Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 116


__ADS_3

Hawa berpelukan dengan Alana "Apa kabar Al?"


"Baik mbak"


Hawa mengusap perut Alana "Udah nambah lagi belum"


"Niatnya sih iya" Jawabnya malu-malu


"Tapi"


"Nggak tau"


Hawa menyenggol bahu Alana "Sering ditengokin nggak"


Alana mendorong Hawa "Ih mbak"


"Dibanding suami-suami kita, aku lihat bang Hanan kalem sendiri. Bener nggak sih"


"Kata siapa mbak, sama aja. Mbak ngliatnya dari mana sih"


"Lihat deh" Tunjuk Hawa "Mana pernah bang Hanan merangkul saudara-saudaranya. Suamiku yang rangkul-rangkul bang Hanan"


Alana ikut terhasut oleh Hawa 'Iya juga ya'


"Berarti mas Hanan sombong dong, nggak mau meluk-meluk saudaranya" Ujar Alana memperhatikan


"Ya nggaklah, suamiku aja yang kayak anak kecil. Lihat bang Husayn, dia juga sama, main rangkul. Tapi beda sama bang Fatih. Iya sibuk sama hape"


"Iya ya, keduanya begitu. Berarti??"


Hawa mengendikkan bahunya, tapi tak lama kemudian "Suamimu berarti dewasa. Kalau diranjang, sepertinya kamu ya yang minta duluan" Goda Hawa mengarang "Iya nih"


Pyarrr


Wajah Alana memerah seketika


Alana mendorong Hawa "Enak aja.. Mbak kali"


"Ahaha ketahuan"


Hawa tertawa sambil berlari kecil menjauhi Alana, lalu kedepan untuk menerima tamu lainnya


-


Setelah cipika cipiki, Ratna dan Viviana lebih suka bergerombol dan menghenyakkan tubuhnya di atas sofa.


Arisan keluarga


Kegiatan yang terasa menyenangkan buat siapa saja. Termasuk buat Alana.


Betapa tidak, diacara tersebut semuanya bisa bertemu dengan mertua, seluruh ipar, keponakan yang hebohnya setengah mati menikmati dunia


Tapi beberapa kali setelahnya, Alana mulai dilanda kejenuhan. Bagaimana tidak, acara itu kini sudah menjadi ajang lain dari yang semestinya.


"Kita butuh satu wadah yang bisa mengikat tali silaturrahmi keluarga. Kita ingin saling mengenal dan mengetahui kabar keluarga. Baik yang jaraknya berdekatan, terlebih yang jauh. Juga agar anak-anak kita saling mengenal dan akrab. Tidak asing satu sama lain" Ucapan papi dulu terngiang, waktu pertama kali Alana menjadi bagian dari keluarga disini


Dan Ilham setuju alasan Anand pada acara arisan waktu itu


Dan memasuki tahun ketahun, terasa mulai ada yang tidak beres.


Kedua kakak iparnya yaitu Viviana dan Ratna seperti punya kelompok, dan selalu serius jika mengobrol. Membuat Alana yang merasa kecil sendiri, minder dibuatnya.


Berbeda dengan Hawa, Hawa memang pandai dalam bergaul. Jadi fine saja buat dia


-


Karena suntuk, Alana tidak terlalu melibatkan diri dalam obrolan dan komentar seputar kegiatan para saudara ipar.


Daripada jenuh, seperti biasa, Alana mulai menyapa ponakan-ponakannya untuk berkumpul


Alana sudah mengabsen dari ponakan yang terbesar, sampai yang terkecil.


Sangat menyenangkan ikut dalam hiruk pikuk dunia bocah. Bernyanyi, mendongeng, berlari, mengejar, pokoknya sangat menyenangkan.


Setelah capek ngemong anak, Alana merasa lapar. Iapun mengambil aneka cemilan yang disuguhkan oleh tuan rumah


Seperti biasa, jika Alana mulai makan, anak-anak semuanya ikut makan semua


"Bundaaa masak kacau-kacau bund" Celetuk Faruq anak bungsu dari Fariz dan Hawa


"Hmm masak?? Masak apaan"


"TELOOOOR" Ucap seluruh cucu Ilham, termasuk Aaliyah keponakan Ilham


"Telor lagi"


"IYAAAA... "


Dan ini bagian yang Alana sukai dari arisan keluarga, yaitu memasak ala ibu-ibu ngamuk seperti Alana lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Kemarin sebelum berkumpul untuk arisan. Seperti biasa Hanan memberikan amplop coklat berisikan uang


"Apa ini, mas" Hanan mendadak muncul didekat Alana. Dan pikiran yang tadinya melayang-layang tak karuan memikirkan acara besok menguap.


