Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 38


__ADS_3

Alana menerima gelas dan tespack tersebut dari tangan Hanan, dan masuk kekamar mandi


Tok tok tok


Hanan mengetok pintu untuk memberi peringatan "Awas loh, nyelupnya jangan semua" Teriak Hanan dari luar


"Iya iya aku tau, tadi bohong" Jawabnya sambil teriak juga


"Jangan kebalik" Teriaknya lagi


"Iya !!!"


Beberapa detik kemudian, Alana keluar dan mempraktikkan didepan Hanan


"Coba" Hanan memeriksa benar tidak cara pakainya "Pinter" Hanan mengusap pucuk kepala Alana


Alana mengibaskan tangan Hanan "Ih, kakak jangan ngrusak rambutku" Alana fokus "Jadi ingat pelajaran kimia waktu SMA dulu"


"Kenapa?"


"Kertas lakmus biru, dicelupkan kemana kak, yang beruba menjadi warna merah" Tanyanya mengingat ingat


"Larutan Asam klorida"


"Iya betul itu"


Kembali Hanan mengusap rambut Alana


"Eh kak, garis satu, berarti nggak hamil ya?" Ucapnya ingin naik ke ranjang lagi


Hanan menarik lengan baju Alana "Tunggu, liatin dulu"


Alana dengan terpaksa belok mendekati Hanan kembali


Dan akhirnya, mereka fokus pada benda kecil tersebut


"Liat liat.."


"Yah yah" Alana melihat tanda itu kian jelas menjadi dua garis berwarna merah


"Garis dua bund.. " Ucap Hanan kegirangan


Hanan merentangkan kedua tangannya, dan ia segera memeluk Alana


Beberapa menit kemudian, Hanan melepasnya dan memegang kepala Alana hingga Alana mendongak


Cup cup cup


Hanan mengecup bibir Alana berkali kali


Pikiran Alana terbang menuju Imran "Dua, jadi.. Imran akan punya adik. Iya kak Betul?"


Hanan mengangguk "Iya sayang, kau akan mempunyai anak. Adik untuk Imran" Ucapnya kembali memeluk Alana


Alana mengurai peluk Hanan "Kakak. Aku malu.."


"Malu kenapa? "


"Aku belum bisa masak, tapi sudah bisa bikin anak" Ucapnya tersenyum tapi membawa luka


"Ahaha. Berarti kamu istri tak tau diri dong. Kecil kecil cabe rawit. Biar kecil sudah berani nglawan sama suami. Jadinya hamil kan ??"


Alana berfikir sejenak "Apa!! kakak bilang aku Berani? berani apa maksud kakak" Alana mencubit Lengan Hanan kembali


"Adddaaa dadaaa sakiiiiittt" Hanan mengadu kesakitan karena rambut halus pada lengannya pada kecabut


Alana duduk menjauhi Hanan


Hanan duduk diujung sofa sebelah kanan, sedangkan Alana duduk diujung sofa sebelah kiri


"Kakak ngejek aku kan?" Alana bersedekap sambil melirik Hanan tak suka


"Ngejek apa sih"


"Ah pura pura nggak tau"


Tangan Hanan menjulur memegang dagu Alana


Alana menepisnya "Nggak ada pegang pegang"


"Dih... Istriku ngambek"

__ADS_1


"Biarin !!"


"Ya sudah, terusin ngambeknya" Godanya sambil berdiri meninggalkan Alana


"Kakak !!! Ih, menyebalkan" Alana menghentak hentakkan kakinya kelantai


Hanan benar benar meninggalkan tempat ini, dan keluar dari ruangan tersebut


"Awas ya.. " Alana mengambil ponselnya, dan mengetik pesan untuk Hanan


"Ntar malam, kakak tidur diluar . TITIK !!!!!"


Alana keluar dari ruangan Hanan, dengan wajah kesal


Tiba tiba Alana merasakan lengannya diseret oleh seseorang


Hanan menunjukkan pesan tulisan dari Alana "Apa maksud pesan ini"


Alana melirik mengajak permusuhan "Ntar malam, kakak tidur diluar. Jelaskan"


"Pintu kamar, akan kakak dobrak" Hanan sedikit lupa, ia menyebut kakak untuk dirinya sendiri


"Aku Alan pasang gembok, yang banyak. Hmm mau apa" Ucapnya mengejek


"Gampang. Aku lewat genting, lepasin satu persatu, beres"


"Hellleee sebelum kakak naik, sudah kupasang jeratan tikus. Kakak mau apa"


"Tetap bisa masuk. Aku akan lewat jendela, haha" Hanan tertawa lebar


"Jendelanya aku kasih strum. Wekkk, mau apa. Menang aku. Kakak kalah... Kan, kan, kan"


