
Hanan keluar untuk mengambil sesuatu. Sepertinya dirinya sangat haus. Padahal diluar hujan deras
Hanan kembali masuk, dengan membawa segelas air putih
Hanan meletakkannya diatas nakas, untuk jaga jaga biar tidak kehausan ditengah lautan
Hanan melihat Imran masih dalam dekapan Alana "Imran sudah tidur itu bund, kenapa nggak direbahin"
Panggilan tersebut membuat Alana salah tingkah
"Sini daddy rebahin" Hanan ingin mengambil Imran dari pangkuan Alana
"Eng nggak usah kak, biar aku aja" Alana menidurkan Imran dengan hati hati, setelah tertidur, Alana ingin merebahkan tubuhnya disamping Imran
"Bund, kau tidak ingin daddynya tertidur juga" Hanan memandang Alana seperti minta sesuatu
Alana mengurungkan niatnya untuk merebahkan badannya disamping Imran
Hanan bergeser mendekati Alana, merebahkan badannya, lalu menjadikan paha Alana sebagai bantalan
Hanan mendongak "Bund, aku juga ingin seperti Imran. Usap bund" Tangan Hanan mengulur mengambil tangan Alana, kewajah Hanan "Usap bund"
Alana mengusap pipi berambut milik Hanan
Tangan Hanan memberikan contoh praktik memijat pelipis "Coba bund pijitin sini"
Alanapun tidak menolak, ia memijit pelipis Hanan
"Iya bund enak, pijatan bunda enak banget"
Alana memijit, tapi pikirannya kemana mana
Hanan membuka matanya, ia melihat Alana terlihat melamun. Hanan bergeser kepinggir ranjang. Memberi ruang untuk Alana tidur "Kamu kenapa melamun hmm" Hanan menepuk nepuk kasur agar Alana berbaring
Alana tidak menjawab, Alana hanya patuh. Ia merebahkan badannya ditengah tengah ayah dan anaknya
Hanan mengambil Alana dalam pelukan. Hanan mencium pelipis Alana dari samping "Kau tau bund, daddy sudah tidak sanggup untuk tidur sendiri. Daddy ingin seperti ini. Tidur disampingmu. Boleh ya?"
Alana mengangguk
Hanan merebahkan Alana. Agar Hanan bisa memandang Alana dengan seksama
Hanan mengecup kening
Alana mulai memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang mulai menyengat ditubuh Alana
Hanan mencium kedua kelopak mata milik Alana. Hanan mengangkat wajahnya, agar melihat Alana dekat, hanya beberapa detik, bibir Hanan menyesap bibir Alana. Lidah Hanan sudah bermain disana
Cup
"Buka mulutnya sayang" Suara berat itu membuat keberaniannya timbul dengan sendirinya
Alana membuka sedikit bibirnya. Hanan langsung menyambar bibir Alana kembali
Emmuah emmuah
Hanan menyesap bibir bawah Alana. Alana masih diam belum membalas
Alana memejamkan matanya, tangan yang semula terdiam kaku, kini terangkat naik keleher Hanan. Terakhir mengalung
Lidah Hanan sudah mengabsen gigi Alana, menyesap bibir atas dan bawah Alana dengan agresif. Hanan menghentikan kegiatannya, ia menjauhi bibir Alana "Balas sayang" Suara berat Hanan sepertinya butuh dijawab sekarang
__ADS_1
Hanan mulai kembali menyesap bibir mungil Alana. Alana mulai membalasnya, membuat Hanan tambah agresif
Tangan Hanan mulai meraba kepunggung Alana untuk membuka pengait BH, Alana sedikit menggeliat karena kaget.
Kembali Hanan memainkan lidahnya agar Alana terbuai.
