Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 49


__ADS_3

Hanan benar benar kejam, Ia tidak mau mengantar Alana untuk pulang kerumah. Padahal kaki Alana cidera


Alana sudah sampai dirumah, disambut bik Surti, mbak Rasti, dan Imran


"Bundaaaaa" Teriaknya ingin memeluk Alana


Tadi pagi agak siangan, bik Surti, mbak Rasti, dan Imran, disuruh pulang oleh Hanan. Karena Imran capek dan mengantuk. Jadi, kepulangan Alana yang agak sorean, bisa sambut oleh mereka bertiga


"Eh eh eh, jangan sayang, ntar bundanya jatuh kasihan ya" Cegah Rasti. Rasti segera memapah Alana "Maafkan saya ya bu, harusnya tadi pagi saya ikut"


"Sttt sudah nggak apa apa, antarkan aku kekamar aja"


-


Malam harinya Hanan pulang, membawa tongkat untuk Alana


Rumah terasa sepi dan gelap


Hanan menaruh tongkat diruang tengah, dan ia segera masuk kekamar yang sudah ada Alana disana


Hanan masuk kedalam kamar. Ia sudah melihat Alana tertidur, yang tidak menggunakan selimut


Hanan tidak menyentuh Alana, kalau dirinya belum membersihkan diri


Beberapa menit kemudian, Hanan keluar dari kamar mandi


Hanan sudah melihat baju piyamanya, yang sudah disiapkan Alana, diatas kursi meja rias


Hanan tersenyum, meskipun tadi siang sempat gondok luar biasa, tapi istrinya masih memikirkan dirinya


Hanan memakai baju, didepan Alana tidur


Hanan mendekati Alana, lalu memegang kaki Alana yang sedikit menghangat


Alana sedikit kaget, karena ada tangan dingin yang memegang kakinya


Alana menggeliat, dan matanya terbuka "Kakak" Ucapnya masih takut takut


Hanan ingin memegang kaki Alana kembali, tapi Alana menarik kakinya, dan segera melindunginya. Seakan bilang, jangan dipegang


Alana terduduk dan bersandar dikepala ranjang


"Masih sakit ?" Tanya Hanan halus dan menghangat


Alana menggeleng "Nggak tau" Jawabnya takut - takut lalu menunduk mainan kaki yang masih terlilit deker


"Kok nggak tau"


Hanan akan memegang kaki Alana, tapi Alana mendorong tangan Hanan "Kalau hanya ingin mencet, jangan pegang - pegang" Larangnya


"Nggak, nggak dipencet. Cuma ngecek doang. Kok masih hangat sih tadi" Tunjuknya pada kaki Alana


Alana menyelimuti kakinya, agar tidak terlihat, lalu merebahkan tubuhnya kembali


Hananpun sama mengikuti Alana kembali


Hanan menoleh kearah Alana "Tadi sudah makan?" Tanya Hanan yang terus menghangat


"Sudah"


"Muntah?"

__ADS_1


"Tidak"


Hanan mengganti model tidurnya. Tadinya tidur telentang, sekarang tidur meringkuk kearah Alana


Tangan Hanan terulur "Kemari, tidurlah mendekat"


"Enggak, nanti kakak menyenggol"


"Baiklah, kita tukeran tempat" Hanan segera melangkahi Alana, bertukar tempat


Hanan tidur disebelah kiri Alana, agar tidurnya bisa berdekatan, karena kaki Alana yang sakit adalah, kaki sebelah kanan


Hanan mulai memeluk, lalu mencium pelipis Alana lammaaa "Maafin, daddy ya?" Hanan memeluk kembali, lalu mencium kepala Alana lama


Alana hanya terdiam, tangannya mulai bergerak, Dan memegang lengan Hanan yang ada didadanya


Hanan tersenyum "Yang sakit mana lagi hmm?" Hanan kembali memeriksa, ternyata lengan Alana terluka "Sudah diobatin kembali"


"Sudah"


Hanan kembali memeluknya "Maafkan daddy.. Daddy tidak kuat jika itu terjadi kembali" Hanan mengusap perut Alana, lalu kembali memeluk Alana erat "Daddy tidak ingin terjadi apa apa denganmu, daddy sangat - sangat sayang denganmu bund"


"Dad, aku ngantuk"


Jawaban Alana sebenarnya menyakitkan, bisa bisanya bilang mengantuk, disaat Hanan meminta maaf


"Ah, tidurlah sayang... Mimpi yang Indah. Daddy mencintaimu" Kembali Hanan mencium kepala Alana, dan memeluk tubuh istrinya


-


Pagi harinya


"Mau mandi?" Tanya Hanan


"Ayo, daddy mandiin"


Tangan kanan Hanan sudah dibawa paha Alana, sedang tangan kirinya memegang punggung Alana


Hanan mengangkatnya, membawanya kekamar mandi


Hanan mendudukkan Alana dicloset "Bisa membuka baju sendiri?"


