
Pagi telah tiba
Sebelum subuh, Alana mandi besar dulu, tanpa membangunkan Hanan
Rasa kesal masih saja diubun-ubun. Apalagi tidak ada ajakan lagi dironde keduanya
Lampu utama kamar sudah dinyalakan. Bermaksud untuk membangunkan Hanan. Tetapi, Hanan tidak merubah tidurnya sedikitpun
Alana mondar mandir ingin membangunkan Hanan, namun rasa jengkel yang sudah ditenggorokan, membuatnya gengsi sampai keangkasa
Alana kembali membuat ulah. Ia berdiri disamping jendela, dan membukanya
Daripada membangunkan dengan mulut membuang energi, Alana mending membuka jendela, agar Hanan kedinginan
Alana sedikit puas. Hanan sedikit menggerakkan tubuhnya, dan membenahi selimutnya
Alana segera duduk manis dikursi meja rias. Mengambil catok rambut, lalu mengeringkan rambutnya sendiri. Padahal, jika Hanan sudah bangun, Hananlah yang selalu bantu mengeringkannya
Alana bertambah kesal, ketika tau, Hanan tertidur lagi. Rasanya ingin mencabik-cabik seluruh tubuh suaminya
Prak
Prak
Alana sengaja meletakkan barang-barang diatas meja sedikit keras, menandakan hatinya sedang mengamuk
Hanan terbangun, lalu duduk "Jam berapa" Tanyanya, tambah membuat Alana gedek diujung tanduk.
Padahal dengan jelas, netra Hanan melihat jam dinding
"Hmm matanya piknik kali. Udah tau jam segede tampah china ( Tampah dari bambu yang jumbo) masih aja tanya" Ucapnya lirih sepertinya lebah yang sedang arisan dipohon klengkeng yang berbunga, miliknya papih dulu
Hanan berdiri "Sudah mandi ya? Kok nggak bangunin?"
"Tidurnya kaya bujangan pemalas, capek sendiri. Mending mandi"
Hanan mengernyitkan dahi. Hanan sebenarnya faham, Alana pasti kesal karena semalam
Hanan mendekati jendela "Masih subuh kok dibuka"
Alana terdiam sejenak, malas rasanya menjawab pertanyaan suaminya
Hanan menutup jendela, lalu bermain jari-jari kaki agar lemas dan sedikit berbunyi
"Buruan.. Subuh hampir habis. Kalau nggak, aku sholat sendiri" Gertaknya, padahal Alana tidak berani
Hanan melirik.
Sambil berjalan menuju kamar mandi, Hanan berfikir "Ini kalau terus-terusan sampai pagi, siang, sore, malam, sampai pagi lagi tidak diobatin, alamat cuaca suram untuk hari ini"
Hanan segera masuk, dan mandi
Setelah bersih, Hanan keluar dengan rambut yang masih menetes, gedeklah hati Alana "Bajuku mana bund"
Dengan kesal "Tuh diatas tempat tidur"
Hanan segera mengambil baju rumahan yang sudah diambilkan oleh Alana
"Biasanya kan ada dikursi sini bund" Tunjuknya pada kursi rias
"Ini tidak biasa. Ini luar biasa"
Hanan melirik Alana sekilas, lalu kembali mengusap rambutnya yang basah, dengan handuk badan, bukan handuk kepala
"Jorok"
Sebenarnya Alana ingin mencubit kelakuan suaminya yang menjengkelkan. Apa-apa selalu disiapkan. Jika tidak, amburadul lah seperti sekarang
Alana masih santai duduk disofa sambil mainan HP. Dan dirinya, masih terbungkus mukena karena menunggu sang raja, mengomandoni untuk sholat subuh
Hanan sudah memakai kausnya, lalu merangkapnya dengan memakai baju koko
"Ayo bund, belum sholatkan?"
Alana berdiri "Sajadanya kan masih terbentang semua. Gimana sih masih tanya aja"
Hanan tidak mau ribut. Ia segera mengimami untuk menunaikan sholat subuh
Setelah salam, Hanan menoleh kebelakang sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan istrinya "Berdoa dulu ya bund" Hanan kembali menghadap kedepan, lalu menengada untuk memanjatkan doa dan pujian terhadap sang pencipta.
Setelah memuji kebesaranNya, Hanan meminta sesuatu, agar dikabulkan. Setelah selesai, Hanan kembali menoleh kebelakang
"Bund"
__ADS_1
Alana menatap Hanan dengan tatapan yang masih kesal
Hanan memegang kepala Alana, lalu mencium keningnya "Santai ya bund. Jangan keburu-buru. Biarlah Allah yang memberi. Kita terima aja"
Alana terdiam menatap Hanan
"Kau ingat dengan tingkah dedek. Dedek kalau mau mandi mintanya bagaimana sama kamu. Haruskan?"
Alana mengangguk
"Terus perasaanmu bagaimana. Padahal kalau mas yang ingin bantu memandikannya saja, selalu dedek tolak"
Alana diam, mencerna omongan Hanan
"Kamu pasti keselkan ?"
Alana mengangguk lagi
"Kalau begitu, keinginan kita untuk cepat mendapat momongan, jangan terlalu mendesak. Tetaplah kita berusaha dan berdoa. Tidak usah terburu-buru, agar hasilnya baik, ya.. Kita santai aja. Lagian, kita kan sudah punya dua. Lihat kak Fatih, Husayn. Mereka punya anak cuma satu. Bagaimana perasaannya. Padahal mereka juga ingin seperti pasangan Hawa dan Fariz. Seperti kita juga dicemburuin. Mereka memandang kita itu senang. Kurang apa coba"
Alana mengangguk entah sudah berapa kali
"Kau tau, ayat Allah dalam AL Qur'an surat Ar Rahman. Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban. Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan"
Alana terdiam, lama-lama suaminya lebar ini ceramahnya
"Diulang-ulang berapa kali bund? menghitung nggak"
Alana menggeleng
"Ayat فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ diulang ulang dalam surat Ar Rahman itu, 31 kali. Jadi, kita harus pandai-pandai mensyukuri nikmat yang Allah berikan bund, ya"
Hanan mengangkat wajah Alana, agar Alana menatapnya
Mereka saling tatap
"Mas tau, bunda kesel karena semalem. Tapi itu proses bund. Kalau mas tidak mencoba dengan bunda, lalu, mas nyobanya mau sama siapa. Kelinci?"
