
Aaliyah sudah mengangkat kedua tangannya
Tiba-tiba
"Assalamualaikum papi.. Aaliyah datang menemui papi" Aaliyah terdiam sejenak, memperhatikan semut hitam yang merangkak naik kesepatunya. Dengan tangan mungilnya, Aaliyah mengambil semut tersebut, lalu menyingkirkannya "Semut, kenapa kau sendirian. Mana temanmu. Apa kau berteman dengan papi?" Setelah semutnya sudah berjalan entah kemana, Aaliyah pun melanjutkan lagi "Papi apa kabar" Masih sibuk menyingkirkan dedaunan yang berguguran diatas makam papinya
Lis yang mendengar itu, langsung menoleh kaget. Iapun menegur "Sayang, berdoanya kita baca surat al fatihah dulu ya, baru berdoa seperti itu"
"Oh.. Al fatihah dulu ya ummi"
"Iya.. Aaliyah bisa?"
"Bisa" Aaliyah tiba-tiba tersenyum "Umm, yang bacanya bagaimana, Aaliyah lupa"
"Alhamdulillah.. "
"Oh iya ingat"
"Baca basmalah dulu, lalu ikuti ummi ya"
Aaliyah mengangguk
Mereka berdua sudah membaca surat-surat pendek, seperti surat al falaq, an nas, al ikhlas, lalu terakhir ditutup surat al fatihah kembali, yang pimpin oleh Lis
"Aamiin.. "
Aaliyah menoleh lagi kearah Lis "Umm, sekarang Aaliyah boleh mulai berdoa?"
Lis mengangguk, karena dirinya juga berdoa untuk mendiang suaminya
Lis kembali mengenang mendiang suaminya.
Anand adalah sosok lelaki dewasa yang paling baik yang pernah ia kenal
Semula menjadi majikannya, lalu membayar hutangnya yang tak kunjung lunas
Anand pria yang penyayang, dan seorang pemimpin yang disegani oleh para anak buahnya. Serta, bertanggung jawab penuh selama menjadi kepala keluarganya.
Usianya senja, namun tidak menghalangi Lis untuk tidak mencintai Anand
Sosoknya yang tangguh, membuat laki-laki seperti Anand kerap dikagumi oleh Lis dan seluruh anak asuhnya sampai sekarang
Kini, Lis datang kembali setelah lama tidak menyambangi pemakaman Anand. Lis takut tidak mampu menahan air mata, jika melihat tempat pembaringan Anand yang terakhir
Tapi hari ini, ia kuatkan demi Aaliyah sang buah hati, yang selalu merengek ingin melihat papinya
Meskipun Xander kadang menjumpai, tapi Aaliyah kekeh ingin menemui papinya yang berambut putih. Bukan berambut dua warna seperti milik Xander
Hati Lis sudah penuh dengan isi curahan hati dan kerinduan.
Kehilangan seorang suami tercinta, menjadi momen paling berat bagi setiap orang, termasuk Lis.
Kehilangan orang yang paling dia cintai, membuat dunianya terasa runtuh dan penuh keputusasaan.
Untuk bisa melalui hari-hari tanpa kehadiran suami, bukan perkara gampang. Ada kesedihan yang kerap hadir ketika mengingat sosok Anand. Apalagi ada putrinya yang selalu menanyakan "Kapan kita akan menemui papi"
__ADS_1
Namun, dunia terus berjalan, dan Lis tidak boleh terus larut dalam kesedihan.
Tiba-tiba suara anak kecil, kembali terdengar lagi
"Papi, kawan-kawan Aaliyah semuanya punya papi. Hanya Aaliyah sendiri yang tidak pernah melihat papi. Aaliyah rindu pi.. Ummi bilang, papi tidur disini, tapi Aaliyah tungguin, papi nggak bangun-bangun. Aaliyah kan sudah datang. Aaliyah ingin dipeluk, seperti Soli kawan Aaliyah disekolah"
Aaliyah mengusap batu nisan Anand dengan tangan kecilnya
"Anandhan Nico las bin Nadem Han" Aaliyah mengejah "Iya umm, itu nama panjang papi"
"Iya"
"Papi, di sini Aaliyah akan mendapat pelukan dari papikan, seperti kawan-kawan Aaliyah. Papi ingin kenal dengan kawan Aaliyah tidak ?? Ada Bintang, ada Bulan, ada Jupi, tapi Bintang nakal. Dia bilang, Aaliyah nggak punya papi. Aaliyah ingin, ajak papi kesana, terus Aaliyah peluk, biar Bintang tidak mengejek lagi. Aaliyah ingin, papi mendengar Aaliyah kalau Aaliyah sangat rindu sama papi"
Luruh sudah airmata Lis, dan juga airmata semua orang dewasa yang mendengar curahan hati Aaliyah
'Pih, Andai papi ada di depanku saat ini, mungkin aku sudah memelukmu dan menceritakan keluh kesahku. Putrimu sudah besar....' Lis terisak lalu terdiam lagi karena mendengar, Aaliyah sudah mengobrol lagi
"Papih, seandainya papi masih di sini, Aaliyah ingin bermain dengan papi. Seperti kawan-kawan Aaliyah. Mereka selalu menceritakan banyak hal tentang ayahnya"
Aaliyah menoleh "Umm, ayah itu papikan?"
