Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 3


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Alana diboyong pulang kerumah untuk dipingit. Tentunya bersama Imran


Meskipun kenyataannya mereka tidak saling suka, tapi kedua keluarga lebih baik menjauhi zina daripada mendekati


Artinya, takut mereka berbuat melampaui batas jika mereka sering keluar masuk kamar Alana plus Imran.


-


Alana girang sekali melihat kamarnya kembali


"Emmuah aku rindu padamu, aku kangen padamu" Alana menciumi kasur yang sudah ada imran disana


Imran berkokok saking girangnya ada yang menggodanya


Imran menyusu dengan botol dotnya sambil tiduran. Tidak lupa Alana juga sudah terkantuk kantuk. Setelah Imran tertidur, Alana juga ikut tidur, mempersiapkan tenaga untuk besok


-


Anti masuk kekamar Alana


Terlihat disana, Alana sudah meringkuk memeluk Imran.


Sebenarnya Anti merasa kasihan dengan Alana. Alana gadis belia, yang masa depannya masih panjang.


Tapi dirinya juga kasihan pada cucunya. Jika Imran mendapatkan ibu sambung yang tidak nyambung, apa tidak kasihan dengan cucunya.


Terlebih, Hanan adalah pria yang baik. dari bibit bebet bobot, Hanan tidak tercela sama sekali


Sekali lagi, Anti egois. Ia memotret Alana tidur memeluk Imran, lalu ia kirimkan kenomor Sifa


-


Sementara ditempat lain


"Liatin pa, cucu kita" Foto tersebut sudah ditunjukkan pada Ilham. Tak lupa foto tersebut ia kirim ke nomor Hanan


Ditempat Hanan


Hanan kesunyian tidak ada anak, istri apalagi. Tiba tiba ia mendapatkan pesan gambar dari mamanya


"Ya Allah... Daddy kangen banget sama kamu sayang" Hanan terus memandangi foto putranya "Kenapa kau pilih wanita petakilan seperti Alana. Kenapa daddymu tidak boleh memilih wanita lain. Kenapa harus Alana"


Kembali Hanan memperhatikan cara tidur putranya yang dipeluk oleh Alana


Hanan sedikit melirik Alana yang terlihat capek, wajah kinclong karena minyak berlebih.


Bibir Hanan melengkung "Apa jadinya keluargaku, bila kami disatukan, padahal kami berantem terus tak ada damai"


Hanan mengedit foto tersebut, agar foto Alana dicut, agar yang terlihat hanya foto putranya


"Lha, gini. Diliatin kan lebih fres"


-


Pagi harinya


Alana berlari dilorong rumah sakit, menuju dimana para calon perawat berkumpul diruang Akasia


Plok


"Olivia" Teriak Alana


"Sttt" Jawab Olivia agar Alana jangan brisik


"Eh hem, kenapa itu belakang !!"


"Suara itu pernah aku dengar perasaan" Gumam Alana


"Stttt diam" Olivia menendang kaki Alana. Agar Alana diam


"Yang berangkat terlambat, nanti ikut keruang operasi !!"


"Operasi??" Spontan Alana berucap agak keras


"Ya. Dan yang lain, tunggu diruang mawar. Dan kamu, maju"


"Kak Hanan.." Lirihnya


Alana maju mendekati Hanan "Siapa namamu??!" Tanya Hanan pura pura tak tau

__ADS_1


Alana melirik tanpa menjawab


"Sudah tau kenapa tanya" Gumamnya ,tapi masih didengar oleh Hanan


"Sekali lagi, siapa namamu?!"


"Alana dok"


"Bagus kamu ikut saya"


Alana mengikuti Hanan, menuju keruang operasi "Pakai baju oka mu"


Alana mengikuti arahan dari Hanan


"Kak, kenapa hanya Aku yang disuruh masuk keruang operasi. Kenapa yang lain tidak "


"Tuh ada, masuk"


Alana masuk mengikuti Jaman "Kakak, boleh aku memotretnya ?"


"Iya. Tapi ingat, kau jangan menyalahi aturan"


"Hm"


Selagi mereka siap siap, Alana mengambil gambar, seperti pisau beda, gunting. Tapi dasar Alana cerobo Kelambu saja diambil gambarnya


"Eh hem, ngapain?"


Alana mendongak sambil tersenyum


"Sudah, jangan senyum senyum. Ayo maju seperti temannya"


"Iya.."


