
Petang harinya, keluarga gaduh ini sudah sampai dikediaman Ilham
Sifa sudah mempersiapkan kamar-kamar untuk mereka semua
8 kamar sudah disiapkan oleh Sifa. Yaitu, satu anak mendapatkan dua kamar. Cukup tidak cukup, harus dicukup-cukupkan
Hanan dan Alana sudah masuk kekamar tamu yang ada dilantai dasar. Sedangkan kamarnya yang berada dilantai dua, ditempati oleh keempat putra putrinya
Begitu juga anak-anak yang lain. Kamar tamu ditempati oleh anak dan menantunya, dan kamar diatas ditempati oleh semua cucu-cucunya
Senggang berapa lama, Fariz, Hawa dan ketiga anaknya sudah ramai memasuki rumah ini
Tiba-tiba dari atas
"Bundaaaaaaa!!!" Teriak Imran
Semuanya menoleh karena Imran turun sambil berlari
Hanan berdiri "Ada apa kak, kenapa teriak-teriak"
"Liat dad, dia ambil dompetku" Imran sudah menunjuk-nunjuk Arin yang duduk disamping Alana, yang sedang menghadap kepunggung sofa
Alana yang merasa ditunjuk-tunjuk terkejut "Maksud kakak apa, bunda belum keatas. Bunda tid.."
"Bukan bunda, tapi tuyul brekele itu" Tunjuk Altaaf pada gadis kecil yang duduk tenang membelakangi tamu
Semuanya menoleh kearah Arin yang sedang menata uang yang dijajar, sedang dompetnya ia buang disembarang tempat
Alana berbelok "Ya Allah, Ariiiin...." Alana segera mengambil uang yang berjajar menurut warnanya
"Ih, jangan bund, ini punya Arin" Arin menghalangi uang-uang tersebut dari Alana
Imran merebut uang yang nampak didepan matanya "Siniin.." Imran mengambil uang tersebut yang Arin umpetin, tetapi justru tampak dimata Imran "Mana dompetnya !!" Teriak Imran
Arin belok sambil menghentak-hentakkan kakinya sambil menangis "Enggak bisa. Itu uang Arin. Uang dapat nemu huwaa"
"Nemunya dimana" Tanya Alana
"Dimeja" Jawabnya sambil terus menangis
"Itu bukan nemu. Kalau nemu itu dijalan, atau jatuh Arin... Mana dompetnya !!" Imran terus menengada tangannya pada Arin, lalu menghitung uangnya "Kurang ini bund"
"Dimana Arin buang dompet kakak" Tanya Alana kembali
"Tuh" Tunjuk Arin dibelakang sofa
"Ya Allah... " Imran segera berlari memutari sofa, lalu memunguti uang yang tercecer dilantai "Dengar ya, sekali lagi uang kakak kamu ambil, kakak pites-pites kamu, biar lembut kayak pasir" Imran mempraktikan seperti menggilas kutu dikuku ibu jarinya, lalu menggilasnya dengan ibu jari yang lain
Imran berlari keatas meninggalkan semua orang yang ada disana
Arin mendadak berhenti dari tangisnya.
Meskipun Imran kalau ngomong ingin membebek, menggilas, tapi tidak pernah ia lakukan. Hanya mata yang melebar-lebar dan tangannya dimaju-majukan, tetapi tak pernah menyentuhnya
Hanan geleng-geleng. Keributan itu terjadi hampir tiap hari
Setelah naik tangga beberapa anak tangga, ia menoleh kearah Arin "Awas ya" Imran berlari lagi naik keatas, tapi berhenti lagi "Bund, gencang dia pakai kawat. Jangan sampai masuk kekamarku. Awas aja kalau masuk" Ancam Imran
Orang tua hanya terdiam. Jika Imran sudah marah-marah, Alana lebih baik diam. Karena marahnya Imran, disebabkan dari kelakuan Arin yang kelewat jahil. Disuruh sabarpun, namanya anak-anak, tetap saja susah diatur
Alana dan Hanan cipika cipiki dengan keluarga Fariz
"Setiap hari seperti ini?" Tanya Hawa pada Alana
"Iya mbak"
"Yang sabar, aku juga gitu. Pejuang anak kembar, hatinya harus jembar"
"Iya mbak, harus super sabar" Alana memanggil Arin, agar bersalaman dengan papa Fariz dan mama Hawa "Arin... Arin..." Belum Alana ngomong, Arin sudah menghilang "Kemana Arin dad"
Semuanya mencari bocah yang penuh masalah itu
"Zira, mana Arin" Tanya Alana
"Naik"
"Naik??"
__ADS_1
Zira mengangguk
Alana mulai pusing "Mas, jangan-jangan"
Tiba-tiba
"Ariiiiiinnnnnn !!!!" Teriak Altaaf
Alana dan Hanan langsung berdiri
Semuanya menatap Arin yang sudah berdiri ditengah tangga
"Ada apa??" Alana menatap detail tangan Arin yang diumpetin dibelakang "Apa yang kamu sembunyikan Arin?"
Arin terdiam bingung.
