
Hanan sudah selonjoran ditempat tidur. Sengaja dia menunggu Alana masuk kekamar
Lama ditunggu tidak kunjung datang, akhirnya Hanan keluar, dan berjalan menuju kamar anak-anaknya
Hanan masih berdiri diambang pintu, tapi tidak sengaja mendengar percakapan Imran yang menodong pertanyaan untuk Alana
"Bund, bunda berantem sama daddy"
"Enggak"
"Kok diam-diaman"
"Berarti bunda sama daddy hanya diam-diaman, bukan berantem"
"Oh, orang dewasa begitu" Imran manggut-manggut.
Imran membuka album pengantin Alana dengan Hanan "Bund, ini poto bunda dengan daddy ya"
Alana melongok "Iya" Alana kembali sibuk mengusap-usap punggung Altaaf yang hampir tertidur
"Lagi ngapain bund, wah bunda sama daddy pacaran ya?"
Imran jarang diajak mengiring pengantin, paling satu yaitu pengantin Rasti dengan Sholeh. Selain itu, Imran tidak pernah ataupun diajak kondangan. Sebab, Imran anaknya bosenan bila diajak ketempat keramaian. Ditambah, saudara bunda dan daddynya, tidak ada yang menikah. Jadi pas, Imran kurang faham
"Bukan. Itu pengantinan"
"Kok kakak nggak diundang, nggak kayak mbak Rasti"
Alana langsung menoleh kearah Imran yang masih duduk dikaki Alana
"Siniin, bunda mau lihat"
Imran segera mendekati Alana, dan membawa album besar berisi foto pernikahan bunda dan daddynya
Alana melihat foto tersebut "Iya, foto kamu dimana ya" Alana membuka berlembar-lembar album foto, tapi tidak kunjung dapat foto bayinya Imran "Ah ketemu"
Imran melihat "Kok masih bayi bund. Kok belum besar bund"
"La iya. Kan waktu itu kakak masih bayi"
"Terus adek ada dimana?"
"Dimana ya.. " Alana sedikit berfikir "Ya, ada didalam perut. Adek belum lahir"
"Kakak kok nggak didalam perut"
"Ya Allah Imran....... "
"Dulu, sebelum kakak lahir didunia ini, kakak juga ada didalam perut"
Imran segera memegang perut Alana "Perut sini ya bund"
"Iya"
"Haduh ya Allah... Aku bohong padamu Imran"
"Oh iya kakak ingat"
"Ingat apa?"
"Kata buguru kakak, dulu kita ada diperut bunda. Kenapa tidak didalam perut daddy ya bund"
Alana bingung terdiam
Imran tertawa dengan gigi ompongnya, lalu memeluk Alana dari samping
"Kenapa tertawa" Kata Alana sambil menyenggol Imran dengan bahunya
"Enggak. Kata buguru, kita lahir dari perut bunda, bukan dari perut daddy"
"Kalau sudah tau, kenapa ditanyakan"
"Ingin aja. Agar bunda bingung"
"Sudah malam, jangan tanya terus. Tidur sana" Usir Alana menyuruh Imran naik keranjang, yang ada diatas Altaaf
"Bentar bund"
"Apalagi"
"Eng... Apa orang dewasa, diam-diaman terus, nanti punya anak?" Tanyanya
"Tidak. Kalian lahir, karena kami saling cinta"
"Cinta??"
"Iya"
"Cinta itu diam ya bund"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu"
"Kakak mewakilkan daddy bund"
__ADS_1
"Hehhh??"
"Kita sama-sama laki-laki bund, tidak mau didiamkan lama"
"Kata siapa kamu bicara seperti itu"
"Nggak kata siapa-siapa"
Hanan tersenyum dibalik pintu. Ternyata, menjawab pertanyaan Imran, termasuk sebagian tambahan dari pekerjaan Alana.
Imran cerewet sekali, dan butuh jawaban cepat
Hanan melongok kembali "Hening"
"Bunda" Panggilnya lagi
Hanan langsung bersender pada pintu lagi, dan menyimak, apa yang ingin ditanyakan Imran kembali
"Hemm"
"Kenapa bunda diam dengan daddy"
Alana melirik Imran, tapi tidak menjawab
"Kenapa bund"
"Ntar. Nunggu seminggu lagi" Jawab Alana asal
"Seminggu??"
"Iya, kenapa"
"Apa karena daddy tidak pernah menangis? jadi didiemin terus. Iya bund" Protesnya
Alana melirik Imran lagi "Daddy bukan bayi kakak... Daddy sudah besar. Dewasa"
Imran mulai mewek.. Bibir dan matanya sudah memerah
"Hei, kenapa kakak menangis" Alana memegang bahu Imran
"Kalau kakak menangis, pasti bunda tidak diem kan? pasti bertanya"
"Yaiyalah, kakak menangis karena apa?"