“Biasa. Uang untuk arisan keluarga,”


“Di rumah siapa mas?”


“Fariz kan”


“Oh, iya. lupa” Tandasnya berlalu ke dalam kamar mandi


Setelah keluar "Bik Surti dan mbak Rasti diajak nggak mas"


“Tidak usah. Kita berempat saja yang akan pergi”


Lalu, Alana mengungkap uneg-unegnya soal arisan itu "Mas, sebenarnya arisan itu, aku tidak punya temen. Mbak Vivi, mbak Ratna sepertinya tidak suka denganku" Ucapnya sedikit takut


Tapi Hanan malah tertawa. Alana bingung. Apakah alasannya terlalu mengada-ada baginya.


"Sayang… Jangan jadikan itu masalah besar. Justru sebenarnya, kamu yang banyak teman"


"Maksudnya"


"Anak-anak selalu berkerubung mendekatimu" Hanan mengusap pucuk kepala Alana "Sebenarnya, mas juga sempat memperhatikan. Sepertinya, mereka menganggapmu bocah"


"Bocah itu kalau aku baru lulus SMA, baru bilang bocah. Orang udah beranak kok"


"Yaitu pandangan mas. Tapi selain itu, mas merasa, kamu itu disukai semua anak."


"Mending berteman dengan anak-anak. Nggak ada gap-gap an"


"Sudah, jangan terlalu tersinggung, jangan dimasukkan kehati. Karena ini acara keluarga besarku. Mas tidak mau ada salah paham" Tukas Hanan bijak


"Tapi aku sarankan ini dibicarakan secara tertutup dengan para orangtua. Aku ada usulan"


"Apa mas"


"Menurut mas, arisan ini diubah format kegiatannya aja. Bukan lagi hanya sekedar berkumpul, makan dan mengobrol. Tetapi ada aktifitas yang akan menggerakkan seluruh anggota. Mulai dari yang terkecil hingga yang paling tua"


"Apa mas"


"Kita mulai dulu dari kegiatan ringan. Jangan menghidangkan makanan sebelum tamu datang. Tapi kita memasak lauknya pada saat tamu datang. Anak remajanya yang di minta membuat. Didampingi oleh orang dewasa,”


"Maksudnya? Kita datang baru masak? Anak kita cowok mas. Mana bisa"


"Begini, kita bikin acara bakar-bakaran. Bakar ikan kek, ayam kek. Menunya sederhana saja. Nasi, sambal, lauk-pauk praktis serta sederhana lainnya. Tidak usah menu yang wah gitu kayak kemarin-kemarin….”


"Nggak masalah. Kan ada salah satu yang ahli"


Lalu mengalirlah gagasan dan ide segar dari Hanan, dan rasanya masuk akal.


"Arisan yang akan datang saja mas, pas kita penyelenggaranya. Biarlah kita sendiri yang mencoba menerapkannya. Mungkin akan ada penolakan dari satu dua keluarga. Tak mengapa. Yang penting mama papa setuju duly. Baru kita jalankan"


-


Lanjut


Alana sudah dikerubutin anak-anak


"Bundaaa... Ayo bund masak lagi bund.. "


"Telur ya"


"IYAAAAAAA"


"Baiklah, kita masak omelette mie teluuuur"


"Apa bund, suruh melet" Celetuk Fatihah


"Haha bukan. Omelette mie. Baiklah kita rebus mie goreng dahuluuuu. tapi jangan sama bumbunya ya" Alana menjeburkan mie instan ke panci yang ada air mendidihnya dua biji, lalu menutupnya. Setelah beberapa menit "Kita bukaaaaa"


"BUKA BUND... "


"Mienya tiriskan dulu...Sudah. Kalau sudah kita masukkan bumbunya, kita pecahkan telooooor lima biji" Teriak Alana


"Banyak amat telornya" Celetuk Fatih yang penasaran


"Nggak pa-pa ntar bertelor lagi" Alana menyanyi "Bertelor lagi, burungku iu iu iu"


"AYAMKU!!!"


