
Hari ini Hanan pergi keluar kota untuk urusan membuka rumah sakit baru ibu dan anak, rekomendasi dari Hassan kakaknya, didaerah pegunungan
"Bund, jaga dirimu baik baik dan juga Imran ya"
"Kak, kira kira kakak lama nggak keluar kotanya ?"
"Mungkin seminggu" Jawabnya sambil membenahi jaketnya
"Kak, boleh tanya?"
"Iya"
"Kakak punya proyek besar itu apa tidak masalah dengan rumah sakit"
"Kenapa memang"
"Kalau kakak buka rumah sakit, pasti kerjaannya terbagi menjadi dua. Ntar kacau bagaimana?"
Hanan mengusap rambut Alana "Pertanyaan istriku ternyata pintar"
Wajah Alana memerah karena dipuji oleh Hanan
Alana lenggak lenggok didepan Hanan "Kak, tanpa kakak dirumah kami pasti kesepian"
Hanan mengusap rambut Alana, Hanan memeluknya "Suatu saat, kalian pasti akan daddy bawa"
Alana mengurai peluk "Sekarang juga mau. Kenapa nunggu nanti"
Hanan menarik hidung Alana "Karena disana tempatnya belum jadi"
"Belum jadi? apanya? "
"Rumah kita"
"Rumah"
"Iya"
Alana mengeratkan pelukan "Kakak, kami pasti merindukanmu"
Cup cup cup
"Aku juga, pasti merindukanmu"
Emmuah
-
Setelah kepergian Hanan, Alana serasa kehilangan bertahun tahun rasanya
"Ternyata begini ya rasanya. Hampa"
Alana hanya menghabiskan waktu dikamar "Hah, Imran. Sampai lupa aku ya Tuhan..."
Alana akan berlari meninggalkan kamar. Tiba tiba gawainya berdering
Dilihatnya siapa penelpon gerangan? ternyata Hanan
"Wah kakak... "
Alana mengusap layar ponsel tersebut "Kakak.... "
"Assalamualaikum.."
Alana malu sudah ketahuan kegirangan "Wa'alaikumusalam"
Hanan tersenyum, Alanapun tak kalah lebar senyumannya
"Sendiri? "
"Iya, aku akan kebawah. Tapi kakak menelepon"
"Ya sudah, turunlah "
"Iya"
Alana langsung berlari dan berteriak "Imraaann... Daddy menelpon sayang !!"
Alana menuruni tangga dengan cepat
__ADS_1
"Hai hati hati" Ucap Sifa yang sudah ada dibawah sejak tadi
"Mama. Kapan mama datang?" Alana mencium punggung tangan Sifa
"Sudah lama, nungguin kamu lama tidak keluar keluar"
"Maaf ma" Ucapnya sendu
"Bundaaa...." Teriak Imran sambil berlari
Alana menyambutnya "Hei... Daddy telpon sayang. Lihat, sini sini"
Alana menaruh ponsel di sofa, agar Imran bisa ngobrol dengan papanya
-
Seminggu sudah Hanan keluar kota dan belum kembali
Setiap malam, Alana tidur ditemani oleh Imran. Setiap malam pula, Hanan selalu menghubunginya dengan video call
Hanan masuk kekamar dengan pelan. Terlihat disana sudah ada istri dan anaknya
Hanan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri
Setelah usai, Hanan masuk keselimut yang sudah ada Alana disana
Wangi tubuh Alana membuatnya betah dan berlama lama ingin memeluknya erat
-
Pagi harinya. Alana menggeliat merentangkan tangannya kebiasaan ia lakukan setelah bangun tidur
"Hmm" Alana menoleh kesamping kanan. Alana mengucek ucek matanya "Kakak ya.. Ini mimpi bukan ya"
Kembali Alana memegang wajah suaminya "Bener ini kakak, bukan kembaran kakak kan?"
"Apa? mana mungkin kembaran ada disini" Ucapnya akan duduk, tapi sudah ditubruk Alana
"Kakak, kenapa kakak tidak membangunkan aku" Tanpa sadar, Alana sudah diatas tubuh Hanan
"Ck, orang tidurnya nyenyak kok mau dibangunin" Hanan menjembel pipi Alana
"Bunda.. " Imran bangun
"Eh sayang, lihat siapa yang datang" Ucapnya menyingkir dari tubuh Hanan
Imran berangkang menindih Hanan "Daddy... "
"Wah, putra daddy sekarang sudah jelas panggil daddy ya"
Hanan membelakangi Imran, lalu memeluk Alana. Imran segera menyingkirkan Hanan
"Daddy, no peyuk peyuk bunda"
"Uh nggak bisa, bunda milik daddy"
"Daddy... Ndak boleh.. Daddy minggir !!" Imran mulai histeris menarik narik baju Hanan agar menjauh dari bundanya
Imran naik keatas Hanan, lalu ngusek tidur ditengah tengah mereka
"Daddy ndak boyeh natal" Tangan Imran mendorong kuat tubuh Hanan
Hanan tidak mau kalah. Ia segera mencium pipi Alana didepan Imran
"Daddy ndak boyeh cium cium. Daddy minggir !!!" Imran sudah berdiri dan berkacak pinggang menantang Hanan
"Waduh penjagamu gawat bund. Wah, daddy nggak punya teman kalau begini caranya"
"Haha" Alana hanya tertawa, dia juga heran. Kenapa Imran berubah gawat setelah seminggu ditinggal ayahnya
"Kamu ya bund, yang ngajarin Imran begini"
"Enak aja, aku juga heran dad" Alana langsung menutup mulutnya malu
"Kenapa ditutup mulutnya" Hanan memegang tangan Alana
Lagi lagi dapat peringatan dari Imran "Ndak boyeh sentuh sentuh... No daddy no !!"
