
Hanan dan Alana, akhirnya berangkat kerumah sakit hanya berdua saja tanpa pak sholeh
Hanan sengaja ingin berduaan saja, tanpa ada orang lain yang berada di dalam mobilnya
Dan kebetulan, pak Sholeh memang sedang sibuk dengan tanaman untuk pagar yang mengelilingi rumah ini agar nampak cantik dan asri
-
Sebelum melajukan mobilnya, Hanan mengusap perut Alana yang belum kelihatan menyembul itu
Ia usap usap "Kita berangkat dulu sayang.. Jangan buat bunda capek ya, ajak bunda untuk happy.. Sekarang, kita berangkat"
Alana hanya tersenyum saja tanpa menjawab celotehan suaminya
-
Hanan memulai menyalakan mesin mobil, yang sudah dipanaskan oleh Sholeh tadi pagi-pagi sekali
Tangan Hanan sudah sibuk mengendalikan kemudi, dan kakinya sudah menginjak pedal gas dan rem untuk melajukan kendaraan tersebut
Kaca jendela belum ditutup dibagian kemudi. Sengaja Hanan belum menutupnya, sengaja untuk menyapa beberapa warga yang berpapasan dengannya
Hanan sudah melajukan mobilnya dengan pelan, karena masih banyak warga yang berlalu lalang digang depan rumah mereka
"Pagi pak dokter... " Sapa para warga yang berjalan kaki memikul sayur sayuran yang akan dijajakan diatas yaitu dipasar krempyeng
Hanan menghentikan mobilnya, sekedar menyapa para bapak bapak yang mengangkut beberapa jenis sayur sayuran yang berada dalam ranjang yang diangkut dengan pundaknya "Pagi paakk" Ucapnya sumringah "Wah hebat, habis panen pak?"
"Inggih pak dokter.. " Jawab mereka dengan senyum damai para petani
"Mari pak, kami duluan" Pamit Hanan, menegakkan duduknya, agar Alana terlihat
Para warga mengangguk menyapa Istri pak dokternya, dan diangguki Alana yang dipersilahkan oleh Hanan, agar ikut menyapa para warga
Hanan mulai fokus mengemudi dan sudah menutup kaca mobilnya.
Alana menoleh pada Hanan, yang bisa dibilang jarang menyetir ini, dan bahkan tidak pernah
"Padahal ahli dengan medan yang sedikit berliku, kenapa selalu pak Sholeh yang mengemudi"
"Kenapa ngliatin, cakep ya suaminya. Apa baru tau hmm" Pertanyaan Hanan membuat Alana tertohok
"Hm biasa aja tuh, nggak cakep cakep amat" Bohongnya
Alana segera membuang muka keluar jendela, dan menaikkan kakinya keatas jok semua, lalu memunggungi Hanan
Plok
Pantat Alana ditabok pelan oleh Hanan
"Oh iya, bukannya pernah aku dengar ya, kalau suamiku ternyata tampan" Goda Hanan yang mempraktikkan gaya lebay perempuan
"Ih, nggak ah bohong itu" Alana segera menutup wajahnya yang ketahuan berbohong
"Ah, bohong dosa loh"
"Ih jangan ungkit, fokus ama jalan"
Hanan mengusap kepala Alana, yang sekarang sudah mulai tertutup menggunakan hijab, dan pakaian yang serba tertutup
"Cantiknya istriku.. Jangan membelakangi orang yang diajak bicara dong. Suamimu kan ada disini, bukan diluar mobil"
__ADS_1
Alana malu-malu diperlakukan Hanan seperti anak kecil, tapi alana suka "Biarin, anggap aja suamiku ada didepanku, bukan dibelakangku"
"Ih nggak baik ah, memunggungi"
Plok
Pantat Alana kembali mendapat hadiah
"Dibetulin"
"Iya, jangan nabokin melulu" Alana mengusap pantatnya yang selalu jadi sasaran
Akhirnya Alana merubah cara duduknya, agar ikut fokus pada jalan
"Sebelum masuk, mau mampir beli apa" Tawar Hanan, agar Alana tidak bosen jika ditinggal bekerja
"Eng.. " Alana mulai bingung "Nanti pas kita melewati pasar aja kak, biasanya banyak pedagang kaki lima yang mangkal. Kalau enggak, didepan rumah sakit kan banyak"
"Oh ya udah, didepan rumah sakit aja kalau gitu"
-
Mobil sudah bergabung untuk ikut memenuhi ramainya arus lalu lintas dipadatnya lajur jalan raya
Entah darimana ide datangnya pertanyaan, tiba-tiba Alana bertanya
"Kak, orang nglahirin itu ngeri nggak sih?" Tiba tiba pertanyaan yang sudah lama ingin ia utarakan, terucap sudah untuk sang suami yang sudah hangat dengannya
"Kenapa kau bertanya seperti itu"
"Ya... Ngebayangin aja"
"Ngebayangin gimana?"
