Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 127


__ADS_3

Sesampainya dirumah sakit, Alana dan Hanan naik kelantai dua, yang biasa Alana dan Hanan tempati jika beristirahat


Semuanya jenis permen buruan Alana sudah Hanan letakkan diatas meja


"Sudah ya, mas kebawah. Ada sesuatu yang harus diselesaikan"


Kedua tangan Alana mengulur keudara "Cium"


Hanan mendekat dan tersenyum lebar


Emmuah, emmuah, emmuah


Hanan mengecup kedua pipi dan kening


"Kurang" Tunjuknya pada bibirnya


Cup "Dah"


"Sudah" Alana kembali sibuk menonton acara film pendek dan menyesap permen sebagai teman gundahnya disaat rasa hambar itu tiba-tiba muncul


Masih ditempat yang sama


Alana sudah bosan mengukur ranjang terus-terusan sejak ia datang


Sekarang sudah jarang muntah ataupun mual. Tetapi, dirinya sering berkeinginan untuk memejamkan matanya terus-terusan alias ngantuk berat


Alana terduduk menyapuh seluruh ruangan


"Sepi. Mas Hanan kok nggak kesini, kemana ya?"


Alana masih duduk.


Kali ini yang ia butuhkan sebuah hape, bukan permen


Alana mulai menyekrol kekanan dan kekiri, untuk mengecek aplikasi chat. Alana berharap, mendapatkan pesan dari suaminya


Dan benar. Hanan sudah mengirimkan pesan


Hanan : Sayang, mas sudah pesankan makanan untuk kita. Semuanya, sudah ada diatas meja pantry. Kalau sayang suka dan sudah lapar, makanlah. Tetapi kalau sayang kurang selera, sayang bisa ganti dan minta mbak OG untuk membelikan. Ntar mas nyusul.


Kemudian Alana turun dari ranjang, dan mendekati pantry yang berada diruangan itu


Senyum mengembang ia tampilkan. Suaminya memang tau, apa yang Alana mau


"Sayur asam"


Asap yang masih mengepul terlihat bahwa makanan tersebut baru saja disajikan


Alana mengabsen ruangan kembali "Nggak ada orang"


Nasi, sayuran, dan lauknya sudah tersedia dan menggoda dirinya


Alana mulai menyedok nasi putihnya kepiring, lalu mengambil sayuran yang ada daun mlinjonya "Hmmm"


"Enak" Suara pria yang ia tunggu datang juga


"Mas"


"Enak??" Tanyanya lagi


"Enak, segar, mantap sambalnya. Mas sudah makan?"


"Belum"


"Aku ambilkan ya mas"


"Boleh"


-


Malam harinya


Alana masuk kekamar, setelah mengajari putra-putranya mengerjakan PR. Kemarin-kemarin waktu Alana pusing-pusingan, dia tidak sanggup menghadapi sendirian. Semuanya Hanan yang menangani


Namun, Hanan tidak seluwes ketika dia sedang menjelaskan sesuatu terhadap pasien atau sebagai narasumber. Ia sangat berbeda, ketika dirinya dihadapkan untuk mengajari anak-anaknya


Flashback on

__ADS_1


Minggu minggu kemarin, Hanan mengajari Altaaf yang baru mempelajari ilmu penambahan, pembagian, dan pengurangan


Kali ini, PR tersulitnya adalah matematika soal pembagian


Mengajarkan konsep pembagian kepada anak yang baru belajar berhitung, memerlukan kesabaran yang cukup tinggi, terlebih Hanan jarang tampil mendampingi putra-putranya untuk belajar


Kesabaran Hanan mulai diuji disini, apakah Hanan bisa sabar menjelaskan konsep dasar pembagian kepada altaaf. Sampai Altaaf benar-benar paham ?


Untuk mengajarkan pembagian kepada anak dengan daya nalar yang bagus seperti Altaaf, seharusnya mudah, tapi bagaimana dengan Hanan, yang tidak punya skil mengajar anak yang benar-benar baru dihadapkan dengan kesulitan


"Gimana sih, soal semudah ini saja tidak bisa"


Altaaf hanya terdiam dan berkeringat jagung karena takut pada ayahnya


"Faham nggak cara daddy ngajarin" Sambungnya sedikit kesal


"Faham" Bohong Altaaf. Padahal Altaaf tidak faham, saking takutnya disalahkan


Sebagian orang dewasa, mungkin lupa bagaimana dulu awal belajar berhitung, tahu-tahu sekarang sudah menguasainya. Dan ketika diminta untuk mengajarkan kepada anak-anaknya yang baru mulai belajar berhitung, kebingungannya mulai timbul


Akhirnya, daripada pusing semua, dan jamnya juga sudah larut. Hanan hanya bisa menyuruh Altaaf untuk menghapalkannya


"Ya sudah. Sekarang hafalin aja. Begini, kalau 10 dibagi 2 \= 5, 16 dibagi 4 \= 4 dan seterusnya, faham??"


"Faham" Lagi-lagi Altaaf berbohong, demi bisa memejamkan matanya yang sudah lelah


'Bundaaa, Altaaf tidak faham..' Tangisnya ingin pecah


Itulah Hanan, meskipun sekolah tinggi, tapi tidak bisa memberikan pemahaman. Darimana, dan bagaimana hasil tersebut didapat.


