
Alana masuk kekamar, dan diikuti oleh Hanan
Alana berbalik, karena dia tau Hanan ada dibelakangnya "Mas, ucapanku didepan kakak salah nggak" Tanyanya sedikit takut. Takut salah jawab
Hanan memegang kedua tangan Alana, lalu duduk bersebelahan diranjang "Tidak. Sayang sudah benar. Jika ujuk-ujuk kamu kasih tau, justru ucapanmu akan susah diterima oleh kakak. Ini tidak disengaja, tapi kamu bisa menjelaskan" Hanan merentangkan kedua tangannya "Sini mas peluk"
Alana menghambur memeluk Hanan "Kira-kira kakak kepikiran nggak ya" Alana sedikit cemas, lalu mengurai pelukan
"Kepikiran kenapa?"
"Ya, kan kecewa mas ama kita" Alana berdiri
"Mau kemana?"
"Nengokin anak-anak" Ucapnya sudah diambang pintu
"Pasti sudah tidur bund"
Beberapa menit kemudian, Alana masuk lagi kekamar
"Gimana?"
"Sudah tidur" Terlihat Alana sedikit kecewa
Hanan berdiri, lalu memegang kedua bahu Alana "Selama mas menjadi suamimu, mas perhatikan, justru mas yang kekurangan kasih sayang darimu. Lagi-lagi yang diurusin dedek, habis dedek kakak. Aku bund yang seharusnya protes. Mereka berdua merebut cintamu yang seharusnya untuk mas"
Alana mendorong Hanan "Ih, aku serius mas"
Hanan menarik lengan Alana, sampai Alana berbalik dan mereka saling tatap "Mas juga serius"
Cup
Bibir Alana sudah disambar
Hanan sedikit membungkuk, agar mereka tetap bertatapan "Kasihmu terhadap kakak dan dedek, tidak dibedakan, selalu diperlakukan sama olehmu. Jadi, kakak tetap tidak akan lari dari kita. Yang kamu takutkan soal itu kan?"
Alana mengangguk
Hanan langsung memeluk Alana kembali "Terimakasih, gadis tengilku"
"Ih" Alana mendorong Hanan tidak terima
"Hei, mas belum selesai ngucapinnya"
Alana kembali ditarik kepelukan Hanan "Dulu, kau gadis yang sangat menyebalkan" Hanan sengaja menjedah. Tapi sedikitpun, Alana tidak berontak "Nyatanya, kau sanggup berubah dewasa ketika kakak lahir. Parahnya, waktu itu, mas terlalu sombong mengakui bahwa kamu orang yang berpengaruh dalam kehidupannya, dan kehidupan mas"
Cup
Hanan pindah mengecup kening Alana lama
Alana mendongak "Sudah. Itu masa lalu. Yang penting, mas tidak begitu lagi denganku"
Hanan tersenyum sambil mencium kedua pipi Alana, hidung, lalu bibir kembali
Hanan menatap Alana intens, lalu mengusap bibir Alana menggunakan jemarinya "Dulu bibir ini tidak sedikitpun menggodaku. Galak, kalau bertemu mintanya duit mulu"
Alana tersenyum malu "Ish, kan waktu itu masih bocah SMA mas. Butuh saweran banyak hehe"
"Dan sekarang... "
"Nggak minta udah dikasih"
"Jadi??"
"Lebih suka sekaranglah"
Jawabannya membuat Hanan tambah gemas
Hanan menggiring Alana keatas tempat tidur "Malam ini, kita bikin anak yuk"
Plok
Alana menabok bahu Hanan yang sudah diatasnya "Memangnya kemarin-kemarin nggak pernah bikin"
"Bikin sih, tapi gagal melulu"
"Bukannya gagal, tapi belum dikasih kepercayaan lagi" Ucap Alana membenahi
-
Perjuangan mereka segera dimulai
Hanan mulai mengungkung tubuh Alana
'Ah... Anak perempuan atau laki-laki sama saja'.
__ADS_1
Begitu kata hati mereka berdua. Namun, di balik keinginan memiliki anak perempuan, biasanya diikuti juga dengan preferensi jenis kelamin.
Jika pernah terbersit hal seperti ini, tenang dok Anda tidak sendiri. Banyak diluaran sana, yang senasib dengan dokter
Hingga kini, tidak ada penelitian yang terbukti memberi garansi melakukan posisi sek s tertentu bakal mengandung anak perempuan atau laki-laki.
Walau begitu, ada banyak kisah dan mitos yang mengungkapkan posisi sek s tertentu, yang terbukti berhasil membuat seseorang mengandung anak perempuan atau laki-laki.
"Sekarang, kamu yang pimpin" Hanan mengganti posisi tidurnya yaitu telentang
Alana menoleh "Tapi mas, kenapa harus aku duluan yang diatas"
"Kenapa"
"Kurang enak he" Alana malu-malu
"Tapi ini termasuk terapis juga, woman on top, wanita di atas"
Posisi ini membuat wanita mengendalikan kedalaman penetrasi.
