Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 96


__ADS_3

Alana berjalan menuju ke ruangannya, dan berkutat pada pekerjaannya. Karena satu jam kedepan, akan diadakan meeting antar komite


Kemarin lalu, Hanan pernah bilang akan membuka lowongan untuk bagian management, untuk mengisi kepala bagian yang masih kosong. Agar struktur organisasi dirumah sakit ini standar memenuhi syarat


Disini juga banyak dokter yang sudah bergabung di PT ASSIFA ini, dari RSUD terdekat, untuk merangkap tugas dirumah sakit ini


Dari dokter anak, kandungan, ahli gizi, radiografi, perekam medis, apoteker, perawat, dan lain sebagainya


-


Alana sudah duduk diruang meeting bersama kepala bidang layanan medis dan keperawatan yaitu pak Anam, dan kepala bidang perencanaan dan pembangunan yaitu pak Zakariah.


Alana mengedarkan pandangannya. Tak sengaja, ia melihat pemuda tadi pagi yang bertabrakan dengannya


Dan ternyata, kepala bidang umum promosi dan pelayanan, yang Hanan bicarakan padanya, diisi oleh Pijar


"Pijar... Dia kepala bidang baru to rupanya"


Pijar tersenyum menyapa Alana, yang sudah diapit oleh atasan Alana yaitu bapak Anam, dan bapak Zakariah.


Tak berapa lama, Hanan masuk keruangan, bersama papa Ilham sang penasehat dirumah sakit ini, dan Hassan sang kakak ipar Hanan, yang termasuk pemegang saham terbesar nomor dua setelah Hanan dirumah sakit ini


"Papa, abang. Kok aku nggak tau mereka datang ya" Bathin Alana


Rapat bulanan kali ini, membahas tentang promosi pada rumah sakit ini


Bagi Ibu hamil dan ibu yang memiliki anak, RSIA "ASSIFA" menjadi solusi ternyaman memeriksa, ketimbang harus memeriksakan diri ke rumah sakit umum.


Pasalnya, rumah sakit yang Hanan pimpin ini, memberikan perawatan dan pelayanan medis terlengkap bagi kesehatan ibu dan anak.


Berbeda dengan rumah sakit umum. Dengan pasien yang lebih beragam, rumah sakit ini terbatas, hanya menerima pasien ibu dan anak saja.


Kendati demikian, justru keterbatasan inilah yang menjadi nilai lebih tersendiri.


Kecanggihan teknologi medisnya pun jauh lebih lengkap yang dikhususkan untuk kesehatan ibu dan anak.


RSIA ini, semakin hari semakin ramai peminat. Dan dokternyapun bukan hanya Hanan dan Hanna saja, melainkan dokter SpOG terbaik sudah berderet dirumah sakit ini.


-


Siang ini diakhir bulan


Seperti biasa, Hanan selalu mengumpulkan seluruh staff dan manajemennya, untuk membahas promosi, dan membahas kerjasamanya dengan salah satu asuransi


Jangan sampai finansial jadi berantakan, karena tagihan rumah sakit dan biaya pengobatan yang mahal.


Karena menentukan rumah sakit ibu dan anak, perlu matang dipertimbangkan. Sebaiknya pilih rumah sakit yang bekerja sama dengan asuransi kesehatan yang terbaik yang direkomendasikan oleh RSIA "ASSIFA" ini


Apalagi, RSIA "ASSIFA" memiliki banyak poliklinik. Jika tidak dipromosikan, RSIA ini bisa tenggelam, karena orang tidak tau kalau RSIA ini komplit fasilitasnya


Sebelumnya, Ilham dan Hassan diajak mengelilingi seluruh poliklinik yang ada di RSIA ini


Pertama, ada poliklinik kebidanan dan kandungan. Ilham begitu bangga dan tidak menyangka, salah satu putranya mampu menjalankan perusahaan keluarga, dibidang kesehatan


Selanjutnya, mereka melewati poliklinik gigi anak dan dewasa, yang sudah ada beberapa pasien yang antri disana.


Ilham tersenyum kembali, lalu mengusap punggung lebar anaknya "Apa poliklinik disini semuanya sudah buka praktik semua?" Tanya Ilham pada Hanan


"Alhamdulillah sudah pa"


Ilham manggut-manggut, sambil membaca

__ADS_1


"Poliklinik alergi anak. Hmm, bagus. Terlihat nyaman"


"Lihat depan pa, poliklinik tumbuh kembang anak, ada pasiennya juga pa" Ucap Hassan tak kalah bangga pada Hanan. Hassan menepuk pundak Hanan "Abang bangga padamu Han"


"Hehe, semuanya karena ada dukungan dari kalian semua bang"


Satu jam ini, mereka sudah mengelilingi rumah sakit ini, dari lantai satu hingga kelantai dua


"Itu atas masih dibangun lagi?" Tanya Ilham


"Iya pa"


"Apa tu"


"Itu rencana untuk memindahkan poliklinik bedah umum, poliklinik THT yang baru, poliklinik kulit dan kelamin, poliklinik penyakit dalam dan laktasi. Rencana akan kita pindahkan keatas pa.


