
Hanan menatap masakan udang bikinan Alana "Sepertinya menggiurkan. Boleh mas cobain nggak bund" Bisik Hanan penasaran
"Boleh. Tapi kalau enak, bonus ya" Jawab Alana menggoda Hanan
"Tapi bumbunya yang bikinkan bibi semua bukan kamu"
"Terus yang masak siapa?" Tanya Alana balik
"Kamu"
"Berarti yang dapat bonus akulah. Sama istri perhitungan" Alana dan Hanan, saling melirik "Gimana, ikhlas nggak?"
Dalam beberapa detik, mereka terdiam
"Baiklah, kalau mas masih nggak mau kasih bonus karena yang bikin bumbu bibi. Sana kasih bonus kebibi. Gendong dia"
"Eh, apa maksudnya"
"Kan mas janji akan angkat-angkat aku tiap hari. Aku ingin bonus itu. Ya, tapi sudahlah. Mas nggak ikhlas. Aku takut mas dapet penyakit gondok"
"Hei, hei, ngomong yang benar. Doain suami kok nggak enak banget. Ayo, mas gendong sekarang. Biar kamu kalah taruhan juga, mas akan tetap gendong kamu, tapi nanti" Hanan menyenggol lengan Alana "Kalau inget ha ha"
Hawa yang sejak tadi memperhatikan pasangan ini berbisik-bisik mulailah keppolah dia "Bang, abang merayu Alana atau bagaimana sih. Dari tadi Hawa perhatiin, bibir abang umad umed kayak ikan Lohan, tapi Hawa dengerin sampai kuping diselipin dikompor, tetep aja nggak jelas. Ngomong apa bang"
Alana tidak bungkusin omongan Hawa, biarkan urusan suami yang jawab
Alana justru membawa semangkuk jumbo masakan udang tadi, dan membawanya ketengah
"Anak-anak, kita serbuuuuu"
Mereka kumpul ditengah. Para orang tua juga ikut menatap masakan Alana
"Baunya enaaaak" Ucap Fatih
"Tapi nggak tau rasanya" Celetuk Hanan yang tiba-tiba duduk disamping Alana
"Oke, kalau masakanku rasanya nggak ngalor (Utara) dan nggak ngidul (Selatan), mas Hanan boleh gendong bik Surti" Alana menoleh kearah pintu, yang sudah ada bi Surti yang sedang membawa nasi dan daun pisang, sedangkan Rasti, membawa ayam bakarnya
"KOK BISAAA" Ucap semua orang
"Hehe ini semuaaaaaaa resep bibiiiiiik ahaha" Ucapnya sambil menjulurkan tangannya untuk meminta daun pisang tadi
"Ya Allah Alana...., baru tau istrimu somplak kek istriku juga kak" Fariz tepuk jidat, sambil merangkul Hanan
"Iya, dan aku nggak tau sejak kap..." Ucapan Hanan terhenti karena dapat cubitan dari Alana "Adda da di da" Aduhnya
"Diammm!!" Alana menarik tangannya yang sudah puas mencubit suaminya
Hanan mengusap lengan yang habis dicubit Alana "Hehe.. Gimana mas tau rasanya, mau mencoba aja sepertinya dilarang"
Bi Surti dan Rasti segera membantu menyusun daun pisang memanjang ditengah. Dan menumpah seluruh nasi
"Bu, ini ditaruh disini kan ya bener?" Tanya Surti mulai menaruh ayam bakarnya tadi
"Iya bik, semuanya kita taruh ditengah" Jawab Alana
"BUNDAAAAAAAA" Ucap seluruh cucu Ilham Sifa, termasuk kedua anaknya juga
"iyaaaaa!! Kenapa sayang" Alana sudah dikerubutin anak-anak
"Lama banget.. cacingku sudah demo bund" Ucap Gozi pemberani seperti emaknya yaitu Hawa