Alana maju, Hananpun maju siap untuk membedah ibu yang akan melahirkan caesar


Alat alat seperti pisau, gunting sudah siap dimeja samping kiri Hanan


Ahli anestesi, dokter anak, bidan senior, dan dirinya, siap bertempur


Pisau bedah dan Bistari nomor 10 sudah ditangan Hanan. Karena pembedahan mulai dilakukan


"Gunting mayo" Ucap Hanan sambil tangan menengadah


Alana mengambilkan. Padahal Hanan biasa mengambilnya sendiri. Tapi kali ini, ia ingin menguji kecerdasan otak anak buahnya ini yang sedang magang


"Gunting matzenaum" Hanan meletakkan gunting mayo, namun meminta gunting yang ia sebutkan tadi


Pengangkatan bayi segera dilakukan


Ooooeeeek


Bayi sudah ditangani dokter anak


"Gunting kasa" Hananpun meletakkan gunting yang sebelumnya


"Pinset anatomis" Hanan meletakkan gunting kasa, tapi tangan menengadah minta pinset yang ia sebutkan barusan


"Pinset sirurgis"


"Pinset ring"


"Pinset alligator" sampai terakhir ia sebutkan, ternyata anak ini cerdas


Hanan mundur, karena tugasnya sudah selesai. Proses penjahitan kulit pada perut ibu, sudah langsung ditangani setelah tugas Hanan selesai


Hanan melepas atribut yaitu sarung tangan dan lain lain. Setelah berbalik, anak magang satunya sudah tidak ada ditempat


"Kemana anak itu" Hanan keluar dari ruang operasi. Baru kaki melangkah, ia tersandung seseorang yang terduduk lemas dengan wajah pucatnya dibalik dinding pembatas diruangan tersebut


Hanan menunduk kebawah ,kepalanya miring agar jelas perempuan yang terlihat menahan ingin muntah siapa


"Kau"


Alana sudah pucat


"Ngapain duduk disini ayo bangun"


Alana terlihat lemah dan pucat

__ADS_1


"Ayo keruanganku"


Hanan berjalan dengan langkah lebar, diikuti Alana yang berlari kecil


Hanan membuka ruangannya


Huweeeeekkkk


"Sana sana sana" Hanan menunjuk toilet yang ada didalam ruangannya


Hanan duduk dikursi kebesarannya, tapi kursinya dibelokkan agar menghadap ketoilet


Hanan bermain jari dipegangan kursi, seperti mengetuk ngetuk ikut tegang, takut terjadi apa apa dengan adik iparnya


Tak berapa lama, Alana keluar sedikit merayap ditembok


Hanan mengerutkan dahinya hingga alis tebalnya nyambung


"Minum" Hanan menyodorkan air minum hangat kepunyaannya


Alana menyambutnya, lalu meminumnya


"Tissue" Hanan menyodorkan tissue untuk mengelap sedikit air yang masih terlihat diwajah Alana


"Kakak kepalaku pusing"


"Kenapa bisa pusing, kamu masuk angin?"


Alana menggeleng "Aku tidak sanggup melihat darah segar yang mengalir bebas dari perut si ibu"


"Loh, jurusanmu kan kebidanan. Kalau kelak kamu membantu melahirkan pasien bagaimana ?"


Alana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang masih terlihat pucat


"Nggak tau"


"Kok nggak tau. Nggak tau kok masuk jurusan ini, heran"


"Itu karena papa"


"Kok papa??" Hanan bingung


"Papa yang menginginkan jurusan ini. biar nyambung dengan jurusan kak Aina. Padahal aku tidak suka"


"Aneh, yang menuntut ilmu kan kamu bukan papa. Aku nggak percaya kau pasti mengarang"


"Terserah kakak, pokoknya aku pusing" Lagi lagi Alana pegangan kepala, seperti berat kepalanya itu berton ton beratnya


"Ya sudah, sana istirahat didalam kamar"


"Aku" Tunjuknya pada dirinya sambil berbinar


"Iya, emangnya ada orang lain"


"Ah baiklah, aku tidak mau masuk keruang operasi lagi untuk hari ini"


Alana berlari menuju kamar yang ada diruangan Hanan


Brakk


Alana membanting badannya,


Tanpa melepas sepatu, Alana tertidur


-


Tok tok tok


Suara pintu sudah diketuk oleh para perawat yang akan mengikuti Hanan untuk melakukan visit


"Masuk !"


"Dokter sudah siap ?" Ucap perawat yang biasa mengikuti Hanan


"Ya, saya sudah siap. Tunggulah didepan"


Hanan menutup pintu kamar yang ada Alana didalam. Lalu ia keluar untuk melakukan visit kepada seluruh pasiennya


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2