Altaaf berteriak lagi "Balikin nggak CD kakak. Bunda, ambilin"
"Heh?? Jadi, kamu berdiri pakai handuk, tapi belum pakai celana?" Tanya Fariz pada Altaaf
"Sudah. Tapi 5 CD yang lain milik aku hilang semua. Kalau bukan bocil itu, siapa lagi"
"Ariiinn,,," Panggil Hanan
"Hehe, Arin ingin makein kepala Arin pakai ini dad" Arin membeber CD milik Altaaf, lalu memakainya kekepala seperti topi
"Ariiinnnnn" Teriak Altaaf kembali
Arin segera berlari turun dan membuang seluruh CD milik kakaknya, tapi masih ada satu yang menempel pada kepalanya
Arin bersembunyi dibawah meja yang terbuat dari kayu. Arin tengkurap
"Hei, kodok!! Kembaliin CD milik kakak" Teriak Altaaf sambil mengepal ngepalkan tangan pada Arin
"Nggak mau"
"Bundaaaa.. Bantuin" Teriak Altaaf, membuat satu rumah pada pegangan kepala semua karena pusing
Hanan dan Alana menarik Arin dari kolong
Seorang gadis kecil, memakai kaos gombrong milik Altaaf, dan bertopi menggunakan CD milik kakaknya
Hanan sudah menyangkat Arin kegendongan "Ini maksudnya apa?" Ucap Hanan sambil menarik CD tersebut
"Ah jangan. Pinjam bentar, Arin ingin main masak-masakan"
"Oh, jadi Arin ingin jadi koki??" Tanya Hawa dengan tangan mengulur, ingin menggendong Arin dari gendongan Hanan
Arin minta diturunkan "Turunin dad"
Dan disitulah, Altaaf segera merebut CD nya dari kepala Arin
Arin menangis kejer karena tutup kepala yang ia pakai telah dirampas kakaknya "Balikin.. Balikin huwaaaa"
"Yuk ikut mama Hawa yuk"
"Enggak mau, Arin mau topi huwaaa"
"Ih topi bau. Mending kita beli apa ya? Es krim, mau?" Hawa terus merayu, agar Arin mau ikut dengannya
Arin langsung berbinar mendengar kata es krim "Benarkah??"
"Iya.. Mau?"
"Mau ma"
-
Arin pulang sudah membawa es krim yang jumlahnya susah ditebak
"Banyak banget. Papa Fatih minta ya?"
Keluarga Fatih dan Husayn sudah datang semua
"Indak boleh"
"Ya udah, kalau papa Husayn yang minta, pasti boleh" Rayu Husayn
__ADS_1
"Endak boleh. Ini semua... Milik Arin"
"Dasar codot, pelit" Ejek Altaaf
"Kak Altaaf" Hanan menengahi
"Habis, itu pasti mintanya nggak kira-kira, ya kan ma?" Tanyanya pada Hawa
Hawa tersenyum saja
"Ma, codot apaan" Tanya Arin pada Hawa
"setahu mama sih,! burung deh"
"Burung?? Burung yang ada dinegeri Vrindavan ya ma"
Hawa bingung, mana ada negri yang bernama begituan
"Hah. Cakep amat Vrindavan. Adanya burung kecil yang sukanya nyosorin macam kamu, nih" Altaaf mengambil es krim berbentuk kerucut yang disosor coklatnya saja, dan menyisakan wafer tempat es krim tersebut "Siapa yang mau ngabisin, bekas kamu dot, codot"
"Bundaaaa.. Kakak bilang Arin kayak codot. Enggak mauuuu"
-
Malam harinya
"Selamat ulang tahun papa"
Ilham tersenyum, sambil tepuk tangan
Lilin sudah mati karena yang meniup bukan Ilham saja, melainkan seluruh cucu-cucunya
Setelah lilin padam, Ilham mancabut lilin yang sudah tertulis 95, lalu ia ubah menjadi 59
Ahahaha
"Grandpa, kalau 59 menuju 100 nya terlalu lama pa" Celetuk Fawas putranya Fariz
"Iya, ntar kita tua bareng" Timpal Imran
Ahahaha
Ilham segera mengiris kue tersebut dan dibantu oleh Sifa
Irisan pertama ia suapkan untuk Sifa istri kecilnya. Sebelum menyuapi, Ilham terlihat clingak celinguk
"Apa pa?" Ucap semua orang, kecuali Sifa
"Kursi kecil. Tolong ambilkan untuk mama" Ilham menunjuk pada kamarnya "Biasanya ditaruh dibawah meja rias"
Semuanya lupa. Mereka tidak ingat, kalau mamanya terlalu pendek dan mempunyai bangku sakti sejak putra-putra Ilham belum lahir
"Ini ma"
Sifa segera naik tahta dikursi kecil alias jengkok
"Nah, gini kan enak" Ucap Ilham dan mendapat cubitan dari Sifa
"Iya, mama memang boncel" Ucapnya sambil menelan kue yang sudah disuapkan oleh Ilham "Selamat ulang tahun ya pa"
Mereka saling tatap
Sifa mulai mengusap wajah keriput Ilham, lalu memeluknya dengan erat
Anak-anak yang menyaksikan mulai mengusap airmata nya sendiri-sendiri
"45 tahun sudah, kita hidup bersama. Rasanya seperti kemarin kita menikah ya pa"
Ilham manggut-manggut dan berkaca-kaca
"Bagi mama, papa masih tetap tampan. dan tidak akan tergerus oleh usia. I love you papa" Sifa memeluk erat tubuh Ilham. Dan keempat putranya juga sudah memeluknya erat
"SELAMAT ULANG TAHUN PAPA"
...-TAMAT-...
Lanjut apa tamat?? Silakan komen
__ADS_1