Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 129


__ADS_3

“Tarik napas ya, bu. Ayo tarik napas bu pelan-pelan” Kalimat-kalimat teknik pernapasan serupa sudah tidak asing lagi dibicarakan oleh dokter ataupun bidan, ketika sedang membantu ibu saat melahirkan.


Jika dipikir-pikir, cara mengatur napas saat melahirkan sangat penting sampai-sampai dokter ataupun bidan mengingatkannya berkali-kali.


Alana memegang tangan Hanan erat ketika mendengar suara itu diruang persalinan


Hanan membalasnya sambil mengepal-ngepal lembut tangan Alana "Jangan takut" Ucapnya menoleh sambil tersenyum


"Nggak takut, cuma ngeri sendiri mas"


Hanan berjalan sambil mengangguk menerima sambutan dari bidan jaga yang ada diruang observasi. Begitupun Alana, meskipun hanya tersenyum, tetap saja semua karyawan disini menghormatinya sebagai istri bos


"Pagi dok, bu" Sapaan itu selalu menyambutnya jika Hanan mulai masuk kerumah sakit


Alana menggoyangkan tangan Hanan "Mas, biasanya juga lewat pintu sebelah sana, kenapa lewat sini"


Alana ngeri saja mendengar suara jeritan para pasien yang akan melahirkan. Padahal dia juga dulu menjerit, ketika pas melahirkan Altaaf. Tapi begitulah, seperti seseorang yang membonceng pada orang yang baru bisa mengendarai sepeda motor. Rasanya ngeri-ngeri gimana


Tetapi ketika kita mengalami sendiri, rasa ngeri itu otomatis hilang sendiri, karena kita yang mengalami sendiri


"Kenapa kamu, takut?"


"Eng, tapi nggak sehisteris gitu kali mas. Aku ingat itu. Aku malah membayangkan suaminya, kalau nanti pas keluar"


"Kenapa kamu mikir sampai kesuaminya"


"Kayaknya hancur mas, kayak bergedel"


"Bergedel ??"


Alana mengangguk "Iya"


"Ahaha" Hanan tertawa terbahak-bahak, tapi belum tau yang dimaksud bergedel itu apa. Ia membayangkan bergedel itu remuk saja, kayak makanan


Alana berhenti berjalan sambil menarik Hanan "Dengerin mas, pasien jerit-jerit ngomong apaan tu"


"Gara-gara kamu mas !!! aku hamil !!! Sakiiiiitttttt !!!!" Jeritan pasien dari dalam, yang terdengar ngeri tapi menyebalkan ditelinga


Terdengar para bidan juga menenangkan, tapi tetap saja menjerit


Hanan tersenyum sambil manggut-manggut, lalu merengkuh Alana "Tapi bunda orangnya nggak gitu. Orangnya selalu ikhlas" Pujinya


"Oh" Alana memeluk perut Hanan dari samping


"Tambah cinta aja mas sama kamu bund" Ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Alana berkali-kali dan sesekali menciumnya


Bodo amat orang yang ngiri. Terlalu lupa jika dihadapan sang istri


Ternyata benar


Banyak para pasien poly yang menunggu dikursi antrian, menatap pasangan ini tanpa berkedip


Ada yang melihatnya baper ketika mereka pas melihat dokter yang ia kenal, sedang merangkul wanita berbadan dua "Oh"


"Dih pak dokter, kelihatan gembira banget. Sama istri kah"


"Mungkin, siapa lagi. Nggak mungkin sama pasien kan. Aku saja yang pernah ditangani saja tidak pernah digandeng"


Itulah lambe pasien yang turah kemana-mana


"Mas, aku ingin masuk kesini" Tunjuk Alana keruangan yang dulu menjadi tempatnya mencari rupiah. Padahal tidak mencaripun, Alana tetap dikasih


Itulah Alana. Agar ijazahnya terpakai dan tidak lumutan


Hanan mengangguk "Nanti langsung keatas saja"


"Iya mas"


Merekapun berpisah. Alana ingin reuni dadakan sama teman-temannya, sedangkan Hanan, wajib mencari dolar, untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya


-

__ADS_1


Malam harinya


Perut Alana merasakan sakit yang teramat


"Mas, mas" Alana menarik-narik selimut Hanan


Hanan mengerjap-ngerjab matanya "Ada apa"


"Perutku sakit mas, dan celanaku basah. Ini basah apa? Darah atau apa?"


Otak yang tadi sempat beristirahat, mendadak bekerja keras


Hanan langsung duduk dan mengecek celana yang dimaksud Alana


Hanan membukanya, lalu memegang sesuatu yang keluar dari pintu rahim Alana "Air kawah" Hanan turun dari ranjang "Sebentar, kamu duduk saja. Biar kupanggilkan bibi"


Hanan segera membangunkan bibi untuk membantunya berkemas


Untung kemarin Alana sudah menata keperluan persalinan. Dari baju miliknya, serta baju calon bayi yang katanya kembar


-


Mereka sudah masuk kedalam rumah sakit kembali


Dimana rumah sakit ini, ada layanan baru dan populer digemari para ibu-ibu hamil yang akan melakukan proses persalinan


Kalau melahirkan normal, operasi caesar, water birth, itu sudah biasa. Dan Alana dulu pernah mencoba persalinan dengan cara water birth


Apakah dia?


Dia adalah gentle birth


Gentle birth merupakan istilah dari cara persalinan normal, yang dilakukan dengan tenang, sehingga bisa mengurangi rasa sakit. 


Gentle birth sering kali dilakukan dengan metode Hypnobirthing. Atau istilahnya metode kombinasi teknik hipnosis untuk membantu relaksasi untuk mengurangi rasa takut, cemas, serta rasa sakit saat proses persalinan.