"Sttt kau tidak boleh seperti itu. Kodrat wanita kan memang yang harus melahirkan"
"Iya sih, makanya ya kak, aku tuh nggak tahan kalau lihat ibu-ibu pas ngelahirin. Aku tuh ngebayangkan aku pas ngelahirin, lubang segitu haaaa" Alana sudah menutup telinganya
Hanan mengusap kepala Alana "Sssstt bunda nggak boleh stres gitu loh, dibuat enjoy ya sayang ya.. Banyak wanita diluar sana yang ingin hamil, dan ingin mempunyai keturunan seperti sayang. Jangan dijadikan beban ya.. Santai"
Mereka sudah didepan rumah sakit, dan mulai memarkirkan mobilnya ditempat khusus untuk mobilnya
Hanan membukakan pintu dari dalam untuk Alana. Setelah Alana sudah benar benar turun, Hanan baru menutup kembali pintunya, dan iapun turun dari mobil tersebut
Hanan memegang pundak Alana sekilas untuk menggiringnya keluar gerbang rumah sakit terlebih dahulu
"Sayang ingin beli apa?" Tanyanya terus berjalan beriringan menuju pedagang kaki lima yang sudah ramai diluar gerbang rumah sakit
"Bakso" Tunjuk Alana pada gerobak yang tertuliskan bakso mercon
"Bakso mercon?" Hanan membaca "Berarti bakso ini dalamnya pedas ya kang?" Tanya Hanan pada sang penjual
"Iya pak dokter, tapi yang nggak pedas juga ada, yang isinya urat" Jawabnya
"Ih, aku maunya yang mercon kak, yang pedas" Ucap Alana yang sudah memohon "Kepalaku mulai pusing. Boleh ya?" Ucapnya lagi sambil merengek dan memegang lengan Hanan
Hanan menunduk, Alana mendongak
Pemandangan yang pantasnya ayahnya yang melarang pada anaknya ini terekam banyak orang.
"Itu istrinya apa adiknya sih" Celoteh tukang ojol yang biasa mangkal dipojokan rumah sakit, pada kawan-kawannya
__ADS_1
"Istrinya" Jawab tukang ojol yang lain
"Masak sih, terlihat bocah banget"
"Iya kok dokter pilihnya yang anak lulusan SMA nan gitu ya.. Nggak yang dewasa"
"Istri mudanya kali" Celetuk yang lain
"Oiya, kan dokter pernah bawa anak sih waktu itu"
"Kapan ah, jangan ngarang "
"Ya sudah lumayan lama sih, tapi kudengar begitu"
"Eh, jangan- jangan istri keduanya dokter"
"Hus jangan sembarangan ah, hati - hati kalau ngomong"
"Iya ah, kita kan numpang. Jangan banyak ghiba sama pemilik lahan"
Kembali ke Alana
"Ntar aku banjir nih, ntar aku ngiler nih" Desaknya sambil sedikit manja
"Ya udah kang kasih"
"Asyik"
"Udah ah jangan asik asikkan, yuk masuk" Hanan meraih pergelangan tangan Alana "Kang, tolong ntar antarkan kedalam, keinformasi ya, yang mercon satu yang urat satu"
"Siap pak dokter"
-
Dua bulan kemudian
Usia kehamilan Alana sudah menginjak ke 5 bulan. Berarti, usia kandungan bik Lis, dua bulan lebih tua dibanding Alana
Hari ini entah mengapa, bik Lis meminta ingin pulang kampung yang ada di kota Magetan
Sebenarnya bik Lis sudah meminta dari bulan bulan yang lalu. Namun, Anand belum mengizinkan karena belum merehab rumah ditengah kebun itu
Dan, setelah dua bulan berlalu, mereka berdua akhirnya pulang kampung yang ada dijawa timur
Akhirnya, pasangan ini sudah pulang kampung
Anand sudah membuatkan rumah yang asri seperti keinginannya
Dirumah ini, ternyata Anand merasakan sakit yang teramat. Mungkin karena kecapaian atau memang sudah tua, Anand jatuh sakit
Anand dirawat oleh Lis, dengan kasih sayang yang ikhlas
"Pih, apa yang papi rasakan saat ini pih?"
"Entahlah nduk, papi kok capai sekali"
"Dipijit ya pih"
"Iya nduk, tapi jangan diinjek. Papi sudah nggak sekuat dulu"
__ADS_1
BERSAMBUNG....