Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 78


__ADS_3

3 tahun kemudian


Imran dan Altaaf sedang bermain sepak bola dihalaman rumahnya


Alana sudah berdiri ditengah-tengah gawang, menghadang tendangan bola dari kedua putranya


Imran menendang bola sudah pandai, karena bocah tampan berusia 7 tahun ini sudah biasa bermain sepak bola disekolah, sedangkan Altaaf, bisa menendang, tapi salah-salah


"Altaaf !! nendang bolanya ke gawang bunda, jangan kejalan !!" Geram Imran, karena lagi-lagi, Imran yang berlari mengambilkan bolanya


Imran kembali menendang bolanya lagi kearah Alana "Tangkap bund !!" Teriak Imran


"Hap"


Tiba-tiba Hanan datang, dan sudah menggendong Altaaf yang usianya sudah 3 tahun ini


Imran berlari menubruk Hanan "Daddy..... "


Hanan langsung berjongkok menyambut putra pertamanya "Kalian sedang apa?"


"Bermain sepak bola dad" Jawab Imran, sedangkan Altaaf sudah sibuk dengan oleh-oleh dari daddynya


Imran menarik tangan Hanan "Dad, daddy yang jadi keeper, biar bunda jadi pemain seperti kita dad"


Hanan menuruti saja kemauan Imran


Hanan sudah berdiri ditengah gawang, masih dengan baju kantornya, yaitu kemeja berdasi


Hanan menekuk kemejanya, dan mendekati Alana. Alana langsung beranjak dari gawang


"Bund" Sapa Hanan


"Dah sana gantian, main sama anak-anak"


Hanan mencekal tangan Alana "Bund, didepan anak-anak jangan begitu"


Alana mengibaskan tangan Hanan, lalu pergi dari halaman rumah


Hanan sengaja pulang cepat, agar keluarganya tetap harmonis seperti dulu


Hanan hanya bisa melihat punggung Alana sampai benar-benar menghilang dari balik pintu


"Baiklah anak-anak, sekarang tendang bolanya" Ucap Hanan sambil memasang kuda-kuda


Altaaf segera menendang bola dengan gembira. Tetapi berbeda dengan Imran. Imran sedikit menyimak kejanggalan antara daddynya, dengan bundanya


"Dad, bunda kok masuk"


"Kata bunda haus" Bohongnya


"Ah.. Nggak ada bunda nggak seru"


"Nggak seru bagaimana, ayo sekarang gantian, kakak yang menendang bolanya" Ujar Hanan


"Ah, kurang ramai"


"Hei, daddy kan yang menggantikan bunda, masa kurang ramai"


"Kurang. Orang daddy nggak joget-joget kayak bunda. Sudah ah dad, sudah sore, kakak mau mandi"


Akhirnya Hanan gagal menjadi keeper mereka


-


Malam harinya


Mereka berempat sudah duduk rapih untuk makan malam


Alana menuangkan nasi kepiring untuk Hanan dengan diam. Ia hanya menyodorkan semua lauk untuk Hanan ambil

__ADS_1


Imran masih memperhatikan bundanya manyun, tidak berbicara dengan daddynya.


Imran belum protes. Ia hanya menyodorkan piring kosong saja agar bundanya mengambilkan nasi untuknya


Alana mengambil piring dari tangan Imran "Kakak mau lauk apa?"


"Kakak cumi bund, yang banyak"


"Berapa"


"7 bund"


"Kenapa banyak sekali, nanti nggak habis. Ambil satu atau dua dulu, baru ntar ambil lagi" Nasehat Hanan


"Nggak mau. Ntar habis"


"Jangan begitu, tidak bagus. Kalau kakak tidak habis, bagaimana? Apa nggak mubazir" Ucap Hanan lagi


Imran tetep kokoh "Tujuh bund"


Alana hanya menuruti kemauan putranya.


"Kenapa kakak seperti itu. Selalu apa-apa minta berjumlah tujuh" Masih Hanan yang tidak ingin putranya serakah


"Memangnya daddy tidak tau?" Mata Imran sudah memerah


"Tau apa? kau anak laki-laki, kenapa selalu berkaca-kaca. Lihat daddy, daddy tidak pernah menangis" Ucap Hanan sedikit kesal


Imran sudah hampir mewek


"Sudah bund, ambilkan cumi tujuh. Cowok kok tampungan airnya banyak" Sambungnya


Alana hanya mengambilkan lauk tersebut, tanpa bicara


Imran langsung sumringa mendapat 7 cumi dipiringnya


Imran seperti biasa, mengambil tas sekolah dan belajar seperti malam-malam biasa


Hanan mendekati istri dan anaknya, lalu menyalakan televisi


"Daddy, kakak mau belajar. Kenapa daddy ganggu" Ucap Imran yang sudah duduk dipermadani, dan menaruh seluruh bukunya ada dimeja


Alana hanya diam, ia tidak protes. Alana hanya sesekali membenahi Altaaf yang ikut-ikutan sibuk mewarnai hewan jerapa dengan buruk


Hanan melirik Alana, lalu mematikan televisinya. Hanan bersedekap disamping Alana yang duduk disofa


"Altaaf sibuk juga. Daddy nggak ada yang mau nemenin ini" Hanan mulai meradang


Masa, dua putranya tak ada yang ingin ikut dengannya. Ditambah Alana.


