
Tangan Hanan tiba tiba memegang pengelangan tangan Alana, dan membawanya kepelukan "Apa laki laki yang ada dikafe tadi, teman kuliahmu ?" Pertanyaannya masih ringan
Alana mengangguk tapi ragu
"Kuliahnya menggunakan dasi?"
"I- iya" Jawab Alana bohong
"Oh... Kampus mana dia. Sama ?" Ucapnya dengan datar, sambil membenahi rambut Alana yang sedikit berantakan
"Iya, sama" Jawabnya takut
"Jurusan, sama juga ?"
Alana menggeleng cepat "Ekonomi"
Hanan melepas Alana dari pelukan
Plok plok plok
Hanan bertepuk tangan
Hanan mulai emosi "Waw bagus ya, sekarang sudah pandai main kucing kucingan. Yang mengajari seperti itu siapa, ha??" Tangan Hanan mencengkram pergelangan tangan Alana. Dan menariknya kedada.
Wajah Hanan begitu sangat dekat sekali dengan wajah Alana
Alana menunduk takut, tangan kanannya ia tarik kedadanya, berharap Hanan melepas tangan Alana
Hanan sudah melepasnya, ia memutari Alana, sambil mengabsen gaun yang dipakai Alana.
Bibir Hanan tersenyum mengejek, meski sebenarnya hatinya berbohong
Hanan mulai menarik saringan empang yang dipakai Alana, sampai benangnya ketarik "Maksudnya kamu memakai baju beginian mau apa. Merayu? agar aku tergoda begitu. Haha, Sayangnya tidak " Bohong Hanan, lalu melepas benang dari baju yang Alana pakai
Alana tambah kaku dan terus memilin lingerie, yang sudah tidak berbentuk, karena benangnya ketarik tarik.
Hanan kembali memegang kedua bahu Alana, lalu memutari Alana yang sedang berdiri kaku sambil mainan kaki yang sudah berwarna pucat
Hanan memegang dagu Alana "Dia bahkan tau, melihat fotoku diruang tamu rumah mama.. Bagus ya.. Dan sekarang mengadakan pertemuan? hebat kamu" Hanan melepas dagu Alana, lalu terdiam sejenak
Ia mulai mengangkat tangannya hingga kepinggang.
Sekarang, Hanan sudah berkacak pinggang didepan Alana "Hubunganmu dengannya sebagai apa Alana ?! Jawab !!" Bentak Hanan dan mencengkram dagu Alana
Alana sudah merinding, ketika jari Hanan mulai lembut mengusap pipi Alana. Kemudian bibir Hanan mendekati pipi Alana.
Alana memejamkan mata, takut dicekik
Cup
__ADS_1
Hanan mencium pipi Alana, sambil meremas buah dada Alana yang sudah melambai lambai
Mata Alana terbuka, dan langsung mendorong Hanan "Jika aku tidak mau menjawab, kakak mau apa ?!" Jawab Alana menantang
Jawaban Alana mengejutkan Hanan. Dikira, Alana tidak akan berontak. Ternyata dugaannya meleset.
Alana yang terpancing emosinya, keberaniannya timbul ingin menelan Hanan juga
"Oh, sekarang sudah pandai membantah ya ?! mentang mentang dibebaskan, jadi lepas, bebas !! Rupanya kau sudah lupa, kodratmu sebagai istri hm" Kembali Hanan menekan tubuh Alana kepelukan
Alana mendorong Hanan. Mata lebarnya menatap Hanan siap untuk berperang "Terserah kakak. Jika kakak ingin tau perbuatanku diluar sana, kenapa kakak tidak mengirimkan seseorang untuk memataiku"
Hanan Diam lagi
"Atau tidak, kakak rantai aku saja kak !! nggak usah suruh aku berangkat kuliah !! nggak usah !! Percuma aku teruskan !! karena aku tidak suka jurusannya. Semuanya paksaan!! Termasuk...." Alana sudah tidak bisa meneruskan. Dadanya sesak, pandangannya sudah kabur karena sudah berkaca kaca
"Termasuk apa?! katakan !!!"
"Menikah !!" Jawab Alana lantang
Hanan terpaku mendengar kejujuran Alana, sakit, iya sangat sakit
"Satu lagi. Kami memang saling mengagumi. Namun sayang, orang tua Budi belum sempat kerumah untuk melamarku, tetapi kakaklah yang lebih dahulu menikahiku ketimbang dia. Sekarang, apakah kakak puas dengan penjelasanku !!"
Hanan memegang lengan kecil Alana, tapi lebih mencengram karena Hanan sudah tertutup emosi "Kau yang membangunkan singa tidur Alana. Kita menikah itu orang tua kita yang mengatur. Bukan aku !!"