"Bisa"


"Baiklah, ayo kita balapan"


Hanan melepas bajunya didepan Alana, dengan tak tau malunya. Hanan masih menyisahkan CD yang belum ia lepas. Tapi melihat Alana kesusahan melepas celana panjangnya Hanan langsung membantunya


"Sini sini, daddy bantu" Hanan membantu melepas seluruh baju Alana


Glek glek


Hati Hanan sedikit tergoda melihat lekuk tubuh istrinya yang sudah polos dan sangat menggoda


Tapi begitu melihat luka panjang pada tangan, dan kaki yang masih terbungkus deker, Hanan kembali iba. Ia buang jauh - jauh rasa kangen yang sudah merontah, dan ingin sekali menengoknya


"Kaki yang terbungkus deker jangan sampai kena air ya, bisa"


Alana mengangguk, dan mengangkat kaki kanannya sedikit, agar tidak terkena air


Hanan tidak jadi mandi bareng, bisa kacau jika Alana melihat kepunyaannya sudah on dibawah sana

__ADS_1


Hanan buru - buru memandikan Alana terlebih dahulu, Hanan takut khilaf dan melakukan itu, padahal istrinya masih sakit. Sabar ya Hanan


Setelah selesai memandikan istrinya, Hanan menyelimuti Alana dengan handuk


"Ayo, kalungkan tanganmu"


Alana mulai mengalungkan tangannya pada leher Hanan. Hanan membopongnya kembali, dan menurunkan Alana diatas kasur


Setelah sudah ia turunkan, kembali Hanan mengambilkan daleman dan baju untuk Alana


Hanan memakaikan CD nya kepada Alana, untuk yang kedua kalinya waktu dipaksa dulu


"Kakak tidak sekalian mandi?"


"Tidak, biar kamu cantik dulu, baru kakak" Hanan sering lupa - lupa menyebutkan dirinya didepan Alana


Mungkin kalau groginya tingkat tinggi, dia akan menyebutnya kakak.


"Iya"


"BH nya pakai sendiri ya, kakak tidak bisa"


Ingin sekali Hanan menghisapnya, dua buah segar itu melambai lambai.


Hanan menghela nafas panjang, dan berkali kali agar sahwat didalam dirinya segera memudar. Sabar Hanan...


Setelah Alana sudah memakai baju lengkap, Hanan mengambilkan alat make up yang ada dipouch


Alana tidak banyak memakai alat kecantikan yang komplit, dia hanya memakai sekedar, agar tidak terlihat pucat.


Diantara seluruh menantu dokter Ilham, hanya Alana yang terlihat masih lugu


Kalau Hawa bisa berdandan, tapi alisnya sudah bagus walau tidak dikerok. Tapi tetap, Hawa pakai perawatan, hanya saja masih tingkat tengahan, dibanding mendiang kakaknya, Viviana dan Ratna, dandannya Sudah kelas tinggi. Apa - apa perawatan, dikit - dikit kesalon


Mungkin karena mereka wanita karier dan berpenghasilan


Berbeda dengan Alana. Alis saja masih tebal, tidak dikerok seperti mendiang kakaknya, Viviana, Ratna. Semuanya pintar bersolek. Sedang dirinya tidak bisa. Ditambah, begitu menikah sudah punya anak. Tidak ada yang mengajarinya. Semua iparnya jauh semua, malu jika minta bantuan sama mamanya dan mama mertua. Bisa bisa dandannya model tua. Alana tidak ingin ikut ikut seperti mereka. Biarlah menjadi diri sendiri


Kembali ke Hanan dan Alana


Dalam kesusahan pun, Alana tetap memilihkan dan mengambilkan baju untuk suaminya


Hanan keluar dari kamar mandi


Hanan melihat Alana menaruh bajunya diatas kursi meja rias seperti biasa


"Kalau masih sakit, jangan membantu. Biarlah daddy ambil sendiri"


"Tidak apa apa, tadi kakak memakaikan baju juga padaku. Aku hanya ingin kita saling bantu"


Hanan menatap Alana sendu, kembali Hanan memeluk Alana, meskipun belum memakai baju secuilpun


"Kau memang pandai, jadi tak tega kan, kakak ninggalin kamu dirumah" Hanan tersenyum


Hanan mulai memakai daleman didepan Alana tanpa malu secuilpun


Alana membantu mengancingkan kemeja, dan merapihkan krah, setelah melilitkan dasi nya pada leher Hanan


"Sini kakak angkat" Ucap Hanan yang akan mengangkat tubuh Alana


"Nanti Imran ngiri kak"

__ADS_1


"Nggak apa apa, tumpuk aja diatas tubuh sayang ya" Candanya sambil membopong tubuh Alana, menuju ruang makan


BERSAMBUNG.....


__ADS_2