Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 105


__ADS_3

"Sayang"


Alana dan pijar menoleh kesumber suara


"Mas"


Pijar menatap Alana dan Hanan bergantian


Alana segera mendekati Hanan, namun Hanan segera berbalik "Keatas"


Sedetik itu juga, Hanan berjalan menjauhi mereka berdua


Alana kebingungan, dan berlari mengejar Hanan "Mas!!"


"Alana" Pijar memanggil


Alana berhenti, Namun Alana tak menolehnya, dan terus berlari


Pijar kembali keruangannya dengan gontai penuh pertanyaan "Sebenarnya pak Hanan itu siapanya Alana"


-


Hanan berdiri disamping jendela. Ia sibuk dengan ponselnya yang sedang berbicara dengan seseorang diujung sana


Alana datang, lalu memeluknya dari belakang


Hanan memutar badannya, agar mereka berhadapan


Alana mendongak, dan melepas jilbabnya sembarangan


Hanan masih saja berbicara dengan seseorang, tanpa merasa terganggu dengan kedatangan Alana


Setelah Hanan berhenti, dan memasukkan ponselnya kesaku celananya, Hanan menatap Alana


"Ada apa kamu melepas jilbabmu. Kau mau menggodaku?" Hanan melepas tangan Alana yang mengalung pada pinggangnya seperti gesper. Tapi tangan Alana masih saja pegangan sesuatu yang menempel pada tubuh suaminya


"Ish, mas. Mas menyuruhku keatas kan. Aku keataslah"


"Tapi bukan menyuruhmu untuk melepaskan jilbab kan?"


Tak berapa lama Alana melepas tangannya dari tubuh Hanan, lalu melepas celana miliknya


"Ngapain kamu melepas celana juga" Hanan membungkuk mencegah, agar Alana memakainya lagi


"Mau pipis" Tangan Hanan ditarik agar menjauh dari dirinya


"Pipis disini" Hanan menunjuk lantai, dengan telunjuknya


"Iya"


"Gila" Hanan kembali menatap Alana tegas


"Didalam mass" Alana sedikit menciut


"Kenapa melepasnya disini"


"Nggak pa-pa, pengin aja biar ditegur sama mas" Ucapnya mengembalikan nyalinya yang tadi sudah berkerut


Hanan segera mengambil majalah yang tergeletak diatas meja, lalu menggulungnya dan memukul Alana


"Begitu ya, ingin dipukul sekarang!!" Gertaknya. Padahal Hanan tidak pernah memukul, semarah apapun


"Oo oo oh" Alana berlari memasuki kamar mandi


Brakkk


Hanan geleng-geleng, lalu ia mendudukkan pantatnya disofa


-


Alana keluar tanpa menggunakan celana lagi. Ia melintasi Hanan, sambil memutar mutar celananya diudara


Hanan menatapnya aneh "Kamu itu kena setan mana. Tidak biasanya kamu begitu"


Netra Hanan mengikuti Alana, sampai Alana sudah terduduk disamping Hanan


Alana duduk. Namun, kepalanya ia taruh dipundak Hanan, dan kakinya ia berdirikan diatas pegangan sofa

__ADS_1


"Lama-lama kamu kayak kuda ya. Pakai sepatu, tapi tidak pakai celana"


"Ish, kuda kan nggak pakai blazer mas"


"Terus maksud kamu apa itu, sampai kaki diangkat keatas segala"


"Udah dibilang aku pengin. Pengin begini" Kaki Alana digerakkan seperti menggoes sepeda "Pahaku mulus kan mas" Alana praktik seperti iklan sabun mandi


"Ck. Ini dikantor. Pakai lagi celananya"


"Ah nggak mau" Alana mendongak dan wajahnya pas diperut Hanan "Pakai in" Manjanya sambil menenteng celana kearah Hanan


Hanan mendorong celana yang ada digenggaman Alana


"Ih mas"


"Sudah ah"


"Baik, ntar malam celananya aku gembok"


"Gembok aja"


"Pakai rantainya pak RT"


"Ya udah sana kerumahnya pak RT. Rantai bekas kalungnya dogi milik pak RT kan maksudmu"


Alana berdiri, lalu memakai celana didepan Hanan


Sembari merapihkan celana, Alana mendesak Hanan yang sudah menyuruhnya keatas "Mas.."


"Apa?"


"Aku disuruh keatas suruh ngapain"


Hanan menatap Alana "Benerin dulu"


"Apanya?"


"Itu resleting kamu masih terbuka"


"Ish. Mata mas piknik kemana kali. Sletingnya ada dibelakang. Bukan didepan"


Ia teringat lagi, waktu melihat Alana terlihat begitu akrab dengan Pijar


Memang sih, cemburu merupakan emosi normal yang dimiliki semua orang. Faktanya, semua orang pasti pernah merasakan cemburu terhadap sesuatu hal.


Dalam Social Psychology Quarterly Journal, kecemburuan didefinisikan sebagai reaksi perlindungan terhadap ancaman yang dirasakan terhadap hubungan yang dihargai


Namun, cemburu akan menjadi sangat mengganggu jika terlampau berlebihan, malah bisa menimbulkan masalah.


