
Sesampainya dirumah, Imran berjalan cepat menyambut kedua orang tuanya
Imran terjatuh jatuh, tetapi tetap semangat mendekati mobil yang sedang diparkir oleh pak sholeh
Imran tertawa kegirangan menunggu bunda dan daddynya turun
"Hoyyeeee.... Bunda, bunda... Daddy, daddy... Sudah puyang..." Sapanya dengan senyum merekah, hingga gigi atasnya terlihat berderet manis disana
Alana langsung turun "Imran... " Alana memeluk Imran, lamaaaa "Bunda kangen, bangettttt"
Cup cup cup
Pipi Imran, kepala, semuanya diabsen oleh ibu sambungnya
"Baunya enak, seger, harum... Putra bunda cakep sudah wangi emmuuuaah" Ucap Alana, kembali memeluk Imran dengan erat
Imran kegelian "Ehehe he he"
Alana menjauhkan Imran dari dirinya "Imran kangen nggak sama Bunda?"
"Kangen cekali.. Bunda lamaaaa" Ucapnya sambil memegang pipi Alana
"Ingat jangan digendong !!" Tegur Hanan sambil menurunkan sepeda baru untuk Imran "Sayang, peluk daddy. Lihat, daddy beliin apa ini"
Imran menoleh, seketika matanya berbinar dibelikan mainan baru "Wah cepeda"
Hanan jongkok, agar tingginya sama dengan Imran "Iya, kak Imran suka" Ucap Hanan, membuat seisi rumah pada bingung "Hei, kenapa bingung. Ayo masuk" Hanan beranjak bangun, dan merangkul Alana
"Ntal dad ental, Imlan mau naik dulu"
Hanan hampir lupa "Ah iya, naik naik" Hanan membuka plastik pembungkus sepeda
Imran sudah naik sepeda, dan didorong oleh mereka berdua
"Naik kereta api... Tut tut tut.. Siii apa hendak turun.. 🎶🎶" Alana menyanyi, tapi belum selesai, Imran sudah protes
"Sallaaah bunda...." Protesnya
"Eh, salah ya.. Bunda lupa.Terus nyanyinya apa dong"
"Kling kling kling ada speda, spedaku loda tiga, kudapat dali daddy 🎶🎶🎶 ehehe Imlan lupa"
AHAHA
"Putra daddy pinter, yang ngajarin siapa ini hmm" Hanan mencium Imran gemas
"Ehehe bunda sama embak " Imran menatap Alana dan berganti ke Rasti
-
Sementara ditempat lain
Ilham dan Sifa sering mengunjungi putra putranya, tapi tidak bisa menginap disana, karena harus bolak balik menginap dirumah Hanan
Malam ini, mereka menginap dirumah Hanan
"Pa, semakin tua, kita kok kaya tak punya rumah ya pa?" Celetuk Sifa yang sedang menata bajunya didalam lemari
"Kenapa memangnya" Jawab Ilham sambil meletakkan majalah bisnis yang barusan ia beli dijalanan tadi
Ilham mendekati Sifa
"Kita seperti bangau. Menclok sana menclok sini, bingung ditengah sawah"
Dengan cekatan, Sifa melepas kancing satu persatu dan melepaskan kemeja milik Ilham
Ilham menarik hijab yang masih terpakai dikepala Sifa "Nah, ginikan cantik. Kenapa sejak tadi masuk rumah nggak lepas lepas"
__ADS_1
"Lupa pa. Celananya lepas sendiri, pakai celana Jeans, mama susah ngelepasnya" Ucap Sifa sambil mendorong Ilham pelan
Ilham tersenyum sambil melepas celana tersebut "Sudah"
"Sini" Sifa memintanya, lalu menaruh celana Ilham dicapstok "Disini ya pa"
Mereka berdua sudah membersihkan diri, lalu naik keatas ranjang
"Kita itu bukannya kebingungan nggak punya rumah. Tapi malah kebanyakan rumah" Jelas Ilham sambil menghadap keatas
Sifa memeluk Ilham, dan memainkan jarinya didada Ilham "Jadi inget sama kak Wahidah dulu sama papi Xander pa"
"Apa tu" Ilham menghentikan jari Sifa yang sedikit membuat dirinya geli
Jari Sifa pindah diwajah Ilham "Sebelum restouran ada, kak Wahidah keliling tidurnya. Dirumah mama" Sifa memencet hidung mancung Ilham "Dirumah kak Xander" Sifa mengusap usap alis Ilham yang masih hitam, meskipun rambutnya sudah beruban "Terus, muter lagi dirumah sendiri" Jari Sifa ikut muter muter diwajah Ilham "Dan sekarang, kita ngikutin jejaknya" Jari Sifa berhenti dan menjembel bibir tebal Ilham
Ilham menarik tangan Sifa kembali, agar menjauhi wajahnya.