Sambil merapihkan nasi diatas daun pisang tadi, Alana mulai menumpahkan udang tadi dipinggir nasi
"Ha ha sabar sayang, kita harus menghormati orang tua seperti grandpa" Alana menatap anak-anak, lalu menatap Ilham "Grandpa, silahkan cicipi dulu pa. Kalau enak..." Alana menepuk lengan Hanan "Putra papa yang ini, jangan disisain. Dia meragukanku pa, sakit sekali dadaku rasanya pa" Alana mewek pura-pura
BUWAHAHAHAHA
"Sejak kapan Alana soak begitu Han" Ucap Fatih
"Sejak kesetrum kakaklah" Celetuk Husayn yang mendapat tabokan dari siapapun
Ilham mulai mengambil udang, lalu menggigitnya
Semua makhluk yang bernyawa, memperhatikan Ilham, termasuk Alana yang sudah takut akan penilaiannya
__ADS_1
"Emmp biasa aja" Ucap Ilham
"YAAAAAAAA...." Semua orang kecewa
"Kalau nyicipin satu biasa, tapi kalau banyaaaaak, pasti enaaaaaakkkk.... Ambilin ma, buruan ma singkirin maa a haha" Ucap Ilham, membuat yang lain penasaran
"Eh enak kok bener" Kata Viviana
Sifa manggut-manggut
"Gimana ma, enak kan" Tanya Alana sedikit takut
Sifa mencicipi "Enak kok betul"
"Masa sih ma" Ucap Hanan ragu, tapi mulai mencicipi
Hanan bergumam "Ish bener, masakan istriku enak" Hanan sengaja mengekspresi wajahnya biasa
Alana memegang bahu Hanan "Gimana rasanya"
Hanan geleng-geleng, padahal ingin ikut makan
"Mas!! Mama aja yang pandai masak bilang enak. Berarti bibir mas ada kesalahan. Bibir mas swasta. Sekarang, gendong bibi" Alana mendorong Hanan
"Ehe he" Sifa melerai "Kalian itu kenapa. Kalau mau main gendang-gendongan, makan dulu"
"Iyaaa.. Biar kalian bertenaga" Celetuk Husayn
Semuanya terdiam, dan memakan nasi dengan diam
Ternyata, hanya Alana dan Hanan saja yang belum menyentuh nasi. Lainnya, sudah berkeringat saking sedapnya masakan Alana, dan masakan ayam bikinan bibi juga
Tangan Hanan menjulur menyentuh nasi, dan mengambil udang
Plok
Alana menabok tangan Hanan, lalu menukar dengan ayam bakar "Mas ini aja. udangnya nggak enak" Alana mensabotase udang didepan Hanan "Jangan lupa, bibik ntar digendong"
"Hei... Jika kalian masih berantem, lebih baik kesana. Turutin istrimu Han, gendong muter. Pulangnya ntar sore. Kalau perlu, jangan pulang" Ucap Fatih mewakili semua orang
"Enggak bisa kak. Ini semua, milikku. Mas Hanan jangan dikasih. Mas kalah taruhan"
"Katanya masakanku rasanya kacau" Bohong Alana, padahal Hanan tidak berkomentar
"Terus" Fariz ikut-ikut menjadi orang bijak
"Kalau masakanku enak, mas Hanan akan gendong aku. Tapi kalau tidak enak, mas Hanan akan menggendong bik Surti"
"Kapaaan" Protes Hanan
"Tadi.... Mas ngejek kan masakanku"
"Ish kau ini.. Kapaaannnn"
"Kapan-kapan ahaha" Alana mulai memasukkan nasinya kedalam mulutnya sendiri, lalu memasukkan udang
Kress
"Enak" Alana menggoda Hanan
"Bund, coba mas mau. Masa kamu pelit banget. Perhitungan" Rengek Hanan
"Yang ngajarin siapa!!"