Flashback end


-


Berbeda dengan Alana malam ini


Ia mengajarkan konsep pembagian kepada Altaaf, dengan pelan dan sabar


Meskipun sebenarnya pada praktik kehidupan sehari-hari sudah sering mereka lakukan, namun kenyataannya teori lebih sulit ketimbang praktik


Altaaf mencarinya sampai kemeng (Pusing)


Alana melihat Altaaf, terlihat kebingungan "Ketemu nggak?"


"Bund kok nggak ada. Kemana ya bund"


"Lah, bunda mana tau. Ya sudah, ambil permen milik bunda yang ada dikamar"


Altaaf segera berlari, dan kembali membawa permen se kresek-kreseknya


Setelah berjibaku dengan PR Altaaf, Altaaf sudah mulai faham


"Kak Altaaf faham ?" Tanyanya sembari memasukkan permen kedalam toples, karena tadi banyak permen yang ia buka dari wadahnya


"Faham bunda"


"Coba, bunda tanya. 20 dibagi 4 hasilnya berapa?"


Altaaf kembali menumpahkan permen tadi, lalu membaginya "5 bund"


"Bagus.. " Alana tepuk tangan, Altaafpun gembiranya minta ampun


"Makasih bund. Sekarang Altaaf boleh tidur??"


"Boleh"


Altaaf menarik tangan Alana untuk masuk kekamarnya


Altaaf naik ketempat tidur, dan sudah diselimuti oleh Alana


"Bunda.. "


"Iya"


"Bunda jangan sakit lagi"


Alana tersenyum, lalu mengangguk

__ADS_1


"Bund, Altaaf tidak mau diajarin daddy. Altaaf takut" Sambungnya


"Takut kenapa?"


"Daddy galak, Altaaf nggak bisa mikir"


Ekspresi wajah menyedihkan Altaf membuat Alana terbahak


"Ahahaha. Ya sudah, pimpin doa dulu"


Altaaf segera berdoa, dan di amini Alana dan Imran


"Goodnight kak Altaaf, kak Imran..."


"Night bund" Jawab mereka berdua


Alana mengecup dahi kedua putranya, lalu mematikan lampu utama kamar ini, dan menggantinya dengan lampu tidur


-


Alana masuk kedalam kamarnya


"Sudah pada tidur bund"


"Sudah"


Hanan segera bangun, dan mengecek putra-putranya terlebih dahulu


Hanan kembali masuk kekamar, dan mencum bu Alana "Bercinta yuk"


"Mas, masih rentan ah, ntar mas lupa daratan"


"Ya pelan, ya. Lama banget mas nggak pernah tengok. Boleh ya" Rayunya sampai Alana menyerah


Kegembiraan yang dirasakan Hanan saat ini, karena diizinkan untuk menengok. Bersamaan itu, perasaan khawatir terhadap janinnya, dirasakan oleh Alana. Termasuk, ketika dirinya akan melayani suaminya untuk berhubungan in tim.


Tidak jarang wanita merasa khawatir terhadap janin dalam kandungan, ketika melakukan hubungan in tim.


Padahal, selama kehamilannya. Alana dinyatakan sehat oleh suaminya yang berprofesi sebagai dokter pribadinya.


Kemarin-kemarin Hanan tidak berani, dia harus jaga diri. Karena posisi sekarang sudah aman, Hanan berani meminta


Melakukan hubungan in tim di usia kehamilan trimester pertama, tentu akan membuat nyaman. Pasalnya, kondisi perut belum terlalu besar. Selain itu, dilansir dari Health, menurut sek s terapis di San Diego, melakukan hubungan in tim saat kehamilan pertama dapat membuat ikatan suami istri semakin meningkat.


Hanan melakukannya dengan cara 'spooning'


Yaitu posisi hubungan in tim, ketika Alana berbaring miring ke satu sisi, dan Hanan berada di belakangnya atau menghadap ke punggung Alana.


Posisi ini aman dilakukan, saat sang istri hamil muda.


Hal ini memungkinkan penetrasi tidak terlalu dalam, sehingga tidak akan berdampak ke janin.


Posisi sek s ini membutuhkan upaya untuk mencapai ritme yang sesuai. Namun, setelah istri dan suami menemukan kecepatan yang nyaman, maka posisi sek s ini terasa semakin nikmat dan menyenangkan.


Ketika akan melakukan hubungan in tim, Hanan tidak lupa melakukan foreplay terlebih dahulu dengan pasangan.


Kondisi ini dilakukan untuk menghindari perdarahan melalui va gina, akibat kondisi leher rahim wanita yang lebih sensitif sedang menjalani kehamilan


"Sekarang gantian" Hanan segera berbaring, dan membantu Alana untuk naik diatas tubuhnya "Pimpin"


Alana melakukannya seperti mengendarai motor. Hanya perbedaannya dia bergerak memaju mundurkan lakunya


Nafas mereka mulai memburu


"Maaaaaaaaasssss" Alana memejamkan matanya. Bukan tidur, melainkan rasa nikmat yang luar biasa. Serasa ikut terbang bersama kupu-kupu


"Akkkkk"


Tulang belulangnya mendadak lemas seperti lolos dari kulitnya


Alana terkapar disamping Hanan, lalu memeluknya sekejab


Alana terduduk "Lihat keringatku, basah semua"


"Ahaha, mas juga basah"


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2