Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 50


__ADS_3

Alana sudah didudukkan dikursi makan, yang biasa ia tempati sebelum sebelumnya


"Bik, tolong ambilin sendal rumahan buat ibu bik" Ucap Hanan pas menurunkan Alana dari gendongan


"Baik tuan"


Bibik dengan cekatan, mengambilkan sandal yang diminta oleh majikannya


"Ini tuan" Simbok menaruh sendal, didepan kursi Alana


"Makasih ya bik..." Ucap Hanan dan Alana bersamaan


Mereka sarapan tanpa Imran. Hari ini, tumben Imran belum bangun dari tidurnya. Mungkin karena mendung, jadi lumayan dingin, dan enak untuk bermalas malasan


-


Setelah selesai sarapan, Hanan berdiri akan mengambilkan tongkat untuk Alana


Setahu Alana, Hanan akan berangkat bekerja, tapi tanpa pamit padanya


Hati Alana tercubit


"Mbak, mbak Rasti " Panggil Alana sambil menoleh kebelakang, yaitu kamar Imran


Rasti mendekat "Iya bu"


Rasti sudah melihat Hanan membawa tongkat, tapi tidak faham untuk siapa


"Bantu aku kekamar ya mbak" Ucap Alana sendu


Alana berbelok memakai sendal slop yang tadi bibi ambilkan


"Mau kemana?" Suara Hanan mengagetkan Alana


"Kakak" Alana terkejut


"Mau kemana?" Tanya Hanan kembali


"Mau masuk kekamar" Ucapnya sedikit salah tingkah


"Nggak ingin mengantar kakak dulu sampai depan" Hanan menyodorkan tongkat untuk Alana "Coba dipakai tongkat ini" Hanan memasangkan tongkat itu dibawah ketiak Alana "Ayo, coba berjalan" Hanan merangkul Alana, lalu melepasnya


"Kakak"


"Iya ayo jalan kemari" Hanan sedikit menjauh


Alana berhenti "Masih susah"


"Latihan agar bisa, yuk"


Hanan berjalan disamping Alana


"Apa perlu, kakak gendong?" Godanya


"Ih jangan, malu" Alana tidak berani menatap Hanan


"Kalau gitu, belajar pakai tongkat oke"


"Iya"


-


Hanan sudah berdiri diteras, lalu berpamitan untuk berangkat kerja "Ya sudah, hati hati. Kalau mau keatas, kakak ngijinin kok. Kan sudah pakai tongkat" Ucapnya sedikit menggoda


"Kakak, maafin aku. Jangan diungkit terus"


Hanan terdiam, Alanapun sama. Mereka saling tatap. Sebenarnya Hanan tidak ingin meninggalkan Alana. Ada sedikit kasihan, apalagi kakinya sedikit cidera. Pasti tidak bisa bergerak bebas


"Apa... Mau ikut kerumah sakit saja?" Tawar Hanan


Alana tidak menjawab, dia masih sedikit takut. Takut ditinggal Hanan terlalu lama mengerjakan ini itu, nanti malah tambah jenuh


Alana mulai duduk dikursi teras dengan susah payah


"Hati hati. Iya, jadi ikut kerumah sakit?" Tanyanya entah sudah keberapa kali


"Aku takut ganggu kak. Nanti kakak kurang konsentrasinya"

__ADS_1


"Iyakah... Sekarang juga sudah kurang konsentrasinya" Hanan mendekati wajah Alana "Kakak takut kalau kamu ingin naik lagi"


"Kakak sudah jangan ungkit lagi. Mendingan kakak berangkat saja. Bukankah nanti sore kita jadi ke Jakarta?"


Tangan Hanan mengulur, mengusap rambut Alana "Jadi. Kakak sudah bilang sama bibi, untuk mengemas baju kita. Tapi jangan banyak banyak"


"Oh"


"Iya, jadi, mau ikut nggak?" Tawar Hanan kembali


Alana tersenyum "Aku tidak akan naik keatas, dan aku tidak akan ikut kakak"


"Lalu?"


"Aku mau duduk"


"Dasar" Tangan Hanan mengulur untuk bersalaman dengan Alana


Alana meraih tangan Hanan, lalu menciumnya


Hanan membungkuk mencium pipi Alana, dan kembali mengusap rambut Alana


"Baiklah, kakak kerja dulu ya?" Pamitnya dan segera masuk kedalam mobil


-


Sore hari


Alana sudah mandi, dan berdiri dihalaman bersama Imran dan tentunya ada Rasti disana


Mobil Hanan baru sampai dirumah. Begitu parkir beres, Hanan turun dan mendekati anak dan istrinya


Hanan melihat Istri dan anaknya yang sudah pada rapih "Lagi ngapain ?"


"Daddyyyy.." Teriak Imran merentangkan tangan ingin diangkat oleh Hanan


Hanan segera menyambut. Hanan mengangkat Imran dan mengembannya "Hallo sayang... Tadi nakal nggak sama bunda?"