Sejak tadi Ilham senyam senyum ingin tertawa, karena wajahnya dijadikan miniatur rumah rumah yang disinggahi kakaknya
"Ahaha" Ilham merangkul Sifa, dan mencium pipinya gemas "Kau masih ingat. Padahal itu terjadi 30 an tahun yang lalu"
Gung
Jidat Sifa sudah dapat hadiah kepalan tangan Ilham, seperti memperlakukan pada anak kecil, jika jawaban benar
"Mamanya ternyata cerdas, gimana anak anaknya tidak ikut cerdas" Ilham kembali mencium pipi Sifa
Sifa mendorong wajah Ilham "Papanya juga cerdas, makanya mamanya ikut cerdas"
"Karena apa? "
Mereka saling tatap
"Karena kesetrum" Ucapnya senyum senyum malu
Sifa mendorong Ilham "Ih, Papa ah. Ini dirumah Hanan"
"Nggak papa memangnya kenapa? anggap aja hotel"
"Kumat"
"Kumat juga suka"
"Samponya nggak ada"
"Ada, jangan bohong kamu"
"Berarti sabunnya yang habis"
"Ah tambah ngaco kamu"
"Tissunya yang habis papa"
-
Ditempat Hanan
Hanan terus mengusap perut Alana
Cup
Pipi Alana entah sudah berapa kali dicium oleh Hanan. Rasanya senang terharu, campur seperti es soda gembira
"Rasanya nggak percaya, bisa bikin adik ipar hamil" Hanan memeluk Alana erat seperti memeluk guling
"Iiiih berat" Alana berusaha melepas tangan Hanan yang sudah memeluknya erat, tapi susah terlepas
__ADS_1
Tiba tiba pintu kamar terbuka, dan pipi bulat sudah menyembul masuk kekamar
Imran menangis "Hwawawawa"
"Heh? Kenapa bocah bisa masuk, nggak dikunci ya bund" Hanan bangun setengah miring badannya
"Ehehe lupa, sini sayang" Alana hanya nyengir karena lupa mengonci pint "Sini sini" Tangan Alana melambai menyuruh Imran masuk
Imran memeluk erat Alana, Alanapun menyambut
"Kenapa menangis ? mimpi buruk ?" Tanya Alana
"Iya sedikit" Jawab Imran, lalu naik keranjang, dan tidur ditengah
Hanan terduduk, sedikit tak terima "Kenapa kakak Imran tidur disini, kakak kan sudah besar. Nggak boleh" Protes Hanan kesal
"Daddy natal.!!!." Teriak Imran
"Maksudnya gimana, nakalnya kapan?" Hanan
"Natalin bunda"
Hanan duduk ganti bersila "Kapan daddy nakal. Kecil kecil protes"
"Daddy tadi kegini" Imran memeluk Alana seperti pertama Imran masuk kekamar ini
"Heh ?? bund, aku nggak mau tau, besok kamar ini digembok. Anak ini bahaya. bisa lihat kegiatan kita hadeeewww dewasa sebelum waktunya "
"Halllaaah terserah daddy. Pintu mau digembok ya silahkan, mau dirantai ya silahkan. Mau dilepas sekalian juga nggak masalah. Aku ngantuk. Tidur sayang" Alana memeluk Imran
Masa bodo dengan keadaan suaminya, mau puyeng atas bawah ya bodo
-
Sementara ditempat lain pasangan beda usia 40 tahun
Anand sudah memejamkan matanya, tidurnya miring menghadap Lis
Begitupun Lis, mereka berdua saling berhadapan
Lis belum bisa tidur, dia terbayang bayang ingin segera mempunyai momongan
Lis memandang lekat wajah Anand, tangan Lis mulai mengusap usap wajah tua Anand
"Tidur" Ucap Anand masih dengan mata terpejam
"Aku tidak bisa tidur pih"
"Mikirin apa?" Ucapnya masih dengan mata terpejam, tapi tangannya terus mengusap usap punggung Lis
"Mikirin papi"
"Sudah malam, tidur"
"Eng... Papi tidak kangen?" Bisik Lis tepat ditelinga Anand
Seketika, mata Anand terbuka
"Kamu ini, selalu menggoda"
Lis membantu melepaskan baju Anand
"Kalau seminggu tidak berlayar...." Ucapan Anand langsung dipotong oleh Lis
"Ah, nggak mau. Kapan aku punya anak kalau papi begitu" Ucapnya ingin menangis
"Iya ya..."
__ADS_1
BERSAMBUNG.......