Alana masih diperiksa.


Menunggu saat melahirkan, merupakan masa yang cukup menegangkan bagi banyak ibu hamil, terlebih juga pada suami.


Tidak ada salahnya merasa cemas atau takut saat menghadapi persalinan, asalkan tidak berlebihan. Ketakutan yang berlebihan justru berpotensi, memicu rasa sakit yang tak tertahankan saat melahirkan.


Nah, konsep gentle birth menawarkan metode hypnobirthing  yang akan mengajarkan bagaimana cara untuk lebih tenang, relaks, berpikir positif, dan percaya diri. Salah satunya adalah melalui teknik pernapasan


Ibu yang akan melahirkan, biasanya merasa tegang, takut, atau panik. Ketika ibu merasakan seperti itu, pernapasannya cenderung lebih pendek dan cepat


Pada tahap pembukaan leher rahim, ada tiga fase yang harus dilalui ibu, meliputi fase awal (laten), fase aktif, dan fase transisi.


"Ayo sayang. Tarik napas perlahan melalui hidung, kemudian buang melalui mulut" Lagi-lagi Hanan memberi titah semacam itu, jika Alana mengalami kontraksi


Fase aktif dalam proses melahirkan normal, biasanya ditandai dengan kontraksi yang kuat dengan pembukaan serviks yang semakin lebar.


Alana sudah masuk ke fase transisi, yaitu leher rahim (serviks) telah terbuka sepenuhnya hingga mencapai 10 sentimeter


"Ayo sayang.. Ambil napas sebanyak-banyaknya, dan embuskan napas, lewat mulut. Jangan tegang, rileks" Hanan berdiri diposisi seperti bidan senior. Padahal Hanan tidak pernah menangani pasien persalinan normal, kecuali kedua sekarang yaitu menangani istri sendiri, dan dibantu oleh bidan senior


Namun kali ini berbeda. Ia tidak sanggup seperti menangani Alana dulu, waktu melahirkan Altaaf


Hanan menfokuskan perhatiannya pada satu titik, agar Alana lancar untuk melahirkan secara normal. Dan kali ini, Hanan menggandeng dokter senior, yaitu anak asuh papi sendiri. Siapa lagi kalau bukan dokter Hanna


Hanna sudah berdiri didepan Alana, yang sudah siap untuk melahirkan "Ambil napas sayang melalui hidung, dan buang nafas melalui mulut huh"


Setelah berhasil melewati tahap pertama melahirkan yang terdiri atas tiga fase, kini Alana resmi memasuki tahap kedua melahirkan.


"Ayo, atur napas dengan baik, lakukan sayang"


Harapannya agar napas Alana tidak menjadi terengah-engah, dan bayi bisa keluar dengan lancar.


Alana masih tiup-tiup latihan pernapasan sebelum melahirkan.


"Tetap bernapas secara perlahan, sesuai dengan ritme kontraksi, agar tubuh lebih terasa nyaman ya.."

__ADS_1


Hanna mulai memberi aba-aba


"Coba tarik napas panjang, mengejan dengan gigi ketemu gigi, lakukan sayang"


Alana menuruti titah Hanna


"Tempelkan dagu di dada"


Alana kembali patuh


"Iya bagus, dan arahkan tubuh ke depan. Tahan napas sayang" Dokter Hanna terus menuntun Alana agar melakukan teknik semacam ini


"Sekarang, mengejan !!"


"Ekkkkkkkkk"


"Hembuskan napas sembari mengatakan huh!!"


"Huh"


"Iya bagus. Lakukan berkali-kali, dan katakan huh"


"Hindari berteriak saat kontraksi datang ya sayang.. Tiup-tiup lagi"


Alana terus mematuhi, meskipun rasanya sudah tidak karuan


"Coba tutup mata sebentar, fokus pada teknik pernapasan saat melahirkan dan perhatikan irama pernapasanmu"


"Hindari pikiran negatif yang kamu takuti, oke... Tarik napas panjang, lalu berikan ada sedikit jeda sebelum menghembuskan napas kembali"


Alana menahan nafas


"Bagus, hembuskan sayang"


Alana menurutinya kembali


"Bagus"


"Mb Hanna, perutku sakit mbaaa huh huh huh"


"Tarik nafas, tarik nafas sayang, jangan lupa" Hanan ikut-ikut memberi perhatian meskipun semuanya bukan dia yang menangani


Hanan masih berdiri disamping Alana


"Ayo fokus dan tenang, tarik nafas, matanya ikut terpejam sayang, oke... Sekarang, tarik nafas lewat hidung, dan buang lewat mulut, lakukan"


Alana masih bisa konsentrasi, karena Hanna mengajarinya dengan lembut, namun jelas


Setelah Alana mengalami kontraksi yang sangat kuat, dan terlihat pernapasannya cenderung jadi pendek. Hanna mulai memberi aba-aba kembali


"Sekarang, mengejan!!!"


"Ekkkkkkkhhhh... Hee-hee-hoooo"


"Bagus"


"Sudah terlihat ?" Tanya Hanan


"Hampir. Ayo tiup-tiup lagi"


"Hoo-hoo-hoo"


"Ayo tiup-tiup lagi, sudah separuh"


Oeeeekkkkk


"Alhamdulillah" Ucap Alana dan Hanan bersamaan


"Baby girl Hanan" Ucap Hanna sampai lupa memanggilnya nama


"Sini mbak, biar aku pegang" Dengan gemetar, Hanan menerima bayi tersebut

__ADS_1


"Jangan gemetar begitu, ntar bayinya jatuh"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2