
Hanan benar benar kejam, Ia tidak mau mengantar Alana untuk pulang kerumah. Padahal kaki Alana cidera
Alana sudah sampai dirumah, disambut bik Surti, mbak Rasti, dan Imran
"Bundaaaaa" Teriaknya ingin memeluk Alana
Tadi pagi agak siangan, bik Surti, mbak Rasti, dan Imran, disuruh pulang oleh Hanan. Karena Imran capek dan mengantuk. Jadi, kepulangan Alana yang agak sorean, bisa sambut oleh mereka bertiga
"Eh eh eh, jangan sayang, ntar bundanya jatuh kasihan ya" Cegah Rasti. Rasti segera memapah Alana "Maafkan saya ya bu, harusnya tadi pagi saya ikut"
"Sttt sudah nggak apa apa, antarkan aku kekamar aja"
-
Malam harinya Hanan pulang, membawa tongkat untuk Alana
Rumah terasa sepi dan gelap
Hanan menaruh tongkat diruang tengah, dan ia segera masuk kekamar yang sudah ada Alana disana
Hanan masuk kedalam kamar. Ia sudah melihat Alana tertidur, yang tidak menggunakan selimut
Hanan tidak menyentuh Alana, kalau dirinya belum membersihkan diri
Beberapa menit kemudian, Hanan keluar dari kamar mandi
Hanan sudah melihat baju piyamanya, yang sudah disiapkan Alana, diatas kursi meja rias
Hanan tersenyum, meskipun tadi siang sempat gondok luar biasa, tapi istrinya masih memikirkan dirinya
Hanan memakai baju, didepan Alana tidur
Hanan mendekati Alana, lalu memegang kaki Alana yang sedikit menghangat
Alana sedikit kaget, karena ada tangan dingin yang memegang kakinya
Alana menggeliat, dan matanya terbuka "Kakak" Ucapnya masih takut takut
Hanan ingin memegang kaki Alana kembali, tapi Alana menarik kakinya, dan segera melindunginya. Seakan bilang, jangan dipegang
Alana terduduk dan bersandar dikepala ranjang
"Masih sakit ?" Tanya Hanan halus dan menghangat
Alana menggeleng "Nggak tau" Jawabnya takut - takut lalu menunduk mainan kaki yang masih terlilit deker
"Kok nggak tau"
Hanan akan memegang kaki Alana, tapi Alana mendorong tangan Hanan "Kalau hanya ingin mencet, jangan pegang - pegang" Larangnya
"Nggak, nggak dipencet. Cuma ngecek doang. Kok masih hangat sih tadi" Tunjuknya pada kaki Alana
Alana menyelimuti kakinya, agar tidak terlihat, lalu merebahkan tubuhnya kembali
Hananpun sama mengikuti Alana kembali
Hanan menoleh kearah Alana "Tadi sudah makan?" Tanya Hanan yang terus menghangat
"Sudah"
"Muntah?"
__ADS_1
"Tidak"
Hanan mengganti model tidurnya. Tadinya tidur telentang, sekarang tidur meringkuk kearah Alana
Tangan Hanan terulur "Kemari, tidurlah mendekat"
"Enggak, nanti kakak menyenggol"
"Baiklah, kita tukeran tempat" Hanan segera melangkahi Alana, bertukar tempat
Hanan tidur disebelah kiri Alana, agar tidurnya bisa berdekatan, karena kaki Alana yang sakit adalah, kaki sebelah kanan
Hanan mulai memeluk, lalu mencium pelipis Alana lammaaa "Maafin, daddy ya?" Hanan memeluk kembali, lalu mencium kepala Alana lama
Alana hanya terdiam, tangannya mulai bergerak, Dan memegang lengan Hanan yang ada didadanya
Hanan tersenyum "Yang sakit mana lagi hmm?" Hanan kembali memeriksa, ternyata lengan Alana terluka "Sudah diobatin kembali"
"Sudah"
Hanan kembali memeluknya "Maafkan daddy.. Daddy tidak kuat jika itu terjadi kembali" Hanan mengusap perut Alana, lalu kembali memeluk Alana erat "Daddy tidak ingin terjadi apa apa denganmu, daddy sangat - sangat sayang denganmu bund"
"Dad, aku ngantuk"
Jawaban Alana sebenarnya menyakitkan, bisa bisanya bilang mengantuk, disaat Hanan meminta maaf
"Ah, tidurlah sayang... Mimpi yang Indah. Daddy mencintaimu" Kembali Hanan mencium kepala Alana, dan memeluk tubuh istrinya
-
Pagi harinya
"Mau mandi?" Tanya Hanan
"Ayo, daddy mandiin"
Tangan kanan Hanan sudah dibawa paha Alana, sedang tangan kirinya memegang punggung Alana
Hanan mengangkatnya, membawanya kekamar mandi
Hanan mendudukkan Alana dicloset "Bisa membuka baju sendiri?"