Dalam hubungan pernikahan misalnya, kecemburuan bisa menjadi akar permasalahan pernikahan yang romantis.


Awalnya mungkin hal ini akan terlihat lucu, namun lama-kelamaan, perasaan cemburu suami mungkin membawa dampak negatif dalam pernikahan.


Alana menatap Hanan bingung "Mas, mas"


Untungnya Alana ada cara menghadapi suami yang pencemburu.


Alana tidak boleh menghindar, namun duduk bersama membicarakan ketakutan dan kekhawatiran suami.


Alana mulai menggiring Hanan untuk duduk "Mas, mas tidak nyaman ya jika melihat aku ngobrol sama seseorang"


Hanan menatap Alana tapi masih diam


"Kalau diam berarti iya. Kita menghabiskan banyak waktukan sering bersama mas. Kalaupun aku setiap hari harus pulang duluan, aku langsung pulang dan mengurus anak-anak. Mas masih sangsi ?" Tanya Alana, namun Hanan tetap terdiam


"Daripada bersikap defensif atau tersinggung, tanya dong mas" Alana melirik Hanan. Tapi Hanan seperti tembok yang tidak punya ekspresi


Alana menatap Hanan, hingga mereka saling tatap "Mas cemburu nggak sih padaku. Masa nggak cemburu. Nggak cemburu tapi diam. Mana aku tau dalamnya hatimu mas"


Hanan masih terdiam seribu bahasa, membuat Alana mulai gedek


Alana berdiri "Oke, dari dulu kita sudah berkomitmen untuk selalu jujur ya mas, apapun itu"


"Tentu. Katakan. Apa yang kamu sembunyikan" Hanan mulai membuka suara


"Aku??" Alana menunjuk pada dirinya sendiri

__ADS_1


"Iya kamu"


"Aku?? Maksud mas aku ngobrol sama laki-laki begitu"


Hanan mengangguk remang


Alana terduduk lagi "Itu Pijar mas, anaknya bu Ratu yang tadi pagi kita bertemu"


"Mau anaknya bu Ratu, raja, mentri, kuda, banteng"


"Pion sekalian mas. Terus, ajak pak dhe Pipit suruh bertanding catur. Coba siapa yang akan menang. Eh, kabar mereka gimana ya mas"


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan"


"Ish, galaknya kumat" Alana cemberut


Hanan berdiri "Kamu tadi dibawah ngobrol apa?"


"Sama Pijar ?" Alana ikut berdiri


"Ya"


"Ceritanya ini dilanjut mas"


"Iyalah, kan kamu belum menjelaskan"


"Memangnya, ada yang aneh ya mas?"


"Kan kamu yang ngobrol. Kamu yang merasakan. Aku mana tau"


"Ck tampanan kamu jauh mas"


Setelah membahas kecenderungan rasa cemburu suami, Alana mulai beraksi menunjukkan rasa cintanya yang lebih besar kepada Hanan


Alana memutari tubuh Hanan, setelah berhadapan, Alana berjinjit dengan tangan yang mulai mengalung dileher Hanan


Cup


"Aku selalu mencintaimu mas. Mantan kakak iparku" Alana tersenyum menatap Hanan penuh cinta


Alana sengaja memberikan banyak sentuhan fisik, supaya membantunya lebih cepat pulih secara mental.


Meskipun apa yang dirasakan pasangan tampaknya tidak masuk akal, tapi Alana tetap melakukan itu


Alana melepas tangannya "Ah aku capek. Mas nggak menghargai aku. Aku pokoknya ingin kencan"


"Kencan??" Hanan mulai menjawab, namun dengan nada tinggi "Kencan dengan siapa?! Pijar !"


Alana mulai kesal sampai keubun-ubun


Hentakan kaki Alana menandakan kesabarannya mulai terkikis


"Kenapa sampai kesana. Memangnya aku pernah kencan dengannya. Kencan dengan suamiku saja jarang. Aku langsung tua. Baru menikah sudah punya anak. Kencannya kapaaaan" Teriak Alana sambil mewek, membuat Hanan mulai tak tega


Hanan segera mengikis rasa cemburunya terhadap Alana yang tak berdasar


Alana sendiri mana tau ada seseorang yang mencintainya. Kan tidak ada yang menembaknya. Begitulah pikir Alana


Hanan mulai luluh "Kau maunya apa. Kencan buta?"


"Kencan buta ?? Nggak mau. Kencan melek aja nabrak kalau pas dikeramaian"


"Baiklah, selepas pulang kantor, kamu jangan minta jemput pak Sholeh. Hari ini, kita akan kencan melek, oke"


"Ahaha oke, oke. Aku setuju. Kita damai ya mas. Eh tapi mas, Kakak dan dedek bagaimana?" Alana memikirkan kedua putranya


"Ya nggak gimana-gimana. Tinggallah mereka dirumah. Kencan kok rombongan. Nggak mau"


"Jadi??"


"Kencan"


"Damai"


"Iya, kencan damai"


Ahaha

__ADS_1


BERSAMBUNG........


__ADS_2