Hanan mengangkat Alana, hingga Alana duduk diatas perutnya "Lakukan"
Mau tidak mau, Alana memimpin
Setelah merasa ejakulasi, Hanan sedikit mengangkat pinggang Alana, agar senjata mereka sama-sama dangkal
Hanan tidak mencabut pedangnya keseluruhan, melainkan diambang pintu vagi na dan memainkannya disana
Alana mende sah, ketika rasa itu memuncak sampai keubun-ubun
Mereka sama-sama terkapar
"Tidak kecewa?" Tanya Hanan setelah belalainya mengecil
"Tidak"
Hanan mengusap perut Alana "Semoga jadi"
Alana mengangguk
-
Pagi hari sebelum subuh
Kebiasaan baru
Beberapa hari ini, Hanan melakukan sholat subuhnya dimasjid dekat kediamannya
Mereka bertiga yaitu Hanan dan kedua putranya, mewajibkan untuk selalu sholat berjama'ah dimasjid. Selain memang pria itu wajib sholat dimasjid, Hanan juga mengajari kedua anaknya untuk selalu sholat berjamaah
Setelah mereka pulang, Alanapun sudah menyelesaikan kewajibannya
Anak-anak pulang membawa aneka kue, yang dibelinya dari penjual beragam sarapan dan aneka makanan yang mangkal didepan jalan masjid
Seperti biasa, mereka pulang langsung menyantap makanan kesukaan mereka
Hanan tidak ikut bergabung dengan kedua putranya, melainkan masuk kekamar menemui Alana
Sambil melepas kancing baju koko satu persatu, Hanan menutup pintu kembali "Sudah sholat bund"
"Sudah"
Terlihat Alana masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer nya
"Sini mas bantu" Hanan merebut alat tersebut dari Alana "Kok bukan tadi bund ngeringnya"
"Tadi pas sholat, aku pakein handuk kecil aja biar nggak tembus ke mukenah"
"Oh, kirain sengaja nungguin mas biar tergoda lagi"
"Ish, sudah pagi mas. Malas mandinya"
"Siapa tau ingin nambah" Hanan mencium pucuk kepala Alana dengan hidungnya "Emm wangi, wanginya tidak membosankan"
"Yaiya.. Kalau bosan, ya awas aja" Ancam Alana dari pantulan cermin
Hanan tertawa "Sudah kering bund, yuk keluar. Anak-Anak dah nungguin sejak tadi"
Alana beranjak dan berkumpul dengan kedua jagoannya
-
Selang beberapa menit, mereka sudah rapih
"Bund, teman-teman dedek, banyakin diantelin sama bundanya. Kenapa dedek nggak pelnah" Protes Altaaf
__ADS_1
Alana terdiam, bingung mau jawab apa
Tiba-tiba Imran muncul sambil membenahi tas rangselnya
"Kan dedek berangkatnya sudah bareng kakak. Lainnya kan tidak punya kakak. Sudah jangan protes. Biar dedek cepet pinter"
"Eh" Alana dan Hanan saling tatap
"Ternyata kakak lebih dewasa daripada daddynya" Bisik Alana mengejek Hanan
"Loh, kok daddy sibund yang disalahin"
"Kan yang ngelarang antar anak-anak daddynya kan, wek"
"Tapi kita kan nggak nglepas gitu bund, ada pak Sholeh yang antar. Dan sekali-kali juga mbak Rasti atau bik Surti juga ikut"
"Ah alesan"
"Nggak bund. Lihat, mereka hanya gertak kita doang. Eh, bunda doang" Ralat Hanan. Takut tanduk Alana timbul
"Sudah ah, bilang aja mas butuh teman" Alana masuk kedalam, setelah melepas kedua anaknya berangkat kesekolah
Hanan membuntutinya sampai kekamar
Alana hanya mengambil tasnya saja karena dia memang sudah rapih. Berbeda dengan Hanan.
Sejak pagi, Hanan memang sudah rapih, tapi satu yang ia bawa kedepan, kebelakang, dan kemana-mana masih saja dalam genggaman yaitu, dasi
Alana menatap Hanan dari bawah sampai atas
Hanan tersenyum "Ada apa menatap mas sampai begitu"
"Kenapa nyai Dasima nya belum dipakai"
Hanan mencernah omongan Alana "Dasima siapa??" Seketika Hanan mengangkat tangan yang ada dasinya dengan wajah bingung "Ini" Tunjuknya pada Alana
"Iya ! Ngapain belum dipakai-pakai"
"Kan jatahmu bund"
Alana segera menarik dasi tersebut "Sini"
Hanan melepasnya
Alana segera mengalungkan benda tersebut "Pendekin badannya"
"Ck, mana bisa bund"
"Yaudah duduk"
Hanan patuh. Tapi namanya laki-laki. Kalau sudah didepan istrinya, mata dan tangan mendadak gatal semua
Hanan tidak kuat jika melihat sesuatu, tidak ia pegang
"Bund, seragammu kok ada nodanya" Hanan memegang dada Alana yang ada bintik merah secuil
Plok
"Nggak usah main pencet"
"Dikit doang bund"
"Nggak ada dikat dikit"
Setttttt
Alana sengaja menarik dasi agar Hanan kecekik
"Adddaaa!! Kenapa dicekek bund. Sakit tau"
"Rasain. Punya tangan GELATIK. Pegang sana pegang sini. Pencet sana pencet sini. Modus"
Hanan merenggangkan dasinya sedikit agar nyaman "Dikit ini"
Alana melirik dada yang tadi jadi masalah "Ini itu dari sananya memang ada titiknya. RSIA ASSIFA TITIK. Modus mulu, heran"
"Daripada modus sama orang dijalan, lebar urusannya bund"
"Berani ??!!!" Alana sudah mendelik
"Nggak. Ahaha" Hanan segera memeluknya "Masih pagi bund, jangan bikin panas bara"
Suka nggak..... Kalau suka, bantu novel ini bertahan diperingkat.. Nggak tau diperingkat apa hehe..
BERSAMBUNG.....
__ADS_1