Hanan sudah menemukan buah yang ada didada Alana, ia meremas dan memainkan sedikit dengan tangan besarnya
Alana mulai terbuai dan menggigit bibir bawahnya sendiri karena merasakan nikmat yang selama ini belum pernah ia rasakan
Hanan melihat Alana menggoda, iapun sudah tidak tahan untuk berlama lama meremasnya
Hanan mulai menyesap pucuk kue kamir yang sudah melambai lambai syahwatnya
Alana sudah meremas rambut kepala Hanan saking nikmatnya
"Sssssssss" Alana mulai mengokos tidak karuan
Alana merasakan sensasi yang berbeda, dia lupa sedang bermain apa dengan Hanan
Bibir tipis Alana terus mendesah "Kakak ssssss" Bibir bawahnya digigit oleh Alana sendiri saking tak bisa mengendalikan
Hanan melihat Alana seperti ulat yang kepanasan, membuat miliknya menegang
"Shiiiittttt"
Hanan berpindah pada mulut Alana yang mulai meracau. Bibir Hanan mulai menyesap bibir Alana kembali
Kini, tangan Hanan mulai meraba kebawah, Tangan Alana langsung menghalangi
"Kenapa? " Tanya suara berat Hanan
"Kebelet pipis"
"Ck, itu bukan ingin kencing"
"Apa kak? " Tanya Alana dengan polosnya
"Tidak apa apa, sana pipislah"
Selagi Alana masuk kekamar mandi, Hanan memindahkan Imran kekamar baby sitternya yang ada dilantai bawah
Tok tok tok
"Mbak, mbak"
Tok tok tok
Pintu terbuka dari dalam
"Tolong jagain Imran ya mbak"
"Oh iya tuan" Rasti menerima Imran dengan hati hati. Karena Hanan tidak mau masuk kekamar susternya itu
"Terima kasih sebelumnya ya"
-
Hanan kembali kekamar Alana. Alana langsung bertanya pada seseorang yang barusan masuk kekamarnya dan menguncinya "Imran kemana kak?"
"Dengan susternya" Hanan melepas kaos dan celana pendek miliknya
__ADS_1
Alana sudah kebingungan dengan aksi Hanan
Dada ster Hanan membuat Alana mati kutu didepan duda yang sudah resmi menjadi suaminya itu
Hanan mendekati Alana, sangat dekat "Alana, kakak membutuhkanmu"
Mereka berdiri saling berdekatan. Tangan Hanan mengambil tangan Alana untuk memeluk pinggangnya, Alana tidak menolak
Alana memeluk pinggang Hanan, lalu mendongak, Hanan mengecup bibirnya sekejap "Bajunya lepas ya?"
Alana mengangguk malu
Brolllll
Tubuh krempeng Alana sudah terlihat jelas, tapi tetap mengoda hati pemilik nama Alhanan Putra Zayn
Hanan sering memeriksa perut wanita lain, dari wanita cantiknya kelas atas, tengahan, bawah. Sudah ia lihat. Tapi tetap tidak menggoda seperti milik Alana walaupun miliknya krempeng. Gampang, semuanya bisa dipoles.
Kembali ke Hanan yang sudah cenat cenut "Jangan kaget, dan jangan takut" Hanan kembali memberi sentuhan agar Alana relaks
Tangan Lihai Hanan sudah membuat semuanya polos, tangan Hanan sudah menyentuh milik Alana
Alana sedikit malu, kenapa kakak iparnya meraba raba. Tangan Alana segera menutupi asetnya yang belum pernah dijamah oleh seseorang
"Hei lepas tangannya"
"Kakak aku takut, aku malu juga"
"Kenapa harus malu. Aku suamimu Alana, bukan orang lain. Boleh ya, kakak boleh melakukannya?"
Penglihatan Hanan sudah mulai berkabut. Rasanya ingin segera memporak porandakan dinding tinggi yang sudah tak sabar ia jamah
"Alana" Hanan sudah menggesekkan miliknya yang seperti obor, ingin memasuki goa yang gelap
"Boleh ya" Suara Hanan sudah serak
Alana dan Hanan sama sama membutuhkan. Untuk Hanan agar punya kesabaran tingkat tinggi berurusan dengan Alana. Apapun yang dilakukan Alana, jangan pernah marah. Halusi seorang wanita seperti Alana. Agar tidak berontak, nanti akan menikmati hasilnya
Dan benar, Alana mau membuka yang tadi sempat ditutupi
Mata Hanan sudah berbinar melihat sesuatu milik seseorang yang tadinya berstatus adik iparnya
Tak pernah menyangka, akhirnya Hanan melepas masa dudanya dengan sesungguhnya
Alana menjerit sambil meneteskan airmata. Cengkeraman Alana begitu kuat pada pundak dan rambut Hanan
Hanan menarik miliknya, tak sanggup ia ulangi lagi. Terlalu sempit
Ia mengelapnya dengan tissue yang sudah tersedia dikamar ini, sekalian mengelap kepunyaan Alana
Hanan tersenyum puas, meskipun belum tersalurkan semuanya
"Emmmuah, tidurlah istriku Alana"
Baru saja mau menina bobokkan istrinya, jeritan Imran menggema
Alana bangun "Kakak, Imran"
"Baiklah, bersihkan tubuhmu. Imran akan kuambil" Hanan segera memakai celana dan kaosnya
Hanan turun mengambil Imran, dan segera membawa Imran kembali kekamar Alana
__ADS_1
BERSAMBUNG.......