Selain itu, fasilitas dan pelayanan medis lainnya seperti Neonatal Intensive Care Unit (NICU), Pediatric Intensive Care Unit (PICU), fasilitas USG 3 dan 4 dimensi serta kamar rawat inap, juga harus dipindahkan dan diperlebar. Apalagi rumah sakit ini sudah ada maternity class dan one day care, harus tertata dan lengkap"


Ilham dan Hassan manggut-manggut lagi


"Mana sih kamar perawatan ibu, rawat bayi, rawat anak, kamar bersalin. Dilantai berapa kok sepi"


"Dilantai bawah pa. Kalau lantai dua khusus poliklinik"


"Ohh... Lalu, fasilitas dan pelayanan kesehatan yang diunggulkan dirumah sakit sini apa tuh" Ilham penasaran sekali. Rasanya berbeda. Jika dulu Ilham bekerja dirumah sakit milik besannya, biasa saja. Tapi setelah anaknya yang memiliki, rasanya bangga tak terkira. Makanya Ilham ingin taunya lebih besar, ketimbang dulu


"Pemeriksaan kesuburan dan inseminasi, peminatnya lumayan banyak pa"


"Terus, hanya itu"


"Tidak. Masih ada lagi"


"Apa tu"


"Terus, bayi tabung. Ada peminatnya juga nggak" Tanya Ilham


"Ada pa. Malah, pasien sekarang bebas. Bisa memilih jenis kelamin bayi, saat proses pembuatan bayi tabung"


"Wih... Rupanya sudah kayak rumah sakit besar beneran ni"


"Haha.. Biayanya kan juga sudah banyak pa"


Hassan mendekati Hanan "Tinggal buka poliklinik jantung. Biar Fatih kamu tarik kesini"


"Terus. Dirumah sakit abang, nggak ada kak Fatih dong"


"Masih. Kan ada Husayn"


"Nanti Husayn juga ikut kesini kalau kak Fatih kesini"


"Ha ha iya, ya"


-


Pukul 17:00 Rapat sudah selesai


Alana berdiri, lalu mendekati sang mertua, setelah Hanan dan Hassan berjalan didepan


"Pa"


Ilham berhenti, lalu menoleh

__ADS_1


Alana segera mengambil tangan Ilham, lalu menciumnya "Alana kok tidak tau kalau papa sudah datang. Papa datang kapan?"


"Barusan bersama abang.." Ilham berhenti bicara, lalu mengabsen Alana "Eh, menantu papa rupanya. Kirain siapa" Ilham terkekeh. Menantunya saja lupa


"Papa.." Alana menghentakkan kakinya kelantai "Ih papa, sama menantunya lupa"


Hanan dan Hassan menoleh karena ada suara ribut-ribut dibelakang. Tapi serius kembali karena sudah biasa ribut kecil antara mertua dan menantu


Ilham langsung merengkuh Alana "Maaf.. Papa kira kamu karyawannya Hanan"


"Memang karyawannya"


"Bukan begitu maksud papa. Tadi papa serius. Nggak sempatlah papa melirik-lirik mantu papa yang diapit para pria"


"He he he mereka atasanku pa"


"Jadi, bukan salah papa kan?"


Alana mendongak kesamping "Hehe.. Pa, mama Sifa nggak diajak"


"Diajak"


"Oiya. Dimana"


"Diatas"


"Oke deh, papa.. Papa jalan sendiri ya. Alana akan keatas" Alana langsung lari terbirit-birit, sampai melewati Hananpun, dia tidak pamit


Tangan Ilham menjulur, dan belum sempat melarang


"Hei mau kemana" Suara Hananpun mencegah, tapi Alana tidak menggubris. Cukup berlari saja


"Kangen sama mama katanya" Jawab Ilham, membuat Hanan mundur agar sejajar dengan Ilham.


Hassanpun sama. Mereka bertiga berjalan berjajar, sampai hampir menutupi jalan


-


Pijar Pov


Pijar menatap Alana penasaran. Tapi dia terlalu gengsi menanyakan siapa sebenarnya Alana itu


Tadi diruang meeting, Pijar mencuri pandang pada gadis yang pernah ditabraknya waktu itu


Tapi begitu selesai rapat, Pijar disuguhi Alana yang begitu akrab dengan dokter senior, seperti ayah pada anaknya. Padahal, Pijar sedikit tau, kalau dokter Ilham itu, orang tua dari pemilik rumah sakit ini yaitu dokter Hanan


Lalu, sebenarnya siapa Alana itu. Adiknya dokter Hanankah? Atau sepupunya?


Pijar Pov End


-


Alana sudah membuka pintu ruang pribadinya


"Mama...."


Sifa, Imran, dan Altaaf menoleh


"Bundaaaaa"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2