"Ahaha.. Iya bunda lupa" Alana tertawa lebar


"Tambahkan apa bund" Fatihah ikut sibuk


"Lada hitam, irisan daun bawang, sedikit kaldu ayam, jangan lupa kasih irisan sosis" Alana menambahkan sosis sesuka hati


"Lalu kacau nggak bund" Goshi ikut-ikut berkonsentrasi dan komentar

__ADS_1


"Harus dong sayang, kacau-kacau-kacau" Alana mengaduk telur yang sudah dicampur bahan-bahan tadi


"Balau-balau-balau" Hawa ikut mendekat. Ternyata, bukan hanya Hawa. Semuanya ikut nonton sambil cengingisan


Selagi Alana mengaduk "Kalian akan tahu bagaimana repotnya orangtua, harus menyiapkan menu di rumah. Besok-besok kan kalian juga akan menjadi tua seperti kami. Ini ajang latihannya" Ujar Alana setengah bercanda


Pelan dan pasti mereka berpartisipasi


Alana sudah menggoreng bahan tadi "Kita tutup dahulu"


Brakkk


"Kaget bund" Aaliyah memegang dadanya sambil tertawa lebar


"Jangan melamun sayang. Kita balik yuk omeletnya" Alana terlihat susah "Mbak Hawa, tolong balikin"


"Hadewww..Mbalikin nggak bisa, tapi gaya-gayaan masak omelet" Canda Hawa


"Kan ada mertua mbak. Biar disayang" Bisiknya


"Mama papa dari dulu penyayang. Nggak bisa masakpun, nggak bakalan dipecat jadi mantu"


Ibu-ibu yang awalnya canggung, akhirnya berbaur "Sudah dibalik, jangan ngrumpi mulu. Ntar gosong" Tegur Sifa


"Ini daun selada buat apa Alana" Suara Viviana ditengah-tengah kesibukan Alana yang sedang membalik omelette yang dibantu oleh Hawa


"Buat alas mbak"


"Bunda.. kok jadi martabak bund" Ucap Fawas yang demen sekali nongkrong didepan. Padahal sudah besar


"Anggap aja omelette" Ucapnya membuat para orang tua ikut ngakak


Setelah masak "Kita angkat, habis angkat apa anak-anak!!!" Teriak Alana


"MAKAAAAN!!"


"Bukan !!! Tapi iris dulu"


"Terserah bunda bund, dedek dah lapar"


"Oke, kita taruh omelette. Iris dulu, lalu taruh diatas daun selada, lalu kita tuang saus keju prosss, dan saos chili... Prises. Hayo siapa yang mauuu!!!" Teriak Alana kembali


Anak-anak dan ibu-ibu mencoba omelette yang mirip dengan martabak mie ini dengan antusias "Wah enak loh"


"Bundaaaaaaa dedek lagi... "


"Aaliyah juga..."


"Faruq juga mau nambah bund.... "


"Wah wah wah... Sepertinya istri kak Hanan sudah pinter masak melebihi para chef international" Timpal Fariz


"Sepertinya. Dan rasanya pasti kacau" Ejek Hanan tapi dengan suara lirih agar Alana tidak mendengar


"AHAHAHA" Quadruple tertawa ngakak


"Hus, jangan keras-keras. Bisa-bisa aku dimutilasi karena dia pegang pisau"


"Masa sih ngeri amat"


"Makanya, ngejek boleh aja, tapi jangan terlalu"


"AHAHAH"


"Ini kalau Hawa, aku sudah di smakdown kak" Fariz begidik ngeri


"Percaya" Ujar Husayn


"Subhanallah" Hati Lis dipenuhi degup bahagia melihat kekariban yang terjalin perlahan diantara keluarga suaminya


Santapanpun terasa lebih nikmat dan dihargai. Karena semua merasakan hasil karya Alana yang mengarang tapi enak


"Bunda, baju dedek kena noda"


"Nggak pa-pa, ada daddy disana"


Akhirnya kejenuhan Alana terobati. Meski rasanya melelahkan, Alana puas melihat wajah-wajah seluruh keluarga ini lebih bersemangat dan bersahabat.


Sebelum kegiatan ditutup, Ilham memberi komentar bahwa kegiatan seperti ini sebaiknya dilanjutkan Tapi semua harus mengeluarkan ide yang lebih kreatif lagi.


Bik Lis yang punya giliran bulan depan, punya usul lebih bermakna dan manusiawi. "Bulan depan, kita adakan dipanti asuhan dan panti jompo milik keluarga Han saja. Nanti kami yang datang kemari. Bagaimana"


Semua orang bertepuk tangan senang dan setuju tentunya


"Horeeeeee"


Anak-anak ikut heboh, padahal tidak tau pembicaraan para orang tua


1.489 kata ya gengs....

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2