Alana sudah mewek
"Termasuk menggauliku, itu juga paksaan dari orang tua?" Alana sudah kembali mengusap airmatanya yang terus terjatuh
Hanan mulai terdiam, mencerna satu persatu ucapan Alana
"Oh, jadi selama ini benar, kakak menggauliku juga terpaksa !! Berarti sampai sekarang, kakak juga belum mengakui aku sebagai istrimu. Iya kan kak, benarkan ??" Alana mengusap airmata yang sudah banjir
Hanan diam
"Keluar, kakak keluar!! Aku tidak mau melihat kakak berada dikamarku!!! " Alana mengusir dan mendorong Hanan sampai keluar pintu
Brakk
Alana mengambil sepatu milik Hanan, Alana mengambilnya dan membuka pintu
Ceklak
Alana mengambil tangan kiri Hanan, lalu menaruh sepasang sepatu milik Hanan "Ini !!" Alana kembali membanting pintu
Brakk
Alana langsung tengkurap diranjang, dan menangis sejadi jadinya
__ADS_1
"Hwa.. Kenapa aku percaya dengan ucapan manisnya hwahaha, dia itu tidak bakalan mencintaiku !! Sayangnya bohong !! Cintanya hanya untuk kak Aina.... Mamaaaa!!!" Alana nggebrak nggebrak ranjangnya dengan kakinya yang terus ia hentak hentakkan
-
Sementara dikamar sebelah, Hanan mengusap wajahnya dengan kasar "Kenapa ini terjadi padaku"
Hanan terdiam melamun "Apa yang telah kulakukan sangat keterlaluan? tapi aku tidak tahan Alana.. Aku tidak mau kehilanganmu ALANA..!!!"
Hanan berdiri didepan pintu balkon, ia membukanya, dan duduk dikursi yang ada disana "Pemuda yang bernama Budi memang tampan, betul kata Alana. Ia menikah denganku karena terpaksa. Tidak dikasih waktu untuk berfikir. Menolakpun tidak ada yang menggubris"
Hanan menerawang langit gelap, tapi ada satu bintang yang berkilau seakan menyapanya.
Hanan kembali ingat kepada Aina, seakan Aina yang menyapanya ada diatas sana "Kenapa kau meninggalkan aku Aina. Jika kau tidak pergi. Tidak akan ada drama yang menyakitkan seperti ini"
Hanan menoleh pada balkon kamar Alana "Benar kata Alana, semuanya memaksanya. Dia bahkan rela melakukannya demi keluarganya"
Hanan teringat Alana sewaktu magang dirumah sakit. Wajah pucat Alana sebelum muntah muntah "Kasihan, cita citanya terkubur semua. Aku yang seharusnya membimbing, justru membuatnya tambah frustrasi"
Flash back
Hari ini kebetulan Hanan ada tugas kampus mengisi materi di fakultas kedokteran, dikampus tempat Aina menimbah ilmu disana.
Hanan Dan kawan kawan dosen sedang makan siang. Tak sengaja melihat seorang cowok, begitu mesra menatap wanita itu didepannya
"Siapa dia" Batin Hanan menatap punggung wanita yang ditatap oleh pria depannya
Dari samping seperti tau punggung siapa, baju yang dikenakan juga pernah dipakai sebelumnya oleh seseorang yang ia kenal
Terlihat dari tempat Hanan duduk, siwanita tidak ada reaksi apapun. Tapi yang membuat Hanan panas didadanya, pria didepannya cara memandang dan perhatiannya melebihi seseorang yang sedang jatuh cinta
Hanan penasaran, iapun mengambil ponsel dan menelpon Alana. Alana menerimanya, namun Hanan terdiam lalu memutuskan panggilan tersebut
Dari situlah, Hanan duduk menghampiri Alana. Alana terkejut mendapati Hanan yang telah duduk disampingnya
Singkat cerita, Hanan mengajaknya pulang, lalu menggandeng Alana untuk membayar tagihan pada meja, yang diduduki Alana dan kedua teman Alana, katanya
Sampai dirumah, perangpun tak bisa dihindarkan.
Hanan lupa menghadapi siapa.
Karena Alana dan Aina berbeda sifat.
Sifat manja Alana, memang sudah melekat sejak dulu
Semua keluarganya menganggapnya kecil
Tetapi harus digaris bawahi, keinginannya semuanya kandas. Karena kedua orang tua Alana, menganggapnya kecil. Jadi, segalanya diatur semua oleh orang tuanya
Termasuk cita cita dan jodohnya
__ADS_1
Flash back end
BERSAMBUNG......