"Hey.." Hanan melemah, lalu dengan terpaksa mengambil ayam. Tapi Hanan mulai jail "Saudara sekalian. Kuingatkan. Jika kalian punya penyakit asam urat, jangan coba-coba memakan hidangan siang ini"
Semua orang tua terhenti kegiatannya, lalu memakan lagi
"Ngapain takut. Dokter banyak disini. Entah ahlinya apa, yang penting dokter" Ucap Fariz yang bukan dokter sendiri
"Hadeewww" Hanan tepuk jidat, dan terus merayu Alana
Salah satu anak ada yang kurang kenyang
"Bundaaaa"
__ADS_1
"Apa sayang"
"Aku ingin telur mozarengla"
Alana berhenti memakan makanannya "Mozzarella"
"IYAAAA.... " Jawab semua anak
Alana menghitung jumlah bocah yang menjawab tadi "1,2,3,4,5 oke bunda buatin"
Alana berlari kedapur.
Pada saat Alana kedapur, Hanan menyambar makanan kepunyaan Alana "Hmm least Dan bergizi"
HUUUUH
-
Alana datang membawa wajan anti lengket, dan sesuatu yang akan dieksekusi
"Oke. Pertama tama, pecahkan 5 telur diatas peti mayat"
HAAAAAH
Mata semua orang hampir keluar menatap mangkuk, menyebutnya peti mayat
"Campurkan irisan carrot, daun bawang, dan sosis. Tambahkan setengah sendok teh bubuk lada putih, lalu kasih setengah saset kaldu. Kacau kacau..... " Teriak Alana sambil mengaduk telur
"Sampai lebuuuur" Hawa ikut menjadi pemandu karena penasaran
AHAHAHA
"Panaskan wajan, kasih minyak goyeng... Kita goyang sikit, biar rata"
TARIK SIS... GOYAAAANG
Mereka teriak semua
Hanan lagi-lagi tepuk jidat, melihat tingkah istrinya yang menjadi penghibur dadakan
"Lalu goreng telur ,sisain dikit. Masukkan mozzarella. kita gulung. Eh cara nggulungnya gimana niiii"
WKWKWKWK
Para orang tua kaku melihat Alana yang tidak bisa melipat telur
"Sini aku bantuin" Hawa maju, dan sudah melipat telur tersebut "Nih udah kulipet"
"Tambahkan telur tadi, lalu gulung lagi. gulungin kak" Pinta Alana
"Ck, kau ini. Bonusnya bagi dua"
"Tenang, ntar kita minta gendong sama mas Hanan"
"Enak saja"
"Ehehe aku juga nggak rela kak" Ucapnya sambil menyenggol lengan Hawa
"Woiiii, berhasil nggak!!" Fariz sudah berkacak pinggang didepan Hawa dan Alana
"Sudah dong, kita taruh telur kotaknya" Teriak Alana kembali
"Telur kotak ? Bukannya telur itu botak ya.." Celetuk Husayn yang mulai penisirin
"Yaiyalah botak. Mana ada telur berambut bang!!" Semplak Hawa
"Ahaha, kita kasih caos sambal **** **** ****, kasih juga caos mentega **** **** crooott"
"Ya Allah.. Sudah, sudah. Jangan demo terus" Hanan sudah menarik piring yang ada telurnya, lalu menaruhnya diatas tikar
Alana menoleh sambil senyum-senyum
Hanan sudah menarik Alana dari kerumunan "Seneng ya kayaknya teriak-teriak bikin telinga mas copot"
Tangan Alana terangkat "Gendooooong"
__ADS_1
Alhamdulillah... Sudah 100 bab yang sudah Author suguhkan
Novel ini, Author ikutkan lomba writers Season 6.. Entah hasilnya, Author tidak tau.. Yang jelas, tergantung Readers tersayang, yang sudi memberi poin, like agar novel ini dilihat banyak orang... Terimakasih