Mereka diam-diaman sudah seminggu lebih


"Adek juga sibuk dad" Ucap Imran yang sudah mempertahankan barang kepunyaannya direbut adiknya "Adek jangan nakal. Ih siniin barangku"


Mereka berdua tarik-tarikan crayon, tapi tidak dilerai oleh kedua orang tuanya


Imran mengalah, lalu mengabsen pada daddy dan bundanya "Kok, daddy sama bunda nggak berantem sama kayak kita"


"Mana, daddy nggak melihat kakak berantem sama adek" Ucap Hanan membuat mata Alana melotot mau keluar


"Belum dad. Bentar lagi, PR kakak belum selesai" Jawab Imran, padahal tadi sudah berantem sedikit


"Jadi, daddy disuruh melihat kalian berantem?"


"Seru tau dad. Coba daddy berantem sama bunda, pasti seru" Ucapnya masih sibuk mewarnai gambar pesawatnya


Hanan melongo sambil menyikut siku Alana "Bund, kenapa anak kita cerewet bund"


"Bin siapa dulu" Alana berdiri

__ADS_1


"Bund, mau kemana"


Alana mengibaskan tangan Hanan lagi, dan beranjak dari tempat tersebut


Alana datang lagi setelah kira-kira Imran selesai mengerjakan PR nya


Alana datang membawa toples, yang berisi kue nastar


Alana menaruh tiga piring yang berbeda ukuran


Imran segera menyingkirkan tas sekolah dibelakang badannya, dan mengangkat toples


"Bunda, daddy 36 ya bund"


Alana mengangguk


Hanan tak percaya, piring yang ada didepannya sudah bertumpuk kue nastar


"36 dad. Itu milik daddy"


"Kenapa daddy banyak banget. Mana habis" Protes Hanan


Imran diam saja, karena dia sibuk menghitung milik dirinya, dan juga untuk Altaaf


"Bunda, bunda dapat toplesnya. Kuenya tinggal dikit. Kalau kurang, minta daddy. Daddy jangan pelit jadi orang"


"Heh?? Yang ngajarin siapa bicara seperti itu"


"Nggak ada" Imran segera balapan menghabiskan kue itu dengan Altaaf


Setelah selesai "Horeee kakak yang menang" Imran jingkrak-jingkrak, dan Altaaf ikut-ikutan


"Hoyeeee.... Menang"


Imran menoleh "Yang menang kakak Altaaaafffff... Kenapa kau ikut girang"


Altaaf sudah didekapan Alana biar tidak menangis. Alanapun sudah menyalakan televisi


Tiba-tiba


"Dad, .... Bentar lagi kata buguru tahun baru. Nanti kita tahun baruan di mana? Kata teman-teman kakak, pada mau piknik. Piknik itu apa dad"


"Emmmp tamasya"


"Tamasya itu apa dad"


"Eng jalan-jalan iyah jalan-jalan"


"Kapan kita jalan-jalan dad ? Kita tidak pernah jalan-jalan. Kita hanya belanja aja bareng bunda"


Hanan menoleh kearah Alana, tapi Alana hanya terdiam "Baiklah, kita jalan-jalan ke Jakarta. Ketempat grandpa mau?"


"Hahhhhh.... Daddy serius ??"


"Seriuslah .... Masa daddy bercanda"


"Tapi dad, tahun lalu kita tahun baruan di Jakarta, tahun sebelumnya dan sebelumnya juga kita selalu merayakan di Jakarta. Masa sekarang di Jakarta lagi sih" Sekarang Alana yang protes


"Kamu seharusnya bersyukur bund.... Banyak orang ingin merayakan tahun baru itu di ibukota.... Bahkan, banyak yang gak punya saudara seperti kita"


"Tapi dad....."


"Sudahlah.... Kalian istirahat. Daddy juga capek" Hanan segera beranjak menuju kamarnya


"Kami ingin berlibur ke tempat Aaliyah dad. Lama kita tidak bertemu" Celetuk Imran yang memang menginginkan ketempat Aaliyah yang sudah berpindah ke Magetan


Alana dan Hanan yang sudah seminggu tidak bertegur sapa, akhirnya saling tatap. Tapi Alana tidak kaget. Karena sengaja menyuruh Imran untuk protes pada papanya


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2