sedang sibuk bermain game diponselnya, dengan nada yang ramai


Imran terhibur Dan mengoceh, seakan suara musik pada gamenya itu mengajaknya ngobrol


Hanan duduk ditepi ranjang. Lalu, tangannya menyingkirkan ponsel yang sedang dipegang oleh Alana "Imran jangan diajarin game bund, nanti mengganggumu kalau kamu sedang asik" Ucapnya dengan senyum. Maksud Hanan, agar Alana menyambutnya. Ternyata salah.


Alana menyingkir dari mereka berdua, dan dia malah memilih kedapur untuk bersarapan


"Bik.. Sarapannya sudah jadi belum bik" Tanya Alana


"Sudah non" Bibik membawa dua piring nasi goreng, Dan membawanya kemeja makan "Ini untuk tuan Hanan, dan ini untuk non" Bi Surti sudah membuatkan nasi goreng sea food request Alana. Untuk Hanan tidak pedas, sedang untuk dirinya, nasi goreng yang pedas


"Makasih ya bik" Alana menerimanya


Meskipun hatinya sedikit sakit terhadap Hanan, ia masih memikirkan makanan kesukaan suaminya


"Iya non sama sama. Itu sudah tugas saya non" Jawab bibik sambil berlalu


Hanan sudah datang bersama Imran, mendekati meja makan, dimana Alana ada disana, yang sedang menuangkan minuman untuk dirinya dan juga untuk Alana


Alana sarapan duluan, ia tidak peduli Hanan makan dengan kesusahan.


Alana terlihat makan dengan cepat


"Bund, makannya pelan, nggak usah ngebut gitu. Imran nggak bakalan minta"


Alana melirik sekilas, tapi ia lanjutkan mengunyahnya dengan ngebut juga. Setelah nasi gorengnya habis dan sudah minum, Alana mengambil Imran dari tangan Hanan, tanpa suara


-


Alana berenang bersama Imran. Alana memang senang melatih Imran untuk berenang


Imran sudah diatas pelampung bayi.


Dengan lincahnya, ia mengangkat kepalanya dan menggerakkan kaki dan tangannya


"Iya sayang, kamu pasti bisa"


Imran dengan girang terus menggoyang goyangkan kaki dan tangannya


"Ayo ketepian yuk" Alana terus ikut berenang ketepian sama seperti Imran "Mbak ini mbak, Imran sudah selesai"


Rasti mengangkat Imran dari kolam renang, tapi Imran menolak dan nangis kejer


"Eh eh eh, kan sudah lama. Ntar masuk angin Adek... Yuk naik yuk" Bujuk Alana, tapi Imran tetap menangis karena ingin berenang lagi "Waduh gimana ini mbak" Tanya Alana pada Rasti


"Ayuk, sudah ya sayang ya.. " Bujukan Rasti, tapi nihil


"Ada apa ini?" Tiba tiba suara bariton muncul dari dalam rumah


Rasti menyingkir karena yang datang papanya Imran, ia tidak enak, karena Hanan selalu ikut menjebur jika ada anak istrinya berenang


"Kenapa ini, nggak mau naik ya? Nggak mau naik bund?" Tanya Hanan yang sedang melepas baju dan celananya


"Iya" Jawabnya malas

__ADS_1


Hanan tersenyum mengusap pucuk kepala Alana, tapi Alana menyingkirkan tangan besar Hanan yang sebenarnya ia inginkan


Kini Hanan sudah menyisakan boxer saja, karena kaus ketat yang biasa ia pakai, kali ini ia lepas


Hanan sudah ikut berenang dengan anak dan istrinya


"Imran, ayok ikutin daddy yuk. Sini bund sini bund" Hanan merangkul Alana, agar Imran ikut ketengah



"Ayok kejar daddy sama bunda yuk" Sambung Hanan


Imran terlihat kegirangan dan terus mengejar kedua orang tuanya ketengah


Alana sampai lupa tentang permusuhannya dengan Hanan


Alana menggoda Imran


"Cil luk ba" Ucap Alana bersembunyi dibelakang punggung Hanan


Imran kegirangan mengejar Alana


Alana terus bersembunyi dibelakang Hanan, sambil memegang lengan kekar Hanan


Sekarang giliran Imran yang dibelakang tubuh Hanan, dan Alana yang didepan tubuh Hanan


"Imran" Panggil Alana melongok dibawah lengan Hanan


Hanan yang merasa kepegang perutnya oleh Alana, spontan miliknya menegang "Bund, nanti celanaku mlorot"


Alana langsung tersadar "Oh" Alana langsung menjauhi Hanan, dan mengangkat Imran "Mbak, Imran ini mbak" Teriak Alana memanggil Rasti


Hanan menyelam dari ujung sini sampai ujung sana


Rasti cepat cepat menghanduki Imran. Kali ini Imran tidak menangis karena mungkin sudah puas berenang


Rasti sudah menghilang


Tiba tiba dari dalam air, merayap memeluk tubuh Alana "Eh eh, lepasin ah" Ucap Alana sambil mengurai tangan Hanan


"Nggak ada orang bund. Sebentar Saja. Semalam tidur tidak memeluk bunda, apa bunda tidak kangen ?" Tangan Hanan masih memeluk perut Alana


"Enggak" Alana melepas jari jari Hanan yang telah meraba tubuhnya, tapi susah


Hanan tambah erat "Maafkan daddy ya bund, tak semestinya daddy membentak bunda"


Alana melepaskan tangan Hanan yang merekat seperti lem tikus "Sudah aku maafin" Alana naik, mengambil handuknya, lalu berlari menuju kamarnya


-


Malampun tiba


"Mbak, malam ini, biar Imran tidur dikamarku ya.. "


Hanan yang mendengar seperti itu, langsung mengejar Alana "Bund, malam ini daddy juga tidur dengan bunda ya? boleh ya bund ya?"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2