"Bisa"
"Baiklah, ayo kita balapan"
Hanan melepas bajunya didepan Alana, dengan tak tau malunya. Hanan masih menyisahkan CD yang belum ia lepas. Tapi melihat Alana kesusahan melepas celana panjangnya Hanan langsung membantunya
"Sini sini, daddy bantu" Hanan membantu melepas seluruh baju Alana
Glek glek
Hati Hanan sedikit tergoda melihat lekuk tubuh istrinya yang sudah polos dan sangat menggoda
Tapi begitu melihat luka panjang pada tangan, dan kaki yang masih terbungkus deker, Hanan kembali iba. Ia buang jauh - jauh rasa kangen yang sudah merontah, dan ingin sekali menengoknya
"Kaki yang terbungkus deker jangan sampai kena air ya, bisa"
Alana mengangguk, dan mengangkat kaki kanannya sedikit, agar tidak terkena air
Hanan tidak jadi mandi bareng, bisa kacau jika Alana melihat kepunyaannya sudah on dibawah sana
__ADS_1
Hanan buru - buru memandikan Alana terlebih dahulu, Hanan takut khilaf dan melakukan itu, padahal istrinya masih sakit. Sabar ya Hanan
Setelah selesai memandikan istrinya, Hanan menyelimuti Alana dengan handuk
"Ayo, kalungkan tanganmu"
Alana mulai mengalungkan tangannya pada leher Hanan. Hanan membopongnya kembali, dan menurunkan Alana diatas kasur
Setelah sudah ia turunkan, kembali Hanan mengambilkan daleman dan baju untuk Alana
Hanan memakaikan CD nya kepada Alana, untuk yang kedua kalinya waktu dipaksa dulu
"Kakak tidak sekalian mandi?"
"Tidak, biar kamu cantik dulu, baru kakak" Hanan sering lupa - lupa menyebutkan dirinya didepan Alana
Mungkin kalau groginya tingkat tinggi, dia akan menyebutnya kakak.
"Iya"
"BH nya pakai sendiri ya, kakak tidak bisa"
Ingin sekali Hanan menghisapnya, dua buah segar itu melambai lambai.
Hanan menghela nafas panjang, dan berkali kali agar sahwat didalam dirinya segera memudar. Sabar Hanan...
Setelah Alana sudah memakai baju lengkap, Hanan mengambilkan alat make up yang ada dipouch
Alana tidak banyak memakai alat kecantikan yang komplit, dia hanya memakai sekedar, agar tidak terlihat pucat.
Diantara seluruh menantu dokter Ilham, hanya Alana yang terlihat masih lugu
Kalau Hawa bisa berdandan, tapi alisnya sudah bagus walau tidak dikerok. Tapi tetap, Hawa pakai perawatan, hanya saja masih tingkat tengahan, dibanding mendiang kakaknya, Viviana dan Ratna, dandannya Sudah kelas tinggi. Apa - apa perawatan, dikit - dikit kesalon
Mungkin karena mereka wanita karier dan berpenghasilan
Berbeda dengan Alana. Alis saja masih tebal, tidak dikerok seperti mendiang kakaknya, Viviana, Ratna. Semuanya pintar bersolek. Sedang dirinya tidak bisa. Ditambah, begitu menikah sudah punya anak. Tidak ada yang mengajarinya. Semua iparnya jauh semua, malu jika minta bantuan sama mamanya dan mama mertua. Bisa bisa dandannya model tua. Alana tidak ingin ikut ikut seperti mereka. Biarlah menjadi diri sendiri
Kembali ke Hanan dan Alana
Dalam kesusahan pun, Alana tetap memilihkan dan mengambilkan baju untuk suaminya
Hanan keluar dari kamar mandi
Hanan melihat Alana menaruh bajunya diatas kursi meja rias seperti biasa
"Kalau masih sakit, jangan membantu. Biarlah daddy ambil sendiri"
"Tidak apa apa, tadi kakak memakaikan baju juga padaku. Aku hanya ingin kita saling bantu"
Hanan menatap Alana sendu, kembali Hanan memeluk Alana, meskipun belum memakai baju secuilpun
"Kau memang pandai, jadi tak tega kan, kakak ninggalin kamu dirumah" Hanan tersenyum
Hanan mulai memakai daleman didepan Alana tanpa malu secuilpun
Alana membantu mengancingkan kemeja, dan merapihkan krah, setelah melilitkan dasi nya pada leher Hanan
"Sini kakak angkat" Ucap Hanan yang akan mengangkat tubuh Alana
"Nanti Imran ngiri kak"
__ADS_1
"Nggak apa apa, tumpuk aja diatas tubuh sayang ya" Candanya sambil membopong tubuh Alana, menuju ruang makan
BERSAMBUNG.....