Lis mengangguk
'Ya Allah, haramkan wajah suamiku disambar oleh api neraka. Karuniakan buatnya surga tanpa hisab'
'Papi.. Kepergianmu membuatku mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, kepergianmu pun mengajarkan bahwa Allah selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan'
Lis berdiri, dan meraih tangan mungil Aaliyah
'Meski kau telah tiada, namun aku merasa, kau masih di sini' Lis menyentuh dadanya yang berdenyut 'Bersama kami. Selamat jalan papi. Tenang dan baik-baik saja' Lis kembali mengusap airmatanya yang terus lolos tanpa capek
"Iya sayang, papi pasti tenang. Ayuk" Ucapnya sumbang karena ketidakberdayaan Lis menahan setiap kesedihan dan berakhir dengan airmata
-
Diperjalanan menuju ke kediaman Fariz
Fatih sengaja menjemput Sifa dan Ilham untuk membawanya kerumah Fariz. Karena Ilham yang memintanya
Ilham menginginkan, Lis dan Aaliyah satu mobil dengan Hanan. Sedangkan sopir yang tadi mengantarkan Lis, disuruh pulang kembali ke kediaman Anand
"Kak Imran depan ya, bareng daddy. Bunda biar bareng bik Lis sama Aaliyah" Ujar Alana membukakan pintu untuk Imran
"Dan dedek bund, baleng bunda ya" Protes Altaaf
"Iya"
Mobil sudah mulai melajuh menuju kota Tangerang
"Umm, kita mau kemana"
"Ketempat kak Fariz" Jawab Lis
"Kak Xander ikut nggak umm"
__ADS_1
"Tidak sayang. Kak Xander sibuk"
"Yah, Aaliyah nggak dipeluk dong"
Alana langsung merentangkan kedua tangannya "Sini, kak Alana peluk ya"
Aaliyah menyambutnya
Cup cup cup
Alana mencium kedua pipi Aaliyah dan pucuk kepala
"Aaliyah yang cantik dan pintar, jadi anak yang solehah ya sayang"
Aaliyah mengurai pelukan lalu mendongak
Alana tersenyum "Aaliyah tidak ingin sekolah bareng Altaaf disini hmm?"
Aaliyah terdiam
"Atau ditempatnya kak Fariz" Sambung Alana
"Emm, terus teman Aaliyah disana bagaimana" Ucapnya ragu
"Ya nggak gimana-gimana. Biar teman Aaliyah tetap disana, dan Aaliyah cari lagi disini bersama Altaaf, ya kan dek"
Altaaf mengangguk, tetapi berbeda dengan Aaliyah
"Enggak mau, nanti Soli nangis. Dia kasihan tidak punya ummi, tidak kayak Aaliyah"
Alana menatap Lis, lalu mengusap kepala Aaliyah 'Ya Allah.. Kami menangis karena membayangkan kamu sayang, tapi kau malah memikirkan kawanmu yang tidak punya ibu'
-
Kurang lebih memakan waktu satu jam setengah, mereka sampai dikediaman Hawa dan Fariz
Sekarang, Fariz tidak tinggal diapartemen, melainkan diperumahan elit, yang ada dikota Tangerang
Sesampainya dikediaman Fariz, dengan riang Altaaf dan Aaliyah turun dengan gembira tanpa beban
"Altaaf, lihat" Tunjuk Aaliyah pada kelinci yang bersembunyi disemak-semak tanaman lavender yang ampuh mengusir nyamuk katanya
"Lari yukkk" Aaliyah menarik tangan Altaaf, lalu berlari mengejar kelinci yang berkeliaran ditaman
"Wah, rabbitnya banyakin Aaliyah.." Altaaf sampai terjungkal mengejar kelinci yang berwarna hitam putih
"Wahaha.." Aaliyah tertawa sambil memegang perutnya, dan menunjuk Altaaf yang terjatuh dirumput gajah yang ada ditaman
"Wah, selamat datang dikediaman sikembar" Sambut Hawa dari dalam
Hawa merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk Aataaf dan Aaliyah
Cup
Cup
__ADS_1
"Salim dulu sayang"
BERSAMBUNG.....