
Wajah Alana sudah memenuhi layar ponsel milik Hanan
Terlihat Alana sendirian didalam kamar
Alana berdiri memasang hapenya pada tripod. Kemudian, Alana duduk diranjang, dan bersender pada kepala ranjang
Setelah Alana sudah terlihat memenuhi layar ponselnya, Hanan mulai bertanya
"Bunda sedang apa? kok sendirian"
"Iya, Imran tadi bareng sama mbak Rasti" Alana mulai menggosok gosokkan minyak angin ke pelipis kanan dan kiri
"Sayang kenapa? kok dioles oles gitu, pusing?"
Alana mengangguk "Kakaaaak"
"Hmmm"
"Minggu nanti kita kan pulang ke Jakarta, aku nggak punya tas. Masak, sehari saja kita harus bawa koper. Kegedean"
"Oh, jadi bunda kirim gambar itu, maksudnya ingin dibeliin tas ?"
Alana mengangguk lagi
"Kakaak.." Panggilnya lagi
"Iya kenapa"
"Kepalaku pusing sekali kak, aku ingin tidur"
"Eeeeh, waktu maghrib jangan tidur"
"Kepalaku pusing"
"Coba, katakan. Bunda ingin apa? Coklat, es krim? "
Alana tampak berbinar "Iya kak, aku mau"
"Minta dijemput pak sholeh ya, biar kita beli bareng hmm?"
"Nggak usah, aku tunggu kakak pulang aja"
"Ah baiklah, jangan tidur jam jam segini ya... Daddy tutup dulu, ntar daddy telpon lagi"
"Hmm"
-
Hanan sudah berada ditoko tas yang ada dimall
Hanan kembali melakukan video call kepada Alana
Setelah mereka saling terlihat didalam lawan ponselnya, mereka tersenyum
"Wah.. Kak Imran sibuk banget. Itu Imran lagi mainan apa bund?" Tanyanya pada Alana
"Lego" Jawabnya sambil mengusap punggung Imran "Lihat, itu daddy dek. Daddy telpon. Sapa yuk" Alana membujuk Imran untuk menyapa ayahnya
Imran baru sadar, kalau ayahnya itu telpon
Imran mendekati layar ponsel "Daddy.. Puyang"
"Eh iya sayang, kakak lagi ngapain?" Tanya Hanan pada Imran
"Main"
"Apa tuh"
"Keyeta dad " Imran menunjukkan tumpukan lego menjadi kereta
"Ih pinter putra daddy, yang ngajarin siapa itu?"
__ADS_1
"Bunda" Jawabnya berdiri, dan langsung mengalung pada leher Alana
"Wah bunda memang jago. Bunda sama kak Imran pinter semua, kebanggaan daddy" Hanan memberikan hadiah jempol "good job bund"
Terlihat Imran memegang pelipis Alana, mungkin Alana membisikkan pada Imran untuk memijit pelipisnya
"Kakak lagi ngapain?" Tanya Hanan kembali kepada Imran
"Pijat"
Hanan tersenyum "Oh, sekarang sudah ada tukang pijat handal rupanya, ntar daddy dipijat ya, kalau sudah sampai dirumah"
"Bunda satit, daddy ndak" Jelas Imran yang sudah banyak berbicara walau masih cadel
"Ya sudah, ntar daddy minta pijit sama bunda deh. Sekarang, daddy mau cari tas dulu yang bunda mau"
"He eng. Dad Imlan mau tas"
"Imran mau tas juga?"
"Hiya Imlan mau mau mau" Imran sambil njot njotan
"Hati hati sayang, ntar jatuh" Cegah Alana, lalu kembali fokus pada Hanan "Dad, beliin tas punggung karakter buat Imran"
"Iya iya. Sekarang bunda fokus ya, ikutin daddy"
"Iya"
Hanan sudah mengarahkan kamera pada tas yang berjajar rapih di rak gondola
"Bunda... Yang mana nih" Hanan sudah mengambil dua rangsel besar pilihannya
"Itu warna coklat kelihatan bagus dad" Alana memanggil kata dad, jika Imran ada disebelahnya. Jika tidak, Alana masih tetap panggil kakak.