Imran geleng geleng "Enggak dad.. Imlan cayang bunda"


"Bagus. Putra daddy harus penyayang ya.. " Ucap Hanan sambil mengusap dan mencium kepala Imran


Hanan tersenyum menatap Alana, lalu merangkul Alana yang masih berdiri didepannya "Kakinya masih sakit ? Cup" Hanan bertanya sekaligus mencium pelipis Alana


"Ih daddy.... Daddy jangan cium cium bundaaa" Larang Imran


"Sedikit" Jawab Hanan


"Ndak boleh dad..." Larang Imran lagi sambil kakinya meronta


"Ya ya, daddy kembaliin cup" Hanan kembali mencium pelipis Alana ditempat yang sama


Alana tersenyum mengejek "Makanya, didepan Imran itu nggak usah bikin ulah" Alana berbelok, dan berjalan mendahului mereka berdua


"Kan kangen bund" Jawabnya sambil menggoda wanita yang sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat


"Ih jangan keras - keras, kalau Imran dengar, tidak terima dia"


"Biarin, ntar kuulang lagi seperti tadi"


"Ih nggak mau. Ntar dilihat orang, dikira lebay"


"Biarin, paling - paling mereka iri, hayo mau apa" Hanan merangkul Alana, agar Alana masuk kerumah "Ayo masuk, jangan mikirin orang lain"


-


Akhirnya mereka pulang ke Jakarta


Malam ini pukul 19:00. Hanan membawa Alana, Imran, Rasti, Sholeh dan juga bibik. Bertolak ke Jakarta, dan langsung menuju kerumah Ilham untuk menghadiri acara arisan bulanan


Hanan duduk didepan bersama pak sholeh. Sedang jok belakang, diisi oleh bibik, Alana, Imran, dan juga Rasti


"Sayang pusing nggak ?" Tanya Hanan pada Alana


"Nggak kak"


"Ih bund, kok bundaaa" Imran mau protes, tapi bingung ngomongnya

__ADS_1


"Eh, nggak pusing dad" Jawaban Alana, Alana ralat


"Oh, kalau bibik mabuk kendaraan nggak?" Tanya Hanan pada bik Surti


"Nggak tuan"


"Bener?"


"Bener tuan" Jawabnya semangat


"Semangat amat bik. Hayo, bibi punya pacar ya di Jakarta?" Ledek Hanan


"Ih ya nggak tuan. Dari kecil saya kan penasaran ingin lihat Jakarta tuan. Ingin tau, jakarta itu warnanya apa?"


"Whatt.... Maksud bibi apa?"


"Ya penasaran ingin lihat gedung gedung tinggi tuan"


"Haha disini kan banyak bik, gedung bertingkat"


"Ah tuan, saya inginnya melihat gedung seperti ditipi tipi tuan"


"Memangnya bibik hanya ingin melihat gedung tinggi saja?"


"Kalau bisa, saya ingin bertemu dengan artis sinetron tuan"


"Apa!!! artis?"


"Hehe iya tuan"


"Baiklah, ntar bibik pasti lihat tiga artis"


"Iyakah tuan. Rumahnya dekat dengan rumah tuan?"


"Tidak, kami berjauhan. Nanti bibik akan terkesima, pada saat bibik menatap para artis yang datang keacara arisan bulanan ini"


"Wah, mereka ikut arisan juga ya tuan"


"Iya dong"


"Maksud kakak... Eh, maksud daddy kak Fatih, kak Husayn dan kak Fariz?" Alana penasaran


"Iyalah, siapa lagi. Bibik kan belum pernah lihat. Biar pusing bund si bibik"


"Pusing kenapa tuan?? " Tanya Surti


"Nggak. Obat anti nyeri kepala sudah disiapkan kan bund ?" Tanya Hanan


"Sudah tuan, dibagasi ada palu tuan hehe" Srobot Sholeh, membuat Hanan langsung menoleh kearah Alana dengan terheran heran


"Sejak kapan Sholeh soak begini bund?" Hanan tepuk jidat


-


Sekitar pukul 1 dini hari, Hanan dan rombongan sampai dirumah papa Ilham dan mama Sifa


Sifa senengnya tidak ketulungan "Ya Allah nak, mama kangen banget sama kalian" Sifa langsung memeluk Hanan, dan mencium kening, lalu kedua pipi Hanan "Biasanya hanya beberapa hari, ini malah beberapa bulan tidak berjumpa"


Hanan memang tidak menghadiri arisan bulanan dirumah Fariz, rumah Fatih, dan rumah Husayn


Ketiga saudara kembarnya tidak memprotes karena mereka tau, Hanan masih sibuk menjalankan bisnis keluarga


Ilham juga sudah memeluk Hanan, dan juga Alana


"Kakimu kenapa nak?" Ilham baru sadar melihat Alana berjalan menggunakan tongkat


"Terkilir pa"


"Hati hati dong, katanya Imran mau punya adik bener? " Ilham masih memegang pundak Alana


"Iya pa"


"Imran, ikut grandpa yuk. Grandpa kangen" Rayu Ilham


Tapi, Imran tidak menggubris kakeknya ini


"Eh gitu ya, sombong sekarang. Oiya, Sana istirahat dulu"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2