Alana turun dari tempat tidur "Untung tak dengar" Gumamnya
__ADS_1
"Dengar bund.. Panggil aja itu. Biar Imran tidak bingung"
"Biarin, biar Imran panggil daddynya kakak haha"
"Eh, ini kalau tidak ada polisi india" Hanan menunjuk Imran "Kamu sudah daddy habisin bund"
"Aku larilah "
"Daddy tangkep. Mau apa"
"Polisi india beraksi dong"
Ahahaha
-
Sementara ditempat lain
Lis begitu gembira. Pertengahan tanggal, seharusnya ia menstruasi. Tapi hari ini belum
"Pih, aku nggak haid pih. Kayaknya aku hamil" Ucapnya kegirangan mendekati Anand yang sedang bercermin
Anand melihat Lis berbinar binar "Jangan cek sekarang. Tunggu beberapa hari kedepan, biar hasilnya tidak mengecewakan seperti dulu"
Lis cemberut
"Nggak usah cemberut. Terima dengan ikhlas" Sambungnya
Lis berjalan menjauhi Anand. Dan terduduk disofa yang ada disana "Sepertinya papi tidak suka kalau aku hamil" Ucapnya sendu
Anand menoleh kearah Lis, lalu berjalan, dan duduk disampingnya "Dengarkan papi. Papi menyadari, kalau papi mungkin tidak subur. Maaf sebelumnya. Jika papi subur sejak dulu, anak papi akan banyak. Xander akan memiliki adik yang banyak. Meskipun perempuan yang papi nikahi sebelumnya cuma satu, setidaknya, jika papi subur, Xander akan punya adik. Dan buktinya, tidak. Jadi, kamu harus ekstra sabar. Apalagi papi sudah tua" Anand terdiam
Lis menoleh kearah Anand. Lis langsung bergelayut dilengannya "Maafkan aku ya pih, aku tidak bermaksud mengungkit masalah papi" Lis mendongak "Pih, apa sebaiknya aku pulang kekampung ya pih? "
Anand terkejut, dan menoleh kearah Lis "Ngapain? "
"Kangen aja"
"Kau ingin meninggalkan papi? "
"Tidak. Sedikitpun aku tidak ada niat untuk meninggalkan papi" Lis berdiri, lalu duduk dipegangan sofa, dan tangannya mengalung dileher Anand "Andaikan aku lahir seumuran papi, mungkin papi akan aku rayu agar papi memilihku" Ucapnya berkhayal
Anand menatap Lis "Kamu kok punya sifat seperti itu"
"Kenapa??"
"Tadi kamu, bilangnya"
"Aku akan rayu papi. Tapi kalau papi tidak memilihku. Ya, aku akan tunggu papi sampai memilihku. Salahku dimana?"
Anand tidak menjawab, dia hanya berdiri. Lis ikut berdiri, lalu membenahi kemeja Anand. Lis tersenyum, lalu memeluk Anand "Tiap hari aku melihat lihat foto papi, selagi papi masih muda. Papi tampan, untung aku belum lahir saat itu. Kebayang kalau sudah dewasa dijaman papi muda, bisa bisa aku jadi pelakor"
"Kamu ingin merayu papi?" Ucapnya datar
"Tidak, ngapain aku merayu papi. Kurang kerjaan" Bohong Lis, padahal dia masih ingin Anand berada disampingnya terlebih dahulu
"Ya sudah, papi berangkat ya"
Lis terdiam
Karena tidak ada jawaban, Anand menghentikan langkahnya "Kau tidak ingin mengantar papi? "
"Ingin tapi aku ingin disini, nggak diluar"
Anand tersenyum, lalu mendekat "Kenapa lagi?"
"Aku ingin peluk papi"
Mata Anand sedikit melebar "Ada apa denganmu"
"Boleh nggak? " Ucapnya ingin menangis
"Iya boleh"
Begitu Lis sudah diizinkan memeluk Anand, Lis langsung memeluknya "Makasih ya pih, papi sudah memilihku"
Anand tersenyum saja, takut merusak mood istrinya
BERSAMBUNG....
__ADS_1