"Berarti kau ingin aku mati" Ucapnya bersedekap, sambil memiringkan wajahnya, agar wajahnya lebih dekat dengan wajah Alana


Alana berhenti, dan terdiam sejenak. Lalu, menatap Hanan


"Hmm" Hanan seakan bertanya "Apa, kenapa, ada apa"


"Hmm, nggak nggak. Aku nggak mau jadi janda muda dengan dua anak" Alana langsung bergelayut dilengan Hanan


Alana lupa


Tiba tiba para perawat menyapa Hanan "Dok"


Alana baru sadar, tangannya nempel nempel manja dilengan Hanan


Alana melepas tangannya "Eh hehe, lupa" Cengirnya persis seperti kuda sembrani


Alana berhenti melangkah, sedangkan Hanan, terus berjalan


Seketika Hanan menghentikan langkahnya, setelah dirasa tidak ada bocah yang berjalan disampingnya


"Eh, kenapa berhenti" Tangan Hanan melambai "Ayo, ngapain berdiri disitu"


Alana terdiam dengan jarak satu meteran "Kakak.. Aku ingin pulang"


"Bentarlah, masih jam berapa ini" Hanan mengangkat pergelangan tangannya, untuk melihat jam berapa sekarang "Belum saatnya pulang"


"Kakak pasti lupa"


"Lupa apa??"


"Tuh kan bener. Kakak pasti akan berbohong"


"Berbohong apa?"


"Belanja belanja Ihhhh" Alana menyalip Hanan, seperti motor ngebut, dan berhenti mendadak


Bluk


Hanan menabrak punggung Alana "Jalan yang bener ah"


"Kakak bohong"


Hanan diam


"Bohong kakak"


Hanan terkekeh geli "Ya sudah sana, kalau ingin belanja. Tapi sendiri"


"Ish kakak.. "

__ADS_1


Alana berhenti lagi "Kakak"


"Apa"


"Lihat" Alana menunjuk para tamu yang sedang antri didepan ruang pemeriksaan Hanan "Wah.. Kakak memang dokter hebat. Baru tugas, tamunya banyak"


"Suami siapa hayo" Godanya


Alana tidak tau perjuangan suami dan keluarganya. Untung keluarga Ilham lumayan terkenal, karena kegiatannya sering dibuatkan vlog daily. Jadi lumayan menarik untuk berpromosi dimedia sana.


-


Sepulang dari Rumah sakit, mereka berbelanja sesuai keinginan Alana


Satu troly sudah penuh dengan barang barang yang Alana inginkan


Hanan melintas "Mau pindahan bu" Godanya sambil berlalu


Plok


Hanan berlari


Ia lebih baik cari sesuatu, jangan sampai ibu negara terganggu. Jika terganggu, bahaya. Negara jadi kacau


Hanan sudah sibuk memilih sepeda anak yang dijajar rapih disana


"Dorr" Alana sengaja mengagetkan Hanan


Hanan berdiri


"Kakak ngapain ? sepeda buat Imran ya kak"


"Iya, cakepan mana coba? ini apa itu" Tunjuk Hanan pada sepeda roda tiga, dengan kepala berkarakter hewan hewan lucu


"Mending dibeliin mobil mobilan" Tunjuk Alana pada mobil mainan


"Imran kan sudah besar, biar jalan jalan didorong nanti. Biar tidak meminta gendong terus terusan kekamu"


"Ya namanya juga anak kecil, ya manja. Daddynya juga manja" Celetuk Alana


"Hmm jangan mulai"


"Biarin orang nyata"


"Kapan aku manja sama kamu" Elak Hanan, karena Hanan merasa dirinya tidak pernah manja


"Tiap malam" Ucap Alana memilih mainan dorong untuk Imran


Alis Hanan menyatu


"Woe, kakak kenapa ?" Alana melihat alis Hanan menyatu seperti angry bird


"Manja. Nggak kebalik"


"Kebalik gimana, kakak tuh manja"


"Heh..."


Alana berbisik menggoda "Seumuran kakak tuh, seharusnya sudah disapih. Kenapa mimi melulu, uweeekk manja kan, bener kan"


Hanan baru ngeh, dan ingin menyubit Alana


Alana langsung mendorong troly lagi menjauhi Hanan


-


Alana berdiri didepan rak, yang ada pembalut dari berbagai merk disana


Hanan berdiri, dan sudah membawa sebuah sepeda, pilihan Alana untuk Imran


"Ngapain didepan pembalut"


"Ya mau pilih, terus beli" Jawabnya santai


"Buat apaan"


"Ya buat jaga jagalah kak"


"Kamu lupa, tidak ingat tespack?"


"Eh, ya Tuhan lupa kak" Alana tepuk jidat

__ADS_1


"Hmmm" Hanan tepuk jidat


BERSAMBUNG..


__ADS_2