Alana menyikut tubuh Hanan sekenanya "Ish, Jangan. Sama orang lain juga nggak rela, sama kelinci apalagi. Pokoknya nggak rela !!"
Hanan tersenyum "Dih, senengnya. Istriku dah nggak marah kan ya.. "
"Masih"
Alana berdiri, lalu membuka mukena "Aku pokoknya nggak mau model kayak semalam"
"Katanya ingin hamil anak perempuan, ya gitu bund"
"Enggak pokoknya enggak !! Memangnya mas puas dengan melakukan seperti semalam"
"Kurang sih, tapi capek malahan"
"Tuh kan. Itu namanya dipaksakan. Nikmat manakah, yang kamu dustakan hayo"
"Tapi kalau jadinya cowok lagi bagaimana?"
"Kita tetap berteman. Layaknya suami istri"
Hanan mengerutkan dahi, sampai alisnya nyambung seperti pedang
"Maksudmu apa?"
"Kalau cowok lagi, justru temanku tambah banyak. sedangkan mas, justru yang tidak punya teman"
Hanan mencerna omongan Alana "Benar juga ya. Seorang ayah akan dekat dengan anak perempuannya. Dan ibu, akan dekat dengan putranya. Ya udah deh, aku pilih kamu aja" Hanan menghambur memeluk Alana "Jangan marah lagi ya bund. Mas nggak punya teman ngobrol kalau bunda uring-uringan melulu kaya orang cacingan"
"Ish"
Plok
Plok
Ha ha ha
-
Siang harinya
Seluruh kembaran Hanan dan pasangan, berkunjung kemari untuk mengadakan arisan
Semuanya ingin diadakan disamping halaman rumah saja, dan menggelar tikar
Biarpun cuaca terang, hawa dipegunungan tetaplah dingin
__ADS_1
Setelah aneka jajan sudah dihidangkan, Alana ingin berdemo masak ditengah anak-anak
"Anak-anak kemari"
Anak dari Fatih, Husayn, Fariz, sudah berusia sekitar 9-10 tahunan
Mereka mengelilingi Alana yang akan memasak udang
Para orang tua sudah bercanda dengan para orang tua
Alana sendiri yang selalu ngumpulin anak-anak untuk memberi edukasi
"Siap!!" Ucap Alana
SIAAAAAPPPP!!!!
Alana sudah menyiapkan bumbu-bumbu yang sudah diiris, ditumbuk. Pokoknya tinggal nggeburin
"Oke, taruh kuali diatas kompor" Alana
"Kuali altinya apa bund" Tanya Altaaf
"WAJAAAAAN" Jawab semua anak
Alana mengabsen semua anak-anak "Siaaaappp.."
SIAAAAAPPP
"Nyalakan kompor. Panasnya kuali, lalu masukkan minyak goyeng... Setelah panas, masukkan udaaaaang... Kacau kacau kacau...."
"Hmmm enak"
"Perut Fatihah lapar bund" Ucap Fatihah, anak dari Fatih
"Sabar, belanda masih jauh"
"Dimana bund" Tanya Gozi anaknya Fariz
"Dinegaranya"
Sebenarnya, semua orang tua sudah tidak fokus dengan obrolan mereka. Mereka menyimak apa yang diucap oleh Alana
"Udangnya kita angkat. Dan tiriskan" Alana meniriskan udang
"Kita masukkan bumbu-bumbunya. Wajan masih ada minyaknya ya.. Masukkan bawang titi"
"Bawang titi apa bund?" Tanya Fawas
"Bawang putih"
"Masukkan cili atau cabe merah, masukkan bawang holand"
"Bawang Holand apa bund" Tanya anaknya Husayn ( Ada yang ingat nama anaknya Husayn? Author lupa hihi)
"Bawang Bombay. Biar kalian, tidak nangis bombai"
"Hmmm enak" Sekarang Hawa yang sudah mulai mendekat
"Kacau kacau kacau" Alana mengaduk bumbu tersebut diatas wajan "Masukkan air lemon sikit ya, masukkan garam, gula pasir, sedikit micin" Alana sedikit lirih ucapnya micin. Takut dilarang oleh para dokter
"Kacau lagiiii sampai kacau balau. Masukkan kecap sotong, tomat iris, sedikit sayur sayuran. Kacau kacau kacauuuuuuu. Terakhir masukkan sedikit air, dan udang tadi.. Brakkkk"
Alana menutup masakannya dengan tutup wajan
"Tunggu sekejab ya"
"Bunda, baunya sudah nggak tahan nih bund"
"Lapaaaaaaarrrrr"
"Hahaha bunda sengaja biar kalian itu ngiler. Kita bukaaaaaa" Ucap Alana
WAAAAAAAHHHHH LEZAAAAAT
"Oke, matikan kompor, kita ambil dalam mangkuk besar, masukkan dan sajikaaan"
Hanan mendekat "Tumben bunda pinter masak"
"Kan tinggal nyemplungin aja mas. Yang bikin bumbu bibi semua ahahaha"
BERSAMBUNG.....
-
__ADS_1