
Mereka bertiga sudah duduk dimeja yang sama
"Alana, apa kabarmu? lama tidak berjumpa" Tanya Budi sembari menekuk kemejanya sampai kesiku
Alana sedikit lupa dengan statusnya sekarang
"Kabarku baik kak. Kakak aja yang lama tidak tampak dan menghilang begitu saja" Jawab Alana seakan menyalahkan Budi yang tak pernah timbul saat dirinya dijodohkan dengan Hanan kakak iparnya
"Eh, rupanya selama ini ada yang menungguku" Budi mengkerlingkan matanya sambil mengulum senyum "Aku sedang fokus dengan pekerjaan. Maklum aku kan karyawan baru"
"Terus sekarang sudah lihai dong, kan sudah lama"
Mereka terdiam sejenak, karena makanan yang mereka pesan sudah datang
"Makasih mbak" Ucap mereka bertiga
"Tetap masih belajar" Sambung Budi
"Memang belajar apa, hitung? anak SD juga bisa kak" Alana sambil mengaduk aduk spageti ala anak kampus, karena yang jualan sekumpulan anak anak kampus
"Tapi kan beda Alana, apa anak SD ngerti bahasa debet kredit, nggak kan? dah makan yuk, sudah jam setengah satu"
Tiba tiba,
Seorang pria dengan harum parfum yang tak asing bagi Alana, duduk disebelah kursi Alana
"Eh hem, enak ya?" Suara yang sangat familiar telah menyapanya
Alana menoleh, begitupun Budi Dan Olivia
Olivia riang sekali, dokter yang pernah membimbingnya dirumah sakit, kini hadir dihadapannya
Berbeda dengan Budi. Budi sedikit curiga, seperti pernah melihat wajah Hanan, tapi dimana? Budi belum bisa memecahkan teka teki ini.
Budi menatap Hanan, tapi fikirannya muter muter belum menemukan titik temu
Budi memang sedikit tau tentang Alana. Karena pernah kerumah Alana dengan kawan kawannya. Sayangnya, cinta mereka belum bersambut, karena ibunya Alana, sedikit galak seperti satpam. Ditambah, mereka berbeda fakultas, terhambatlah cinta mereka. Padahal mereka saling mengagumi
Mata Alana melebar "Kakak... Kok kakak ada disini"
"Kakak ??" Fikiran Budi mulai terurai
"Kakak ?? maksud kakak apa? apa Alana punya kakak ? Kenapa aku nggak tau kalau Alana punya kakak" Benak Olivia
Hanan tidak menggubris pertanyaan Alana "Pulang yuk" Ajak Hanan santai, tapi tidak dengan senyum
"Pulang?? memangnya kakak tidak kerumah sakit lagi?"
"Tidak. Ini teman?" Hanan menjawab, tapi tangannya menunjuk Budi dan Olivia
Olivia berdiri, tangannya menjulur mengajak bersalaman "Dok, saya Olivia. Teman Alana yang pernah dibimbing dokter dirumah sakit waktu itu"
Hanan menyambutnya untuk berjabat tangan
Nyesss.. Hati Olivia terhipnotis sampai kedinginan "Halusnya....." Bathin Olivia sewaktu memegang telapak tangan Hanan
Budi yang terdiam, sekilas melihat cincin Hanan dijari manis sebelah kanan, mirip seperti cincin yang dipakai Alana sekarang. Tambah penasaranlah si Budi
Hanan mengurai, lalu menunjuk kearah Budi dengan kelima jari yang tidak menekuk satupun "Ini juga"
__ADS_1
Alana terdiam
Budi dan Hanan berjabat tangan
"Budi / Hanan" Diucap bersamaan
"Pulang yuk, Imran menunggu" Ucap Hanan datar
Alana berdiri "Benarkah?"
Budi dan Olivia tambah bingung dengan orang didepannya
"Eh Alana, ka kalian saling kenal? eh maksudku kenal dekat begitu?" Olivia gagap, karena mengira, antara Dokter tampan dengan Alana sebatas mahasiswa dan pembimbing. Kenal, tapi tidak sedekat sekarang dengan Alana
Alana lagi lagi diam, ia sedikit takut dengan Hanan
"Iya, kami kenal dekat" Jawab Hanan
Budi berdiri "Oh, apa jangan jangan mas ini, kakak iparnya kamu ya Alana. Rasanya tidak asing, dan Familiar"
Hanan mengabsen Alana dan Budi. Hanan sedikit curiga dengan tingkah mereka berdua
"Pernah melihat saya sebelumnya ?" Tanya Hanan pada Budi
"Ah, aku ingat. Foto pengantin itu. Ya betul, foto yang dipajang diruang tamu rumahmu, ya kan Alana ?"