"Kakak mewakilkan daddy bund. Kata daddy, kakak air matanya banyak. Sedang daddy tidak punya hiks hiks"
"Kenapa kakak bilang seperti itu"
"Sudah ah, tidur. Naik"
"Bund.. " Rengeknya
"Naik bunda bilang"
Akhirnya Imran naik keranjang yang ada diatas ranjang Altaaf
"Bund"
"Apalagi"
"Bunda jangan diemin daddy"
Alana terdiam
"Jangan menunggu seminggu"
"Kenapa?"
"Nanti bunda punya anak lagi. Kakak tidak mau punya adik lagi"
Alana diam lagi, dan ingin berbelok
"Bund"
Alana berbalik
"Kakak tidak mau berebut mainan dengan adik. Kakak tidak mau seperti Ghozy dan Fawas. Mereka berantem sama adiknya"
Tiba-tiba tangan besar memeluk Alana dari belakang, lalu menaruh dagunya diceruk leher Alana
Sambil mengedipkan mata satu pada Imran, Hanan berucap "Sudah malam. Ayo tidur"
Alana terjingkat "Mas. Jangan sembarangan main peluk didepan anak-anak"
"Kenapa. Mas hanya ingin diajak ngobrol, masa didiemin" Mata Hanan kembali berkedip pada Imran
Imran cengar cengir menahan tawa
Alana melihat Imran dengan kesal "Sudah malam, tidur. Jangan senyum-senyum sendiri begitu"
"Ehehe siap bund, daddy, selamat malam" Imran langsung tidur, membelakangi daddy dan bundanya
"Malammm" Jawab mereka berdua
__ADS_1
-
Sementara dikamar
Alana melepas BH nya saja, lalu tidak mengganti baju yang tadi
Hanan protes "Kok hanya lepas BH nya saja sayang. Bajunya kok masih pakai celana gitu"
Alana tidak menjawab. Dia hanya segera naik ketempat tidur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Lalu, mengambil ponsel untuk bermain game
Hanan memeluk perut Alana, lalu menciumnya
"Bund" Hanan menyingkirkan hape yang ada digenggaman Alana
Alana menatap Hanan dengan kesal. Karena wajah Hanan menampilkan senyum- senyum membuat Alana tambah sebal
Alana kembali fokus pada ponselnya, dengan musik yang keras
Hanan merobos diantara kedua tangan Alana yang memegang ponsel
"Aku lagi sibuk. Jangan diganggu"
Kembali Alana bermain ponsel dengan model miring. Padahal susah. Karena Hanan sudah numpuk diatas tubuh Alana
"Minggir aku bilang. Mas berat"
"Sayang.. Apa mas harus nangis. Biar tidak didiemin seperti ini? kan sudah diwakilkan kakak kan?"
"Mas turun. Aku nggak bisa nafas"
Hanan diam, ia malah senyam senyum dan pegang-pegang dada ingin membukanya
Alana tetap main game
"Bund, daddy kangen. Masa puasa terus"
"Yang nyuruh siapa?"
"Eh, berarti sayang kangen.... Iya pasti ya.. " Ucapnya tersenyum lebar
Hanan mulutnya sudah mengangah diatas dada Alana yang sudah nampak pu tingnya
"Mas gigit nih Hap"
"Ya kalah. Ih mas minggir"
"Sayang, mas kangen. Boleh ya?"
Alana menatap Hanan tanpa ekspresi, tapi Hanan tetap tersenyum
Hanan menyingkir dari tubuh Alana. Ia mendudukkan Alana, lalu melepas baju tidur bermodel stelan baju celana, tanpa kancing.
"Baju ini dipakai itu diluar kamar bund. Kenapa bunda didalam kamar kita masih menggunakan baju ini, bikin mas kesusahan aja" Protesnya
"Itu hak aku mas. Jika perlu, aku pakai jaket, jilbab, juga nggak masalah. Nggak ada aturan ini"
"Terus, suamimu bagaimana kalau gembokan begitu. Tidak boleh nyentu. Jangan dong bund"
Alana sudah polos, tapi masih menyisahkan CD
Hanan berbinar menatap buah dada yang melambai-lambai
Ia segera melahap meskipun yang punya lahan terlihat keberatan
Hanan sudah menindih tubuh Alana, sambil melepas gembok segitiga sama kaki milik Alana
Alana pasrah, kalau sudah ada dokter super mesum, Alana bisa apa. Tinggal terima tetesan air dari suaminya
"Mas, aku sudah lepas KB"
Hanan berhenti dari hentakkannya
"Kapan?"
"Tadi siang"
"Dimana?"
"Dimana apanya"
"Lepasnya"
"Memangnya aku pakai apa. Aku pakai suntik mas. Seharusnya tadi siang aku harus KB. Suntik. Tapi sudah keburu disuntik mas"
Alana menaikkan kedua alisnya
"Ya, punya mas mengecil nih" Hanan menarik senjatanya "Kamu kalau mas lagi serius, jangan ganggu"
"Ya udah sini aku lapin"
"Nggak perlu"
BERSAMBUNG....
__ADS_1