"Coklat, berarti yang ini ya" Tunjuk Hanan pada tas ditangan kirinya
"Iya dad, bagusan itu"
Hanan berjalan menuju tas anak anak yang masih tergolong lucu - lucu
"Bunda, kakak, yang mana nih gambarnya"
Hanan mengarahkan kamera lagi ke tas anak anak berkarakter
"Jiyep jiyep jiyep" Imran sudah kegirangan kalau melihat gambar jerapa
"Oh yang ini? kakak suka?" Tanya Hanan memastikan
"Syukaaa" Teriak Imran kegirangan
"Iya, ambil yang ini. Sudah ya, daddy mau bayar dulu"
"Ha ah.. Jiyep"
"Iya jerapa"
Hanan berjalan menuju kasir, ia melintasi tas perempuan yang cantik cantik. Hanan berhenti.
Kembali Hanan mengarahkan kamera ke tas tas yang tertata cantik dirak
"Sayang lihat, tas cakep cakep" Hanan mengambil beberapa tas yang menurutnya Bagus, dan menatanya, agar menghadap kearah kamera "Sayang perhatiin ini ya, ini ada tas buat mejeng, tas kerja, tas kondangan, sayang mau yang mana?" Tawar Hanan pada Alana
Alana memenjebkan bibirnya tanda tidak suka
"Dad, ada tas minggat nggak"
"Heh ?? maksudnya minggat.... Minggat gimana ??"
"Ya tadi daddy kan menyebutkan nama mama tas. Siapa tau ada tas minggat"
"Ah kau ini.. Mau tidak?" Tawar Hanan kembali
__ADS_1
"Tidak ah"
"Ya sudah, daddy tutup ya, daddy mau itungan dulu kekasir"
"Iya jangan lupa es krim"
"Iya"
Setelah Hanan mematikan sambungan telepon, Hanan mendekati tas yang kira kira Alana inginkan. Bukan tas minggat ya, tapi tas cewek yang pantas untuk digunakan ibu ibu muda seperti Alana
Hananpun tak kalah pamor, iapun membeli wesbag untuk dirinya jika pergi untuk jalan jalan
Jadi teringat sama ketiga kembaran Hanan. Keempat kembar ini, Ada Fatih, dirinya, Husayn, dan Fariz, yang paling mentereng soal modis penunjang penampilan, hanya Fariz seorang
Seperti halnya Papi Anand dan papa Ilham. Yang sedikit pola urusan penampilan, papi jagonya. Koleksi jaketnya, jam, dasi dan banyak lagi. Mungkin seringnya menemui klien, baik kunjungan keluar negeri atau dalam negri, jadi penampilan otomatis mengikuti
Lain halnya dengan seorang dokter, pagi sampai malam hanya menggunakan kemeja berdasi, dan ditutupi jas putih melulu, terkadang menggunakan kemeja lengan pendek saja atau hem.
Untung cakep, tubuh berbalut jas putih setiap hari saja tidak mengurangi ketampanan
Ditambah kesibukan yang berlipat setelah Hanan memegang rumah sakit ini
Jadi pas, tidak punya waktu untuk bersantai. Apalagi panggilan darurat selalu mengintainya
Disenyumin aja ya Hanan....
-
Hanan sudah mendapatkan sesuatu yang diinginkan Alana
Tadi pas ponselnya aktif, Hanan mendapat pesan dari Rasti, kalau Alana muntah muntah terus, sejak pagi dari kepergian Hanan kerumah sakit
Hanan tidak menjawab pesan dari Rasti terlebih dahulu, ia langsung menghubungi Alana yang sedang sendirian
Begitu selesai menghubungi Alana, Hanan baru membalas chat dari Rasti
"Terus, bunda Imran makan nasi nggak sejak pagi?" Tanya Hanan balik kepada Rasti lewat pesan
"Makan sedikit tuan, habis itu muntah lagi"
"Oh, terus. Nggak makan lagi"
"Makan tuan, tapi bukan nasi"
"Apa? "
"Ibu ingin makan yang segar segar"
"Terus"
"Makan rujak tuan"
"Oh, ya nggak pa apa, yang penting ada yang dimakan"
"Nggak bahaya ya tuan?" Tanya Rasti penasaran
"Nggak. Sudah ya, maghrib"
-
Wanita ngidam, merupakan fase kehamilan yang umumnya dilewati oleh semua calon mama
Pada sebagian besar, perempuan mengalami ngidam. Keinginan mengkonsumsi makanan makanan tertentu, karena keinginan ini muncul tiba - tiba tanpa sebab
Karena itulah, pengalaman ngidam setiap perempuan, itu berbeda beda. Seperti Aina dan Alana. Tapi Hanan berusaha mampu mengatasi ibu ngidam seperti Alana, yang notabene wanita manja.
Dulu saja Aina bikin repot, padahal Aina wanita dewasa dan mandiri. Entahlah untuk calon ibu yang satu ini, Hanan harus siap
BERSAMBUNG....
__ADS_1