Alana terdiam lagi
"Habislah aku " Bathin Alana mulai bergejolak
Hanan mengusap punggung Alana "Pulang yuk"
"Nanti pak sholeh biar yang ambil. Mari" Hanan menggandeng Alana, sekaligus berpamitan dengan dua teman Alana. Katanya
Olivia berdiri bingung, tangannya menggantung diudara.
Bingungnya lagi Hanan membawa Alana masuk, tapi beberapa menit kemudian mereka berdua berjalan keluar
"Alana !!" Teriak Olivia mengejarnya sampai keparkiran "Alana, pinjam duit. Aku tidak ada ongkos pulang"
Alana garuk garuk sambil membuka tasnya untuk mengambil dompet
Hanan menghentikan tangan Alana "Sudah, ini saja" Hanan menarik dua lembar uang ratusan ribu, lalu memberikannya pada Olivia "Cukup"
"Cukup banget" Olivia menerimanya dengan kegirangan
"Kakak.. Katanya uangnya menipis. Aku masih punya uang"
Hanan kembali memegang tangan Alana "Nggak papa, uang segitu masih ada"
Olivia masih berdiri dan kebingungan
Hanan menatap Olivia "Untukmu, tidak usah ganti"
Olivia berbinar tidak percaya "Wah benarkah... Makasih pak dokter"
Hanan menjawabnya dengan anggukan
-
__ADS_1
Sesampainya dirumah
Mereka masuk kekamar
Hanan melepas dasinya dengan diam. Ia duduk dibibir ranjang, lalu merebahkan tubuhnya tanpa melepas alas kaki
Alana datang membawanya jus alpukat kesukaan Hanan. Alana sebenarnya takut didiamkan oleh Hanan
Ia menaruh jusnya diatas meja
Hanan sedikit melirik, Dia tau apa yang dibawa oleh Alana
Alana mendekati kaki Hanan, dan melepas sepatunya yang belum Hanan lepas
Mata Hanan sengaja ia tutupi dengan lengannya. Alana mendekat, lalu mengangkat lengan Hanan yang beratnya berkwintal kwintal karena Hanan sengaja menahan
Alana memutar otak mesumnya
Ia mengambil sesuatu yang belum pernah ia pakai sebelumnya
Lingerie warna merah "Kakak pasti nubruk aku huhu" Alana terkekeh geli melihat dirinya yang sudah terlihat wudelnya, meskipun sudah memakai baju "Ini baju apa jaring yang ada diempangnya pak lurah, weleh weleh"
Alana mendekati Hanan, yang masih tidur seperti pertama Alana masuk tadi
"Perjuangan ha ha ha 🎶🎶🎶" Nyanyinya dalam hati, karena Alana horor melihat Hanan
Takut, tapi bikin ulah. Itulah Alana
Tak disangka, Alana duduk dipaha Hanan.
Hanan yang merasa ada sesuatu yang berat menindihnya, iapun menyingkirkan lengannya dari wajahnya
"Ngapain kamu pakai seperti itu, turun !" Bentak Hanan dengan wajah galaknya
"Nggak mau" Alana sedikit takut, tapi dia berusaha kuat dan tambah menggoda. Jari lentiknya membuka gesper Hanan, dan menariknya dari celana Hanan
Hanan masih diam, walaupun didalamnya sedikit bereaksi
Alana bergeser duduknya, hingga kepunyaan mereka sudah bertemu, namun terhalang kain
Alana mulai menarik kemeja Hanan, yang masih rapih didalam celana. Mencopot kancing satu atau dua dari atas, lalu tangannya meraba masuk kedada Hanan
Hanan mulai tak kuasa menahan godaan istri yang keterlaluan memancing emosinya dikafe tadi
Hanan menarik nafas panjang, agar tidak tergoda dengan kelakuan Alana
"Kakak bilang turun !!" Bentak Hanan
"Aku bilang tidak mau !!" Tapi kaki Alana turun. Rasanya sedikit takut, takut dilempar beneran keluar oleh Hanan
Alana berjalan menuju sofa, lalu duduk disana, dan meminum jus Alpukat yang terdiam tidak ada yang menyentuhnya
Errrrrrgggg
Alana bersendawa. Sengaja dikerasin biar Hanan budek mendengarnya
Alana berjalan melewati Hanan yang sudah duduk. Dikira Hanan ada kesempatan kedua, makanya gengsinya tidak diukur
"Ya Sudah, kalau nggak mau. Aku simpan lagi"
__ADS_1
BERSAMBUNG.....