Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 93


__ADS_3

Pagi harinya


Sebelum Hanan dan Alana berangkat bekerja, Imran akan berangkat sekolah terlebih dahulu, diantar oleh pak Sholeh


Seperti biasa, Alana dan Hanan mengantarkan Imran, walaupun sampai dimobil


Imran berpamitan, mencium tangan kedua orangtuanya


Begitupun Alana dan Hanan, mereka selalu bergantian mencium kedua pipi Imran, setelah Imran mencium tangan mereka


"Disekolah jangan nakal. Belajar yang pandai. Biar jadi.... "


"Pemain sepak bola bund"


Hanan dan Alana saling pandang


"Bukannya kemarin-kemarin ingin jadi pilot ya" Ucap Hanan


Alana manggut-manggut "Iya, cepet banget berubah ya dad. Sepertinya, besok juga bakalan ganti kayaknya dad" Bisik Alana tapi masih didengar Imran


"Jangan bisik-bisik bund, kakak masih mendengar" Ucapnya sambil mendongak, lalu naik kemobil, lewat pintu belakang. Imran masih berdiri ditengah pintu mobil


"Eh"


"Dulu, kakak bercita-cita ingin menjadi pilot, agar bisa membawa bunda dan daddy terbang keangkasa" Ucap Imran menjelaskan


"Terus, sekarang kok berubah. Kenapa ingin menjadi pemain sepak bola" Kini Alana yang penasaran


"Karena kakak ingin bermain menggunakan sepatu berteknologi tinggi, dengan jutaan penonton yang memenuhi stadion teeeer besar. Membela negara tercinta, dan memenangkan piala dunia, lalu mendapatkan gelar pemain terbaik dan termahal sepanjang masa" Jelas Imran lagi


"Ini pasti gara-gara habis nonton iklan sepak bola. Sudah bund, nanti kakak kesiangan" Hanan segera menggandeng tangan Alana, dan akan menutup pintu mobil


"Daddy.." Alana menghentikan aksi Hanan untuk menutup pintu "Mungkin, itu hanyalah cita-cita masa kecilnya dad. Kita bercita-cita seperti itu, karena kita menganggap semua itu adalah suatu hal yang hebat dan keren. Betul kan kak?" Tanya Alana pada Imran


"Betul bund, bunda hebat"


Jawaban Imran membuat Hanan tersenyum mengejek pada Alana "Iya, bunda selalu hebat"


Alana menyenggol lengan Hanan "Hey... Jangan cemburu. Aku misalnya, apa pernah aku bercita-cita ingin menjadi bidan. Eh, sekolahnya dikebidanan. Padahal dulunya aku ingin menjadi pramugari upss" Alana menutup mulutnya sendiri dengan tangannya, Hanan kembali tersenyum melihat istrinya curhat didepan putranya


"Habis itu, dinikahi dokter, yang galaknya minta ampun. Udah nggak dapat jodoh lain, dapatnya mantan kakak ipar lagi. Begitu kan bund? Hayo ngaku" Hanan membalas menyenggol lengan Alana, sampai Alana hampir terjatuh. Dan dengan sigap, Hanan langsung menangkap


Alana segera memeluk pinggang Hanan "Hehe mas ngakuin ya.. Kalau mas itu galak"


"Eng.. Kan kamu yang sering ngatain mas begitu" Ucapnya sambil membungkuk, sampai wajah mereka hampir tabrakan "Tapi sekarang sudah nggak galak kan?"


Alana terdiam tidak menjawab Hanan, tetapi malah melepas tubuh Hanan, agar Imran tidak protes. Lalu, mendudukkan Imran, agar Imran segera duduk dan berangkat kesekolah


"Bunda, nggak pa-pa kan, kalau kakak ingin menjadi pemain sepakbola"


Alana mengangguk "Boleh, bunda harap, kau bercita-cita sebanyak pasir dipantai, setinggi angkasa dan sedalam samudra. Agar kau terus mengembangkan dirimu untuk menjadi manusia yang berguna bagi dunia"


Imran manggut-manggut


"Mana dia faham bund, kamu bicara seperti itu. Jangan-jangan kakak besok cita-cita nya berubah, ingin mengumpulkan pasir, lalu besoknya lagi ingin menyelam, besoknya lagi terbang"

__ADS_1


"Faham daddy... Kakak sudah besar. Bu guru selalu bilang seperti bunda"


"Ehhh?? Ya sudah, sana berangkat. Ntar kesiangan" Usir Hanan


Alana segera memegang lengan Hanan, takut suaminya akan bicara lagi, lalu ucapannya akan menyakiti putranya


"Siap dad, bund.. Kakak berangkat" Ucap Imran sambil melambaikan tangan, lalu menutup pintu, dibantu Hanan


"Eh, ternyata kakak nggak tersinggung"


"Tersinggung kenapa?"


"Barusan diusir oleh mas"


"Itu bukan ngusir bund... Keburu siang"


-


Setelah mobil yang membawa Imran melaju, Alana dan Hanan segera masuk ke paviliun, dimana pasangan Rasti dan Sholeh tinggal disana


Altaaf seperti biasa, bermain dengan Rasti dan putri dari Rasti, hasil pernikahannya dengan Sholeh


Dilihatnya, Altaaf begitu gembira bermain dengan Kamila, putri pasangan Rasti dan Sholeh, yang usianya masih beberapa bulan


"Sayang, Bunda dan daddy berangkat kerja dulu ya.. Dedek dirumah sama mbak Rasti, sama bik Surti, ya" Pamit Alana, dibarengi dengan Hanan


Hanan mengangkat tubuh Altaaf


Mereka berdua sudah menciumi pipi Altaaf


"Iya sayang"


-


Dirumah sakit


Hanan mulai sibuk dengan pekerjaannya


Ada salah satu pasien yang berkonsultasi tentang kandungan, dan mempersiapkan program kehamilan. 


Mereka berkonsultasi untuk mengetahui tingkat kesuburan. 


Tujuan tahap awal ini adalah untuk mendeteksi faktor risiko yang bisa membahayakan ibu dan janin saat menjalani kehamilan. 


Konsultasi kehamilan juga memberi banyak manfaat


"Silahkan duduk" Hanan mempersilakan pasutri untuk duduk


Pasangan tersebut sudah duduk


"Ini suaminya?" Tunjuk Hanan pada pria yang usianya sekitar 35 tahun, seperti dirinya


"Iya dok, dia suamiku"


"Emm, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Iya dok. Begini. Kami sudah sepuluh tahun berumah tangga, tapi sampai saat ini belum memiliki keturunan. Dan kedatangan kami kemari, untuk berkonsultasi sama dokter, langkah apa yang harus kami tempuh agar kami segera memiliki keturunan"


"Baik, ibu sudah pernah konsultasi dimana selain didokter kandungan bu?"


"Saya sudah pernah kedukun pijat dok, kata orang-orang agar didekatkan kandungannya. Ternyata nihil"


"Terus"


"Minum jamu ramuan, agar cepat hamil. Makan sate kelinci, biar anaknya banyak. Makan jantung pisang, sampai batangnya juga dimakan, biar punya anak banyak"


Hanan tersenyum sambil mencatat curhatannya "Terus"


"Hasilnya nihil dok"


"Eng, kalau boleh tau usia ibu berapa sekarang?"


"31 tahun, dan suami sudah 36 tahun"


"Ohh. Jadi, kali ini baru konsultasi dengan dokter?" Tanya Hanan kembali


"Sudah dok. Dulu pernah mencoba konsultasi dengan dokter kandungan lain"


"Terus"


"Hasilnya nihil juga"


"Lalu, kenapa kali ini konsultasi kedokter lagi. Kalau gagal lagi bagaimana?"


"Jangan begitu dok, jangan mematahkan semangatku. Aku sudah minta referensi pada teman, dan teman saya menyarankan untuk datang kedokter Hanan. Dan kami yakin, bahwa dokter bisa membantu kami"


"Apa yang membuat anda yakin"


"Dari keberhasilan dokter membantu temanku, yang tadinya dicap mandul, sekarang berhasil memiliki keturunan. Dan satu lagi dok"


"Iya"


"Dokter ternyata lulusan terbaik diluar negeri. Jadi, kami makin mantap kemari"


"Baiklah, secara fisik dan emosional dalam menghadapi kehamilan, kita harus mencegah kelainan yang mungkin terjadi selama masa kehamilan yaitu, mencegah bayi cacat lahir, mencegah infeksi pada bayi baru lahir, mencegah penularan HIV atau infeksi menular sek sual dari ibu ke bayi, mencegah risiko bayi lahir stunting, menurunkan risiko kanker, menurunkan risiko diabetes tipe 2, juga penyakit jantung dan pembuluh darah di masa depan. Jadi, apa bapak dan ibu siap?"


"Siap dok"


"Sekarang, USG dulu, setelah selesai, kita akan melakukan tes darah. Siap?"


"Siap"


"Sekarang, ibunya diperiksa dulu"


Selain itu, pihak pria disarankan untuk menjalani pemeriksaan tes urin, pemeriksaan sper ma, biopsi testis, dan vasography.


Catatan : Khusus bagi pasangan usia di atas 35 tahun, sampai usia 40 tahun. Karena Evaluasi dan perawatan kesuburan ini, bisa dilakukan setelah enam bulan berhubungan in tim tanpa kontra sepsi. 


Hanan melakukan pemeriksaan USG, bertujuan untuk melihat perkembangan janin yang ada di dalam rahim.


Hanan manggut-manggut "Kandungannya bagus. Insya Allah, masihlah ada harapan"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2